
"Bagaimana aku menurunkan mu? Kau tadi sudah mengancam ku. Aku hanya takut kau akan berbuat dengan tubuh mungil ku ini." Jawab Joya.
"Turunkan aku Joya." Jawab Charles.
"Tidak apa-apa kau juga seorang Forza, tidak akan terluka parah jika jatuh untuk kedua kalinya." Jawab Joya.
"Kau?" Jawab Charles yang tidak ingin menyerah dan tetap mempertahankan dirinya yang melayang ke udara di dalam gelembung yang telah mengurung tubuhnya.
"Kalau saja aku memiliki kekuatan yang lebih, mungkin aku bisa membuatnya lebih tinggi lagi karena ketinggian yang sudah aku lakukan tadi tidak membuatnya pingsan." Jawab Joya dalam hati.
"Hmmmm, aku sudah sedikit lelah. Lebih baik aku jatuhkan saja lagi." Jawab Joya dalam hati dan melepaskan gelembung yang sudah mengurung Charles. Charles kembali jatuh dari ketinggian dan membuatnya sedikit lemah.
"aaahkkkkkkkkk." suara tubuh Charles yang jatuh, tapi kali ini Charles menggunakan kekuatan Forza miliknya untuk melindungi tubuhnya saat terjatuh. Walaupun tidak terlalu membantu, namun Charles tidak terluka parah. Hanya seperti jatuh dari kasur.
"Aku kira kekuatannya tidak bagus. Ternyata dia bisa menggunakannya dengan tepat." Jawab Carlos dalam hati.
"Wah hebat Joya." Jawab Agatha dalam hati melihat Joya yang bertanding dengan Charles.
"Kau...." Charles yang ingin mengeluarkan kekuatan miliknya tapi di hadang oleh Dirga.
"Sudah cukup, kau juga tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuan mu jika kau memaksa. Tim medis, bawa Charles." Jawab Dirga ya g memerintahkan tim medis.
"Pemenangnya Joya. Lanjut, siapa lagi yang ingin bertarung?" tanya Dirga.
"Ludwig dan Dien, kalian maju." Jawab Dirga kepada mereka yang belum maju sama sekali.
"Iya guru." Jawab mereka berdua.
"Aku tidak ingin melukai mu tapi aku harus melakukannya." Jawab Dien.
"Lakukan saja." Jawab Ludwig yang memakai kacamata mengatakan itu dengan pasrah. Dia tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk melawan.
Satu tinju saja melayang ke arah Ludwig sudah membuat Ludwig terjatuh.
"Aku menyerah." Jawab Ludwig yang sudah terjatuh di lantai.
"Pemenangnya Dien. Kalian seharusnya lebih menghargai setiap pertandingan persahabatan seperti ini. Ludwig, seharusnya kau jangan terlalu pasrah dengan keadaan. Jika kau langsung menyerah berhadapan dengan musuh, bagaimana kau akan menganalisa kekuatan lawan jika kau tidak bisa bertahan sejak awal?" tanya Dirga dengan tegas memberikan pelajaran kepada Ludwig.
"Kedepannya lari 2 kali lipat dan ingat kau tidak boleh mengeluh." Jawab Dirga.
"Baik guru." Jawab Ludwig.
"Baiklah, aku ingin melihat Agatha dan Dien bertanding. Seperti Carlos yang sudah bertanding dua kali maka kalian juga." Jawab Dirga.
"Apakah aku juga akan bertanding nanti?" tanya Joya dan Dirga menganggukkan kepalanya.
"Alasannya menjebak ku sendiri. Padahal tadi aku hanya ingin memastikan semua kekuatan mereka. Tapi, Agatha ini beda dari yang lain. Kekuatan aku belum bisa menyimpulkan." Jawab Dirga dalam hati.
Agatha dan maju mendekati Dien yang sudah memenangkan pertandingan dengan Ludwig. Agatha yang sudah berdiri di depan Dien, Dirga juga mulai menghitung mundur untuk memulai pertandingan mereka.
"Akan sangat sulit menghadapi gadis ini, dia juga melihat teknik yang aku miliki, sudah pasti dia sudah mengetahui tentang kemampuan ku." Jawab Dien dalam hati.
"Sepertinya aku harus segera menyerangnya saat pak Guru memulainya." Jawab Agatha dalam hati.
"Mulai. " Jawab Dirga memulai pertandingan mereka.
Mereka berdua yang berfikir sama untuk menyerang terlebih dahulu. Agatha yang dengan kemampuan kecepatan dan juga tenaga yang ada di tangan, pukulan mengarah ke Dien dengan cepat. Dien yang tidak dapat menghindar membuatnya terkena pukulan Agatha dan terdampar jauh.
"Cepat sekali." Jawab Ludwig.
"Dia cepat sekali." Jawab yang lainnya.
"Apa dia tidak mengerahkan seluruh kemampuan miliknya saat berhadapan dengan ku?" tanya Carlos dalam hati melihat kecepatan yang di tampilkan Agatha tidak sama saat berhadapan dengannya.
"Kalau saja aku tidak membuat tubuh ku mengeras seperti baja, mungkin tulang ku sudah banyak yang patah akibat serangan milik Agatha." Jawab Dien yang terjatuh dan mengeluarkan darah.
"Ehhhhhhh?" Agatha kaget dengan pukulan yang baru saja di lakukan olehnya membuat Dien terdampar jauh. Agatha langsung berlari dan melihat keadaan Dien.
"Maaf, apa kau tidak apa-apa?" tanya Agatha yang mengulurkan tangannya membantu Dien untuk berdiri. Dien yang sudah muntah darah tiba-tiba kehilangan kesadaran dan membuatnya pingsan.
"Ahhh, Dien." Jawab Agatha yang menampung Dien yang akan terjatuh di lantai lagi.
"Aku tau dia tidak mengeluarkan kekuatannya semua. Tapi aku tidak menyangka dia akan melakukan dengan kekuatan seperti ini." Jawab Dirga.
"Karena aku gugup takut kalah sehingga aku tidak mengontrol kekuatan yang aku pakai untuk melawan Dien. Apakah aku sudah berlebihan?" tanya Agatha dalam hati yang mengangkat tubuh Dien untuk di bawa oleh tim medis.
"Guru, maafkan aku sudah berbuat seperti ini." Jawab Agatha dengan menangis menyesali perbuatannya.
"Tidak perlu menangis, tubuh seorang Forza berbeda dengan orang biasa. Serahkan saja kepada tim medis, mereka akan mengobatinya." Jawab Dirga.
"Iya, serahkan kepada kami. Lihat teman mu itu, dia sudah mulai pulih."Jawab tim medis yang menunjukkan ke arah Carlos agar menenangkan Agatha.
"Syukurlah. Mohon bantuannya." Jawab Agatha kepada tim medis yang membawa Dien.
"Hatinya lembut sekali." Ucap tim medis, Dirga dan Ludwig di dalam hati mereka.
"Apa-apaan dia itu, pandai sekali akting merasa bersalah?" ucap Carlos dengan sangat kesal.
"Baiklah, kau kembali ke sini." Jawab Dirga kepada Agatha.
Agatha menghapus air mata yang membasahi pipinya dan berjalan ke arah barisan teman-temannya.
"Berarti kali ini giliran ku." Jawab Alin yang maju ke depan untuk bersiap-siap melawan Joya.
"Guru." Panggil Joya yang mengangkat tangannya ingin mengajukan pertanyaan.
"Iya." Jawab Dirga.
"Apa aku boleh menyerah ?" tanya Joya.
"Kenapa?" tanya Alin.
"Aku sudah pasti kalah dengan mu. Dengan kekuatan ku melawan kekuatan mu saja sudah terlihat jelas kau yang akan menang. Apalagi aku sudah banyak kehilangan kekuatan saat melawan Charles, tidak-tidak. Bahkan jika aku dalam kondisi prima, aku tidak akan mampu menandingi kekuatan mu. Aku tidak ingin kehilangan wajah cantik ku ini walaupun hanya sehari. Lagian ini hanya sebuah pertandingan persahabatan, bukan di medan perang yang sesungguhnya." Jawab Joya.
"Apa boleh seperti itu guru?" tanya Alin.
"Boleh. Jika salah satu lawan mu mengatakan menyerah maka kau harus menerima keputusannya." Jawab Dirga.
"Oke, guru sudah setuju. Terima kasih." Jawab Joya yang tetap berdiri di barisannya.
"Baiklah. Padahal aku ingin bertanding lagi." Jawab Alin dalam hati. Alin berjalan kembali ke arah barisan mereka.
"Baiklah, karena semua sudah melakukan pertandingan persahabatan. Kegiatan pembelajaran kita hari ini sampai disini. Kalian harus lebih banyak berlatih lagi dan melihat apa kelemahan yang harus kalian perbaiki." Jawab Dirga.
"Baik guru." Jawab mereka semua.