Forza

Forza
Pertemuan Pertama dengan Rania Ken



Suara hentakan kaki berjalan dengan cepat ke arah ruangan Al. Al dan El yang sedang berdiskusi di dalam ruangan tiba-tiba terhenti karena seseorang masuk ke dalam ruangan. Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah adik dari Al sendiri. Rania Ken, yang biasa di panggil dengan nama Rania. Seorang gadis manja tapi tidak pandai berbohong dan paling setia.


"Abang!" panggil Rania dengan suara berteriak setelah membuka pintu.


"Apa?" tanya Al dengan wajah yang melotot. Wajah yang seram terlihat pada Al membuat Rania kembali menciutkan nyalinya.


"Aku hanya datang ketika mendengar bahwa Forza terkenal yang pernah menjadi tranding topik di kalangan Forza dunia berada di distrik kita. Apakah benar nona Helena ada di tempat kita?" tanya Rania dengan pelan-pelan dan tangan kanan yang jari telunjuknya menggaruk-garuk belakang leher secara perlahan. Hal ini sudah kebiasaan Rania jika takut sang Abang akan marah kepadanya.


"Iya, lalu?" tanya Al dengan dingin.


"Apa yang membuatnya datang ke distrik kita? Apa dia akan menghancurkan distrik kita seperti rumor tentangnya itu?" tanya Rania.


"Uh.... duduklah." Al yang mempersilahkan Rania untuk duduk di sofa ruang kerjanya. Setelah Rania duduk, Al memerintah El untuk menjelaskan apa yang harus di jelaskan kepada Rania.


"Saya akan menceritakan dari awal kami mendapatkan informasi ini." El menceritakan tentang malam pertempuran yang meninggalkan jejak Helena ada di gang itu. Serta siapa saja yang berkaitan dengan Helena.


"Jadi, kita tidak mengetahui alasan apa nona Helena datang ke sini. Bahkan dokter Agnia tidak menjawab apapun tapi Abang bisa merasakan bahwa kekuatan nona Helena ada pada luka dokter Agnia? Dan seorang siswi yang bernama Agatha itu adalah Forza baru di distrik kita yang di temukan di tempat yang sama saat Helena dan dokter Agnia itu mungkin bertarung. Tapi kalian tidak menemukan petunjuk bahwa Agatha memiliki hubungan dengan nona Helena?" tanya Rania yang menyimpulkan cerita El kepadanya.


"Iya. Tapi, Abang punya satu permintaan pada mu." Ucap Al yang langsung kepada Rania.


"Apa?" tanya Rania.


Al dan El saling memandang dan beralih memandang Rania bersama. "Kau harus mendekati Agatha, karena dia adalah teman satu sekolah mu." Ucap mereka berdua bersama kepada Rania.


"Aku?" tanya Rania.


"Iya." Jawab Mereka berdua.


"Kenapa harus mendekatinya dan berteman dengannya?" tanya Rania.


"Karena kita adalah keluarga Ken yang bertugas untuk membimbing manusia Forza yang baru mengetahui kekuatannya di wilayah distrik barat ini. Dan juga karena Agatha sepertinya terlihat baik dan seumuran dengan mu. Bisa saja dia menjadi teman mu walaupun tidak bisa di hindari jika dia memang benar-benar ada kaitannya dengan Helena. Tapi setidaknya kita bisa memastikan hal itu baik atau buruk jika kita bisa mengetahuinya lebih awal." Jawab Al kepada Rania.


"Merepotkan sekali." Jawab Rania dengan wajah cemberut tidak menyukai apa yang diperintahkan oleh Al dan El.


"Mana informasi Agatha?" tanya Rania.


"Aku sudah mengirimkan ke email mu." Jawab El.


"......." Rania yang diam saat membaca informasi yang di miliki Agatha dan melihat fotonya.


"Apa kekuatannya?" tanya Rania.


"Bukanya kau juga tahu apa yang kau tanyakan tidak akan mendapatkan jawabannya. Dan jawaban itu sendiri bisa kau temukan jika kau melihatnya langsung?" tanya Al.


"Baiklah."


"Tapi dari riwayat hidup yang kita dapatkan, aku memastikan bahwa selama ini dia hidup cukup sulit. Menyembunyikan kekuatannya di hadapan banyak orang, bahkan mungkin dia membenci kekuatannya sendiri. Jadi berusahalah untuk baik kepadanya." Jawab Al.


"Sejak kapan Abang berhati lembut kepada perempuan?" tanya Rania yang heran namun terucapkan sehingga terdengar oleh Al.


"Apakah aku harus menjawab pertanyaan mu itu juga Rania? Pergilah sebelum aku marah. Semua hal yang harus kamu ketahui sudah kami berikan," jawab Al yang kembali melanjutkan untuk memeriksa dokumen.


"El, antar Rania keluar. Kau juga segera bekerja sesuai dengan apa yang sudah aku perintahkan tadi." Jawan Al.


"Baik tuan." Jawab El yang mengikuti Rania dari belakang. Rania berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Al sebelum Al benar-benar marah kepadanya.


"Ahhhh, Abang selalu seperti itu. Lagi pula aku tidak salah, mengapa dia bisa begitu perhatian dengan seorang perempuan." Jawab Rania.


"Mungkin saja Abang mu itu sudah jatuh cinta dengan Agatha." Jawab El yang mengkompori tapi langsung pergi ke ruangnya dan meninggalkan Rania yang sudah mau naik ke dalam mobil.


"Sudahlah, lebih baik aku ke sekolah dulu untuk melihat situasinya. Jika memang dia adalah wanita yang di sukai oleh Abang, aku harus mengetahui dia lebih jelas." Jawab Rania.


Rania yang pergi ke sekolah, saat melihat teman-teman yang biasa bermain dengannya sangat ketakutan. Rania menoleh ke belakang dan melihat sosok yang baru saja di lihat olehnya di ponsel. Sosok Agatha yang lewat dari depannya dan membuat teman-temannya takut.


"Kalian kenapa?" tanya Rania kepada 5 orang perempuan yang telah melakukan perundungan kepada Agatha kemarin.


"Dia seperti monster. Kemarin...." mereka berlima menjelaskan apa yang mereka lihat tapi tidak menjelaskan alasan apa yang membuat mereka bertemu dengan Agatha.


"Pantas saja mereka ketakutan seperti itu. Apa mungkin kekuatan yang di miliki Agatha itu telepon atau bisa saja kecepatan?" tanya Rania yang berfikir untuk menyimpulkan apa yang di dengar olehnya.


"Sudahlah, nanti kita bahas lagi. Bel sekolah sudah berbunyi. Kita masuk." Jawab Rania.


"Bagus, mungkin saja Rania bisa membalaskan dendam kita kepada gadis itu."


"Iya. Aku juga berharap seperti itu."


"Karena selam ini kita bisa melakukan hal-hal seperti itu tanpa sepengetahuan Rania juga karena posisi Rania yang memiliki latar belakang hebat dan ...." mereka berbisik satu sama lain sambil mengikuti Rania berjalan.


Setelah beberapa jam berlalu, bel sekolah yang menunjukkan pulang telah terdengar. Semua siswa pergi keluar kelas setelah memberikan penghormatan kepada guru yang masuk kelas. Agatha yang pulang sendiri seperti biasanya.


"Alin kenapa tidak masuk lagi hari ini ya? Jika dia masuk akan seru jika bisa berjalan pulang bersama dengannya." Jawab Agatha dalam hati saat meninggalkan kelas.


Agatha yang berjalan sudah tiba di luar gerbang sekolah, di sisi lain Rania yang masih menunggu sopir jemputan berada di halte.


"Bukannya itu adalah gadis itu?" tanya Rania dalam hati. Rania yang berdiri dari duduknya dan mengikuti Agatha dari belakang berjalan. Sampai mereka tiba di gang sunyi dekat dengan lapangan taman bermain yang saat itu juga sedang sunyi.


"Jadi kau gadis itu? Agatha Renata?" Ucap Rania yang tiba-tiba berada di depan Agatha.