Forza

Forza
Berlatih dibawah air terjun



"Mereka menggunakan alam sadar lawannya sebagai kelemahan. Lebih tepatnya mereka yang masuk ke dalam dunia alam sadar akan mencari kelemahan yang di miliki oleh kita, entah itu sebuah trauma, ketakutan, kesenangan atau hal lainnya yang berharga dari ingatan mu sendiri akan digunakan sebagai kekuatan mereka sendiri. Itu adalah kekuatan mental jenis fikiran manusia."


"Berbeda dengan jenis hewan. Walaupun sistemnya sama, hanya saja jika di kaitkan dengan hewan mereka akan mengendalikan kekuatan hewan itu sendiri untuk kekuatan mereka. Atau bisa saja mereka bersatu dengan hewan itu sendiri dengan mengendalikan hewan itu atau menjadikan hewan itu adalah bagian dari mereka. Hal ini bisa di sebut sebagai hewan best. Hewan ini juga bisa dilihat dengan jenis hewan itu sendiri, semakin langka hewan itu dan semakin kuat hewan itu maka akan semakin kuat orang yang dapat mengendalikannya." Jawab Helena.


"Aku masih belum mengerti bagaimana cara mengatasinya?" tanya Agatha lagi.


"Baik, simpelnya begini. Hati, jiwa, kenangan dan fikiran mu harus bersatu melawan kekuatan mental itu masuk pada diri mu. Dan semua itu memang tidak mudah untuk di katakan. Kau harus memperkuat kekuatan Forza mu sendiri untu mengendalikan semua itu. Kekuatan Forza sebagai benteng sedangkan hati, jiwa, kenangan dan fikiran mu adalah dasar kekuatan itu sendiri." Jawab Helena.


"Bisakah anda mengajari ku?" tanya Agatha.


"Bisa tapi kita akan pergi ke suatu tempat." Jawab Helena.


"Iya. Kau mau sekarang?" tanya Helena.


"Apa bisa?" tanya Agatha.


"Bisa saja, yang penting kita bisa ke tempat itu. Tempatnya cukup jauh dari sini." Jawab Helena.


"Bagaimana kalau kita menggunakan mobil Ayah di bagasi?" tanya Agatha.


"Apa kau sudah punya SIM?" tanya Helena.


"Tentu saja. SIM ini diberikan oleh Ayah sebagai ulangtahun ke 15 tahun ku, tahun kemarin." Jawab Agatha.


"Oke. Bawalah pakaian ganti dan beberapa cemilan. Kita pergi." Jawab Helena.


"Oke."


Mereka pergi dengan mobil. Helena duduk di samping Agatha dan menunjukan jalannya. Mereka juga berencana untuk menginap di tempat itu. Beberapa jam menempuh perjalanan, mereka berhenti di di sebuah hutan.


"Mobil belum bisa masuk ke sana. Jadi kita akan berjalan kaki menuju tempat itu." Jawab Helena.


Agatha mengangguk dan membawa tas camping yang berisi peralatan yang mereka butuhkan. Mereka mulai berjalan turun ke jurang hutang dengan perlahan. Membutuhkan waktu yang lama hingga mereka sampai membuat Agatha lelah.


"Kau hebat juga baru sekarang lelah." Jawab Helena yang melihat Agatha berhenti dan mulai mengatur napas di atas batu besar yang menjadi tempatnya berbaring meluruskan tubuh.


"Apakah masih jauh nona?" tanya Agatha.


"Sedikit lagi." Jawab Helena.


"Apakah tempat ini tidak pernah di kunjungi orang lain?" tanya Agatha.


"Hmmm, mungkin iya mungkin tidak." Jawab Helena.


"Jadi ada juga yang datang kemari?" tanya Agatha.


"Ada. Kami menemukan tempat ini bersama. Mungkin dia sering juga kemari." Jawab Helena.


"Siapa?" tanya Agatha.


"Baiklah." Jawab Agatha.


Mereka melanjutkan perjalanannya ke arah tempat yang dituju. Berjalan hingga 2 KM ke bawah, mereka sampai di sebuah waduk yang di atasnya ada air terjun dan dibawahnya sungai.


"Ini?" tanya Agatha.


"Iya. Bawa aku mendekati air terjun." Jawab Helena.


"Baik." Agatha menggendong Helena berjalan mendekati air terjun. Helena membuat perlindungan di tubuh Agatha untuk mereka berjalan ke dalam air terjun. Ternyata di balik air terjun yang deras terdapat gua di dalamnya.


"Menakjubkan." Jawab Agatha yang melihat isi gua seperti sebuah rumah yang memiliki tempat tidur, dapur dan beberapa bekas kayu bakar.


"Aku sering bermeditasi disini." Jawab Helena.


"Oh, pantas saja." Jawab Agatha. Helena melompat dari pelukan Agatha dan berjalan ke depan pintu air terjun.


"Letak barang-barang mu di sana. Dan duduklah di bawah air terjun. Bermeditasi di sana dan rasakan air terjun yang jatuh ke tubuh mu dan seperti yang sudah aku katakan untuk bisa mengendalikan hati, fikiran, masa lalu dan kekuatan mu sendiri." Jawab Helena.


" Baik nona." Jawab Agatha yang meletakkan tasnya di atas batu yang berbentuk seperti tempat tidur. Agatha berjalan ke arah air terjun dan duduk di bawah derasnya air terjun yang mengalir. Duduk dengan sempurna dan memejamkan mata. Agatha mulai merasakan masuk ke dunia ilusi.


Agatha tiba-tiba berada di sebuah taman bermain yang cukup di kenal olehnya. Saat itu, ia merasakan sudah membuat sebuah kekacauan dengan kekuatannya. Dia menyelamatkan seseorang teman yang hampir jatuh dari tangga perosotan.


Semua orang terdiam saat Agatha menggunakan kecepatan dan kekuatan listrik yang di miliki olehnya untuk menolong anak yang hampir terjatuh dari tangga. Semua orang ketakutan dan mengatakan bahwa Agatha adalah monster.


Wajah Agatha yang berada di bawah air terjun menjadi gelisah. Dan tubuh yang menjadi menggigil kedinginan lalu tiba-tiba Agatha terlempar dari air terjun menuju keluar.


"Aaaaaaaa......"


"Sudah aku bilang untuk konsentrasi dan berdamai lah dengan hati, fikiran dan masa lalu mu. Kau harus hidup di dunia sekarang yang kau pilih sendiri." Jawab Helena setelah berubah menjadi manusia untuk membantu Agatha berdiri dari waduk.


"Ada ingatan yang samar-samar aku ingat." Jawab Agatha.


"Ingatan yang teringat tidak perlu untuk di lupakan. Dan ingatan yang terlupakan tidak perlu di ingatkan. Jangan berusaha untuk menentang fikiran mu tapi cobalah pahami fikiran mu itu sendiri." Jawab Helena yang membuat Agatha berdiri lagi.


"Baik nona, aku akan mencobanya." Jawab Agatha.


Agatha berjalan lagi menuju ke bawah air terjun lagi untuk mencoba kembali berlatih seperti yang dikatakan oleh Helena. Agatha kembali lagi pada posisi meditasi.


Saat ini, Agatha kembali masuk ke dunia yang sama saat kejadian di masa kecilnya. Kejadian pertama terulang kembali dan yang berbeda adalah Agatha yang dengan tegas berdiri di depan semua orang setelah menolong anak yang hampir terjatuh dengan mengatakannya, 'Aku bukan monster tapi aku adalah manusia yang istimewa, manusia pilihan yang dapat membantu orang-orang yang memerlukan pertolongan ku. Dan kalian tidak berhak untuk menghakimi bagaimana tuhan memberikan keistimewaan itu kepada ku.'


Secara tiba-tiba aura tubuh Agatha berubah menjadi putih kebiruan dengan corak listrik lalu besar menjadi seperti petir yang terlihat dari air terjun yang terjatuh ke tubuh Agatha.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa" Agatha menahan kekuatan alam yang masuk ke dalam inti Forza miliknya semakin besar dan murni. Hal itulah yang membuat kekuatannya tersebar. Agatha benar-benar berhasil untuk percobaan kedua ini, matanya yang perlahan terbuka.


"Nona, aku berhasil?" tanya Agatha yang bertanya kepada Helena yang ada di depan dirinya.


"Kau berhasil," jawab Helena yang tersenyum tipis dengan kedua tangan menyilang di dadanya melihat Agatha yang berhasil.