
"Jangan sembarangan masuk." Jawab Alin yang menghentikan Kaivan yang keluar dari mobil dengan berfikir ingin masuk ke dalam bank.
"Kalau tidak masuk bagaimana kita menyelamatkan mereka?" tanya Kaivan.
"Kita harus punya rencana." Jawab Alin.
"Bagus juga ini cewek bisa berfikir dengan tenang di saat seperti ini." Jawab Kaivan dalam hati.
"Apa rencana mu?" tanya Kaivan.
"Apakah kau tau bagaimana struktur gedung Bank ini?" tanya Alin.
"Hmmmm tidak sepenuhnya tau, tapi sering datang ke sini." Jawab Kaivan.
"Apakah kau tau di mana pintu lain selain pintu depan yang bisa terhubung ke posisi Agatha saat ink?" tanya Alin.
"Sebentar, aku ingat." Jawab Kaivan yang sedang berfikir saat mengingat kembali struktur dalam gedung Bank.
"Ada pintu staf khusus yang berada di samping bangunan ini. Hanya saja mungkin terkunci, karena hanya khusus staf saja." Jawab Kaivan.
"Tidak apa-apa. Itu sudah lebih dari cukup." Jawab Alin.
"Ikuti aku." Jawab Kaivan yang berlari ke arah kanan samping gedung menuju pintu yang di maksud olehnya tadi. Sampai di sana, Alin yang menggunakan kekuatannya untuk melelehkan pegangan pintu besi dengan api yang di milikinya. Mereka berlari masuk ke dalam sampai tiba di balik pintu dekat ruangan Agatha dan Rania di sekap. Agatha dan Rania hanya terbaring di lantai seolah-olah sedang tidak sadarkan diri di bawah bangku tunggu costumers.
"Agatha, Alin dan Kaivan sudah berada di sini." Bisik Rania yang melihat posisi Alin dan Kaivan dari balik pintu yang terbuka tepat searah dengan Agatha. Rania yang bertatapan dengan Alin dan Kaivan hanya menggunakan bahasa lirikan mata dan bibir ke arah perampok.
Rania memberikan kode untuk menghadapi mereka satu lawan satu, berhubungan 4 orang perampok itu pas dengan 4 orang dari mereka. Kaivan melawan tipe pengendali kekuatan Forza yang belum di ketahui. Alin melawan tipe pengendali baja. Rania melawan tipe pengendalian kekuatan Forza angin. Dan Agatha melawan tipe pengendali fikiran. Mereka menyerang dengan hitungan ke 3 saat mereka semua sudah siap.
Di awali dengan Agatha yang melawan pengendali fikiran dengan cepat. Agatha yang bisa bergerak cepat dan melayangkan tinju yang di masukan kekuatan listrik pada tinju itu ke arah perut perampok dan membuatnya seketika terpental jauh. Hal ini membuat 3 perampok lainnya terkejut dan sedikit goyah karena tiba-tiba di serang. Kesempatan ini di ambil oleh ke Kaivan dan Rania membuat batas ruang dengan kekuatan mereka untuk dapat bergerak bebas melawan perampok.
Rania yang ke arah perampok yang berada di dekat pintu untuk melawannya. Kaivan ke arah perampok yang di depan sandera. Dan Alin ke arah perampok di depan meja teller.
"Brengsekk...... siapa kau?" tanya perampok yang memuntahkan darah dari mulutnya akibat pukulan Agatha.
"Hentikan semua ini." Jawab Agatha.
"Kau kira kau siapa gadis kecil. Gadis lemah yang baru saja menyerang ku dengan pukulan kecil ini berfikir sudah membuat ku takut?" tanya perampok itu dengan meludah darah di mulutnya dan berdiri.Perampok itu memulai aksinya dengan menekan fikiran Agatha.
"Siapa kalian?" tanya perampok itu.
"Kalian yang siapa?" tanya Rania dengan memadatkan serangannya kembali untuk dapat menembus kekuatan angin topan yang melindungi perampok itu. Namun Rania sulit untuk menembusnya.
"Kalian hanya sekumpulan gadis kecil yang lemah ingin menghentikan kami?" tanya perampok itu.
Alin yang langsung menyerang perampok itu dengan bola-bola api miliknya. Dan perampok itu terbakar pada bagian pakaian yang di pakai olehnya sampai topeng kain hitam yang di pakai olehnya juga terbakar dan memperlihatkan wajahnya. Kulitnya yang tidak terkena api karena sudah melakukan perlindungan diri secepat mungkin. Perampok itu menodongkan pistol ke arah Alin dan menembak dengan peluru-peluru yang di buat olehnya sendiri. Untuk melindungi diri, Alin melawan peluru-peluru yang menghujani dirinya itu dengan kekuatan api miliknya dan membuat peluru itu meleleh dan jatuh ke bawah.
"Boleh juga kau gadis kecil. Kau memiliki kekuatan api yang bisa melelehkan logam yang aku berikan. Hahahahha." Jawab perampok itu.
Kaivan yang langsung melayangkan tinju ke arah perampok yang belum di ketahui kekuatannya itu membuat Kaivan terkejut melihat perampok itu menjadi sebuah air. Tubuh perampok itu pecah menjadi air membuat Kaivan menjadi basah. Dan air itu berkumpul kembali menjadi dirinya kembali utuh lagi.
"Aku dapat lawan seorang lelaki bukan gadis lemah seperti mereka." Jawab perampok itu dengan nada senang di iringi tawa yang bergema di ruangan.
"Tipe elemen air." Jawab Kaivan dengan santai.
Kaivan langsung di serang dengan semburan air dari perampok itu membuat dirinya juga terlempar dan jatuh ke lantai. Wajah Kaivan yang marah dan melotot, ia langsung berdiri dan menyerang perampok itu dengan kekuatan es. Membuat serangan perampok itu menjadi es, Kaivan berjalan terus ke arah perampok dan menghancurkan air yang berubah menjadi es.
Kaivan menjadikan perampok itu seperti patung es. Kaivan yang berfikir bahwa pertandingan dirinya selesai, namun salah. Perampok itu mencairkan dirinya dari satu titik air menjadi dirinya lagi. Seperti amuba yang bisa membelah dirinya. Dan patung es dirinya itu hanyalah sebuah patung es.
"Aku jadi mengerti. Kau bukanlah tubuh asli. Tubuh aslinya tidak berada di sini." Jawab Kaivan yang menyadari bahwa beberapa sosok perampok yang sejak tadi di kawan olehnya bukanlah dari sosok asli pemilik tubuh melainkan hanya sebuah kloni air yang seperti tubuh aslinya. Kaivan mencoba merasakan kekuatan Forza pada bumi untuk mencari tubuh aslinya.
"Dia berada di lantai dua?" tanya Kaivan dalam hati. Kaivan membuat terus menerus kloni air itu membeku. Kaivan berjalan ke arah anak tangga menuju ke lantai dua.
"Tuan Kaivan?" panggil manajer yang ada di dalam ruangan itu sudah di balut dengan air. Air yang seperti tali mengikat tubuh manajer itu dan hanya menyisakan kepala saja.
"Jadi kau yang sudah melawan semua kloni air yang aku buat?" tanya seorang perempuan cantik dengan balutan baju kantor yang tidak lain adalah sekertaris manajer itu sendiri.
"Bukannya kau adalah sekretaris?" tanya Kaivan.
"Tentu saja customer VIP. Tapi gara-gara kau dan teman-teman mu, kau menghalangi rencana ku brengsek!" teriak perempuan itu dengan marah dan menyerang Kaivan yang ada di depan pintu ruangan. Kaivan terlempar jauh hingga sampai di tembok dinding jalan gedung lantai 2.
"Tidak ada cara lain lagi, walaupun ini akan menghabiskan energi aku harus melakukannya dengan baik karena saat ini hanya bisa sekali di gunakan." Jawab Kaivan dalam hati yang memuntahkan darah dan berdiri dari lantai.