Forza

Forza
Ajakan Duel Kaivan kepada Alin



"Alin." Jawab Alin juga mengulurkan tangannya kepada Kaivan.


"Jadi apa alasan guru mau menerimanya menjadi murid, pasti dia memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga guru mau menerimanya." Jawab Kaivan dengan menarik tangannya dan menoleh ke arah Vero.


"Aku sudah menjelaskannya bukan?" tanya Vero.


"Mau mendengar berapa kali juga aku tidak akan mengerti. Tapi ya sudahlah, bukanya sekarang kita harus latihan bukan membahas hal ini?" tanya Kaivan.


"Bagus, semangat mu tidak pernah turun Kaivan. " Jawab Vero.


Mereka mengikuti Vero ke arah boneka-boneka kayu yang berdiri secara acak dengan jumlah 5 buah. Boneka kayu itu bisa bergerak ke arah mana saja. Dan tugas Kaivan dan Alin hanya perlu menyerang ke arah boneka yang sedang bergerak cepat dan boleh menghancurkannya.


Boneka itu bukan hanya sebuah boneka tapi juga di selimuti hawa kekuatan Forza elemen kayu sehingga tidak mudah untuk menghancurkan kayu itu. Jika terkena serangan, kayu itu akan dengan sendirinya pulih ke semula. Ia akan tumbuh menutupi cela yang terkena serangan.


"Aku akan menjelaskan latihan hari ini. Kalian lihat boneka yang ada di depan kalian?" tanya Vero.


"Iya." Jawab Kaivan dan Alin hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalian hanya perlu menyerangnya sekali atau dua kali sampai ada yang sedikit hancur dari boneka itu atau hancur keseluruhannya." Jawab Vero menjelaskan.


"Baiklah, sampai situ saja penjelasannya. Ada yang ingin di tanya?" tanya Vero dan mereka berdua hanya diam saja saling menoleh satu sama lain dan memandang kembali ke arah depan dimana boneka-boneka itu berjajar.


"Kaivan, kau duluan. Tunjukan kepada Alin. Aku juga ingin melihat kemampuan mu. Apakah selama ini kau latihan dengan benar di luar negeri atau hanya bermain-main. Jawab Vero.


"Iya guru." Jawab Kaivan yang langsung berdiri lebih ke depan dari baru Alin dan Vero. Kaivan memfokuskan pengelihatannya dan mengambil posisi dengan kaki yang berdiri sejajar dengan bahu dan tangan kanan di angkat sejajar dengan bahu. Boneka -boneka itu mulai bergerak dengan cepat seolah -olah sulit untuk membidiknya.


"Kau hanya bisa melakukan serangan sebanyak 5 kali." Jawab Vero. Kaivan langsung menembakkan serangan pertama ke boneka kayu yang bergerak. Dan terus melakukan dengan 5 kali bidikan dengan cepat.


"Baik, kita lihat hasilnya." Jawab Vero yang menghentikan boneka itu bergerak lagi dengan menakan tombol berhenti. Vero langsung ke arah boneka dan melihat seberapa banyak boneka yang terkena serangan Kaivan dan seberapa besar serangan Kaivan.


Boneka-boneka itu terkena di kepala, tangan, perut, dada, dan bahu.


"Padahal tadi aku merasakan bahwa serangannya tidak lemah. Tapi hanya bisa mengenai bagian-bagian itu dengan tidak terlalu besar. Dan jika di lihat, mereka hanya membutuhkan satu menit untuk memulihkan diri. Pantas saja di bilang keluarga teratas Dev. Ternyata memiliki fasilitas latihan yang menakjubkan." Jawab Alin dalam hati.


"Lihat guru, semuanya tepat sasaran." Jawab Kaivan dengan bangganya bahwa serangannya bisa terkena semua.


"Memang benar semuanya terkena semua. Tapi serangan mu kurang kuat untuk membuat musuh mu terjatuh. Baguslah kau latihan ternyata saat aku tidak ada di sisi mu." Jawab Vero.


"Tentu saja." Jawab Kaivan.


"Giliran mu Alin. Ingat untuk fokus pada boneka kayu mana yang Ingin kau serang." Jawab Vero.


Alin langsung berdiri pada posisi seperti yang di lakukan oleh Kaivan dan menyalurkan energi kekuatan Forza ke telapak tangan dan mulai menyerang boneka kayu yang sedang bergerak cepat. Alin sudah melakukan sebanyak 5 kali dan Vero mengentikan boneka kayu untuk mulai menilai.


"Jadi dia tipe kekuatan Forza elemen api?" tanya Kaivan dalam hati melihat serangan yang luncurkan oleh Alin.


"Hahahha hanya dua saja. Aku saja pertama kali melakukannya sudah 5 boneka yang terkena waktu itu, hahahahha." Kaivan yang meledek Alin dengan tertawa dan menunjuk dengan tangan ke arah boneka.


"Sudah, jangan di bahas. Sekarang kalian pergi ke lapangan dan berlari beberapa putaran sampai aku bilang berhenti." Jawab Vero.


"Baik guru." Jawab mereka berdua dan pergi ke lapangan.


"Hey gadis pendiam. Aku menantang mu untuk berduel, tapi tidak di tempat ini. Besok aku akan menjemput mu ke sana." Jawab Alin mendahului berjalan ke lapangan. Alin hanya diam sana dan menghiraukannya.


Esok hari di sekolah setelah selesai jam terakhir pelajaran. Rania sudah menunggu mereka berdua di depan gerbang. Hari ini mereka berencana untuk pergi ke ruang perawatan untuk mengecek kembali pemulihan badan mereka.


"Maaf sudah menunggu kami terlalu lama, tadi aku sedang piket kelas." Jawab Agatha yang menyapa Rania.


"Anak ini selalu saja meminta maaf dan Alin hanya mengikuti dia kemana saja." Jawab Rania dalam hati.


"Naiklah." Jawab Rania yang berjalan mendekati mobil yang sudah membuka pintu untuk dirinya tapi tiba-tiba Kaivan datang.


"Hey penyihir angin, kau berbohong kepada ku." Jawab Kaivan yang memegang tangan Rania untuk menghentikan dirinya masuk ke dalam mobil.


"Kau gila ya Iblis es." Jawab Rania yang kesal tangan di pegang oleh Kaivan.


"Kau mengenalnya tapi kau mengatakan tidak mengenalnya, bukannya kau berbohong?" tanya Kaivan yang menunjuk ke arah Alin.


"Teman mu Alin, Rania? Wah, laki-laki tampan dengan postur tubuh seperti idol." Jawab Agatha yang memotong pembicaraan itu.


"Siapa lagi gadis sok kenal ini? Tapi memang aku tampan. Hahahha " Jawab Kaivan yang tertawa lalu menghentikan tawanya ketika kembali mengingat tujuan.


"Aku dengar kalian akan ke kantor Ken. Aku ikut." Jawab Kaivan yang duduk lebih dulu di depan samping supir.


"Kenapa diam saja. Masuklah." Jawab Kaivan yang membuka kaca mobil dan mengajak mereka bertiga untuk masuk. Rania, Alin dan Agatha masuk ke tempat duduk belakang.


"Bagaimana Nona?" tanya supir yang juga bingung.


"Jalan saja pak." Jawab Kaivan dan Rania bersamaan sehingga Agatha dan supir terkejut dengan ekspresi melihat mereka yang mengatakan. Sedangkan Alin hanya melihat ke arah luar jendela.


"Baaaaik nona." Jawab supir dengan terbata saat melihat Kaivan di sampingnya. Dan mobil mulai berjalan ke arah kantor Ken.


"Apa-apaan kau iblis es?" tanya Rania di dalam mobil.


"Sebagai permintaan maaf mu kepada ku yang telah berbohong. Maka bantu aku untuk menemui Abang Al." Jawab Kaivan.


"Untuk apa kau bertemu dengan Abang ku?" tanya Rania makin kesal.


"Tentu saja meminta izin memakai ruangan untuk berduel dengan gadis pendiam ini." Jawab Kaivan yang menoleh ke belakang ke arah Alin.