
"Sehebat itu ya Nona Helena." Jawab Agatha dengan wajah polosnya menggaruk kepala menjawab apa yang di dengar olehnya.
"Apa kau benar tidak mengetahuinya?" tanya Rania.
Suara pintu menghentikan pembicaraan mereka, kurir delivery datang membawa makanan kepada mereka.
"Apa di sini ada yang bernama nona Alin ?" tanya seorang kurir itu setelah membuka pintu.
"....." Alin dengan mengangkat tangannya. Sang kurir datang memberikan makanan dan pergi dari ruangan karena sudah di bayar langsung oleh Alin menggunakan aplikasi.
"Kau memesan makanan?" tanya Rania dan Agatha secara bersama-sama dan Alin menganggukkan kepalanya.
Ia membagikan makanan itu kepada Agatha dan Rania dengan menjulurkan makanan dari tempat tidur menggunakan tangannya ke arah tangan Agatha yang menerimanya. Lalu mengoper makanan ke Rania.
Mereka yang membuka makanan membuat isi ruangan beraroma makanan dan membuat Kaivan bangun.
"Aku dimana sekarang?" tanya Kaivan.
"Dirumah sakit. Kau mau makan? Aku akan menyuapi mu." Jawab Rania yang turun dari kasurnya mendekati Kaivan dengan membawa dua bungkus makanan yang berisi bubur ayam dan nasi goreng.
"Kenapa cuman aku yang tidak bisa menggerakkan kepala ini?" tanya Kaivan yang melirik.
"Karena kau yang paling hebat." Jawab Rania.
"Sudah aku duga. Aku yang terkuat dari kalian semua. Hahahaha." Jawab Kaivan yang mengingat dirinya sudah mengalahkan musuh dengan tangannya sendiri.
"Tapi tunggu dulu, di mana manajer itu?" tanya Kaivan yang mengingat tidak sempat untuk menyelematkan sang manajer bank.
"Tenang saja, dia tidak apa-apa. Saat ini sudah di rawat di ruang sebelah untuk orang biasa. Jadi kau tidak perlu khawatir." Jawab Rania yang membuka makanan dan mulai mengambil nasi goreng dengan sendok untuk di makan olehnya sendiri.
"Syukurlah." Jawab Kaivan. Rania membantu Kaivan untuk duduk saat makan menggunakan bantal sebagai pengganjal di belakang sandaran Kaivan.
"Makanlah, jangan banyak bicara lagi. Aku sudah lapar." Jawab Rania dengan mengambil bubur dan menyuapi Kaivan.q
"Kau ingat baik-baik, ini hanya kebaikan ku pertama kali kepada mu karena kau sudah menang dari perampok itu." Jawab Rania lagi dengan memakan nasi gorengnya. Sedangkan Agatha hanya melihat mereka berdua yang sangat begitu dekat. Dan Alin hanya fokus pada makanan yang di makan olehnya.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Kaivan yang penasaran dengan mereka yang mengalahkan perampok.
"Kami hanya mendapat bantu dari orang tak terduga. Tapi jangan bahas itu, yang terpenting kita sudah menang melawan mereka. Jadi anggap saja kita semua sudah mengalahkan mereka semua sendiri dan jangan banyak tanyak lagi. Jika bertanya lagi aku akan menyuapi bubur ini panas-panas ke dalam mulut mu." Jawab Rania dengan kasar dan Kaivan hanya menganggukkan saja saat mulutnya penuh dengan makanan.
Vero masuk ke dalam ruangan dan melihat mereka yang sedang menikmati makanan.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Vero yang baru saja datang.
Sedangkan Rania dan Kaivan tidak memperdulikan Vero. Vero mendekati mereka berdua dan melihat mereka yang masih belum menyadari keberadaan dirinya.
"Ini pemandangan yang cukup langka." Jawab Vero dalam hati dan memotretnya diam-diam dan langsung memasukan ponselnya.
"Aku sudah memberitahu tuan Al dan tuan besar, nona Rania, Kaivan." Jawab Vero yang menghentikan Kaivan dan Rania memakan makanannya dan baru saja menoleh ke arah Vero.
"Tuan Vero, suapi Kaivan." Jawab Rania yang meletakkan sendoknya dan naik ke atas ranjangnya sendiri membawa nasi goreng yang tinggal 5 sendok lagi di dalam bungkusan tempat makanan plastik itu.
"Guru maaf merepotkan mu." Jawab Kaivan kepada Vero.
"Tidak apa-apa." Jawab Vero yang melakukannya. Setelah mereka siap makan, Vero kembali berbicara.
"Manajer itu sudah siuman dan dia mengatakan semua yang di ketahui. Aku juga sudah memanggil orang untuk menghapus ingatannya. Soal lokasi juga sudah di bereskan. Dan para perampok itu juga sudah di bereskan. Kalian benar-benar luar biasa bisa melawan mereka yang lebih kuat dari kalian." Jawab Vero yang meletakan bungkus makanan ke dalam tong sampah.
"Mereka itu siapa?" tanya Alin yang bertanya lebih dulu.
"Sepertinya mereka adalah kelompok Forza jahat yang masuk ke dalam aliansi Forza Hitam. Tapi kami masih menyelidiki dengan jelas lagi. Kami hanya menemukan tanda pada pakaian yang di pakai oleh mereka dari organisasi itu. Untuk tujuan dan juga pusat markas mereka, kami belum mengetahui." Jawab Vero.
"Forza Hitam?" tanya Rania dan Kaivan yang mulai mengingat ingatan mereka yang tersimpan.
"Forza Hitam itu adalah Forza yang menggunakan kekuatannya sebagai kekuatan yang digunakan untuk kejahatan?" tanya Agatha.
"Iya. Organisasi ini bukan lagi organisasi yang di anggap mudah. Mereka melahirkan generasi-generasi penjahat kelas atas. Bukan hanya pencurian seperti yang kita hadapi tapi masih banyak lagi kejahatan yang sulit untuk ku sebutkan semuanya. Terpenting adalah, banyak distrik dan organisasi bersatu untuk melawan mereka. Hanya saja, jaringan mereka terlalu besar dan juga mereka sulit di temukan hingga akarnya." Jawab Rania.
"Dikatakan seperti itu karena, beberapa kali sudah menghancurkan markasnya tapi itu akan menimbulkan markas lainnya. Mereka seperti amuba yang sulit untuk di bunuh namun cepat untuk berkembangbiak." Jawab Kaivan.
"Bukannya seluruh dunia Forza bergabung dari beberapa distrik bisa membasmi mereka?" tanya Alin.
"Mungkin itu terlihat mudah jika di katakan. Tapi tidak seperti yang di harapkan. Banyak organisasi dan distrik yang tidak mau ikut campur dengan urusan pembasmian ini secara nyata. Karena mereka takut jika pertahanan distrik mereka sendiri akan melemah. Jadi, distrik-distrik ini hanya melindungi distriknya sendiri dari ancaman Forza Hitam ini sendiri. Mereka tidak ingin mengambil resiko yang besar dan perjuangan yang sia-sia." Jawab Kaivan.
"Iya benar, mereka adalah pemegang catur yang sebenarnya. Tapi walaupun seperti itu, dunia Forza jadi seimbang. Karena mereka bisa menyelesaikan masalah ini sendiri dan memperkuat kekuatan mereka sendiri." Jawab Rania.
"Karena hal itulah yang membuat setiap kota dan distrik bekerjasama dan membuat laporan siapa saja yang keluar masuk ke dalam wilayah masing-masing. Peraturan yang ketat ini adalah sebuah bentuk dari pencegahan organisasi ini." Jawab Vero.
"Karena itu juga aku datang meminta Agatha untuk bergabung dengan kami. Bukan karena kami ingin mencari keuntungan tapi untuk menolong Agatha agar otaknya tidak di cuci oleh kelompok jahat seperti mereka." Jawab Al yang tiba-tiba datang.
"Abang?" panggil Rania yang terkejut.
"Abang Al." Jawab Agatha yang bersamaan dengan Rania. Mereka terkejut dengan kedatangan Al dan El ke dalam ruangan.
"Kalian sudah bekerja keras. Istirahatlah yang cukup, serahkan sisa ini kepada kami." Jawab Al yang memberikan kecupan kening kepada Rania dan memerintahkannya untuk istirahat yang cukup.