
Agatha yang mengelus kepala kucing yang di berikan makan olehnya bersama dengan Al. Al yang tersenyum tipis. Mereka segera berjalan kembali ke arah jalan rumah. Namun berhenti lagi saat Agatha melihat beberapa anjing liar yang sedang membongkar tong sampah.
"Kalian jangan membuat kotor, sudah aku katakan untuk menunggu ku. Maaf terlambat." Jawab Agatha dengan takut-takut meletakkan makanan di atas tanah dan para anjing itu berjalan mendekati Agatha dan makan makanan yang di letakkan di atas tanah.
"Kenapa tidak mengelus bulu anjing ini juga?" Jawab Al kepada Agatha yang hanya melangkah ke belakang saat pada anjing itu datang.
"Aku sedikit takut untuk mendekatinya." Jawab Agatha.
"Kau takut tapi memberikan makan kepada mereka?" tanya Al.
"Aku hanya takut tapi tidak berhenti membantu apa yang aku bisa lakukan. Bukannya mereka juga berhak untuk hidup? aku hanya membantu sedikit saja." Jawab Agatha tanya Agatha dengan tersenyum.
"Iya." Jawab Al lalu Agatha berjalan lagi meninggalkan anjing-anjing liar itu makan.
"Kenapa takut?" tanya Al.
"Waktu kecil aku pernah di kejar-kejar anjing liar. Saat itu karena hampir di gigit aku mengeluarkan kekuatan Forza dan membunuhnya." Jawab Agatha dengan tersenyum tipis.
"Aku merasa bersalah karena membunuh makhluk hidup yang ingin hidup. Bukankah penjahat juga berhak hidup? Mereka juga punya alasan kenapa menjadi jahat. Mungkin dunia yang tidak adil sehingga mereka tidak bisa berfikir dengan baik. Walaupun tindakan mereka salah tapi bukan berarti kita harus membunuh mereka dengan alasan kesalahan mereka bukan?" tanya Agatha. Helena yang mengikuti mereka dari samping tembok tanpa di ketahui mereka berdua terkejut dengan jawaban Agatha. Begitu pula dengan Al yang terkejut dengan jawaban Agatha.
"Mereka yang punya kesalahan juga berhak mendapatkan permohonan maaf. Dan semua orang yang yang jahat bukan berarti tidak ada yang berubah menjadi baik. Mereka punya kesempatan untuk berubah. Dan kita punya kesempatan untuk memaafkan. Karena hal itu akan membantu mereka menjadi orang yang lebih baik lagi." Jawab Agatha.
"Aku memang belum berani untuk menyentuh mereka. Selain aku takut karena kekuatan ku yang tak terkendalikan seperti dulu, aku juga alergi bulu anjing." Jawab Agatha lagi.
"Oh," jawab Al kepada Agatha.
"Iya." Jawab Agatha yang berhenti di depan pagar rumah.
"Tuan Al masuk dulu, aku akan menyeduh teh hijau." Jawab Agatha menawarkan.
"Tidak perlu. Lain kali saja. Selamat beristirahat." Jawab Al memberikan tas belanja Agatha dan membalikkan badan kemudian melangkah pergi begitu saja.
Disisi lain, Helena yang sedang flashback pada kehidupan lamanya.
"Lihat gadis itu, dia sangat cantik tapi sayangnya dia dari keluarga penghianat. Dia tidak berhak untuk hidup." seseorang pernah menghina Helena yang tidak memiliki seorang ayah.
"Bunuh saja semua orang yang sudah membicarakan ayah mu Helena." Ucap Ibu Helena yang sedang memerintahkan Helena membunuh orang-orang yang sudah menghinanya. Helena bukan membunuh mereka tapi membuat mereka babak belur.
"Kau tetap tidak bisa menjadi anak kebanggaanku. Seharusnya kau membunuh mereka untuk melindungi ku " Ucap Ibunya.
"Nona Helena. Nona Helena...." Agatha memanggil Helena yang sedang mengingat masa lalunya beberapa kali tapi tidak terdengar olehnya.
"Nona Helena." Agatha yang mendekat Helena dengan tangannya meraih tubuh Helena di atas pagar.
"Kenapa nona melamun?" tanya Agatha.
"Tidak apa-apa." Jawab Helena.
"Nona Helena ini untuk mu." Jawab Agatha.
"Ku kira aku terus-menerus makan makanan seperti ini?" tanya Helena.
"Maaf kalau aku salah." Jawab Agatha.
"Aish, sudahlah." Jawab Helena yang menerima juga pemberian dari Agatha lalu memakannya dengan lahap. Agatha yang tidak ingin mengganggu mood Helena bergegas masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.
Sementara Al yang masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah bersama dengan El. Tiba di rumah, Al yang masuk melihat Rania yang belum tidur.
"Tuan Al sudah sampai rumah?" tanya Agatha yang membaca chat Agatha beberapa menit yang lalu sebelum Al sampai di rumah. Al ya sampai di rumah langsung mendapat pertanyaan dari Rania yang bergegas berlari ke arah Al. Rania mendekati Al dan menetapkan Al dengan serius.
"Ada apa?" tanya Al yang menggunakan jari telunjuknya ke arah dahi Rania untuk sedikit menjauh dari hadapannya.
"Abang yang ada apa dengan Agatha?" tanya Rania.
"Tidak ada." Jawab Al.
"Tapi kenapa dia bertanya seperti ini? Abang tadi bersama dengannya?" tanya Rania yang sedang menunjukan layar ponsel miliknya ke arah Al dan Al membacanya.
"Iya " Jawab Al.
"Ngapain Abang bersama dengan Agatha? Apa jangan-jangan?" tanya Rania.
"Aku hanya mengantarkan ia pulang ke rumah." Jawab Al.
"Kenapa kalian bersama?" tanya Rania yang terus-menerus ingin menginterogasi Abang Al yang baru saja pulang ke rumah.
"Berhenti bertanya, Abang hanya mengantarkan Agatha ke rumah karena tadi iya ditentang oleh Fara untuk pertandingan. Pemenangnya adalah Agatha. Abang tidak menyangka bahwa perkembangan Agata sudah makin meningkat." Jawab Al.
"Satu lagi pertanyaan, adek mohon." Jawab Rania dengan memasang wajah imut kepada Al.
"Dua orang yang telah menyusup ke rumah Agatha adalah orang-orang yang berada di kekuasaan Farel. Mereka melakukan hal itu karena tidak menerima keputusanku yang telah memberikan kuota khusus untuk siswa yang akan mengikuti akademi siswa yaitu Agatha. Fara mengajukan pertandingan untuk melawan Agatha. Agatha yang tidak sama sekali takut untuk menerima tantangan dari Fara. Mereka bertanding dengan sangat bagus. Fara juga mengalami kemajuan tali Agatha lebih baik lagi. Fara tidak memiliki kesempatan sedikitpun mengenai Agatha pada setiap serangannya. Agatha juga menggagalkan serangan pamungkas dari Fara. " Jawab Al.
"Apa? Benarkah itu? Keluarga Paman Farel yang melakukan semua ini?" tanya Rania.
"Bukan sudah cukup aku menjawabnya dengan lengkap. Abang lelah, Abang ke kamar dulu." Jawab Al.
"Dasar pelit. Jawab dulu yang ini, ini yang terakhir." Jawab Rania.
"Semua ini perintah Fara, paman Farel tidak mengetahui sama sekali tentang hal ini. Aku yang mengetahui hal ini, esoknya datang bertemu dengan paman Farel untuk mengklasifikasi semua. Tapi paman Farel benar-benar tidak mengetahuinya." Jawab Al
Rania yang tidak berhasil mendapatkan informasi yang lebih. Al yang sudah menjawab pertanyaan dari Rania langsung masuk ke kamar. Rania yang belum puas langsung menelpon Agatha untuk mendapatkan semua informasi yang di dapat. Mereka melakukan video call untuk bercerita. Agatha yang tidak ada dendam sama sekalian bahkan kepada Fara, ia hanya menikmati pertandingannya."