
"Aku pergi nona Helena." Agatha yang berpamitan dengan Helena setelah selesai memakai sepatu di depan pintu. Keluar dari pintu rumah dan menggembok pagar pintu rumah seperti biasanya.
"Alin, " panggil Agatha yang terkejut saat sosok Alin sudah ada di belakang dirinya setelah ia mengunci pintu pagar rumah. Alin hanya sedikit tersenyum dengan memegang kedua tali ransel pada bahunya.
"Kau menunggu ku? Kenapa tidak memanggil?" tanya Agatha tapi Alin hanya menundukkan kepalanya dengan wajah merona dan memalingkan wajah ke arah kanan.
"Ayo kita pergi." Jawab Agatha yang memeluk tangan kanan Alin dan berjalan ke arah sekolah.
Seperti biasa, sepanjang jalan Agatha yang lebih banyak berbicara. Tiba di gerbang sekolah, ada seorang lelaki yang berdiri dan bersandar di tembok dekat gerbang sekolah. Lelaki yang sedang memegang ponsel dengan serius dan melihat setiap siswa yang masuk ke dalam sekolah. Tampak jelas lelaki itu sedang mencari seseorang.
"Ah, kenapa mereka harus memfotonya dari belakang dan samping sih...." ucap lelaki itu yang lelah melihat ponsel lalu melihat sekitar.
Sebuah mobil berhenti dan Rania keluar dari pintu mobil setelah sang supir membukakan. Alin dan Agatha yang melihat Rania segera menghampiri.
"Rania, " panggil lelaki itu setelah melihat Rania keluar dari mobil.
"Kita duluan saja," jawab Alin yang melihat lelaki itu mengenal Rania.
"Sepertinya lelaki itu mengenal Rania." Jawab Agatha.
Agatha hanya melambaikan tangan dan menunjuk ke arah sekolah dengan jari telunjuk untuk memberikan kode kepada Rania bahwa dia dan Alin masuk duluan. Rania yang mengerti maksud Agatha menganggukkan kepalanya.
"Kau sudah pulang dari luar negeri?" tanya Rania yang menyapa lelaki itu.
"Iya. Kau bersekolah di sini?" tanya lelaki itu.
"Seperti yang kau lihat. Kau tidak mungkin datang ke sekolah ini hanya untuk menyapa ku bukan?" tanya Rania.
"Ahh hampir lupa," lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menunjukkan dua buah foto yang berada di dalam ponsel.
"Kau mengenalnya?"
"Ku kira kau pintar Kaivan sehingga bisa melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri. Tapi kau masih saja Kaivan bodoh yang aku kenal, hahahahah." Jawab Rania yang tertawa setelah melihat foto-foto yang di tunjukkan oleh Kaivan.
Kaivan Dev adalah seorang Forza dari keluarga Dev yang menjadi salah satu pion keluarga ternama di distrik A. Kaivan Dev memiliki tipe kekuatan pertarung es yaitu elemen Mizu. Kaivan Dev adalah seorang remaja lelaki yang cukup sembrono dalam bertindak namun ia adalah seorang yang paling setia dalam hal apapun. Ia juga seorang yang terlalu jujur pada keadaan apa yang sedang ia rasakan. Ia juga sedikit mirip dengan Rania yang memiliki sifat sembrono. Mereka berdua seperti itu karena faktor dorongan keluarga yang harus sempurna di mata orang lain.
"Aku bertanya kepada mu Rania bukan mendengar penilaian mu tentang ku?" ucap Kaivan yang sedikit emosi dengan kedua bola mata melotot dan segera menyimpan ponselnya di saku celana.
"Apa kau gila, datang ke sekolah dan berdiri di situ. Kau melihat punggung seluruh siswa yang masuk. Jika kau tidak memiliki wajahnya setidaknya kau mengetahui namanya dan bertanya kepada orang." Jawab Rania.
"Iya juga, kenapa aku tidak bertanya sejak tadi." Jawab Kaivan dalam hati.
"Bukannya aku ini sedang bertanya dengan mu? Kau kenal tidak seorang gadis yang bernama Alin bersekolah di sekolah ini?" tanya Kaivan.
"Alin? Apa Alin yang aku kenal yang di maksud oleh cecunguk ini?" tanya Rania dalam hati.
"Apa kau fikir aku bisa menghafal semua siswa perempuan di sekolah ini dan juga apa aku bisa tau Alin mana yang kau maksud?" tanya Rania.
"Iya juga, kenapa aku tidak bertanya siapa nama lengkap gadis itu dan juga seperti apa rupanya. Aku hanya kabur dari bandara dan langsung menuju ke sini untuk mendatangi dia agar bisa menantangnya." Jawab Kaivan dalam hati.
"Hey, woy." Ucap Rania memanggil Kaivan yang sedang melamun.
"Ahhh, sial. Baiklah, aku akan menunggu dia di markas saja." Jawab Kaivan.
Kaivan pergi dari sekolah dan Agatha, Alin beserta Rania belajar di sekolah seperti biasanya.
Waktu bel pulang sekolah telah berbunyi. Agatha dan Alin sudah keluar dan bertemu Rania di depan gerbang.
"Hari ini masak sop iga dan barbaque enak sepertinya." Ucap Agatha.
"Hari ini aku tidak bisa ikut." Jawab Alin.
"Kenapa?" tanya Agatha.
"Latihan." Jawab Alin.
"Kalau kau Rania?" tanya Agatha.
"Aku juga tidak bisa ikut, Abang tadi sudah menelpon untuk datang latihan bersama dengannya." Jawab Rania.
"Kau di latih sendiri oleh tuan Al?" tanya Agatha.
"Iya. Kalian tau sendiri sibuknya Abang Al. Ini hari karena dia punya waktu, aku tidak boleh tidak datang." Jawab Rania dan mobil jemputan Rania sudah datang.
"Baiklah, jika kalian sibuk berlatih maka aku juga akan berlatih di rumah. Dah Rania, dah Alin." Ucap Agatha dengan penuh semangat mengepal kedua tangan kedepan dan melambaikan tangan ke arah Alin dan Rania. Agatha berlari kecil ke arah rumah.
Alin yang berjalan sedikit ke arah halte sebrang jalan untuk bertemu dengan Vero yang sudah menunggunya di halte.
"Hari ini tuan Kaivan kembali. Kau akan bertemu dengan murid pribadi ku satu-satunya dari keluarga Dev. Kau sudah dengar aku pernah mengatakan tentang dia bukan? Jadi aku harap kau bisa berteman dengan baik olehnya." Jawab Vero yang sedang menyetir sambil mengucapkan kepada Alin.
Tiba di markas, Kaivan sudah menunggu kedatangan Alin. Alin dan Vero yang masuk ruang latihan melihat Kaivan yang sudah melakukan pemanasan.
"Guru sudah datang?" tanya Kaivan yang menghentikan pemanasan saat Alin dan Vero datang. Alin yang berada di belakang Vero sehingga tidak terlihat jelas oleh Kaivan.
"Iya tuan muda." Jawab Vero.
"Guru, berhenti memanggil ku seperti itu. Aku berasa tidak sopan di depan adik junior. Bukankah begitu Alin?" tanya Kaivan untuk memulai percakapan kepada Alin. Respon Alin hanya diam tanpa ekspresi.
"Kaivan pasti sudah mendengar dari banyak orang bahwa aku menerima murid pribadi dan aku sudah bercerita alasannya dengan jelas." Ucap Vero.
"Iya." Jawab Kaivan dengan singkat melihat ekspresi Alin yang tidak berubah sama sekali sejak terlihat olehnya hingga saat ini.
"Kaivan, dia Alin Alisa. Alin dia tuan muda keluarga Dev, Kaivan Dev. " Vero memperkenalkan mereka di ruang latihan.
"Aku harap kalian bisa berteman dengan baik dengan begitu kalian bisa latihan bersama dalam bimbingan ku ke depannya." Jawab Vero.
"Hy," ucap Kaivan dengan mengulurkan tangannya kepada Alin.
"Akhirnya aku bertemu juga dengan mu gadis kecil." Jawab Kaivan dalam hati.