
"Bisa kita berbicara sebentar?" tanya Al kepada Agatha.
"Tentu tuan Al." Jawab Agatha.
Mereka yang pergi ke ruangan Al bersama dengan Helena yang masih di gendong oleh Agatha. Mereka masuk ke dalam ruangan Al dan duduk di sofa.
"Kau mau teh?" tanya Al.
"Tidak perlu repot-repot tuan Al." Jawab Agatha.
"Baik. Aku akan mulai pembicaraannya." Jawab Al yang mulai memasangkan wajah lebih serius daripada ekspresi dingin yang biasa ia tampilkan.
"Orangtua kami meninggal saat aku berusia 15 tahun dan di saat Rania masih terlalu kecil. Kami hidup berdua sejak itu, Rania tumbuh menjadi gadis tanpa kasih sayang kedua orangtua. Di dunia ini, hanya ada aku sebagai saudara kandungnya. Jadi dia tumbuh sedikit kekanakan, ceroboh, dan selalu membuat masalah."
"Aku akui hal itu, jadi aku mohon maaf secara khusus tentang apa yang telah di lakukan oleh Rania kepada mu." Jawab Al.
"Kenapa harus tuan Al yang meminta maaf. Lagi pula kami hanya salah paham saja. Kalau soal pertarungan kemarin itu hanya aku yang ingin melakukan itu. Aku hanya ingin mengukur kemampuan yang aku punya." Jawab Agatha.
"Karena itulah masalahnya." Jawab Al.
"Maksudnya?" tanya Agatha yang bingung.
"Untuk pertama kalinya Rania kalah dengan seorang yang seusia dengan dia. Mungkin saat ini dia sangat terkejut dan sulit untuk menerimanya." Jawab Al.
"Rania baru sekali kalah?" tanya Agatha yang terkejut.
"Iya. Ini untuk pertama kali dia harus kalah dengan seorang Forza yang seusianya. Kau pasti pernah dengan tentang Forza Remaja distrik A memilki 4 orang kandidat terkuat. Yang biasa di sebut dengan F4 remaja. Dan salah satu personil dan termasuk yang berada di peringkat 1 adalah Rania." Jawab Al setelah menjelaskan tentang siapa Rania.
"Jadi saya telah mengalahkan Rania, peringkat pertama Forza remaja distrik A?" tanya Agatha.
"Kurang lebih seperti itu. Tapi pertandingan kalian tidak terekspos keluar, sehingga hanya aku, kau, Rania dan El yang mengetahui hal itu." Jawab Al.
"Apa Rania tidak apa-apa dengan semua ini?" tanya Agatha yang mengkhawatirkan Rania.
"Maksud saya, apakah ini tidak berdampak buruk kepada Rania?" tanya Agatha lagi.
"Hahahahah, kau benar-benar berhati lembut. Apa kau tidak mengerti apa yang sudah aku maksud?" tanya Al dan Agatha menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa malah ini sangat bagus untuk Rania lebih menurunkan ego dan kesombongan yang di miliki olehnya. Aku malah ingin berterima kasih kepada mu untuk membuka fikiran Rania yang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa menurutku." Jawab Al.
"Iya, seharusnya kau sudah tau bagaimana kemampuan Rania tadi bukan? Saat melawan mu, dia tidak serius dan dia ingin bermain-main dengan mu. Tapi tidak dengan pertarungan tadi. Pertarungan Rania dengan Alin menunjukan kekuatan Rania yang sebenarnya. Jika saja saat Rania melawan mu, aku yakin dia akan menang. Saat itu dia tidak benar-benar serius. Rania di penuhi emosinya." Jawab Al.
"Aku juga mengerti itu, aku hanya beruntung saat itu." Jawab Agatha tertawa saat tersenyum kepada Al.
"Aku mengerti bagaimana kemampuan ku dan pengalaman bertarung yang aku miliki masih terlalu minim dalam mengambil atau menyandang sesuatu untuk melawan Rania." Jawab Al.
"Aku tidak bermaksud untuk meremehkan mu juga. Kau dan anak yang bernama Alin itu mungkin saja akan melebih kekuatan Rania. Tapi kau harus memahami bahwa Rania itu keluarga yang cukup berpengaruh. Itu juga yang membuatnya sedikit tanpa aturan." Jawab Al .
"Sosok kecilnya akan selalu menjadi adik kecil bagi ku selamanya. Dan juga semua ini dilakukan untuk membuat dia merasa di cintai. Sebenarnya aku sulit menjelaskannya bagaimana. Tapi menyandang nama Ken dan melalui hidup selama ini, kami menjadi kuat dengan sendirinya tanpa menampilkan sisi lemah di hadapan orang lain. Kami di tuntut untuk menjadi nomor satu, terhebat dari yang hebat-hebat." Jelas Al lagi.
"Lebih tepatnya, banyak mata yang memandang kami sejak dulu. Mata yang menghormati, mata yang licik agar mendapat keuntungan dari kami, mata yang kasihan kepada kami dan mata yang takut kepada kami. Mereka semua yang kamu temukan hanyalah orang-orang yang hanya ingin keuntungan dari kami dan juga kesedihan yang kami alami. Selama ini, Rania dan aku selalu melakukan yang terbaik agar kerja keras kami dan perjuangan orangtua kami tidak sia-sia. Menjadi lebih pintar, lebih kaya dan lebih tampan tidaklah mudah. Mereka bilang kami sempurna di depan tapi tidak di belakang kami. Kami sulit mempercayai orang lain. Dan kami tumbuh menjadi orang yang dingin."
"Aku juga bingung harus menjelaskan bagaimana lagi?" tanya Al dalam hati pada dirinya sendiri.
"Tapi intinya, aku ingin mengucapkan maaf, terima kasih dan sebuah permintaan." Jawab Al.
"Permintaan?" tanya Agatha.
"Iya, dari apa yang aku amati, kau juga hampir sama dengan kami namun yang lebih penting adalah mata ini." Jawab Al melihat Agatha.
"Iya, mata mu yang melihat Kami begitu polos. Mungkin aku salah menebak atau tidak tapi bisakah aku meminta mu untuk menjadi teman Rania?" tanya Al yang tiba-tiba.
"Ukhhhhhh."Agatha terkejut.
"Tuan Al, pertemanan itu tidak perlu di ucapkan atau bahkan di bicarakan saat yang bersangkutan tidak aja." Jawab Agatha yang menyambung.
"Aku mengerti. Aku harap, kau dan Rania dapat berteman dengan baik." Jawab Al
Agatha yang menyetujui hal itu setelah mendengarkan masa lalu Rania yang begitu sulit untuk dijelaskan.
"Aku juga ingin berteman dengan nona Rania dan juga Alin. Setiap orang punya cerita kehidupannya masing-masing tapi mereka semua berhak mendapatkan teman yang baik. Bukankah seperti itu?" tanya Agatha.
"Aku belum mengenal terlalu lama dan terlalu jauh tentang nona Rania dan juga Alin tapi tuan Al bisa melihat dengan jelas bahwa mereka adalah seorang yang peduli dengan temannya. Oleh karena itu aku pasti mau berteman dengannya." Jawab Agatha yang tersenyum polos.
"Sudah aku duga, Agatha mungkin orang yang bisa mengubah sedikit tentang Rania. Syukurlah dengan begitu Rania memiliki teman yang baik, tidak seperti sebelumnya." Jawab Al dalam hati.
"Baiklah, jika seperti itu. Terima kasih." Jawab Al yang juga sedikit tersenyum membuat wajah Agatha sedikit merona melihat senyuman tipis yang tampak di sudut bibir Al.
"Saya izin ke ruang perawatan lagi." Jawab Agatha.
"Akan saya antar." Jawab Al.
"Tidak-tidak, saya bisa sendiri tuan Al." Jawab Agatha yang cepat-cepat pergi menggendong Helena.
"Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Helena.
"Aku cukup bahagia nona Helena." Jawab Agatha dengan jujur kepada Helena.