
Tubuh Agatha gemetaran saat teman-teman kelasnya mengatakan monster pada dirinya. Tapi Agatha berusaha untuk tetap berdiri tegak dan meminta jawaban dari mereka berlima.
Mereka berlima yang melihat Agatha tiba-tiba berpindah tempat membuat mereka masih kaget dan takut. Langkah kaki ke belakang menjauh dari Agatha dan Agatha melangkahkan kakinya untuk maju di depan mereka.
"Katakan pada ku, apa yang sudah aku lakukan sehingga kalian melakukan hal ini?" tanya Agatha.
"Itu karena...."
"Karena....." saling ingin mengungkap tapi mereka juga gemetaran takut di depan Agatha.
"Karena kau sudah mencuri perhatian para siswa di sekolah ini."
"Kau juga merebut perhatian guru."
"Padahal kau hanya seorang murid pindahan."
"Atas dasar apa kau begitu sempurna menjadi seorang wanita." Ucap mereka bersama-sama dan berjalan maju berlari meninggalkan Agatha. Mereka pergi meninggalkan Agatha yang menurut mereka sedang lengah. Mereka melarikan diri dari Agatha dengan begitu cepat.
"Dia benar-benar gila." Ucap mereka yang berhasil pergi meninggalkan Agatha.
Agatha yang di tinggal sendirian itu akhirnya tidak sanggup berdiri juga dan terjatuh di atas tanah.
"Monster?" ucap Agatha dengan memegang kepalanya dan langsung mengingatkan dia di masa lalu.
.........
Siang hari di taman bermain, anak-anak yang baru saja 2 tahun bersekolah di usiannya 8 tahun. Mereka yang melakukan kegiatan bermain di taman bermain di saat jam pelajaran sekolah setelah selain. Hal ini karena banyak anak yang di tinggalkan tetap di sekolah untuk di jaga oleh para guru karena orangtua mereka sibuk bekerja.
Mereka yang di titipkan dari pagi hingga sore hari. Siang itu, seperti biasanya anak-anak sedang bermain di taman bermain dengan gembira. Ada yang sedang bermain ayunan. Ada yang sedang bermain seluncuran biasa, ada juga seluncuran terowongan. Ada juga yang sedang bermain petak umpet. Masih banyak lagi permainan yang bisa di mainkan di taman bermain untuk anak-anak seusia mereka.
Agatha menjadi salah satu anak yang berada di taman bermain itu. Agatha yang pendiam dan sulit bersosialisasi di tempat baru, karena bukan Agatha yang tidak ingin bermain, melainkan anak-anak lain yang tidak ingin bermain dengan Agatha yang masih menjadi anak baru selama sebulan.
Tapi, ada dua orang anak perempuan yang mengajak Agatha untuk bermain bersama. Mereka bermain petak umpet, yang menjadi penjaga pertama adalah Agatha. Tugas penjaga adalah menemukan para pemain.
Permainan berlangsung, saat itu Agatha membuka matanya setelah menghitung sebanyak angka 50. Agatha mulai mencari mereka di sekitar taman bermain.
"Kalian lihat, dia akan kita kerjai. Jangan ada yang bersembunyi di daerah taman bermain ini. Kita pergi ke ruang kelas dan ruang ganti. Mereka yang masih anak-anak merencanakan hal buruk kepada Agatha.
Mereka bersama-sama masuk ke dalam kanton sekolah dan menikmati makan siang. Sedangkan Agatha sedang sibuk dengan kegiatannya.
Tapi saat itu, Agatha yang mencari mereka di seluncuran terowongan namun tidak menemukannya. Mereka yang bersembunyi di ruang kelas sedang merencanakan sesuatu.
Agatha yang terus mencari mereka di sekitar taman bermain, tidak menemukan sama sekali. Agatha yang melihat sekeliling namun tidak juga menemukan teman-temannya membuat ia bingung harus mencari kemana lagi.
Keringat yang terserap oleh kain seragam baju miliknya dan berjatuhan dari wajahnya Agatha yang lelah untuk mencari mereka. Karena hal itu membuatnya untuk pergi ke kelas mengambil minum dan menikmati bekal yang sudah di bawa.
Agatha yang berjalan ke ruang kelas dengan wajah kelelahan. Pintu ruang kelas yang di buka Agatha membuat aktifitas di dalam kelas menjadi hening.
"Kalian?" tanya Agatha yang heran mereka semua bersama di sekolah untuk mempermalukan ia di depan banyak orang
"Kau sudah menemukan kami akhirnya setelah satu jam berlalu." mereka yang masih anak-anak sudah pandai melakukan perundungan kepada teman kelasnya.
"Tapi, bukannya permainan kita hanya sekitar taman bermain?" tanya Agatha yang begitu polosnya.
"Siapa juga yang ingin bermain dengan mu? Hahhaha." Mereka tertawa dan pergi meninggalkan Agatha sendiri di dalam sekolah.
Hal ini menjadi alasan Agatha yang penyendiri dan juga tidak memiliki teman. Ia takut bersosialisasi jika hanya akan menjadi objek perundangan bagi mereka.
Agatha yang mengambil minum dan makan makan siang miliknya. Setelah itu, ia tertidur di atas meja sambil melihat di luar jendela taman bermain yang penuh dengan anak-anak bermain.
Hari ini satu persatu anak-anak di jemput orangtua mereka karena di hari Sabtu. Orangtua mereka bekerja lebih cepat pulang dari biasanya karena besok adalah weekend. Agatha yang sudah menyusun barang-barang ke dalam tas ransel miliknya, menyandang tas ransel dan berjalan keluar. Ia berencana menunggu orangtuanya di taman bermain dengan membawa tas saja sekaligus karena tidak ada orang juga yang mau bermain dengannya.
Agatha yang duduk di ayunan gantung dengan wajah murung melihat teman-teman yang sudah melakukan perundungan kepadanya terlihat bahagia bermain. Sedikit demi sedikit taman bermain itu sunyi. Hanya ada Agatha dan 1 teman Agatha yang mengajaknya bermain. Guru yang lain juga sudah pulang, hanya tinggal 1 guru wali kelas mereka yang tinggal di sana. Guru itu juga sedang membereskan mainan yang berserakan di pasir dan sesekali melihat Agatha dan temannya itu bermain.
Teman Agatha yang naik ke tangga seluncuran lorong sambil mengejek Agatha yang masih murung dan hanya melihatnya saja. Tapi tiba-tiba kakinya tidak seimbang di tangga membuat tergelincir ke bawah, tapi dengan cepat Agatha berada di sana untuk menolongnya.
"Aaaaa! Aku tidak jatuh?" tanya dirinya yang berteriak dan tiba-tiba membuka mata bahwa Agatha yang berada di sampingnya sedang menampung tubuhnya yang hampir jatuh.
"Monster?" ucapnya setelah membuka kepada Agatha. Bukan ucapan terimakasih tapi perkataan yang membuat Agatha terlihat seperti monster.
"Bagaimana bisa kau berada di sini sementara tadi aku melihat mu di ayunan itu " Ucapnya yang berdiri menjauh beberapa langkah dari Agatha.
"Ada apa?" tanya sang guru yang datang mendengar teriakan tadi.
"Dia, dia mau mendorong ku Bu. Dia monster.". Ucapnya menuduh Agatha. Agatha hanya diam tanpa pembelaan karena ia sudah takut.
Hal ini di besar-besarkan hingga orangtua mereka juga terlibat. Ayah dan Ibu Agatha yang tidak percaya bahwa anaknya melakukan tindakan perundungan membuat mereka memutuskan untuk memindahkan Agatha dari tempat itu. Ayah dan Ibu Agatha yang sudah mengetahui penjelasan Agatha. Hal ini juga untuk menghindari kecurigaan sekitar tentang kemampuan Agatha.
"Sayang, jangan keluarkan lagi kemampuan mu itu mulai sekarang. Dan kita akan pindah dari sini, Ibu dan Ayah mempercayai mu." Ucap Zia untuk menenangkan sang anak.