
Rania yang terdorong kuat dari serangan kekuatan yang dimiliki oleh Agatha. Agatha yang melihat ada cela yang dibuat oleh Rania atas serangan mereka bersama memberi kesempatan Agatha langsung melakukan serangan kembali dengan cepat ke arah Rania.
Rania yang terlambat merespon membuatnya tidak bisa menghindar. Rania terkena serangan pada perutnya. Sesuatu yang seperti listrik mendorong kuat Rania hingga terjatuh ke dinding pembatas ruangan dan membuat dindingnya retak. Agatha yang selesai menyerang ke arah Rania tampak heran dengan kekuatan yang baru saja ia lepaskan dari kedua tangannya.
"Apa ini kekuatan ku?" tanya Agatha dalam hati sambil melihat kedua tangannya dan tubuh Rania yang terdorong hingga ke dinding.
"Uhukkkkk.... Apa ini, kecepatan yang tidak bisa aku imbangi dan juga kekuatan yang baru saja di lepaskan olehnya adalah kekuatan petir? Tubuh ku terasa tersengat aliran listrik yang kuat hingga ini sangat lemas." Jawab Rania yang melihat Agatha berdiri di depannya.
"Kekuatan anak ini bukan hanya kecepatan tapi juga listrik? Apakah kekuatan yang kami rasakan itu bukan kekuatan Helena? Melainkan kekuatan anak ini sendiri?" tanya Al dalam hati.
"Tuan?" tanya El yang juga merasakan.
"Akan kita selidiki kembali lagi nanti." Jawab Al.
"Oke." Jawab El yang berjalan mendekat Agatha dan Rania.
"Pemenangnya Agatha." Jawab El yang mengumumkan pertandingan mereka berdua di menangkan oleh Agatha.
"...." Agatha tersenyum dan melihat ke arah Helena.
"Kerja bagus. Aku tidak menyangka bisa menjadi guru sehebat ini." Jawab Helena membanggakan dirinya atas keberhasilan yang di lakukan oleh Agatha.
El yang langsung berjalan untuk membantu Rania berjalan. Al yang mengetahui itu juga berjalan untuk membantu Rania tapi di tolak oleh Rania.
"Biarkan El yang membantu Rania untuk di rawat. Kau juga seharusnya di rawat dengan beberapa luka yang kau terima karena Rania." Jawab Al.
Tidak ada yang berani menolak perintah Al. Mereka langsung mendapatkan perawatan dan di rawat di kamar yang sama. Rania yang mengalami luka di tangan kanan dan perutnya. Sedangkan Agatha mendapatkan luka tangan dan wajah yang sedikit lebih ringan dari Rania.
Rania yang membelakangi Agatha di kamar yang sama membuat suasana menjadi hening tanpa suara. Rania masih belum bisa menerima kekalahan yang dialami olehnya. Dia merasa bahwa dirinya yang sebagai salah satu remaja terkuat di distrik A telah di kalahkan dengan Forza baru yang di temukan satu bulan lebih.
"Putih kau akhirnya datang?" panggil Agatha kepada Helena yang hampir saja menyebutkan nama Helena untuk memanggilnya. Helena yang tidak menjawab karena di samping tempat tidur pasien Agatha adalah tempat tidur pasien Rania.
"Aku menang walaupun dengan kondisi yang terluka seperti ini, jika saja Nona Rania tidak lengah mungkin aku tidak akan menang." Jawab Agatha yang bercerita kepada Helena.
"Anak ini tetap saja merendah diri." Jawab Helena dalam hati.
"Baguslah kalau kau sadar, jika aku tidak lengah kau akan kalah dari ku." Jawab Rania dengan cepat menjawab ucapan Agatha.
"Heheh. Maafkan aku sudah membuat Nona Rania seperti ini. Apakah nona tidak apa-apa?" tanya Agatha dengan tersenyum.
"Kau sebenarnya sedang meremehkan aku atau hanya sekedar basa-basi?" tanya Rania yang ingin marah namun suara perutnya berbunyi.
"Kriukkkkkk......" suara perut Rania terdengar.
"Nona Rania sudah lapar?" tanya Agatha yang mendengar suara itu.
"Apa? Itu bukan dari suara perut ku." Jawab Rania yang tidak mengakui tentang keadaan perutnya yang lapar.
"Agatha?" tanya seorang delivery yang membawa sop iga.
"Iya benar." Jawab Agatha yang langsung mengambil ponsel di atas meja yang berada di samping tempat tidur. Agatha membayar pesanan dengan dompet digital yang ada di ponselnya. Setelah membayarnya, delivery itu pergi meninggalkan pesanan Agatha.
"Ini untuk Nona Rania." Jawab Agatha yang memberikan satu bungkus plastik yang berisi sop iga pada Rania. Rania dengan wajah jaim namun tetap di ambil pemberian Agatha.
Agatha yang sudah memesan daging panggang juga membuka pesanan itu dan meletakkan ke arah Helena yang berada di bawah kaki tempat tidurnya.
"Ini gadis memang baik apa terlalu polos?" tanya Rania yang sudah membuka bungkusan makannya dan ingin menyantap tapi melihat Agatha yang mendahuluinya memberi makan kepada seekor rubah yang ada di bawah kaki Agatha itu.
"Kau mementingkan memberinya makan baru memakan makanan mu?" tanya Rania.
"Tidak apa-apa. Kita sudah 8 jam di ruangan ini, dia juga pasti sudah lapar." Jawab Agatha kepada Rania yang membuat Rania tidak mengerti fikiran Agatha.
Helena yang hanya melihat ekspresi wajah mereka berdua lalu mementingkan makanan yang ada di depannya. Helena langsung makan daging yang ada di depan matanya dengan begitu anggun tidak seperti seekor rubah. Rania yang melihatnya dengan heran namun tidak berkomentar apa-apa. Rania juga fokus dengan makanan yang di santap olehnya.
Mereka makan bersama di dalam ruangan pasien itu dengan begitu lahap. Dan setelah selesai, Al dan El datang menjenguk mereka berdua.
"Kalian istirahat saja hingga besok. Jika sudah membaik maka boleh sekolah. Tenang saja, aku sudah memberikan informasi ketidak hadiran kalian besok." Jawab El kepada mereka.
"Sudah makan?" tanya Al yang mengelus kepala Rania.
"Sudah Tuan, tadi kami makan sop iga." Jawab Agatha yang tersenyum lebar.
"Iya, Agatha yang membelinya." Jawab Rania kepada Al.
"Istirahatlah yang cukup. Agatha, bisa kita bicara?" tanya Al.
"Iya tuan Al, silahkan." Jawab Agatha.
"Ketika serangan terakhir mengalahkan Rania, apakah hal seperti itu sudah sering terjadi?" tanya Al.
"Maksud tuan Al?" tanya Agatha yang tidak mengerti.
"Dasar lemot, dia sedang mengintrogasi mu. Mungkin saja mereka menemukan sisa kekuatan milik ku sebulan yang lalu di tempat itu." Jawab Helena dalam hati.
"Sudah berapa kali Nona menggunakan kekuatan seperti itu?" tanya El.
"Pertama kali?" tanya mereka bertiga dengan kompak dan wajah yang sangat terkejut mendengar pengakuan Agatha.
"Siapa yang melatih mu?" tanya Al langsung namun sekilas Agatha melirik Helena yang ada di atas selimut pada posisi kaki Agatha yang tertutup.
"Aku sulit menjelaskannya, aku juga merasa kaget bisa melakukan itu." Jawab Agatha yang mengangkat kedua tangannya. Al, El dan Rania mulai berfikir tentang kejadian tadi, wajah terkejut Agatha juga terlihat jelas saat setelah melakukan serangan itu kepada Rania.
"Oh, terima kasih atas jawabannya. Kalian istirahat dengan cukup. Rania, makan yang teratur dan bergizi. Jangan makan makanan yang banyak micin." Jawab Al yang memperhatikan adiknya lalu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam.