Forza

Forza
Sampai di Akademi Forza



Mereka yang menguap satu persatu, berjalan ke arah toilet untuk mencuci wajah mereka yang masih dalam keadaan baru saja bangun tidur. Kapal mereka sudah berhenti di tepi pantai. Mereka semua mengikuti El turun dari kapal dan berjalan di atas pasir putih pantai menuju ke sebuah pulau yang menjadi pusat akademi Forza.


"Kita foto selfie dulu untuk di kirim kepada Tuan Al." El yang mengeluarkan ponselnya dan semua orang memberikan senyumnya di kamera ponsel. Satu klik jepretan kamera El telah memfoto mereka. El mengirimkan hasil foto itu ke Al. Al yang menerima dari ponselnya langsung tersenyum dan tidak membalasnya, ia langsung fokus untuk mengerjakan pekerjaannya kembali di atas meja kerja.


Disisi lain, mereka yang sudah turun dari kapal di jemput sebuah mobil. Mobil itu membawa mereka masuk ke dalam pulau. Pulau yang bila di lihat dari lautan hanyalah sebuah hamparan pepohonan dan jika di lihat dari langit hanya terlihat hijau pepohonan yang tumbuh. Tapi ternyata di dalamnya adalah sebuah akademi Forza. Dinding yang di buat pada lapisan lindung pulau terlihat seperti pepohonan yang ada di sekitar pulau.


"Wah, aku tidak menyangka bawah pulau ini sebegitu mewah fasilitasnya di tengah-tengah laut." Jawab Agatha.


"Tentu saja, akademi Forza ini di bangun untuk di rahasiakan dari yang lainnya." Jawab Helena dalam hati saat di gendong oleh Agatha di dalam mobil.


"Tentu saja, pulau ini di rahasiakan dari yang lain. Hanya penduduk distrik A yang beridentitas sebagai murid akademi dan juga beberapa anggota organisasi di distrik A yang mengetahui pulau ini. Pulau ini di lapisi lapisan pelindung rekayasa mata. Orang-orang yang melewati pulau ini dari udara hanya melihat sebagai pulau yang menyeramkan, begitu pula jika di lihat dari laut. Makanya pulau ini tidak pernah di kunjungi orang lain. Lagi pula ada yang menjaga pulau ini. Orang-orang kaya hanya mengetahui bahwa pulau ini milik keluarga Ken yang tidak boleh di ganggu." Jawab El.


"Benarkah? Aku baru mengetahui hal ini." Jawab Rania yang terkejut.


"Tentu saja. Pulau ini adalah pulau yang di temukan oleh Ayah Nona Rania." Jawab El.


"Sekaya itu." Jawab Rania.


Mereka yang berbicara dalam perjalan masuk hanya sebentar saja karena hanya membutuhkan waktu 15 menit saja di dalam mobil. Mereka semua sampai di akademi Forza . Mereka yang turun dari mobil sudah di sambut oleh beberapa orang.


"Akhirnya kau sampai juga." Jawab Vero yang menyambut mereka.


"Tuan Kaivan," ucap Vero memberikan hormat.


"Guru sudah sampai di sini?" tanya Kaivan.


"Iya. Aku yang membawa semua barang-barang kalian lebih dulu. Sudah jangan bahas itu dulu. El ikut dengan ku. Ketua akademi sudah menunggu di ruang kepala sekolah. Agatha dan Alin ikut dengan orang itu. Sedangkan yang lainnya ikut dengan orang yang di sebelah kanan ku." Jawab Vero.


"Baik." Jawab mereka semua kecuali El. El hanya diam saja dan mengikuti Vero berjalan ke arah kepala sekolah.


Kaivan dan Rania hanya saling melihat dengan rasa aneh. Tapi mereka tidak ingin berbicara. Mereka hanya mengikuti orang yang sudah di tunjuk menjadi pemandu mereka. Alin dan Agatha juga mengikuti orang yang sudah di tunjuk menjadi pemandu mereka.


"Meskipun mereka bersembunyi, aku sudah bisa lebih peka seperti semula untuk merasakan orang-orang yang memiliki energi Forza yang kuat. Akademi Forza ini memang di bangun dengan sangat rahasia." Jawab Helena dalam hati.


"Sampai jumpa nanti." Ucap Agatha yang berpisah dengan Rania dan Kaivan.


Agatha yang terus berjalan dan melihat sekitar dengan fasilitas yang mewah. Alin hanya diam seperti biasanya tanpa ekspresi.


"Kalian berdua, boleh aku melihat undangan kalian?" tanya orang yang menjadi pemandu Agatha dan Alin. Agatha dan Alin memberikan surat undangan yang mereka dapatkan dari masing-masing organisasi yang telah mengundang mereka. Setelah di periksa identitas mereka, mereka di beri kunci kamar masing-masing.


"Pemeriksaan identitas sudah selesai. Kamar di kanan dan kiri adalah kamar kalian. Ini kuncinya, silahkan pilih sendiri. Sedangkan itu adalah barang-barang kalian." Jawab seseorang itu.


"Aku belum menikah." Ucap lelaki itu tapi langsung pergi tanpa membahas banyak hal lagi. Alin dan Agatha tidak peduli dengan memilih. Mereka yang menerima kunci langsung masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Tidak perlu bertukar. Ini saja, aku masuk dulu untuk membereskan barang-barang." Jawab Agatha.


"Aku juga." Jawab Alin.


Mereka masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa barang-barang yang sudah lebih awal datang dari mereka.


"Wah, kamar ini benar-benar bagus dan mewah. Bukannya di sini sangat bagus nona Helena?" tanya Agatha yang membaringkan tubuhnya di atas kasur yang lembut dengan spray berwarna putih.


"Mereka hanya menghamburkan uang saja." Jawab Helena.


"Kenapa begitu?" tanya Agatha.


"Lihat sekeliling mu, ini seperti kamar apartemen mahal yang sedang di tempati seorang pelajar. Apakah ini yang dinamakan akademi untuk berlatih? Apa kau akan berlatih dengan keras di tempat yang nyaman seperti ini bukan malah merasa sedang latihan?" tanya Helena.


"Mereka semua hanya ingin pamer uang." Jawab Helena dalam hati.


Disisi lain, kepala sekolah yang sudah menunggu kedatangan El dan Vero berada di dalam ruang kepala sekolah.


"Salam tuan Bram Dev." Jawab El memberikan hormat kepada seorang yang tinggi, badan atlet tapi wajah sudah nampak keriput dan kumis tipis serta rambut kepala sudah putih.


"Lama tidak bertemu El." Ucap Bram dengan tersenyum dan membalikkan tubuhnya dari posisi berdiri saat awak tadi.


Bram Dev yang biasanya di panggil Bram. Seorang Forza terkuat di negara ini pada masanya. Seseorang yang sebenarnya sudah tidak ingin terlibat lagi dengan dunia Forza namun terpaksa untuk hadir dan mengikuti tanggung jawab sebagai seorang kepala sekolah.


"Apa kabar tuan Bram?" tanya El.


"Kabar ku akan baik-baik saja jika tidak ikut terlibat dalam posisi ini. Tapi sekarang aku harus menghadapi tanggung jawab besar ini untuk mengurus akademi forza ini." Jawab Bram dengan berjalan dan duduk di sofa miliknya.


"Tentu saja dia tidak nyaman mendapatkan tanggung jawab yang cukup besar ini di usia yang sekarang. Yang seharusnya ia hanya menikmati masa tuannya bukan menanggung beban berat di sini." Jawab El dalam hati.


"Sebelum melanjutkan percakapan, duduklah El, Vero." Jawab Bram kepada mereka.


"Apa sebenarnya alasan tuan Bram menerima tanggung jawab besar ini?" tanya Vero dalam hati melihat Bram yang duduk.


"Kau menunggu El untuk menghadap ku Vero?" tanya Bram kepada Vero yang baru saja menghadapnya padahal sudah dua hari di akademik Forza