
Agatha dan lainnya keluar dari kelas mereka yang sudah di bubarkan oleh Dirga. Mereka masih saja terkejut dengan kekuatan yang di miliki oleh Alin dan Agatha. Kekuatan yang tidak sesuai dengan penampilan mereka. Tapi semuanya terbukti pada dua hari ini setelah pertandingan persahabatan yang telah dilaksanakan.
"Kerja bagus Alin." Jawab Agatha kepada Alin dengan begitu bahagia. Sifat ramah tama yang di lakukan oleh Agatha bukan lagi hal yang tabu di lihat oleh Alin, hal ini sudah menjadi kebiasaan keseharian Alin yang melihat Agatha seceria itu.
"Kau juga." Jawab Alin.
"Hahah, iya." Jawab Agatha dengan tersenyum dan tersipu malu.
"Aku sepertinya ingin ke kamar saja langsung untuk bermeditasi." Jawab Alin.
"Aku ingin meningkatkan kekuatan, sepertinya kekuatan ku masih d bawah Agatha." Jawab Alin dalam hati.
"Aku juga." Jawab Agatha.
"Aku ingin mengatakan kepada nona Helena untuk membimbing ku menjadi lebih kuat lagi. Sepertinya aku masih di bawah Alin." Jawab Agatha dalam hati. Mereka berdua sama-sama menganggap kekuatan mereka lebih rendah dari yang lainnya. Mereka berdua berjalan ke arah asrama untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Nona Helena," panggil Agatha yang ketika membuka pintu rumah melihat Helena yang sudah di atas meja dekat jendela sedang menatap ke arah luar.
"Oh, kau sudah kembali?" tanya Helena yang sedang membalikkan tubuhnya ke arah Agatha. Agatha duduk sofa dekat Helena yang duduk di atas meja kaca dekat jendela.
"Nona hari ini tidak berjalan-jalan lagi?" tanya Agatha.
"Hmmm. Entah kenapa aku merasa mengantuk sekali, sejak tadi aku tertidur saja. Aku ingin keluar tapi tidak sekarang. Aku ingin mencobanya nanti malam saja" Jawab Helena.
"Kenapa harus malam?" tanya Agatha.
"Hanya ingin mencoba. Lalu bagaimana dengan kelas mu hari ini?" tanya Helena.
"Pak Dirga masih menerangkan tentang teori mengenai Forza dan tadi juga menyambung pertandingan persahabatan seperti kemarin." Jawab Agatha.
"Melihat ekspresi mu, ku lihat kau menang seperti kemarin?" tanya Helena.
"Hahahah, yah begitulah. Tadi aku tidak mengontrol dengan baik sehingga aku membuat teman ku pingsan hanya dalam satu serangan." Jawab Agatha dengan memurungkan wajahnya yang tertunduk ke bawah.
"Kau tidak cocok menjadi seorang Forza jika wajah mu seperti itu. Jangan menjadi seorang yang terlalu baik. Apalagi di dunia Forza. Sudah aku katakan kepada mu bahwa di dunia Forza tidak mementingkan sifat manusia yang memiliki empati dan simpati, tetap tentang siapa yang paling kuat dia akan menjadi posisi teratas yang bisa di takuti dan di hargai." Jawab Helena.
"Aku tau itu, tapi bukankah aku terlalu keterlaluan dalam pertandingan persahabatan sudah melakukan hal itu. Bahkan Carlos masih membenci ku karena aku telah mengalahkan dirinya." Jawab Agatha.
"Kau kira, kau yang salah. Dia saja tidak cukup kuat." Jawab Helena.
"hhh, Agatha ingat ini baik-baik. Di dalam hati mu, bukannya kau merasa senang sudah menang?" tanya Helena.
"Iya tapi apakah kemenangan harus menyakiti lawan?" tanya Agatha.
"Gadis ini terlalu baik." Jawab Helena dalam hati.
"Tentu saja. Jika bukan seperti itu bukan sebuah pertandingan. Setiap pertandingan itu selalu ada kemenangan atau kekalahan. Baik itu sebuah kemenangan yang membawa kesenangan seorang yang telah berhasil atau kesedihan untuk seseorang yang telah mengalami sebuah kegagalan. Tapi dari kekalahan itu, seseorang seharusnya mengetahui dimana letak kesalahan yang harus di perbaiki olehnya untuk di masa depan. Begitu pula dengan kemenangan, bahwa dia harus memikirkan kekuatan yang di miliki oleh ya harus di tingkatkan lagi karena akan selalu ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan miliknya." Jawab Helena.
"Hmmm, iya juga." Jawab Agatha.
"Semua pilihan dan tindakan akan selalu ada resikonya. Maka bertanggung jawab atas resiko itu adalah hal yang harus di hadapi." Jawab Helena.
"Baik nona Helena. Aku sudah mengerti sekarang." Jawab Agatha.
"Untuk hari ini, aku berlawanan dengan seseorang yang hampir sama dengan Carlos, namanya adalah Dien. Dia juga memiliki kekuatan yang hampir sama dengan Carlos yaitu tentang kekuatan tubuh mereka. Karena aku tidak ingin melakukan kesalahan seperti kemarin, aku langsung menyerang Dien saat aba-aba di mulai." Jawab Agatha.
"Benarkah?" tanya Helena.
"Iya, seperti nona Helena katakan bahwa kita yang sudah mengetahui tentang kekuatan lawan bisa menganalisa apa yang seharusnya kita lakukan ketika berhadapan dengannya." Jawab Agatha.
"Kerja bagus." Jawab Helena.
"Tentu saja, semua ini karena berkat nona Helena yang telah memberikan bimbingan pengajaran yang begitu baik kepada ku." Jawab Agatha.
"Tentu saja semua ini karena aku." Jawab Helena dengan begitu percaya dirinya. Tapi Helena melihat Agatha yang kembali murung.
"Ada apa? Kenapa wajah mu seperti tidak menyukainya?" tanya Helena.
"Sepertinya kekuatan yang aku miliki masih kalah jauh dengan kekuatan Alin." Jawab Agatha.
"Alin?" tanya Helena.
"Alin yang pertama kali mengalahkan Carlos. Mungkin aku akan kalah jika yang pertama kali melawan Carlos adalah aku. Walaupun Dien itu memiliki kekuatan yang hampir sama seperti Carlos. Tapi Carlos lebih kuat kali dan seperti seseorang yang memiliki banyak pengalaman." Jawab Agatha yang bercerita.
"Dan juga, untuk hari ini Alin melawan seseorang yang bernama Joya. Joya memiliki kekuatan air dan udara, ia dapat membuat balon yang mengurung seseorang dan melayangkan balon itu hingga ke atas lalu memecahkan dan menjatuhkan. Joya di kalahkan oleh Alin dengan begitu mudah." Jawab Agatha menjelaskan.
"Oh, bukanya semua itu mudah di atasi." Jawab Helena.
"....." Agatha hanya diam dan melihat Agatha dengan intens mata yang berkaca-kaca.
"Seharusnya kau jangan berfikir tentang dia yang lebih kuat dari mu. Tapi kau berfikir untuk bagaimana bisa membuat diri mu sendiri jauh lebih kuat." Jawab Helena.
"......." Agatha yang tersenyum melihat Helena yang dengan cepatnya mengganti ekspresi.
"Kenapa ekspresi mu berbeda seketika?" tanya Helena yang melihat senyum Agatha.
"Tolong bantu aku menjadi kuat nona Helena." Jawab Agatha yang sedang merayu Helena.
"Ini gadis bisa saja merayu ku dengan ekspresi seperti itu. Bagaimana aku bisa menolaknya." Jawab Helena dalam hati.
"Ha, kebetulan." Jawab Helena.
"Ada apa nona Helena?" tanya Agatha.
"Dengar apa yang aku ceritakan kemarin tentang di tengah hutan?" tanya Helena.
"Kekuatan inti bumi yang cukup besar?" tanya Agatha.
"Iya. Aku ingin mencobanya nanti malam. Setelah mau selesai makan malam, kita ke sana untuk bermeditasi. Tapi ingat baik-baik, jangan ada yang mengetahui hal ini." Jawab Helena.
"Nona serius?"tanya Agatha.
"Tentu saja." Jawab Helena.
"Yes, baiklah. Aku akan ikut." Jawab Agatha yang ceria.