
Dewi terluka sedikit karena serangan Alin membuatnya kesal dan mulai serius untuk melawan mereka berdua. Alin yang sudah terluka namun tetap masih bisa berdiri dan mencoba bertarung. Agatha yang siap untuk bertempur kapan pun, sedangkan Helena hanya melihat mereka bertarung dari atas tangga gedung terbengkalai.
Helena mencoba melakukan telepati kepada Agatha. " Mereka adalah si api kembar, Dewa dan Dewi. Yang sedang kalian hadapi adalah Dewi." Ucap Helena kepada Agatha.
"Siapa mereka sebenarnya?" tanya Agatha untuk menjawab Helena.
"Mereka adalah seratus orang teratas penjahat yang menjadi musuh Forza. Kau berhati-hatilah, aku tidak ingin ikut campur. Aku ingin melihat hasil latihan mu selama beberapa hari ini." Jawab Helena.
"Tapi nona?" tanya Agatha.
"Lakukan dengan serius." Jawab Helena yang santai menidurkan kepalanya di kedua kaki dan melihat mereka bertarung.
"Kau Dewi di api kembar?" tanya Agatha yang bertanya kepada Dewi setelah mendengar ucapan Helena.
"Siapa dia?" tanya Alin yang terkejut Agatha mengetahui siapa yang ada di depan mereka.
"Kau mengetahui kami?" tanya Dewi yang tersenyum.
"Alin, kita harus berhati-hati dengan orang ini." Jawab Agatha.
"Baik." Jawab Alin. Mereka berdua juga mulai serius untuk menghadapi Dewi.
"Walaupun aku tau bahwa Dewi lebih hebat di bandingkan gabungan dua bocah ini. Tapi aku tetap tidak ingin ikut campur untuk sementara waktu. Aku hanya ingin melihat semangat mereka berdua untuk melawan orang yang jauh lebih kuat di bandingkan mereka." Jawab Helena dalam hati.
"Kalian berdua yang sudah mengetahui identitas ku tidak akan aku biarkan hidup." Ucap Dewi yang memusatkan serangan ke arah Alin dan Agatha. Dengan fokus Agatha dan Alin melompat untuk menghindari serangan.
"Dia benar-benar kuat." Jawab Agatha dalam hati melihat serangan Dewi yang menghancurkan tembok gedung.
"Kekuatan ku belum mampu menandingi dia?" ucap Alin yang melihat serangan Dewi dengan jelas lalu memalingkan wajahnya ke arah Agatha.
"Aku tidak ingin membuatnya dalam bahaya karena aku." Jawab Alin dalam hati. Lalu Alin dengan segera mempusatkan kekuatan miliknya mengarah ke Dewi. Dewi dengan mudah membuat perisai api untuk melindungi dirinya.
"Agatha dengarkan aku, aku akan mengalihkan perhatiannya, kau pergilah sejauh mungkin untuk meminta bantuan. Kita tidak akan berhasil mengalahkannya." Jawab Alin yang melompat ke arah Agatha.
"Dua bocah Forza ini masih muda dan memiliki kekuatan yang cukup baik seperti ini, aku tidak akan membiarkan mereka hidup." Jawab Dewi dengan emosi dan menyerang mereka berdua kembali.
"Pergi Agatha." Ucap Alin yang membuat perisai juga untuk melindungi mereka berdua dengan kedua tangan yang menahan serangan Dewi.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan teman ku dalam situasi apapun." Jawab Agatha yang membuat serangan cepat dengan kekuatan listrik miliknya membuat tinju ke arah Dewi. Tepat pada dadanya, Dewi terkena serangan Agatha.
"Ukhuuu....." Dewi mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya.
"Agatha?" tanya Alin dalam hati melihat kesungguhan Agatha yang tetap bersama dengan Alin dan tidak ingin meninggalkannya. Agatha melompat ke arah Alin setelah meninju Dewi.
"Kecepatan yang luar biasa, padahal tadi aku masih melihatnya di dekat bocah itu dan tiba-tiba sudah bisa menyerang ku." Ucap Dewi dalam hati.
"Kalian ...." Dewi yang memancarkan api di seluruh tubuhnya lalu membuat lingkaran besar berbentuk bola-bola api yang di susun dari atas hingga bawah.
"Kekuatan yang besar." Jawab Alin dan Agatha dalam hati.
"Oke." Jawab Agatha.
Serangan Dewi di lawan serangan Alin terus menerus. Bola api di balas dengan bola api, mereka semakin mendekat. Sampai Dewi mengeluarkan kekuatan besar menyerang Alin seperti semburan api yang kuat mengarah ke Alin. Alin yang tidak dapat menahannya membuat dirinya tercampak ke arah dinding gedung.
"Alin? Ini kesempatan." Jawab Agatha dengan memfokuskan tinju dengan kekuatan listrik pada kekuatan Forza yang tersisa dalam dirinya pada serangan ini. Lagi-lagi Agatha berhasil menyerang, tapi kali ini menyerang ke arah belakang Dewi.
Perisai Dewi yang melindunginya tidak dapat menahan serangan Agatha sehingga tembus dan mengenai punggungnya. Dewi terseret dan terjatuh ke tanah dengan membungkuk.
"Sial, serangannya bisa menembus perisai yang aku buat. Jika saja aku tidak membuatnya aku sudah pasti terluka parah." Jawab Dewi dalam hati.
Agatha yang terjatuh setelah melakukan serangan dan melihat Dewi yang terjatuh dan melihat Alin yang sudah sulit untuk bergerak.
"Kau benar-benar membuat ku kehabisan kata." Jawab Dewi yang berdiri dengan membuat dua bola api dengan kedua tangannya dengan niat membunuh. Dewi ingin membunuh Agatha yang sudah tidak berdaya.
Helena yang merasa niat membunuh membuatnya berubah dan segera bergerak menyerang Dewi tepat pada kepalanya. Aliran listrik seperti petir menyambar Dewi dari ujung kepala hingga kaki.
"Berani-beraninya kau ingin membunuh murid ku." Jawab Helena setelah menyerang. Dewi yang terkejut dengan serangan tiba-tiba Helena membuatnya tidak dapat menghindari. Serangan yang kuat membuat Dewi pingsan tanpa kata.
"Nona Helena?" tanya Alin dalam hati melihat kehadiran Helena ada di depan mereka.
"Serangannya benar-benar kuat." Jawab Alin dalam hati.
Helena yang ingin menyerang kedua kalinya dengan niat membunuh Dewi di halangi Agatha.
"Berhenti guru, jangan bunuh." Jawab Agatha dengan terbata-bata dengan posisi berbaring di atas tanah dan tangan yang menjulur ke arah Helena untuk menghentikan.
"Dia ingin membunuh mu dan kau menyuruhku untuk tidak membunuhnya?" tanya Helena kepada Agatha.
"Jangan membunuh orang karena aku." Jawab Agatha yang tersenyum dengan bibir yang telah berdarah dan pakaian yang sudah terkena bakar akibat serangan-serangan yang di layangkan oleh Dewi.
"Kau...."
"Terima kasih nona Helena." Jawab Agatha sebelum pingsan.
"Sudahlah. Lebih baik aku menyelamatkan kalian lebih dulu." Jawab Helena yang ingin mendekati Agatha. Helena menggendong Agatha mendekati Alin yang masih sadar.
"Orang itu juga sudah selesai. Lebih baik membiarkan dia untuk menangani ini." Jawab Helena dalam hati saat meletakkan Agatha di samping Alin.
"Jangan beritahu siapapun jika aku datang. Katakan saja kalian yang mengalahkan dia. Kau mengerti?" tanya Helena kepada Alin yang masih terduduk di tembok dengan luka yang cukup parah.
"Iya." Jawab Alin memegang dadanya karena sakit dan menoleh ke arah kanan melihat Agatha yang sedang pingsan.
"Aku menitipkan dia kepada mu. Vero alam segera datang. Jadi jangan khawatir." Jawab Helena lalu pergi meninggalkan Agatha dan Alin.
Helena pergi ke anjing hitam. "Kerja bagus Black." Ucap Helena dengan mengelus kepala Black. Setelah itu, Helena berubah menjadi rubah lagi.
"Aku sudah mengeluarkan banyak energi kekuatan lagi sehingga tidak stabil mempertahankan bentuk manusia." Jawab Helena yang sudah berubah.