Forza

Forza
Perampokan Bank part 1



Beberapa hari dirawat di ruangan perawatan, Alin dan Kaivan selalu di kunjungi oleh Agatha di siang hari setelah pulang sekolah. Mereka sering menghabiskan waktu makan siang bersama di dalam ruang perawatan. Terkadang Rania ikut bersama dengan mereka. Rania yang sibuk tidak seperti Agatha yang selalu bisa datang menjenguk.


"Kau sudah tidak apa-apa Alin?" tanya Agatha.


"Iya." Jawab Alin yang sudah membuka semua perban di tubuhnya dan sudah bisa berjalan dan makan menggunakan tangannya.


"Aku akan pulang hari ini." Jawab Kaivan yang sudah berganti pakaian.


"Syukurlah. Lain kali bisa kita bertemu dan bermain seperti biasanya?" tanya Agatha yang menyapa dari depan kasur Alin.


"Kau suka pada ku?" tanya Kaivan.


"Tentu saja, Kaivan adalah teman Rania dan juga kita sudah sering makan siang bersama. Jadi Kaivan juga teman Agatha." Jawab Agatha dengan polosnya.


"Dasar gadis polos," gumam Kaivan pelan yang berjalan keluar dari ruang perawatan.


"Terserah." Jawab Kaivan sebelum menutup pintu dan melihat Agatha.


"Kalau kau kapan boleh pulang Alin? Pasti tidak enak jika kau harus sendirian di sini." Jawab Agatha.


"Dokter bilang satu atau dua hari lagi untuk istirahat." Jawab Alin.


"Hmmm, apa boleh kalau kau istirahatnya di rumah ku saja. Aku akan merawat mu." Jawab Agatha.


"Boleh saja, asal dia jangan melakukan latihan fisik dulu dan berjalan lebih banyak." Jawab dokter yang tiba-tiba datang.


"Benarkah dokter?" tanya Agatha dengan senang.


"Iya."Jawab sang dokter yang mencabut infus Alin di tangan kanan.


"Sekarang juga boleh dok?" tanya Agatha.


"Tentu." Jawab Dokter.


"Aku akan ganti baju dulu." Jawab Alin jalan ke toilet.


Mereka yang keluar dari ruang perawatan menuju ke lift untuk pergi menemui Al. Tapi saat di depan lift, mereka bertemu dengan Kaivan yang ingin keluar dari lift.


"Kaivan?" panggil Agatha.


"Kalian?" panggil Kaivan juga yang terkejut melihat Alin sudah bisa keluar.


"Kalian mau bertemu dengan tuan Al?" tanya Kaivan dan Agatha menganggukkan kepala.


"Tuan Al sedang tidak ada di sini. Nanti saja kalian bertemu dengannya." Jawab Kaivan.


"Kau mau ke mana?" tanya Agatha lagi saat Kaivan keluar dari lift dan melewati mereka.


"Kalau Kaivan tidak sibuk, bergabunglah bersama kami untuk kerumah ku, aku akan membuatkan makanan enak untuk kalian." Jawab Agatha menawarkan diri.


"Masakan gadis ini memang enak, aku juga lapar belum makan siang. Aku ikut saja sama mereka." Jawab Kaivan dalam hati saat berfikir.


"Oke," jawab Kaivan.


"Baguslah," jawab Agatha yang senang dan mereka bertiga keluar dari kantor Ken bertemu dengan Rania yang baru saja keluar aku dari mobil di depan pintu masuk kantor.


"Kalian sudah boleh pulang?" tanya Rania yang sedikit terkejut mereka bisa keluar dari ruang perawatan begitu cepat.


"Tentu saja. Tapi aku perlu bertemu dengan Abang," jawab Rania.


"Tuan Al sudah pergi sejam yang lalu ke bandara." Jawab Kaivan.


"Abang sudah pergi rupanya, ya sudahlah. Aku ikut dengan kalian tapi bisakah kita ke bank lebih dulu. Ada hal yang harus aku antar ke sana atas perintah Abang." Jawab Rania.


"Oke." Jawab mereka bertiga dan masuk ke dalam mobil.


Tiba di kantor bank, yang turun hanya Rania yang di temani oleh Agatha. Sedangkan Alin dan Kaivan di dalam mobil. Rania tidak perlu mengantri lagi karena langsung bertemu dengan manajer bank untuk memberikan beberapa berkas saja. Rania dan Agatha yang akan keluar dari bank tiba-tiba mendengar sebuah tembakan.


Seluruh orang yang sedang mengantri terdiam dan menoleh ke arah sumber suara. Mereka ketakutan setelah melihat 4 orang dengan memakai topeng dan baju serba hitam dengan perlengkapan pistol.


"Diam semuanya dan jangan bergerak macam-macam."


"Perampokan." ucap semua orang dalam hati.


"Rania, apa yang harus kita lakukan?" tanya Agatha yang melihat 4 orang sudah mengelilingi ruang kantor bank. Satu orang di depan meja teller dan seorang lagi di depan meja Customer Servis. Sedangkan seorang lainnya di depan pintu keluar menjaga orang tidak akan keluar.


"Ada perampokan, bantu aku membereskannya Kaivan." Rania memberikan pesan kepada Kaivan.


"Kita lihat dulu bagaimana keadaannya." Jawab Rania.


"Semuanya berdiri dan mendekat, berikan ponsel kalian dan kalian jangan berani-beraninya memanggil polisi." Ucap seorang yang berada di tengah-tengah jalan kursi tunggu.


Semua orang berjalan dengan tangan dibatas dan bergiliran mendekati perampok itu, mereka memberikan ponsel mereka dan duduk berbaris dengan ketakutan.


"Dua gadis yang disana, kalian tetap di situ ku tembak atau kemari serahkan ponsel kalian." Ucap perampok itu lagi kepada Rania dan Agatha.


Rania dan Agatha berjalan ke arah perampok itu, tapi perampok yang ada di depan meja teller meminta uang yang ada di dalam brankas menembak staf karena staf itu ingin menekan tombol darurat dan staf di sampingnya ingin mengambil telepon.


"Dor.....dor...." dua suara tembakan terdengar yang mengarah kepada dua staf tadi.


Mendengar kejadian itu, Agatha yang mengepal kedua tangannya untuk maju namun menahannya. Di sisi lain, satu anak kecil yang bersama dengan ibunya lari ingin keluar dan di cegah oleh perampok yang berjaga di pintu.


"Ibu aku takut, kita pergi saja." Anak kecil itu menarik sang ibu yang ingin duduk di lantai dengan yang lainnya untuk berlari kabur.


Serangan angin di keluarkan ke arah ibu dan anak itu hingga mereka terpelanting jauh ke arah orang-orang yang duduk.


"Dia punya kekuatan Forza Rania." Bisik Agatha.


"Aku juga melihatnya. Kita akan menyerang mereka di saat Kaivan dan Alin datang." Ucap Rania.


"Kalian terlalu berisik. Lakukan dengan tanpa suara dan cepat." Ucap seorang perampok di depan customer servis yang mungkin adalah pemimpin mereka. Dia yang sudah membuat dua orang staf di customer servis tertidur berjalan ke arah kerumunan orang yang sudah di kumpulkan mereka dan semuanya menjadi tertidur. Rania menggunakan penghalang angin kepada Agatha untuk menghindari hipnotis mereka.


"Berpura-pura tidurlah Agatha." Bisik Rania. Mereka terbaring duduk di dekat kursi dan Rania diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengetik lagi untuk mengirimkan pesan kepada Kaivan.


"Bising sekali dari tadi ada pesan masuk di saat aku bermain game." Ucap Kaivan di dalam mobil saat sedang seru bermain game. Kaivan yang keluar dari permainan game di ponselnya melihat pesan masuk dari Rania.


"Apa?" Kaivan membuat supir dan Alin terkejut.


"Alin kita masuk untuk menolong mereka.Pak supir telepon organisasi bahwa ada perampokan di Bank ini dan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan forza. Mereka terdiri dari 4 orang, satu kekuatan pengendali pikiran, angin dan logam. Satu orang lagi belum di ketahui." Jawab Kaivan yang menjelaskan kepada mereka berdua.