Forza

Forza
Kedatangan 2 orang Misterius



Suara klakson mobil terdengar kuat dari luar rumah. Agatha, Alin, Rania dan Kaivan sedang memakai sepatu untuk keluar dari rumah setelah sarapan bersama. Mereka buru-buru untuk masuk ke dalam mobil karena waktu jam masuk sekolah tinggal 15 menit lagi. Niat awal mereka ingin berjalan bersama-sama ke sekolah, namun mereka terlambat bangun sehingga menelpon supir Rania untuk menjemput mereka.


Supir Rania digantikan oleh El atas perintah Al yang saat itu mendengar perintah dari Rania. Oleh karena itu El menekan tombol klakson mobil berulang-ulang di depan rumah Agatha.


"Abang El?" Tanya Rania yang pertama masuk ke dalam mobil di belakang mobil.


"Tuan El?" Tanya Agatha yang masuk di tengah bangku mobil belakang dan di ikuti Alin yang juga masuk. Mereka bertiga duduk di belakang kursi supir. Sedangkan Kaivan masuk terakhir ke dalam mobil dan duduk di depan, di samping bangku supir.


"Ayo pak kita pergi!" Jawab Kaivan yang tidak menyadari bahwa El yang ada di samping kursinya.


"Lain kali bangun tepat waktu agar tidak terlambat pergi ke sekolah." Jawab El dengan menekan gas mobil untuk berjalan.


"Tuan El?" Panggil Kaivan dengan terkejut menyudutkan tubuhnya di samping pintu mobil dengan melihat El yang sedang menyetir.


"Aku hanya menjalankan perintah dari tuan Al." Jawab El.


"Aku kaget." Jawab Kaivan dalam hati.


"Bagaimana dengan menginap di rumah teman sendiri?" Tanya El.


"Yah begitulah. Abang El cepat sedikit agar kami tidak telat dan jangan bertanya hal yang tidak penting." Jawab Rania singkat dengan melihat jam tangan yang di pakai olehnya.


"Baiklah, sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan juga untuk kalian semua, karena itulah tuan Al memerintahkan aku untuk memberitahu kalian." Jawab El.


"Ada apa tuan El?" Tanya Agatha dengan polosnya.


"Kalian akan melakukan pelatihan di sekolah Forza selama liburan sekolah ini. Jadi bersiaplah untuk mendapatkan nilai yang baik di dunia pendidikan yang hanya memikirkan nilai saja." Jawab El.


"Sekolah khusus?" Tanya Agatha yang tidak mengetahui.


"Oh, jadi program itu akhirnya sudah bisa di laksanakan." Jawab Rania dan Kaivan bersama-sama.


"Iya." Jawab El.


"Oh ya, Agatha dan Alin pasti belum mengetahui arah pembicaraan ini. Sekolah khusus Forza ini adalah sekolah yang di dirikan oleh beberapa organisasi yang ada di dalam ruang lingkup distrik A. Singkatnya sekolah ini adalah sekolah yang akan melatih para Forza dalam mengembangkan kekuatan, kecintaan, kedisiplinan dan nilai-nilai kebaikan lainnya sebagai pengembangan pendidikan untuk manusia Forza yang memiliki kemampuan."


"Seperti itulah singkatnya tentang sekolah Forza itu sendiri di distrik A. Tapi peraturan dari masuk sekolah ini hanya ada 2 hal, yang utama adalah dari keluarga ternama, kedua rekomendasi dari setiap organisasi yang mengirimkan Forza lain yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita. Apa kalian paham sampai ini? " Jelas El.


"Lalu hubungannya dengan kami?" Tanya Alin.


"Kau akan mewakili dari keluarga Dev sebagai peran utama dari pertandingan ini." Jawab El.


"Dan penjelasan singkat yang aku katakan itu menjadi bahan yang harus kalian fikirkan masing-masing. Semua keputusan ini adalah sebuah pilihan kalian sendiri. Mau ikut belajar bersama saat liburan atau hanya sekedar menghabiskan waktu bersama orang terkasih atau melakukan kegiatan yang sudah kalian jadwalkan. Kalian berdua bisa memilih untuk tidak ikut atau ikut. Karena tentang hal ini hanya sebuah perencanaan studi saja tanpa ada keharusan kalian ikut atas nama undangan khusus organisasi dan kalian harus mengabdi kepada organisasi. Itu semua tidak ada. Ini hanya sebuah pilihan untuk menambah ilmu dan pengalaman. Sedangkan Kaivan dan Rania memang harus ikut serta." Jawab El.


"Aku akan menerima pesan kalian di malam hari nanti, saat ini turunlah dan belajar dengan baik." Jawab El yang menghentikan mobilnya dan mereka semua berpamitan.


Saat istirahat sekolah, mereka kembali berkumpul di atas atap untuk membicarakan tawaran sekolah yang bersangkutan. Setelan itu, mereka memutuskan untuk ikut serta dalam akademik pendidikan manusia Forza bersama. Alin dan Agatha juga sudah mulai mengerti apa yang harus mereka pilih.


"Jika Rania dan Kaivan pergi ke sana, aku juga akan ikut. Lagi pula Ayah dan Ibu tidak dapat pulang saat liburan nanti. Bagaimana dengan mu Alin?" tanya Agatha.


"Aku juga ikut." Jawab Alin.


Di sisi lain, beberapa orang dengan jubah hitam datang untuk memeriksa alamat rumah Alin dan Agnia yang sudah habis terbakar itu. Orang-orang itu berjumlah 2 orang.


"Aku mendapatkan informasi dari pusat bahwa dokter Agnia tinggal di sini, tapi ini hanyalah sebuah bangunan yang habis terbakar yang sudah roboh dan tidak terurus."


"Aku juga melihatnya tapi memang ini hanya sebuah bangunan yang hancur."


"Apa dokter Agnia pergi dengan cepat? Sial, padahal kita selalu mengikuti jejaknya tapi tidak pernah bertemu dengannya. Dia benar-benar beruntung."


"Padahal kita mendapatkan banyak uang jika bisa menculiknya dan membawanya kepada ketua."


"Kita masuk dulu untuk melihat-lihat, mungkin akan mendapatkan petunjuk."


"Iya benar, kita masuk dan periksa di dalam rumah. Mungkin ada petunjuk mereka di sekitar sini."


Mereka masuk ke dalam rumah dokter Agnia yang sudah di bakar oleh Alin sesuai dengan permintaan gurunya. Mereka tidak menemukan apapun di dalam. Tapi salah satu dari merek berdua, mereka datang ke komplek perumahan itu untuk mencari bukti yang lainnya. Bukti video atau kamera yang menandakan mungkin akan menemukan petunjuk. Mereka meminta untuk melihat keberadaan dokter Agnia itu benar atau tidak.


Mereka berdua datang mengecek keberadaan dokter Agnia apakah benar-benar ada. Saat pemeriksaan ternyata memang ada.


"Siapa wanita itu ?" tanya salah satu dari mereka kepada satpam yang menjaga ruang Cctv.


"Aku tidak tau tapi kalau tidak salah ingat mereka memang selalu bersama."


"Jadi dia murid dokter Agnia yang sudah lama kita cari juga." Jawab satunya lagi.


"Tidak, sudahlah jangan bahas itu. Bagaimana jika kita langsung menelusuri arah tempat yang mereka tempati ini." Jawabnya.


Mereka yang melihat wajah Alin dan segera pergi dari ruang CCTV itu. Mereka mendapatkan petunjuk dan terus mencari keberadaan Alin sampai mereka menemukan rumah baru yang Alin tempati saat ini. Mereka menunggu ke datangan Alin ke rumah.


Menunggu beberapa jam, Alin yang mengambil kunci dari tasnya dan membuka pintu rumah. Alin menghentikan langkahnya dan gerakkan dirinya karena merasakan bahwa dirinya sedang di ikuti oleh seseorang. Alin menolehkan kepalanya ke belakang dan kanan kiri namun tidak menemukan seseorang. Alin kembali membuka pintu rumah dengan cepat-cepat.