
Vero yang mendapatkan serangan langsung dari Alin dengan cepat menangkisnya dengan kekuatan mizu yang dimiliki olehnya. Perlindungan kekuatan mizu miliknya yang dikeluarkan hingga berlapis ketiga telah di hancurkan oleh Alin hingga lapisan kedua.
"Gila! Untuk pemula dia bisa menghancurkan lapisan ku yang kedua." Jawab Vero dalam hati. Tubuh Vero juga sudah bergeser satu langkah dari posisi awal.
Alin hanya diam berdiri setelah melayangkan serangan kepada Vero. Kedua tangan yang tadinya diangkat tegak lurus 90 derajat dari tubuhnya untuk melayangkan serangan menjadi turun di samping tubuhnya.
"Bagus, kekuatan mu di luar pemikiran ku." Jawab Vero. Alin memasang wajah yang bingung atas pernyataan yang telah diucapkan oleh Vero.
"Kekuatan elemen dasar yang kau miliki adalah elemen yang bertolak belakang dengan elemen yang aku miliki. Tapi dengan begitu kau bisa mendapatkan lawan yang pas." Ucap Vero lagi. Vero keluar dari dinding pelindung berbentuk es yang ada di depannya menuju ke arah samping dan memerintah Alin untuk mendekat.
"Lihat!" ucap Vero yang menunjukkan arah dinding es yang menjadi pelindung yang saat Alin tadi menyerang.
"Aku tidak menyangka bahwa kau langsung menyerangku tanpa ada aba-aba. Dengan refleks aku hanya bisa membuat 3 lapis dinding pelindung untuk tubuh ku saja. Tapi aku tidak sangka bahwa kau dapat menghancurkan dua lapis dinding milik ku." Jawab Vero tersenyum tipis kepada Alin dengan kedua tangan yang menjelaskan dinding es di depan mereka.
"Aku hanya mengeluarkan seluruh kemampuanku seperti yang kau katakan." Jawab Alin.
"Iya, dan kekuatan mu itu sungguh besar. Lihat saja, kekuatan mu menembus dua dinding perlindungan yang aku miliki. Hanya saja, kekuatan mu belum begitu stabil. Mungkin jika itu stabil dan terpusat kau pasti bisa menghancurkan 3 atau lebih dinding pelindung yang aku buat." Jawab Vero.
"Benarkah?" tanya Alin.
"Iya. Jadi bagaimana semalam ini kau latihan?" tanya Vero. Alin yang mendapat pertanyaan itu hanya diam tanpa menjawab dan menundukkan kepalanya. Vero yang paham bahwa Alin tidak ingin menjawabnya.
"Baiklah, karena kau tidak ingin menjawab pertanyaanku itu. Karena sekarang Aku adalah gurumu maka lakukan latihan sesuai yang aku perintahkan." Jawab Vero.
"Baik." Jawab Alin.
"Ganti baju mu dulu di ruang ganti. Setelah itu kemari, kita latihan fisik terlebih dulu." Jawab Vero kepada Alin. Alin yang sejak tadi masih menggunakan seragam sekolah. Alin yang memakai rok akan kesulitan jika berlatih dengan pakaian seperti itu. Alin pergi ke ruang ganti dan memakai pakaian olahraga yang sudah di siapkan. Alin keluar dengan memakai baju olahraga berwarna pink dan celana hitam.
"Saya sudah selesai. Kita akan memulai latihan seperti apa?" tanya Alin yang sudah selesai berganti pakaian.
"Kita keluar, pergi ke lapangan untuk berlari beberapa putaran." Jawab Vero.
"Ruang latihan saja sudah sebesar ini, bagaimana lagi dengan lapangan? Apakah tempat ini memang begitu luas?" tanya Alin dalam hati dan mengikuti Vero berjalan menuju lapangan.
Suasana lapangan berlari seperti stadion mini dengan di kelilingi dua baris kursi untuk duduk penonton yang melingkari lapangan berlari. Saat Alin sampai, Alin melihat banyak orang yang sedang berlatih berkelompok atau sendiri. Ada juga beberapa orang yang duduk di kursi penonton. Mereka semua sedang berlatih bukan bertanding.
"Pergilah berlari bersama mereka. Lari sampai kau merasa lelah. Aku akan menghitung berapa putaran yang bisa kau lakukan." Jawab Vero.
"Kalian lihat, jadi dia murid baru yang di bawa oleh tuan Vero sendiri?"
"Jadi dia orangnya?"
"Bagaimana bisa hanya gadis kecil seperti itu menjadi murid tuan Vero?"
"Siapa dia? Bagaimana dia bisa menjadi murid tuan Vero?"
"Dia cantik, kita memiliki teman berlatih yang bagus di pandang."
Seketika beberapa orang berhenti melakukan aktivitas berlatih di lapangan itu melihat kedatangan Alin bersama dengan Vero. Beberapa orang tidak menyukai paling sebagai murid baru yang di bawah Vero langsung. Beberapa orang menyukai Alin yang memiliki wajah yang cantik.
Tiba-tiba seseorang lelaki yang ada di kasta rendah namun dia adalah seorang pemimpin dari kelompok itu sedang menyapa Vero. Ia berniat menantang Alin untuk mengelilingi lapangan bersama-sama. Seseorang itu bernama Aidil.
"Salam tuan Vero." Ucap 1 kelompok orang dari kalangan kasta rendah menyapa Vero yang bersama dengan Alin. Vero hanya tersenyum membalasnya.
"Apakah ini murid baru tuan Vero yang menghebohkan organisasi ini?" tanya Aidil melanjutkan ucapannya.
"Iya. Aidil ini Alin, Alin ini Aidil. Dia pemimpin kasta rendah." Jawab Vero memperkenalkan mereka.
"Ingin berlari?" tanya Aidil kepada Alin.
"Iya." Jawab Alin dingin.
"Bagaimana jika kita bertanding sebagai pertandingan persahabatan kami bersama dengan mu? Apakah itu boleh tuan Vero." Jawab Aidil.
"Terserah Alin. Bagaimana?" tanya Vero yang memberikan pilihan kepada Alin.
"Tenang saja, kita hanya seperti latihan lari seperti biasanya. Kami hanya ingin menemani mu berlari saja. Daripada sendiri bukannya lebih baik bersama-sama?" tanya Aidil menjelaskan.
"Baiklah, ayo lakukan." Jawab Alin kepada Aidil.
Aidil bersama dengan temannya yang lain ikut berlari bersama dengan Alin. Vero duduk di kursi dan mulai menghitung putaran mereka berlari mengelilingi lapangan itu. Satu putaran demi satu putaran di lalui mereka yang berjumlah sebelas orang.
Pada putaran ke sepuluh dengan jarak 100 meter pada lapangan itu, satu orang lelah dan sudah tidak bisa ikut lari santai lagi. Pada putaran ke 15 juga seperti itu. Setiap putaran ditambah 5 putaran satu orang tidak bisa ikut lagi. Sampai pada putaran ke 55 hanya tersisa Aidil dan Alin saja yang masih bertahan.
Semua orang sedang melihat mereka berdua yang masih mengelilingi lapangan berlari santai. Keringat dari pelipis dahi sudah memenuhi wajah dan menetes. Mereka berdua sama-sama tidak ada yang mau berhenti setelah semua orang sudah berhenti.
"Dari catatan fisik lari santai, Aidil sudah mencapai batas maksimal 70 putaran. Dan saat ini sudah 57 putaran yang terjadi. Dan Alin yang baru saja pertama kali sudah sampai di detik ini. Biasanya orang yang baru masuk hanya bisa melakukan minimal 10 putaran dan 15 putaran. Aku harus menghentikannya." Jawab Vero dalam hati.
"Baiklah sudah cukup. 58 putaran totalnya. Aidil, terima kasih telah menemani Alin untuk melakukan hal ini." Jawab Vero.
"Dia benar-benar bisa menahan lelah hingga 50 lebih putaran." Jawab Aidil dalam hati.
"Apakah boleh suatu saat aku mencoba bertanding dengan mu?" tanya Aidil lalu Alin menoleh ke arah Vero. Dan Vero memberikan kode komunikasi untuk melakukan sesuai dengan hatinya.
"Oke." Jawab Alin.
"Latihan hari ini cukup sampai disini. Alin, kau seharusnya merasakan aliran kekuatan alam pada tubuh mu saat berlari tadi dan fokus. Tapi ya sudahlah, besok aku akan menjelaskannya dengan detail." Jawab Vero.
"