Forza

Forza
Perkenalan dengan Pertandingan



"Siapa yang terkuat di dalam pertarungan itu?" tanya Alin kepada Kaivan dan Rania.


"Tentu saja aku." Kaivan dan Rania bersamaan lalu saling memandang.


"Aku." Jawab Kaivan.


"Aku." Jawab Rania.


"Kau mengikuti aku saja." Jawab Kaivan.


"Kau yang duluan mengikuti aku " Jawab Rania.


"Jadi sebenarnya siapa yang kuat?" tanya Agatha melihat mereka berdua yang bertengkar seperti tom and Jerry setiap bertemu.


"Kami berdua menang melawan lawan kami." Jawab Mereka berdua.


"Berarti kalian berdua mendapatkan lawan yang berbeda?" tanya Alin.


"Tentu saja," jawab mereka berdua lagi.


"Jika tadi pertandingan tidak hanya sekali, mungkin aku akan menantang mu Rania." Jawab Kaivan.


"Aku juga, siapa takut." Jawab Rania.


"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi Rania, Kaivan." Jawab Agatha.


"Hmmm." Wajah mereka berdua yang memalingkan arah ke samping.


"Bagaimana kalian mengalahkan lawan?" tanya Alin lagi.


"Aku hanya mengeluarkan satu jurus saja, dia sudah terjatuh." Jawab Rania.


"Aku hanya mengeluarkan sedikit usaha saja membuat dia beku dan tak bisa bergerak." Jawab Kaivan.


"Mereka berdua ini....." ucap Agatha dalam hati.


"Kalian benar-benar hebat. " Jawab Agatha.


"Tentu saja." Jawab Rania.


"Eh sudah jam 5 sore." Jawab Kaivan.


"Ada apa?" tanya mereka bertiga.


"Kau dengar apa yang dikatakan oleh guru? Jam 5 sore - 6 sore waktu kita menghubungi pihak luar. Kita hanya di beri waktu satu jam untuk berkomunikasi pada pihak luar. Aku harus melapor hal ini kepada Kakek." Jawab Kaivan.


"Ah benar juga, aku harus melapor kepada Abang." Jawab Rania.


"Agatha, Alin, kami pergi dulu, sampai bertemu kembali." Jawab Rania dan Kaivan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa kita diberitahu tentang itu?" tanya Agatha.


"Tidak." Jawab Alin.


"Jadi kita mau ke mana?" tanya Agatha.


"Kembali saja ke kamar untuk istirahat." Jawab Alin.


"Iya juga, aku harus melihat putih." Jawab Agatha.


Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.


"Nona Helena." Agatha yang berjalan masuk mencari keberadaan Helena.


Agatha tidak menemukan keberadaan Helena. Helena sudah pergi dari kamar untuk berjalan-jalan keliling akademik.


"Mungkin ia pergi jalan-jalan." Jawab Agatha dalam hati.


Alin mengajak Agatha untuk makan malam. Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Nona Helena?" Agatha kaget melihat Helena yang sudah ada di dalam kamar.


"Bagaimana hari ini?" tanya Helena.


"Nona...." Agatha langsung berjalan memeluk Helena.


"Ada apa?" tanya Helena.


"..........." Agatha menceritakan hari pertama di akademik dia sudah membuat masalah dengan menyinggung guru kelas.


"Gadis ini benar-benar menjaga janji dia dengan begitu baik. Berhak untuk di percaya." Jawab Helena dalam hati.


"Yang terpenting kau sudah lebih banyak mengetahui tentang Forza secara teori dasar." Jawab Helena.


"Iya." Jawab Agatha yang tersenyum.


"Aku ingin istirahat." Jawab Helena yang melingkarkan tubuhnya pada bulu-bulu dan ekornya. Agatha juga ikut memejamkan matanya dan tertidur.


Keesokan harinya, Agatha dan yang lain kembali memulai pelajaran dengan mengelilingi lapangan sepuluh kali putaran.


"Haa" napas yang sudah mulai di atur oleh mereka selesai berlari.


"Bagus. Kalian semua sudah melakukan pemanasan. Untuk hari ini aku ingin melihat kemampuan kalian masing-masing. Maka dari itu kita mengadakan pertandingan persahabatan." Jawab Dirga.


"Apakah itu berarti kita akan bertarung?" tanya Ludwig.


"Iya. Kita mengadakan pertandingan berarti pertarungan." Jawab Dirga.


"Bagaimana aku bisa bertarung dengan kemampuan ku pak?" tanya Ludwig.


"Kau itu seorang Forza. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Kekuatan yang kau miliki bukan berarti tidak bisa untuk bertarung. Kau harus bersedia kapan pun untuk bertarung. Siap atau tidak, seorang Forza tidak jauh-jauh dari situasi pertarungan. Apa kau mengerti?" Jawab Dirga dan bertanya juga kepada Ludwig.


"Baik pak " Jawab Ludwig dengan takut untuk menghadapi situasi ini.


"Bagaimana dengan peraturannya pak?" tanya yang lainnya.


"Peraturannya simpel." Jawab Dirga singkat sebelum menjelaskan.


"Kalian hanya perlu mengalahkan lawan. Tapi ingat, semua yang kalian lakukan dibawah pengawasan ku dan perintah ku. Jika aku katakan berhenti maka berhenti. Apa kalian paham?" tanya Dirga menjelaskan peraturan.


"Baik pak." Jawab mereka.


"Siapa yang maju lebih dulu?" tanya Dirga


"Saya pak." Jawab Carlos maju untuk menjadi orang pertama.


"Oke. Maju dan ambil posisi di sana." Jawab Dirga.


"Aku akan mengambil perhatian semua orang dengan menunjukkan kekuatan yang aku miliki." Jawab Carlos dalam hati sambil melangkah maju ke posisi pertarungan.


"Siapa yang akan menjadi lawannya?" tanya Dirga kepada yang lainnya."


Semua menundukkan kepala untuk tidak ingin maju, tapi Alin tanpa kata hanya melangkahkan kakinya berjala menuju ke posisi bertarung dengan Carlos.


"Kau yang ingin bertanding dengannya?" tanya Dirga. Seperti biasa, Alin hanya menganggukkan kepalanya mewakili kalimat iya.


"Baguslah, lawan pertama ku hanya seorang gadis kecil bodoh itu yang ingin menjadi pertunjukan kemenangan pertama ku." Jawab Carlos dengan sombong dan percaya dirinya.


"Tapi kalau di fikir-fikir bagus juga, kesempatan ini akan aku jadikan sebagai pembalasan kemarin karena dia telah menolak ajakan yang sudah aku berikan." Jawab Carlos lagi dalam hati.


"Ada fasilitas akademi, jangan takut terluka. Keluarkan seluruh kemampuan kalian dalam setiap pertandingan." Jawab Dirga.


"Pertandingan akan di mulai saat aku mulai menghitung mundur. Apa kalian mengerti?" tanya Dirga.


"Mengerti." Jawab Carlos dan Alin hanya menganggukkan kepalanya saja.


"3 2 1 mulai." Ucap Dirga memulai pertandingan Carlos dan Alin.


Carlos langsung mengeluarkan kekuatan Forza yang mengelilingi tubuhnya dan berjalan maju mendekati Alin dan berkata "Mampus kau hari ini."


Alin yang hanya diam berdiri dan membuat bola api pada kedua tangannya. Bolanya menyerang ke arah dagu Carlos. Serangan yang ingin di lemparkan Carlos di halangi oleh Alin dengan serangan Alin.


"Buakhh." suara hantaman yang menyerang Carlos. Carlos yang terkena dua kali hantaman bola api Alin melayang ke atas lalu terjatuh ke lantai bergitu saja.


"Hah?" semua murid yang menonton pertandingan itu benar-benar heran. Mereka tidak menyangka bahwa Alin bisa mengalahkan Carlos. Di lihat dari fisik saja Alin sudah kalah.


"Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Carlos dengan dua serangan seperti itu secara bersamaan?" tanya Ludwig.


"Semangat Alin." Jawab Agatha.


"Sial. Aku terjatuh begitu saja?" tanya Carlos dalam hati saat jatuh di lantai.


Carlos berusaha untuk bangun dari terjatuh akibat serangan Alin. Darah segar keluar dari tepi sudut bibirnya. Carlos mengeluarkan kekuatan miliknya dengan membuat tubuhnya keras seperti batu dan mulai menyerang Alin kembali. Baju Carlos robek akibat tubuhnya berbuah menjadi bentuk-bentuk otot yang tebal dan kuat terukir dari seluruh tubuh Carlos.


"Inilah kekuatan Carlos yang sebenarnya." Jawab Ludwig.