Forza

Forza
Pertarungan Kedua Agatha dengan Rania



"Bagaimana jika berlatih di tempat kami?" tanya El.


"Hehehe, tidak perlu tuan Al. Aku akan berlatih saja di rumah." Jawab Agatha.


"Apakah kau yakin? Bukannya kau mengatakan bahwa baru saja mengetahui kekuatan Forza dalam diri mu? Bagaimana kau akan mengendalikannya?" tanya El


"Tenang saja. Aku akan berlatih seperti apa yang bisa aku lakukan, lagi pula sekarang lagi pemulihan." Jawab Agatha.


"Baiklah jika itu yang nona inginkan. Tapi jika memerlukan apapun, kami siap untuk membantu." Jawab El.


"Iya." Jawab Agatha.


"Baiklah, saya permisi dulu." Jawab El yang berdiri dari sofa namun melirik ke arah Agatha yang sedang berada di samping Agatha.


"Boleh aku memegangnya?" tanya El.


"Tuan El ingin memegang non... maksud saya si putih?" tanya Agatha dan El menganggukkan kepalanya. El mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Helena yang berupa seekor rubah berwarna putih.


"Apa-apaan dia?" tanya Helena yang kesal.


"Jenis anjing apa yang kau pelihara ini?" tanya El.


"Dia bukan anjing tuan El." Jawab Agatha.


"Apakah serigala? Tapi tidak mungkin." Jawab El yang melihat tubuh Helena yang gendut dan juga lebih kecil daripada serigala.


"Dia seekor rubah." Jawab Agatha.


"Apa ? Rubah?" tanya El yang menarik tangannya dan menjauhkan tubuhnya dari Helena.


"Aku meliharanya sebulan yang lalu saat di hutan. Saat menemukannya, dia sedang terluka dan aku ingin merawatnya. Dan sampai sekarang aku tetap ingin merawatnya." Jawab Agatha.


"Bukannya rubah adalah hewan yang dilindungi karena populasinya yang sudah sedikit. Dan lagi, rubah adalah binatang buas? Belum ada yang bisa memelihara rubah seperti memelihara seekor anjing?" tanya El.


"Ayah sudah mengurus surat perizinan pemeliharaan hewan. Jadi tidak apa-apa tuan El." Jawab Agatha.


"Huh, baiklah. Saya permisi." Jawab El yang pergi meninggalkan Agatha.


"Kau tadi membiarkan dia untuk mengelus bulu ku?" tanya Helena yang masih kesal.


"Maaf nona Helena, jika aku tadi melarangnya dia akan curiga." Jawab Agatha yang meminta maaf kepada Helena.


"Sudahlah. Saat ini bukan itu yang harus kita fikirkan. Kau sudah memutuskan untuk melawan Rania. Pilihan yang bagus, aku juga dulu tidak pernah mau kalah dari siapapun dan tidak pernah menolak untuk bertarung dengan siapapun." Jawab Helena.


"Benarkah?" tanya Agatha yang mendengar cerita Helena dengan begitu antusias.


"Tentu saja, sudah aku bilang. Aku ini adalah Helena." Jawab Helena.


"Baiklah, aku akan mengikuti jejak Nona Helena untuk menjadi seorang manusia Forza yang kuat seperti Nona Helena." Jawab Agatha.


"Baik." Jawab Agatha. Agatha yang duduk dengan posisi sempurna lalu memejamkan matanya dan berkonstruksi. Sementara Helena meletakkan tangannya ke punggung Agatha untuk mentransfer kekuatan listrik kedalam kekuatan inti Forza Agatha.


"Kau harus merasakan kekuatan itu. Elemen dasar yang aku miliki menjadi elemen petir yang bisa mengeluarkan listrik dari jarak dekat dan jarak jauh saat digunakan. Dan kau juga harus mengetahui ada berapa titik kekuatan Forza pada elemen dasar di dalam tubuh mu dan bakat mu. Kau harus menemukan dulu bakar yang kau miliki setelah itu kau akan mengetahui bagaimana cara kau mengeluarkan dan menggunakan kekuatan Forza yang kau miliki.


"Panas, dingin, menyengat, lembab, kotor, aku sulit menjelaskan. Kekuatan ini kekuatan yang sulit untuk aku masukkan ke dalam inti Forza." Jawab Agatha yang sedang menjawab dengan keadaan menutup mata untuk konsentrasi.


Agatha terus berlatih sesuai dengan perintah Helena. Dan mereka juga berlatih saat tidur. Mereka terus menerus seperti itu selain dari aktifitas biasanya. Agatha yang terus menerus berupaya untuk mengendalikan kekuatan yang dimiliki olehnya.


"Nona Helena, sepertinya aku bisa mengeluarkan kekuatan petir dari tangan ku." Jawab Agatha yang mengerti tenaga kekuatan listrik pada tangan kanan miliknya.


"Anak ini, baru saja dua hari sudah mendapatkan hasil." Jawab Helena dalam hati.


" Jangan senang dulu, atur pola berjalan kekuatan mu itu. Jangan sampai kau tidak konsentrasi." Jawab Helena dengan cerewet kepada Agatha. Agatha yang merasakan bahwa kekuatannya tadi berpencar tidak bersatu, membuat dirinya mengerti apa yang di ucapkan oleh Helena.


Mereka yang terus berlatih dan memulihkan diri Agatha. Semua sudah siap, Agatha juga sudah memberitahukan bawah pertandingan dirinya dengan Rania akan di adakan besok dan di tempat latihan keluarga Ken.


"Aku juga ikut?" tanya Helena kepada Agatha.


"Tentu saja nona Helena harus ikut bersamaku." Jawab Agatha.


"Itu karena kau yang memintanya dengan paksa jadi aku akan menuruti." Jawab Helena kepada Agatha. Mereka berdua pergi ke markas anggota Ken. Tempat latihan sekaligus gedung kantor Al.


"Aku kira kau akan kabur. Baguslah jika kau datang juga, aku sudah lama menunggumu." Jawab Rania kepada Agatha yang baru saja tiba yang di jemput oleh El.


"Kalian harus ingat, ini hanya sebuah pertandingan latihan. Jadi gunakan kekuatan sebaik mungkin dan juga jangan sampai melayangkan kekuatan kalian untuk membunuh." Jawab Al.


"Dan kau Agatha, selamat datang di markas ku. Jika kau mau membatalkan pertandingan ini, aku juga tidak akan memaksa karena semua ini adalah keinginan adikku." Jawab Al.


"Tidak apa-apa tuan Al. Aku akan melakukannya dengan baik." Jawab Agatha.


"Baru saja tiba sudah mau di ajak ribut. Rania ini memiliki kemampuan untuk membuat orang kesal." Jawab Helena dalam hati melihat tingkah Rania.


"Baiklah, jika kedua pertarung sudah datang dan bersedia. Kita lakukan sekarang." Jawab El.


Mereka memberikan penghormatan satu sama lain sebelum bertanding. Saat hitungan ketiga, pertandingan di mulai. Rania langsung menyerang dengan mengeluarkan kekuatan Forza elemen angin. Agatha dengan cepat menghindar dari satu serangan satu dengan serangan berikutnya.


"Kau jangan hanya mengghindar. Tapi berusahalah untuk menyerang juga." Jawab Rania kepada Agatha yang terus menghindari serangannya.


Agatha yang mendengarkan hal itu, saat ini sedang mengamati pertandingan sekaligus mengamati kekuatan lawan dari kebiasaan yang di miliki olehnya.


"Kau dan dia itu berbeda. Jika ibaratnya kau masih dalam masa tunas untuk tumbuh, sedangkan ia sudah tumbuh. Jadi kau harus benar-benar melihat bagaimana ia bermain dan mengukur kekuatan lawan." Ucap Helena saat latihan di ingat oleh Agatha. Ia sudah mengamati Rania dan mulai mencari kesempatan untuk menyerang.


Agatha menggunakan kekuatan angin tanpa sadar untuk melawan angin yang di keluarkan oleh Rania. Mereka berdua bersama-sama tertolak ke belakang namun tidak ada sisa kekuatan Rania ke arah Agatha.


"Ini saatnya." Jawab Agatha dalam hati mendapatkan ide menyerang Rania.