
"Jadi inikah alasan tuan Al bertanya tentang cara ku bermeditasi?" tanya Agatha.
"Iya." Jawab Al.
"Jadi selama ini Nona Helena telah memberikan kontribusi yang sangat penting kepada ku? Jadi inilah alasan nona Helena untuk merasakan bahwa dia adalah guru ku?" tanya Agatha dalam hati.
"Sepertinya Agatha baru mengetahui tentang cara bermeditasi?" tanya Al kepada Agatha.
"Bagaimana ini? Aku sudah berjanji untuk tidak memberitahu orang lain bahwa nona Helena adalah guruku." Jawab Agatha dalam hati.
"Agatha kau tidak perlu takut tentang hal itu, aku datang bukan untuk bertanya darimana kau belajar tentang cara bermeditasi. Kedatangan ku kemaren hanya ingin memberitahu kepada mu tentang cara bermeditasi yang kau miliki itu harus di jaga dan dirahasiakan. Jangan sampai orang lain tahu. Karena hal itu akan menjadi incaran orang-orang yang berniat buruk untuk mencuri cara meditasi mu." Jawab Al.
"Benar, apa yang di katakan oleh Abang Al tentang hal ini, jika cara meditasi ini di ketahui orang lain akan sangat berbahaya." Jawab Agatha dalam hati.
"Itu saja yang ingin Abang sampaikan, rahasiakan hal itu dan berlatihlah dengan giat." Jawab Al berdiri. El juga berdiri mengikuti Al yang ingin segera berpamitan.
"Abang sudah mau pergi?" tanya Agatha.
"Iya. Hari sudah larut, aku juga harus pulang." Jawab Al kepada Agatha.
"Terima kasih Abang Al susah memberitahu aku tentang hal ini," jawab Agatha dengan tersenyum.
"Iya." Jawab Al dengan tersipu malu namun tetap bergaya stay cool. Al pergi berjalan lebih dulu. El yang di belakang juga berpamitan kepada Agatha.
"Semangat mengikuti kegiatan akademi beberapa hari lagi. Aku permisi." Jawab El dengan tersenyum.
"Siap tuan El." Jawab Agatha. Agatha mengantarkan mereka berdua keluar dari rumah hingga pintu gerbang. Setelah mengantarkan mereka, Al pergi berjalan ke lantai atas untuk menemui Helena yang sedang bermeditasi di balkon rumah.
"Menggerakkan tubuh rubah ini ternyata seperti ini. Cakar, tinju dan gigitan. Apa harus gigitan juga?" tanya Helena yang sedang membuka sosis.
"Nona Helena?" panggil Agatha.
"Ternyata anda memberikan hak penting kepada ku?" tanya Agatha dengan mata yang berbinar-binar terharu kepada Helena.
"Apa maksud mu?" tanya Helena.
"Cara bermeditasi." Jawab Agatha.
"Aku tidak menyangka bahwa kau sudah mengetahuinya, apa Al yang memberitahu mu tentang hal itu?" tanya Helena dan Agatha menganggukkan kepalanya.
"Teryata itu adalah hal yang sangat penting." Jawab Agatha.
"Tentu saja, apakah kau lupa apa yang aku katakan bahwa banyak orang yang ingin belajar dari ku?" tanya Helena.
"Iya aku mengingatnya." Jawab Agatha.
"Aku menolak mereka semua yang ingin belajar dari ku." Jawab Helena.
"Kenapa?" tanya Agatha.
"Suka suka aku, aku yang menentukan semuanya termasuk suka aku juga untuk mengajari mu." Jawab Helena.
"Nona Helena...Terima kasih banyak." panggil Agatha dengan memeluk tubuh rubah Agatha di atas kasur sambil merengek bahagia dalam pelukan itu.
"Apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa bernapas. Lepaskan " Jawab Helena yang tekejut dengan tindakan Agatha yang tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Baik-baik, maaf. Terima kasih nona." Jawab Agatha dengan melepaskan pelukan dan menatap Helena dengan wajah yang menangis bahagia yang terlihat jelas dari sudut bibir yang tersenyum lepas.
"Iya, iya." Jawab Helena yang memalingkan wajahnya.
"Baik. Ayo berlatih dengan baik." Jawab Agatha yang bersemangat menggendong Helena dan turun dari balkon menuju kamarnya.
"Aku ke kamar ku sendiri, ngapain ikut masuk ke kamar ku?" tanya Helena
"Tidur bersamaku saja untuk malam ini agar Nona bisa mengontrol latihan ku walaupun dalam keadaan tidur." Jawab Agatha dengan wajah yang memelas
"Malam ini aja?" jawab Helena.
"Iya. Terimakasih." Jawab Agatha.
Pagi hari, Agatha memulai aktivitasnya kembali untuk mengikuti ujian semester hari. Setelah pulang ujian, ia kembali berlatih dengan Helena.
Di sisi lain, Alin yang sudah mulai berlatih dengan Vero. Alin di ruang latihan keluarga Dev. Ia mempraktekkan langsung apa yang di ajarkan oleh Vero untuk lebih memusatkan kekuatan pada serangan bola api. Vero dan Kaivan yang berada di lantai dua melihat Alin yang berlatih di bawah. Beberapa anggota Forza Dev juga melihat Alin yang sedang berlatih sendiri dengan mengontrol kekuatan yang dimiliki olehnya untuk menghancurkan beberapa batu dan kau yang sudah di sediakan oleh pihak Dev untuk berlatih.
"Alin semakin berkembang." Jawab Kaivan yang melihat bersama dengan Vero yang berada di sampingnya.
"Iya, bahkan aku tidak pernah mengajarkan dia cara bermeditasi dan mengatur kekuatan. Aku hanya menambahkan apa yang sudah ada padanya. Mungkin dia sudah di ajarkan oleh dokter Agnia dengan sangat baik." Jawab Vero kepada Kaivan.
"Dia memang berbakat." Jawab Kaivan.
"Dia siapa?" tanya orang-orang yang melihat.
"Aku dengar dia adalah murid luar dari tuan Vero. Dia langsung di angkat oleh tuan Vero menjadi muridnya."
"Sudah berapa lama?"
"Masih beberapa bulan saja."
"Mana mungkin dia bisa dilatih dengan begitu cepat."
"Aku rasa karena dia berbakat makanya tuan Vero langsung mengangkat dia sebagai murid."
"Benar juga. Lihatlah cara dia mengatur kekuatan dan mengeluarkan kekuatan. Semua sangat rapi dan teratur. Sikap tenang yang di miliki gadis ini juga sangat langka. Tidak banyak Forza wanita yang mampu seperti dia."
"Sebenarnya dia berasal dari mana? Darimana tuan Vero menemukan bakat seperti ini?"
"Lihatlah, seperti tuan Kaivan juga mengenalnya dan menerima dia sebagai junior. Benar-benar aneh, tuan Kaivan yang tidak pernah menerima hal ini dengan baik jadi seperti ini."
"Apa kau tidak mendengar berita itu? Tuan Kaivan dan gadis itu pernah bertanding di markas keluarga Ken."
"Jadi siapa yang menenangkan ?"
"Tidak ada yang benar-benar tau, ada yang mengatakan mereka seri, ada yang mengatakan tuan Kaivan yang menang dan ada pula yang mengatakan gadis itu yang menang."
"Melihat mereka yang sedang membicarakan Alin, sepertinya Alin sudah di terima oleh mereka." Jawab Kaivan.
"Apakah benar-benar cukup? Apakah pengakuan ku dan pengakuan tuan Kaivan itu cukup untuk membuktikan Alin sebagai murid luar ku yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Dev?" tanya Vero.
"Setidaknya mereka sudah kagum dengan Alin." Jawab Kaivan.
"Semoga ini menjadi pengajuan formal. Tapi tentang memasukkan Alin menjadi anggota keluarga Dev semua tergantung oleh dia sendiri. Aku tidak akan memaksa." Jawab Vero.
"Tentu saja tidak perlu. Dan aku akan membantu guru untuk mendapat kuota undangan khusus milik keluarga Dev akan di berikan kepada Alin." Jawab Kaivan.
"Terima kasih." Jawab Vero.
Alin selesai latihan di ruang latihan melihat Kaivan dan Vero yang berdiri di atas hanya meliriknya saja tanpa berubah ekspresi. Kaivan melambaikan tangan dari atas. Setelah itu ia masuk ke ruang ganti untuk berganti pakaian.