Forza

Forza
Kehadiran Helena



Suasana rumah yang sepi, hanya ada seekor anjing yang berada di dalam rumah. Seekor anjing yang masih lemah, tubuh yang belum sembuh sepenuhnya. Helena yang baru saja keluar dari kamar dan melihat sekitar.


"Kemana bocah itu? Seharusnya dia sudah tiba di rumah pukul 2 siang tadi." Ucap Helena yang melihat rak sepatu belum terlihat sepatu sekolah Agatha.


"Ahhhh, kenapa pula aku harus khawatir." Ucap Helena dalam hati tapi tidak sampai hati juga untuk tetap diam. Helena berjalan keluar rumah dan melompat dari atap rumah ke atap rumah orang lain. Ia berjalan di atas atap rumah orang-orang mencari keberadaan Agatha.


Agatha yang masih terduduk dan mengeluarkan air mata. Menahan tangisan dengan kedua tangan pada wajahnya. Agatha terus terbawa suasana di masa lalu.


"Bocah itu? Sedang apa dia?" tanya Helena yang melihat dari atas tembok melihat Agatha.


"Agatha!" panggil Helena dari atas dinding pembatas jalan dan turun kebawah. Tapi Agatha tetap tidak merespon apa-apa. Helena menyentuh punggung Agatha dari belakang dan membuat Agatha tersadar. Agatha yang mendengar Helena memanggilnya, mengusap air matanya dan kembali tersenyum di hadapan Helena.


"Nona Helena!" panggil Agatha yang berbalik badan.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Helena kepada Agatha.


"Tentu saja ingin pulang nona Helena, Hehehe." Jawab Agatha yang tersenyum.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada Nona, kenapa ada disini?" tanya Agatha.


"Hanya jalan-jalan keluar mencari angin dan melihat mu disini. Kau sudah tuli ya? Sejak tadi aku panggil tidak ada jawaban." Jawab Helena yang mengalihkan pembicaraan dan berbohong kepada Agatha bahwa dirinya sedang mencari Agatha.


"Maaf nona Helena, tadi aku sedang kefikiran sesuatu." Jawab Agatha yang berdiri dan mengangkat Helena.


"Turunkan aku." Jawab Helena yang tidak ingin di gendong oleh Agatha.


"Tidak apa-apa. Ikut aku nona," ucap Agatha yang berjalan dengan cepat karena tidak ada orang di gang kecil itu. Dan mereka tiba di halte. Banyak orang yang melihat Agatha membawa seekor rubah yang di gendongnya. Tatapan takut, gemas, lucu terpancar di wajah mereka yang ada di halte.


Agatha menaiki bus yang berhenti di depan halte. Tatapan orang-orang yang ada di dalam bus juga seperti saat di halte. Agatha menscan kartu penumpang bus miliknya. Berjalan masuk di lorong tengah dalam bus menuju kursi kosong. Agatha duduk di pinggir jendela.


"Tanggapan mereka? Ingin aku bakar saja bus ini." Jawab Helena yang kesal melihat wajah orang-orang yang menatap mereka.


"Apa yang kau bawa itu? Bukannya itu rubah?


"Itu sangat bahaya?"


"Aneh-aneh saja manusia sekarang. Memelihara bintang buas dan membawanya di tempat umum."


"Saya akan menjaganya dengan baik tanpa menyakiti orang-orang di dalam bus ini. Saya sudah memiliki sertifikat kepemilikan hewan peliharaan dari negara, jadi jangan khawatir." Ucap Agatha yang tersenyum kepada semua orang.


"Kenapa bocah ini harus menjelaskan dengan wajah seperti itu? Menyebalkan." Jawab Helena yang melihat Agatha.


Helena tidak dapat mengeluarkan suaranya, takut banyak orang akan mendengar hal yang mustahil. Ia memilih diam dan menahan emosi sebaik mungkin.


"Nona tenang saja, kita akan pergi ke tempat yang pasti nona Helena suka." Jawab Agatha.


"Kemana pula bocah ini mau mengajak ku?" tanya Helena dalam hati.


Mereka menaiki bus dan berhenti di halte tujuan. Agatha membawa Helena pergi ke sebuah restoran barbaque. Agatha yang masuk ke dalam restoran dan memesan porsi jumbo. Dan beberapa saat makanan datang dan di antar ke ruang VIP. Ruangan tertutup yang hanya ada Helena dan Agatha.


"Bagaimana nona?" tanya Agatha.


"Karena kau sudah membawa ku kemari, aku akan menikmatinya." Jawab Helena yang langsung berubah menjadi manusia.


"Anda bisa sesuka hati merubah wujud?" tanya Agatha.


"Tentu saja." Jawab Helena yang langsung membakar daging sapi di hadapannya dan menikmatinya. Helena fokus makan daripada menjawab pertanyaan Agatha. Agatha yang mengerti bahwa Helena tidak ingin menjawab pertanyaannya.


"Sepertinya untuk saat ini aku hanya bisa berubah menjadi manusia cuman sekali dalam sehari. Dan durasinya aku tidak bisa menentukan." Jawab Helena dalam hati yang setelah selesai makan ia langsung berubah menjadi seekor rubah lagi.


"Nona merubah wujud lagi?" tanya Agatha.


"Begitulah. Aku sudah kenyang. Jika aku keluar dalam wujud manusia, bukannya orang-orang yang di luar ruangan ini akan heran?" tanya Helena kepada Agatha untuk membuat alibi alasan yang masuk akal untuknya.


"Nona sangat cerdas." Jawab Agatha.


"Tentu saja. Kalau kau sudah selesai, lebih baik kita pergi. Dan kau juga harus berlatih. Bukannya kau berkata ingin berusaha menjadi murid ku?" tanya Helena.


"Baik nona, ayo kita bayar dulu lalu kita latihan di taman." Jawab Agatha.


"Ide bagus, lari 50 kali putaran di taman nanti untuk latihan fisik." Jawab Helena.


"Oke. Tapi setelah kita pulang dan aku berganti pakaian." Jawab Agatha.


Di sisi lain, Al dan El yang berada di ruang latihan organisasi Kaze melihat anggota mereka sedang berlatih. Ruangan putih yang sangat lebar. Memiliki dinding-dinding pembatas setiap kelompok Kaze.


"Tuan Al, aku dan penyelidik sudah mengkonfirmasi bahwa kejadian di gang malam itu bukan hanya kekuatan manusia Forza yang berasal dari Agatha. Tapi ada kekuatan lain." Jawab El yang melapor di saat Al sedang berdiri di atas melihat anggota mereka latihan.


"Kekuatan lain?" tanya Al.


"Itu kekuatan dokter Agnia yang baru-baru ini sudah di tangkap oleh penyelidik keluarga Dev. Mereka menangkap atas penelitian ilegal dokter Agnia. Tapi itu sudah menjadi urusan mereka sebagai tim penyidik distrik wilayah kita. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah tentang kekuatan yang lain, kekuatan Helena." Jawab Al.


"Helena? Helena manusia Forza terkuat yang setara dengan rangking manusia Forza dunia?" tanya Al.


"Iya, kekuatan dari pembatas arena sekitar itu adalah dari kekuatan Helena." Jawab El.


"Kenapa Forza terkuat seperti Helena datang ke wilayah kita?" tanya Al.


"Kehadiran Helena sudah kami selidiki beberapa hari ini, tapi tidak ada jejak lain selain itu. Kami tidak menemukan hal lain lagi, bahkan hak itu seperti sebuah persinggahan saja." Jawab El.


"Aku mengerti, entah ini sebuah kebetulan atau tidak. Aku harus memastikannya." Jawab Al.


"Maksud anda?" tanya El.


"Kita pergi ke keluarga Dev dan pergi menemui Agatha. Atur jadwal besok untuk bertemu dengan mereka." Jawab Al.


"Maksud tuan ingin memastikan bahwa mereka memiliki hubungan dengan Helena?" tanya El.


"Iya." Jawab Al.


"Baik, aku mengerti. " Jawab El.