Forza

Forza
Introgasi Dewa Dewi



El yang sudah membawa Alin ke dalam ambulance di datangi oleh Vero yang mendekat.


"Kau pergi saja bersama dengan Alin, aku akan mengurus sisanya." Jawab El kepada Vero.


"Kau yakin?" tanya Vero.


"Iya. Pergilah bersama dengan murid mu. Aku akan mengurus mereka berdua bersama dengan yang lain. Kalian harus segera ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan." Jawab El.


"Baiklah." Jawab Vero yang masuk duduk di kursi ambulance dengan Alin yang ada di atas brankas ambulance atau ambulance stretcher.


El menutup pintu ambulance dan berjalan ke arah Dewa yang sudah pingsan. Sedangkan di dalam ambulance Alin mendapatkan pertolongan pertama dari dokter yang ikut sebagai bala bantuan.


"Aku akan membersihkan luka kalian." Jawab dokter itu.


"Dia saja lebih dulu Dokter. Aku masih bisa menunggu." Jawab Vero.


"Tapi guru," jawab Alin.


"Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha keras." Jawab Vero.


Dokter itu mulai menggunakan kekuatan penyembuh yang di miliki olehnya untuk menyembuhkan luka-luka luar yang ada di tubuh Alin sementara Vero memalingkan wajahnya untuk tidak melihat.


"Aku tidak bisa memulihkan inti kekuatan Forza yang nona miliki, tapi luka-luka nona sudah aku sembuhkan. Nona sudah bisa menyerap kekuatan alam sekitar dan beristirahat hingga sampai di rumah sakit." Jawab dokter itu.


Dokter itu sudah menyembuhkan sedikit luka-luka yang ada pada tubuh Alin. Hanya tinggal menunggu sebuah total dan kembali normal. Dokter itu hanya bisa menghentikan pendarahan dan menutup luka. Sedangkan kesembuhan total kembali pada kekuatan Forza masing-masing. Dokter itu menyembuhkan luka bakar Vero.


Di sisi lain, Al membawa Agatha ke rumah sakit miliknya dan langsung di tangani oleh dokter kepercayaan keluarga Al. Beberapa luka bakar yang alami Agatha membuatnya tidak memiliki tenaga untuk siuman.


"Kerjakan saja, aku akan tetap di sini." Jawab Al yang masuk ke dalam ruangan. Sang dokter tidak ingin membantah dan langsung mengerjakan apa yang sudah di perintahkan oleh Al kepadanya. Tapi saat sang dokter ingin memeriksa tubuh Agatha lebih jauh, sang dokter melirik ke arah Al. Al yang mengerti apa yang dimaksud oleh dokter langsung keluar ruangan.


"Kerjakan dengan cepat dan laporkan kepada ku tentang kondisinya." Jawab Al.


"Baik."


Al yang menunggu mendapatkan telepon dari El.


"Tuan, aku sudah membawa kedua penjahat ini ke penjara kita. Apa yang harus kita lakukan dengan keadaan mereka yang belum sadarkan diri saat ini?" tanya El kepada Al.


"Buat mereka untuk sadar dan jangan sampai mereka kabur." Jawab Al.


"Aku mengerti." Jawab El.


"Aku akan segera ke sana setelah semua yang disini sudah aku urus." Jawab Al.


"Tak pernah-pernah melihat tuan Al cemas seperti ini selain dari prihal Rania." Jawab El yang menutup ponselnya. El dengan anggotanya menuju ke pinggir kota, tempat penjara khusus penjahat di wilayah distrik A.


El mengeluarkan kartu identitas pada satpam penjaga pagar untuk masuk ke wilayah penjara. Setelah memastikan kartu identitas, mobil mereka masuk ke dalam lapangan penjara. Tiba di sana, anggota El mengangkat tubuh Dewa dan Dewi ke dalam sel penjara.


Mereka di ikat dengan ikatan tumbuhan yang menahan kekuatan mereka digunakan. Mereka di ikat untuk tidak bisa mengeluarkan kekuatan mereka di dalam penjara. El menggunakan air dan makanan untuk memberikan asupan kepada Dewa dan Dewi dengan sedikit kekuatan alam yang diberikan oleh El untuk mereka agar lebih sadar dengan cepat.


"Tuan akhirnya datang." Jawab El yang melihat Al sudah tiba.


"Dimana mereka?" tanya Al.


"Itu." Jawab El yang membuka ruang introgasi kepada Al.


Dua orang penjahat yang bernama Dewa dan Dewi sedang duduk di atas meja introgasi dengan tangan dan kaki di ikat dengan tanaman menangkal kekuatan Forza untuk di gunakan. Mereka sudah siuman dari pingsan pertarungan yang sudah terjadi beberapa saat yang lalu. Al duduk di kursi kosong tepat depan mereka dengan saling berhadapan.


"Aku tidak akan bertanya untuk apa kalian datang. Tapi aku ingin kalian menjawab satu pertanyaan dari ku. Itu saja cukup." Jawab Al.


"Hahaha, kau fikirkan kita lagi bahas tentang makan siang yang harus menuruti kamu?" tanya Dewa kepada Al.


"Tidak apa-apa juga kalau tidak mendapatkan jawaban itu. Aku akan mencoba melakukan apa yang tidak pernah kalian bayangkan." Jawab Al kepada mereka berdua.


"Kau siapa? Berani-beraninya memerintahkan kami." Jawab Dewi.


"Siapa yang sudah membantu kalian untuk masuk ke dalam distrik A?" tanya Al dengan tatapan serius. Kepala yang tegak dengan mata melotot, bibir tipis yang di rapatkan dan kedua tangan di atas meja dan jari jemari menjadi kepalan


"Hahahaha, kau gak bertanya kepada kami kenapa kami datang kemari? Tentu saja karena kalian semua itu sangat lemah." Jawab Dewa.


"Tidak, itu tidak penting. Itu hanya urusan kalian, bukan urusan ku. Yang menjadi urusan ku hanya keamanan kota dan wilayah distrik A." Jawab Al.


"Kau kira kami bodoh akan menjawab pernyataan dari mu. Apalagi itu musuh menjadi teman" Jawab Dewi.


"Baiklah. Kalau kalian tetap diam. Aku tidak bisa lagi untuk mencari kebenarannya. Akan aku lakukan cara yang kasar." Jawab Al untuk memperingati mereka berdua.


"Tentu saja kami akan diam." Jawab Dewa dan Dewi saling menatap satu sama lain.


Al berdiri dari kursinya, melemparkan serangan kekuatan angin yang begitu keras dan padat kekuatannya ke arah Dewa dan Dewi. Aura yang di pancarkan Al membuat mereka tercampak ke arah dinding dan terjatuh di lantai.


"Ukhu ukhuuu......." Dewa dan Dewi terdiam.


"Kekuatannya ?" tanya Dewa dan Dewi dalam hati melihat sosok lelaki dengan badan kekar memancarkan wibawa yang luar biasa. Al berdiri dengan tangan kanan berdiri ke arah mereka berdua dan satu tangan kiri di masukkan ke dalam kantong celana.


"Siapa kau?" tanya Dewa.


"Jawab pertanyaan ku atau kalian mati di sini sekarang juga." Jawab Al.


"Bunuh saja. Kami tidak akan mungkin mengeluarkan jawaban begitu saja kepada mu." Jawab Dewa.


"Oh," jawab Al dengan membuat angin di bawah Dewa dan Dewi yang membuat lingkaran angin yang membawa mereka berdua ke atas lantai dengan posisi duduk mereka.


"Aku bisa saja memerintahkan tim penyidik untuk membuka semua ingatan milik mu itu tapi aku masih menghargai kalian untuk berbicara sendiri." Jawab Al.


"Oke baik, kami akan menjawab apa yang kau inginkan." Jawab Dewa yang sudah melihat Dewi maka dari itu segera mengambil keputusan.