
"Kau kira hanya dengan serangan seperti itu sudah bisa membuat mu mampu menjatuhkan aku. Lihat baik-baik kekuatan yang aku miliki." Jawab Carlos dengan arogan membuat tubuhnya semakin besar dan mengeras untuk membuat serangan kepada Alin. Carlos yang berdiri seperti seorang yang mengeluarkan armor tubuh seperti batu. Sementara Alin tenang dan diam melihat Carlos yang berubah menjadi lebih besar.
Carlos berlari dengan cepat untuk bergerak mendatangi Alin yang ada di depannya. Tapi tinju dan serangan yang di lemparkan ke arah Alin semuanya telah di blokir dengan kekuatan bola api Alin.
"Kecepatannya tidak secepat Agatha dan serangan yang di keluarkan olehnya tidak beraturan." Jawab Alin dalam hati saat menganalisa serangan yang di lancarkan oleh Carlos.
Alin yang sudah menghindar dan menyerang untuk memblokir serangan Carlos, dengan cepat juga menyerang Carlos saat ia lengah. Alin mengeluarkan bola api yang besar dan memusatkan dengan satu serangan.
"Brukkkkkkk." Suara jatuh tubuh Carlos ke lantai tanpa sandar. Carlos jatuh pada serangan Alin dan membuatnya tidak sadarkan diri.
"Haaaaaaaaaaa." Semua murid yang melihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Alin dengan tenang berjalan ke arah barisan para murid lainnya.
"Kerja bagus Alin. Kau benar-benar kuat seperti biasanya." Jawab Agatha dengan memberikan tangan kanan miliknya dan di sambut oleh Alin. Mereka tos bersama atas kemenangan yang di raih oleh Alin.
"Tim medis." Panggil Dirga untuk memanggil tim medis untuk mengangkat tubuh Carlos ke ruang medis agar di beri penanganan yang tepat.
"Aku benar-benar tidak menyangka Carlos yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari kami bisa di kalahkan oleh gadis kecil seperti dia." Jawab Ludwig.
"Iya." Jawab yang lainnya.
"Sebenarnya seberapa kuat kekuatan yang di miliki mereka berdua?" tanya Ludwig dalam hati sambil melihat Agatha dan Alin.
"Anak ini? Jika bukan melihatnya langsung seperti ini, aku akan tetap menganggap bahwa data yang aku baca itu salah. Aku rasa organisasi Dev hanya membesar-besarkan saja." Jawab Dirga dalam hati melihat pertarungan Alin dan Carlos.
Tim medis yang memberikan pertolongan pertama kepada Carlos beberapa menit setelah pertandingan. Carlos di angkat di atas tandu untuk di bawa ke ruang medis. Namun, baru saja sepuluh langkah dari ruang latihan, Carlos tiba-tiba sadar dan turun dari tandu begitu saja.
"Apa aku pingsan?" tanya Carlos dalam hati saat duduk di atas tandu lalu turun setelah melihat Agatha dan Alin yang tertawa.
"Gadis itu membuatku terjatuh dan tidak sadarkan diri? Br***sek.....Aku tidak menerima kekalahan ini." Jawab Carlos yang berjalan mendekati Alin dan Agatha.
"Hey mau kemana?" tanya dokter yang menangani Carlos. Tapi Carlos tidak menghiraukan. Carlos tetap berjalan ke arah Alin.
"Luar biasa." Jawab beberapa murid yang lain melihat hal itu.
"Apa yang kau lakukan Carlos?" tanya Dirga yang sudah ada di depan Carlos tiba-tiba. Semua orang melihat Carlos yang di hadang oleh Dirga.
"Guru...." Ucap Carlos yang kaget saat Dirga tiba-tiba di depannya.
"Kau baru saja sadar dan langsung kemari karena tidak menerima kekalahan?" tanya Dirga.
"Mereka semua? Mereka pasti menganggap aku lemah dan tidak mampu melawan gadis kecil itu." Jawab Carlos melihat semua orang yang sedang memandang kearah dirinya.
"Guru, berikan aku kesempatan sekali lagi. Bukannya ini pertandingan persahabatan?" tanya Carlos untuk meminta pertandingan ulang.
"Apa?" tanya Dirga.
"Guru, aku belum menunjukkan semua kemampuan yang aku miliki. Jadi berikan kesempatan sekali lagi untuk aku melakukannya." Jawab Carlos.
"Hmmm." Dirga berfikir.
"Tolong berikan aku kesempatan ini." Jawab Carlos.
"Bisa. Aku bisa melakukannya. Lihat, aku baik-baik saja." Jawab Carlos.
"Kau lupa dengan peraturan pertama sebelum bertanding? Semuanya aku yang memutuskan. Jadi ikuti aturan yang aku buat. Lagi pula kau sudah di berikan kesempatan namun kau kalah dengan mudah. Terima kekalahan mu dan jadikan itu motivasi untuk membuat mu lebih bekerja keras lagi untuk berlatih menjadi lebih baik." Jawab Dirga.
"Kalau aku jadi Carlos, mungkin aku tidak akan bisa sadarkan diri secepat itu apalagi bergerak dengan keadaan seperti itu." Jawab Agatha.
"Apa benar yang dikatakan dia? Kalau tadi itu aku, mungkin aku akan sadar 2 hari paling cepat." Jawab Ludwig melihat Agatha yang mengatakan hal itu dan membandingkan dengan dirinya sendiri.
"Karena hal itu aku memohon kepada guru untuk memberikan aku kesempatan berlatih kembali untuk bertanding." Jawab Carlos.
"Anak ini keras kepala sekali. Dia tidak akan berhenti jika aku tidak mengizinkannya. Baiklah, aku akan mengizinkannya kali ini." Jawab Dirga.
"Apa harus seperti itu?" tanya Ludwig melihat Carlos yang tetap memohon untuk mengizinkan ia untuk bertanding lagi.
"Baiklah, bukan pertandingan ulang bersama dengan Alin tapi dengan yang lainnya. Untuk itu, siapa yang bersedia untuk melawan Carlos?" tanya Dirga. Seketika semua diam tanpa berbisik-bisik lagi membicarakan situasi saat ini.
"Ini akan menjadi kesempatan kami untuk mengalahkan Carlos. Tapi apa benar-benar bisa mengalahkan dirinya yang sedang terluka saat ini dengan kemampuan yang aku miliki?" tanya Ludwig.
"Apa aku saja yang maju untuk mengalahkan Carlos pada kesempatan ini?" tanya salah seorang murid lainnya.
"Carlos sedang terluka, mungkin ini kesempatan ku. Tapi...."
Semua orang berfikir ini adalah kesempatan mereka untuk melawan Carlos yang sedang terluka. Tapi mereka tidak yakin dengan kemampuan yang mereka miliki, sehingga mereka hanya menundukkan kepalanya.
Mereka semua menundukkan kepala yang berarti menolak untuk melawan Carlos. Agatha yang hanya berdiri dan melihat semua orang menundukkan kepalanya dipanggil oleh Dirga.
"Agatha." Panggil Dirga.
"Iya pelatih," jawab Agatha.
"Kau lawan Carlos." Jawab Dirga.
"Ha, aku?" tanya Agatha.
"Iya. Kau saja yang melawannya karena aku ingin melihat kekuatan yang kau miliki." Jawab Dirga yang masih kesal dengan Agatha yang telah membantah perintahnya kemarin.
"Baiklah." Jawab Agatha yang berjalan melangkah ke arah arena.
"Kau pasti bisa." Jawab Alin.
"Terima kasih. " Jawab Agatha dengan tersenyum lepas kepada Alin yang sudah menyemangati dirinya.
"Kesempatan, gadis yang sudah menyinggung itu maju. Ini bisa menjadi kesempatan untuk melakukan dua hal. Pertama membalikkan keadaan aku yang sudah kalah tadi. Kedua, memberikan pelajaran kepada gadis ini yang sudah menyinggung ku." Jawab Carlos melihat Agatha yang di tunjuk untuk melawan dirinya.
"Apa kau benar-benar bisa bertanding lagi dengan keadaan seperti itu?" tanya Agatha yang berdiri di depan Carlos menanyakan keadaannya.
"Dia sedang meremehkan aku?" tanya Carlos dalam hati dengan wajah yang emosi ingin sekali segera memukul wajah Agatha.