Forza

Forza
Cerita Hari Pertama Di Akademi Forza



"Kekuatan seorang Forza itu tergantung dengan kekuatan dasar yang di miliki olehnya dan latihan meditasi yang dilakukan olehnya. Semakin banyak seorang Forza memiliki elemen dasar lebih dari satu dan latihan meditasi yang digunakan sesuai dengan elemen dasar pada dirinya maka akan semakin banyak energi kekuatan yang di miliki olehnya." Jawab Dirga.


"Oh."


"Kalian akan mempelajari hal itu nantinya di akademi ini. Tapi saat ini kita mempelajari teorinya lebih dulu." Jawab Dirga.


"Guru," Carlos yang mengangkat tangan ingin bertanya.


"Silahkan bicara." Jawab Dirga.


"Untuk kami seorang Forza non organisasi, apakah bisa mendapatkan teknik meditasi yang sama seperti Forza keturunan?" tanya Carlos.


"Untuk hal ini tentu saja tidak. Bahkan seorang Forza yang sudah di akui oleh organisasi belum tentu memiliki hak untuk mendapatkan bimbingan langsung tentang teknik meditasi. Teknik meditasi itu sendiri bisa dikatakan sebagai harta karun organisasi. Teknik meditasi adalah informasi rahasia yang hanya bisa di wariskan oleh keturunan sendiri atau orang-orang yang di percaya oleh organisasi." Jawab Dirga.


"Jadi bisakah kami mendapatkan hal itu?" tanya Carlos.


"Walaupun sulit tapi tentu bisa di lakukan asal kalian mampu menunjukkan kekuatan yang kalian miliki sehingga organisasi mau memberikan kesempatan untuk kalian." Jawab Dirga.


"Guru," panggil Agatha dengan mengangkat tangannya lagi untk bertanya.


"Silahkan Agatha." Jawab Dirga.


"Jadi bagaimana dengan Forza yang ingin individual?" tanya Agatha.


"Bisa, tapi membutuhkan waktu yang lama dan juga semua itu jika ada keberuntungan." Jawab Dirga.


"Kenapa?" tanya Alin tiba-tiba.


"Alasan kenapa teknik meditasi untuk Forza itu adalah rahasia dan sangat berharga adalah karena pendahulu melakukan meditasi yang cukup lama sehingga mendapatkan kemampuan dalam bermeditasi sesuai dengan elemen dasar yang dimiliki olehnya. Teknik inilah yang menjadi warisan turun temurun yang akan di berikan kepada generasi selanjutnya." Jawab Dirga.


"Kenapa nona Helena bisa mengajariku meditasi yang sesuai padahal nona Helena pernah mengatakan bahwa dia adalah Forza individual, tidak pernah bergabung dengan organisasi manapun. Apakah nona Helena keturunan dari keluarga ternama?" tanya Agatha dalam hati.


"Bagaimana dengan guru Agnia yang mengajariku selama ini?" tanya Alin dalam hati mengingat tentang gurunya.


"Baiklah, ada lagi yang ingin bertanya?" tanya Dirga kepada mereka.


"Jika tidak ada, kelas kita bubarkan. Tapi sebelum bubar, silahkan berlari untuk mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali putaran." Jawab Dirga.


"Baik pak." Jawab mereka semua.


Mereka menutup buku tulis dan menyimpan kembali di laci meja mereka. Berjalan ke arah lapangan dan berlari sesuai perintah Dirga.


Beberapa menit berlalu sudah sampai 9 putaran, mereka sudah nampak lelah tapi tidak dengan Agatha dan Alin.


"Apa mereka tidak ada lelahnya? Bukannya mereka tadi sudah melakukan beberapa putaran sebelum putaran kali ini?" tanya Carlos dalam hati melihat Agatha dan Alin tetap berlari dengan beriringan. Terlihat mereka sedang lari dan berbincang-bincang.


"Dua orang itu kenapa tidak terlihat sedikitpun lelah di wajah mereka?" tanya yang lainnya.


"Mereka memang sedikit gila."


"Iya. Mereka hany tersenyum sejak tadi."


"Mereka punya stamina yang bagus ." Jawab Dirga dalam hati melihat Alin dan Agatha yang masih belum menunjukkan wajah yang lelah.


"Ahhh, sangat melelahkan." Jawab para siswa yang sudah menyelesaikan latihan lari. Mereka semua terduduk di atas lantai dengan meluruskan kedua kaki dan kedua tangan menyokong badan mereka. Keringat sudah bercucuran di tubuh mereka.


"Bagus. Lakukan hal ini setiap hari sebelum kelas kita di mulai dan setelah kelas kita di mulai." Jawab Dirga kepada mereka dan pergi keluar dari kelas.


"Kita juga keluar yuk Alin. " Ajak Agatha kepada Alin. Alin menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Mereka benar-benar mencari muka." Jawab Carlos melihat Alin dan Agatha yang keluar dari kelas sedangkan dia masih terduduk di lantai dengan kaki yang di luruskan dan napas yang belum teratur.


"Bagaimana jika kita keliling akademik?" tanya Agatha kepada Alin. Dan Alin hanya menganggukkan kepala saja untuk menyetujui ajakan Agatha.


Mereka berdua yang baru saja mengelilingi lorong bertemu dengan Rania dan Kaivan.


"Kalian sudah selesai kelas?" tanya Kaivan kepada Agatha dan Alin.


"Iya. Bagaimana dengan kalian?" tanya Agatha.


"Bagaimana jika kita duduk di bawah pohon itu?" tanya Rania yang mengajak mereka untuk berjalan di lapangan menuju pohon yang rindang dengan rumput yang rapi di bawah pohon besar itu.


"Bagus juga, ayo." Jawab Kaivan. Mereka yang duduk di bawah pohon dan mulai bercerita tentang kegiatan hari pertama di kelas akademik Forza.


"Kami tadi hanya belajar teori tentang Forza dan asal muasal kekuatan Forza. Dan kami sedikit kena hukuman karena membantah kata guru." Jawab Agatha.


"Apa? Dihukum di hari pertama?" tanya Rania.


"Aku menolak untuk mengatakan kepada mereka tentang kekuatan Forza yang aku miliki." Jawab Agatha dengan menyentuh pipi kanan dengan jari telunjuknya.


"Hahahahha. Kau juga mengikuti Agatha?" tanya Kaivan yang menoleh ke arah Alin. Alin menjawab dengan mengangguk.


"Kalian benar-benar gila." Jawab Rania.


"Kenapa kau menolak untuk memberitahu?" tanya Kaivan.


"Karena aku sudah berjanji kepada seseorang untuk tidak sembarangan memberitahu tentang hal ini. Dan juga, bukanya kita juga harus merahasiakan tentang kekuatan yang kita miliki?" tanya Agatha balik bertanya kepada Kaivan.


"Benar juga. Tapi apakah kau benar-benar polos seperti ini?" tanya Kaivan.


"Jangan di tanya lagi, dia memang polos." Jawab Rania.


"Hmmmm?" tanya Agatha yang berfikir.


"Agatha, tidak semuanya hal di rahasiakan untuk tidak menjawab hal itu. Jika konteksnya di dalam akademik, kamu berhak memberitahu kepada guru. Karena pada akhirnya mereka akan mengetahui tentang kekuatan mu. Karena di sini kita akan diberitahu tentang kekurangan dan kelebihan kekuatan kita. Kita akan diberi arahan tentang kekuatan Forza yang kita miliki. Kecuali yang bertanya adalah orang yang tidak di kenal dan mencurigakan. Apalagi seorang yang jelas-jelas adalah musuh kita. Kita sedang berhadapan dengan musuh maka kita tidak perlu menjawab jika musuh itu bertanya kepada kita." Jawab Rania.


"Kau sudah mendengar dengan jelas Agatha?" tanya Kaivan.


"Aku akan tetap tidak akan memberitahu. Karena aku sudah berjanji." Jawab Agatha.


"Ahhhh sudahlah." Jawab Kaivan dan Rania yang melihat Agatha dengan heran.


"Bagaimana dengan kalian?" tanya Agatha.


"Tidak ada yang spesial, hanya bertarung satu sama lain sesuai perintah guru." Jawab Rania.


"Iya, sebagai bentuk perkenalan. Karena semua yang ada di kelas itu sudah mengetahui nama dan asal, jadi tidak perlu perkenalan formal. Guru-guru itu hanya ingin mengetahui tingkat kekuatan kami." Jawab Kaivan.