Forza

Forza
Perampokan Bank Part 3



Kaivan yang sudah banyak mengeluarkan energi Forza dan tenaga miliknya yang terkuras habis membuatnya lemah walaupun hanya untuk berdiri. Kaivan memiliki ide dalam fikiran untuk mengeluarkan jurus es kristal. Hal ini dapat membuat energi forza yang di miliki oleh dirinya akan habis total dan akan mengakibatkan dirinya tidak sadarkan diri.


Kaivan mengumpulkan energi Forza yang ada di sekitar untuk menambah energi yang tersisa dalam dirinya. Suhu dingin menjalar dari sisi Kaivan ke arah perampok dan manajer itu. Seluruh ruang kantor manajer di selimuti baru es. Perampok itu tidak bisa bergerak akibat kaki yang menapak pada lantai yang perlahan membeku hingga ke tubuhnya.


Kaivan yang belum sepenuhnya menguasai jurus ini membuat manajer itu juga membeku. Kaivan yang menggerakkan tangannya ke arah perampok. Setelah perampok itu menjadi patung beku seperti kristal membuat rencana Kaivan berhasil. Kaivan menghancurkan sekertaris manajer yang sebenarnya adalah bos dari para perampok. Setelah mengalahkan perampok itu, Kaivan tidak sadarkan diri di dalam ruangan yang masih membeku seperti es batu.


Disisi lain, Rania yang di serang oleh perampok dengan kekuatan elemen angin dengan membalikan serangan Rania sendiri. Rania mencoba untuk menghindari serangan demi serangan. Rania terus berfikir untuk bisa menembus angin yang mengelilingi perampok itu.Tapi tetap saja, perampok itu membuat Rania kehabisan akal dan tenaga, serangan yang terus di balikkan ke arah Rania membuat Rania terkena sendiri serangannya dan membuatnya berdarah akibat tergores dan terjatuh di lantai. Rania melihat ke arah Agatha yang sepertinya Agatha juga terkena hipnotis perampok yang menjadi lawannya.


"Agatha sadarlah." Rania yang berteriak di posisi tengkurap dengan banyak luka.


Alin yang mendengar panggilan Rania membuat pertarungannya teralihkan. Alin melihat ke arah Agatha yang seperti robot berjalan ke arah Rania atas perintah perampok.


"Jangan mengalihkan pandangan mu." Ucap perampok yang melawan Alin dengan menyerang Alin dengan peluru pistol yang diisi dengan kekuatan logam miliknya.


Alin menghindari serangannya dan membuatnya ingin mengakhiri dengan cepat. Alin membuat bola api yang besar dan menembak ke arah perampok dengan cepat sehingga tidak dapat di hindari. Perampok itu, tubuhnya terbakar dan kekuatan logamnya menjadi bara api jingga seperti besi yang di panaskan. Panas yang terkandung dalam bola api yang Alin buat seperti panas larva gunung meletus. Panas bola api itu meleburkan perampok itu hingga daging, tulang dan tubuhnya menjadi larva panas yang meleleh.


"Kenapa panasnya tidak seperti tadi, ini semakin panas. Tolong aku,ahhhhhh!!!!" perampok itu meleleh dengan api. Alin yang langsung berjalan ke arah Agatha. Alin berusaha untuk menghentikan Agatha yang ingin menyerang Rania yang sudah lemah.


"Agatha sadarlah." Ucap Alin yang memegang pundak Agatha. Wajah Agatha yang datar dengan di kendalikan perampok itu dan Agatha memegang kedua tangan Alin lalu menyingkirkan dari bahunya.


Tangan Alin yang seperti kesetrum membuatnya mati rasa terhadap kedua tangan dan berdiri diam menahannya. Agatha yang membuat aliran listrik di tangannya untuk siap menyerang Rania namun tiba-tiba terdengar suara Helena datang dengan wujud manusia.


Helena yang melihat pemandangan tadi sudah mengetahui apa yang terjadi. Helena yang datang mendekati perampok pengendali fikiran dan menyerangnya. Cahaya seperti petir terlihat pada serangan Helena ke kepala perampok itu. Perampok itu terjatuh di lantai dan Helena menggunakan cakar di empat kakinya itu mencakar wajah dan tangan perampok. Helena segera merubah dirinya menjadi bentuk manusia.


" Gadis bodoh, sadarlah." Ucap Helena yang sudah dalam bentuk manusia. Suara yang menggema di dalam ruangan. Membuat Alin, Rania, Agatha dan satu perampok yang masih hidup mendengarnya. Agatha yang sadar dan melihat tangannya sudah siap menyerang. Dan ia melihat dirinya ada di depan Rania yang di bawah lantai dan Alin yang berdiri di belakangnya. Perampok yang tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi hanya melihat 3 orang ada di depannya dan mendengar suara Helena saja.


"Apa yang terjadi?" tanya Agatha yang heran dengan dirinya.


"Jangan diam saja, serang angin itu dengan kekuatan listrik mu Agatha." Teriak Helena. Dan spontan Agatha segera menyerang perampok itu dengan kekuatan listriknya dan membuat angin pelindung diri perampok itu tidak beraturan dan lenyap. Rania yang berdiri dan mengeluarkan serangan anginnya ke arah perampok. Alin yang membuat serangan ke tiga ke perampok. Mereka bertiga mengalahkan perampok terakhir bersama-sama.


"Nona Helena." Panggil Agatha yang berdiri bersama Alin dan Rania.


"Kaivan di mana?" tanya Rania yang sadar melihat sekitar.


"Baik nona." Jawab Rania dan Alin yang mengangguk. Rania langsung bergerak ke tangga untuk melihat Kaivan di ikuti Alin sedangkan Agatha ada di belakang mereka berdua. Agatha mendekati Helena.


"Nona mau kemana?" tanya Agatha.


"Kita bertemu di rumah saja." Ucap Helena dengan pelan memegang pundak Agatha.


"Baiklah. Terima kasih sudah menyelamatkan kami." Jawab Agatha dengan senyuman lebarnya.


"Pergilah." Jawab Helena dan meninggalkan tempat kejadian dengan berubah wujud kembali saat berada di luar gedung.


Rania melihat Kaivan yang terduduk di dinding dengan tidak sadarkan diri membuatnya langsung membangunkan Kaivan.


"Kaivan sadarlah." Ucap Rania yang menepuk pipi Kaivan untuk menyadarkannya.


Alin langsung membuat api untuk mencairkan es di dalam ruangan ini. Dan membantu manajer yang beku di atas dinding.


"Aku sudah selesa, bagaimana dengan kalian?" tanya Kaivan yang sadar dengan samar-samar membuka mata dan mengucapkan kalimat itu kepada Rania.


"Ahhh bodoh, baguslah kau sadar. Ayo kita pergi dari sini." Jawab Rania yang membantu Kaivan berdiri di bantu Agatha. Sedangkan Alin memapah manajer bank.


"Lain kali jangan berani-beraninya kau menyerang ku Agatha seperti tadi." Ucap Rania yang teringat kejadian tadi.


"Aku menyerang?" tanya Agatha yang tidak mengingatnya.


"Ahhh sudahlah aku juga tidak akan mengingatnya karena sudah di kendalikan. Tapi tunggu dulu, tadi itu siapa yang membantu kita?" tanya Rania yang baru sadar bahwa mereka di bantu oleh Helena.


"Tadi dia bilang jangan katakan pada siapapun tentang dirinya. Ahhh, jangan bilang dia itu Helena yang itu?" tanya Rania yang baru saja mengingat tentang penyihir cantik yang kejam di dunia Forza. Tentu saja Helena yang di maksud.


"Benarkah itu?" tanya Rania yang menghentikan langkahnya dan menatap Agatha dari balik ketiak Kaivan yang di papahnya. Agatha hanya menganggukkan kepala dan Alin yang juga menganggukkan kepala membuat Rania menjadi terdiam beberapa saat dan melanjutkan jalannya.


Saat di lantai bawah, bantuan dari keluarga Ken datang dan mereka semua di bawa masuk ke dalam ambulance.