
Dua bangku kosong yang sudah beberapa hari ini tidak terisi, sudah di isi oleh dua orang pemiliknya. Agatha dan Alin sudah berada di dalam kelas untuk mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasanya.
"Bagaimana keadaan mu Agatha?" tanya guru wali kelas yang datang untuk mengajar mata pelajaran pertama di kelas.
"Baik Bu." Jawab Agatha dengan tersenyum ceria seperti biasanya.
"Ibu benar-benar khawatir ketika mendengar kecelakaan yang menimpa mu, bahkan kami tidak di perbolehkan untuk menjenguk. Karena kau di rawat di luar negeri." Jawab sang guru.
Agatha tidak tahu sama sekali apa yang sudah dikatakan oleh El kepada pihak sekolah.
"Bu dengar juga kau bersama dengan Alin, Kaivan dan Rania. Kalian sedang berjalan ke perpustakaan kota untuk belajar namun kalian mengalami kecelakaan itu." Jawab sang guru.
"Kami hanya sedikit trauma saja Bu." Jawab Alin yang menjawab ucapan sang guru. Guru itu melihat Agatha yang menundukkan dan wajahnya tidak ceria, seolah-olah sedang banyak fikiran. Padahal Agatha bingung dengan penjelasan sang guru tentang ketidak hadiran dirinya selama beberapa hari di sekolah.
"Syukurlah jika kalian sudah kembali. Baiklah, kita mulai belajarnya." Jawab sang guru yang memulai pelajarannya.
"Kalian dengar jam pelajaran pertama tadi? mereka berteman dengan Rania dan Kaivan. Siapa mereka bisa berteman dengan mereka berdua?" tanya beberapa teman kelas yang tidak menyangka bahwa Agatha dan Alin bisa berteman dengan Kaivan dan Rania.
"Iya, padahal mereka berdua itu sama."
"Sama bagaimana?"
"Aku pernah dengar, mereka berdua sering pindah-pindah sekolah. Sudah hampir belasan sekolah yang mereka kunjungi selama ini di tingkat ini. Mereka mungkin adalah anak-anak yang bermasalah."
"Mungkin saja. Kalian lihat, Agatha itu adalah siswa yang pintar mencari perhatian guru. Berpura-pura ramah kepada orang-orang di sekitar. Sedangkan Alin itu adalah orang yang pendiam dan juga ditakuti untuk didekati."
"Iya benar. Pantas saja. Tapi mereka juga pas dengan Kaivan dan Rania. Bukannya mereka berdua itu hanya menyandang nama keluarga saja? Mereka berdua itu adalah si pembuat onar."
"Iya benar juga. Hahahhaha."
Pembicaraan mereka terdengar oleh Agatha. Agatha yang memanfaatkan waktu luang untuk bermeditasi mengumpulkan kekuatan alam di sekitar sekolah dengan berpura-pura tidur di atas meja. Sementara Alin yang memang suka tertidur di dalam kelas di saat jam istirahat.
Agatha menghentikan meditasinya setelah mendengar percakapan para wanita yang ada di dalam kelas. Agatha berdiri dan berjalan ke arah Alin yang tertidur. Ia memikirkan jika Alin mendengar hal ini akan sakit hati.
"Alin?" panggil Agatha dan menepuk pundak Alin untuk membangunkannya.
"Hmmm." Ucap Alin yang mengangkat kepalanya dan melihat siapa orang yang telah membangunkan dirinya.
"Kau tidur?" tanya Agatha dan Alin hanya menganggukkan. Saat Agatha ingin berbicara, bunyi bel masuk.
"Kita pulang sekolah bersama ya?" tanya Agatha dan Alin menganggukkan.
Setelah mengikuti jam pelajaran hingga bel pulang, Agatha dan Alin bergegas keluar dari kelas namun tiba-tiba Rania dan Kaivan datang menjemput mereka dan membuat para wanita di kelas mulai bergosip kembali. Agatha yang melihat itu langsung membawa mereka bertiga untuk keluar dari kelas.
"Ayo kita keluar segera." Jawab Agatha yang menarik Alin dan Rania sementara Kaivan mengikuti dari belakang.
"Karena kalian sudah mengkhawatirkan aku, bagaimana jika hari ini kalian menginap di rumah dan besok kita pergi bersama ke sekolah? Malam ini kita adakan perayaan bersama." Jawab Agatha yang mengajak mereka.
Alin langsung membayangkan banyak makanan dan mengiyakan ajakan dari Agata dengan tersenyum tipis. Agatha yang melihat Alin telah menyetujui idenya langsung menoleh ke arah Rania yang ada di sebelah kanannya.
"Baiklah." Jawab Rania.
"Bagaimana dengan mu Kaivan?" tanya Agatha.
"Ya sudah kalau memaksa aku ikut." Jawab Kaivan.
Mereka yang baru pulang sekolah langsung pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan yang ingin dimasak oleh mereka. Dan memasak bersama-sama dengan panduan Agatha yang mengajari mereka. Seperti sedang kursus memasak. Sedangkan Kaivan hanya bertugas untuk mencoba makanan yang sudah di masak mereka, seperti juri yang sedang menilai kelezatan makanan.
"Dimana Rania? Biasanya dia di sini menonton televisi sambil menunggu ku?" tanya Al.
"Aku lupa mengatakan, nona Rania tadi memberitahuku bahwa mereka menginap di rumah Agatha." Jawab El.
"Menginap? Agatha sudah bisa di hubungi?" tanya Al.
"Iya. Bukan hanya Nona Rania, tapi juga Alin dan Kaivan di rumah Agatha. Mereka ingin mengadakan pesta kecil katanya." Jawab El.
"Dari mana saja Agatha?" tanya Al yang penasaran.
"Kata nona Rania, Agatha berlatih." Jawab El.
"Rania benar-benar menemukan teman yang sesungguhnya." Jawab Al yang tersenyum.
Disisi lain, mereka yang ada di dalam rumah Agatha telah selesai menikmati makanan yang mereka buat sendiri. Setelah kenyang, mereka bersama-sama menonton sebuah film sambil bercerita.
"Aku benar-benar tidak menyangka akan melakukan hal seperti ini sejak tadi siang hingga malam ini." Ucap Agatha kepada mereka bertiga.
"Memasak, menonton film, bercerita bahkan tidur bersama. Aku benar-benar tidak menyangka bisa melakukan hal seperti ini." Jawab Agatha lagi. Mereka bertiga saling menatap satu sama lain sambil menikmati popcorn yang ada di tangan mereka masing-masing.
"Aku senang." Jawab Alin.
"Aku juga belum pernah melakukan seperti ini." Jawab Rania.
"Kalau aku pernah sih, tapi hanya sekedar di bar." Jawab Kaivan.
"Kalau kau memang playboy dan bandel." Jawab Rania.
"Kau? Kata siapa aku playboy? kalau bandel memang iya sih. Kau juga pembuat onar." Jawab Kaivan yang mengaku namun juga menuduh Rania.
"Lihat saja, kau bermain dengan para wanita disini. Kau sendiri lelaki disini." Jawab Rania.
"Agatha yang mengajak aku. Aku juga terpaksa." Jawab Kaivan.
"Kau?"
"Kau?"
Mereka berdua yang mulai mengeluarkan aliran kekuatan Forza membuat Agatha menelpon El dan Alin menelpon Vero.
"Nona Rania, jangan sampai tuan Al tau dan kau di suruh pulang sekarang?" Jawab El.
"Kaivan, jangan sampai tuan besar tau kau membuat onar. Kau akan di kirimkan ke Antartika." Jawab Vero.
"Maaf sudah merepotkan kalian berdua, padahal aku yang mengajak mereka kerumah." Jawab Agatha.
"Kenapa gadis polos seperti Agatha yang meminta maaf." Jawab El dan Vero bersama-sama di dalam video call ponsel Agatha dan Alin.
"Iya-iya kami tidak akan buat onar." Jawab Kaivan dan Rania.
"Bagus. Agatha kabarin aku jika hal ini terjadi lagi."
"Kau juga begitu Alin."
Mereka menganggukkan kepala dan mengiyakan .