
Vero dan El yang keluar dari ruangan kepala sekolah dengan menghembuskan napas lega.
"Dia baru saja bertanya beberapa hal sudah membuat ku susah bernapas." Jawab El.
"Aura mengerikan ketika bertanya." Jawab Vero.
"Oh ya kenapa kau baru menghadapnya juga?" tanya El.
"Daripada sendiri lebih baik berdua." Jawab Vero.
"Benar juga." Jawab El yang menepuk pundak Vero.
"Oh ya, bagaimana dengan Kaivan? Apakah dia membuat masalah?" tanya Vero.
"Tidak usah khawatir. Semuanya baik-baik saja. Mereka mengadakan camping di belakang rumah Agatha dan kesiangan untuk bangun sehingga kami sedikit terlambat datang." Jawab El.
"Benarkah?" tanya Vero.
"Iya." Jawab El.
"Syukurlah. Ayo kita pergi ke asrama pendamping. Aku sudah mengambilkan kunci kamar mu yang dekat dengan ku." Jawab Vero.
"Kenapa kau mengambil kunci kamar ku? Jangan-jangan kau?" tanya El dengan menunjuk wajah Vero dengan jari tangan kanannya.
"Kau gila, mana mungkin aku seperti itu, aku lelaki normal. Aku hanya lebih kenal kau di sini, daripada harus berdekatan dengan orang yang hanya sekedar kenal lebih baik dekat dengan orang yang sering di temui." Jawab Vero.
"Iya iya. Aku paham, bilang saja kau teman ku. Begitu saja harus membuat alasan yang sulit di cerna akal." Jawab El.
Mereka yang berjalan ke arah asrama pendamping. Mereka yang berjalan juga sedang mengobrol tentang situasi saat ini.
"Pendamping dan anak-anak yang lain sudah datang 10 hari lebih awal di bandingkan dengan ku. Jadi sekalian keluarga Ken dan Dev, mereka sudah sampai lebih awal. Aku juga baru mengetahui hal ini saat tiba di tempat ini " Jawab Vero.
"Bukanya mereka harusnya datang hari ini karena besok baru di mulai pembukaan murid baru? Mereka mengatakan hal ini saat rapat ketua-ketua." Jawab El.
"Mereka beralasan bahwa murid-murid mereka sudah tidak sabar untuk datang." Jawab Vero.
"Hmmmm, jadi mereka sudah sepakat akan hal ini?" tanya El.
"Iya. Sudah lama Keluarga Ken dan Dev memimpin distrik A. Kau juga sudah memprediksinya bukan?" tanya Vero.
"Iya, tapi aku mengkhawatirkan anak-anak." Jawab El.
"Aku juga." Jawab Vero.
"Kita adakan saja meeting malam ini dengan anak-anak agar mereka tidak bertindak sembarangan." Jawab El.
"Aku juga akan melaksanakan hal itu niat awalnya." Jawab Vero.
"Baguslah. Ayo lakukan." Jawab El.
Vero memberikan kunci kamar kepada Al saat mereka sudah tiba di asrama pendamping.
"Ini kunci kamar mu. Barang-barang mu sudah aku susun di dalam kamar. " Jawab Vero.
"Tentu saja tidak. Periksa saja jika tidak percaya." Jawab Vero yang masuk saja ke dalam pintu kamarnya dan tidak mempedulikan El yang masuk ke dalam kamarnya.
"Ahahhaha. Aku memang suka sekali untuk membuatnya marah." Jawab El yang tertawa.
Disisi lain, Agatha yang lainnya sedang berganti pakaian masing-masing di dalam kamar. Pakaian khusus yang sudah di sediakan oleh pihak akademi. Pakaian yang di rancang khusus untuk seorang Forza. Pakaian yang akan melindungi mereka dari kegiatan berlatih dan pakaian yang akan memudahkan mereka dalam bergerak saat latihan.
Tiba-tiba suara ketukan keras yang terdengar dari balik pintu Agatha. Agatha yang masih memakai pakaian terburu-buru untuk mengancing baju dan berjalan untuk membuka pintu. Helena yang mendengar suara ketukan pintu yang tidak sabar untuk di buka itu mengikuti Agatha dari belakang.
"Iya sebentar." Jawab Agatha dari dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Helena.
"Tidak tau." Jawab Agatha yang membuka pintu dan melihat ada 2 orang yang sedang berdiri depan kamarnya. 2 orang yang melihat Agatha dari bawah hingga atas dengan begitu detail saat pertama kali Agatha membuka pintu.
"Lama sekali kau membuka pintunya?" tanya salah satu orang asing yang ada di depan pintu Agatha.
"Maaf tadi aku sedang berganti pakaian." Jawab Agatha dengan lemah lembut dan sopan kepada mereka berdua.
"Wanita ternyata, kurus dan juga terlihat lemah. Baguslah, kalau begini dari siswa non organisasi hanya aku yang paling cocok." Jawab seseorang lelaki yang bernada tinggi besar dengan rambut yang diikat satu dan berwajah seram.
"Aku Carlos, siswa non organisasi yang sama seperti mu. Aku juga tinggal di lantai ini." Ucap lelaki itu memperkenalkan dirinya dengan begitu bangga mengulurkan tangganya kepada Agatha.
"Agatha." Jawab Agatha dengan mengulurkan tangannya dan melepasnya dengan cepat.
"Aku Ludwig." Jawab lelaki yang bertubuh kecil seperti Agatha berada di balik tubuh Carlos. Ludwig 3 langkah maju ke depan dan mengulurkan tangannya kepada Agatha.
"Agatha." Jawab Agatha melakukan hal yang sama dengan bersalaman kepada Ludwig.
"Elemen apa kekuatan Forza milik mu?" tanya Carlos.
"Ehh." Jawab Agatha dengan terkejut."
"Apa kau tidak mengetahui bahwa kau tidak boleh bertanya tentang elemen apa yang dimiliki seseorang?" tanya Alin yang tiba-tiba datang kepada mereka yang berdiri di depan kamar Agatha.
"Gadis kecil lagi? Siapa dia ikut campur urusan ku? Apa dia juga siswi non organisasi seperti kita?" tanya Carlos dalam hati.
"Apa menurut mu aku tidak tau soal itu, kau siapa datang-datang berbicara dengan nada seperti itu?" tanya Carlos yang menjawab ucapan Alin.
"Apa kau juga siswi non organisasi yang baru saja datang?" tanya Carlos kepada Alin dengan nada yang marah.
"Tunggu dulu, kenapa kau bertanya tentang hal itu Carlos?" tanya Agatha untuk memisahkan mereka berdua yang sedang adu menatap dengan begitu fokus dan sadis.
"Dasar orang-orang yang tidak bisa di ajak kerjasama. Aku datang hanya untuk mengajak berkerjasama." Jawab Carlos.
"Apa maksudnya? Kenapa siswa siswi non organisasi harus bekerjasama?" tanya Agatha yang tidak mengerti Carlos berkata seperti itu.
"Coba kau berfikir, apa mereka semua akan melihat kita dengan baik seperti siswa lain yang dari keluarga dan organisasi yang baik? Apa mereka akan memperhatikan kita sebagai siswa siswi yang tidak memiliki latar belakang yang baik dan hebat?" tanya Carlos.
"Oh, tempat ini sama aja. Menjunjung tinggi latar belakang seseorang bukan dari kemampuan." Jawab Helena dalam hati melihat mereka yang sedang berbicara di depan pintu.
"Aku mengerti maksud mu. Tapi sepertinya tidak perlu untuk membicarakan hal ini sekarang. Kita masih punya banyak waktu untuk mengenal satu sama lain. Ikuti saja dulu jadwal dan perkembangan akademi Forza seperti apa yang sudah mereka rencanakan. Bukanya kita sebagai tamu undangan yang bukan dari keluarga dan organisasi ternama di distrik A memiliki keberuntungan tersendiri? Masuk dan mengikuti kegiatan akademik Forza di sini sudah menjadi sebuah anugrah tersendiri. Kenapa harus meminta lebih? Seharusnya yang kita lakukan adalah lakukan yang terbaik, lakukan apa yang bisa kita lakukan dengan baik." Jawab Alin.