
Akhirnya Dewa dan Dewi menjawab pertanyaan Al. Mereka terpaksa untuk menjawab pertanyaan Al karena di ancam akan di periksa ingatan mereka secara paksa.
"Dia serius hanya ingin mengetahui itu saja?" tanya Dewa dalam hati melihat Al yang tidak memiliki ekspresi setelah mendapatkan informasi yang di inginkan olehnya.
"Oh ya, selamat menikmati sisa hidup di penjara ini." Jawab Al yang berhenti melangkah untuk menoleh kebelakang dan pergi meninggalkan mereka di dalam penjara.
"Dia benar-benar aneh." Jawab Dewa dan Dewi bersama-sama saat Al pergi keluar.
"Untung dia tidak melakukan itu, jika tidak kita harus mengakhiri hidup." Jawab Dewi.
"Sudah jangan di bahas lagi. Kita pulihkan diri dulu, setelah itu baru kita merencanakan plan B." Jawab Dewa yang memejamkan mata dan mulai bermeditasi.
El yang mengejar Al sudah keluar dari ruang penjara Dewa dan Dewi di tahan.
"Kita kemana tuan?" tanya El.
"Kita pergi melihat keadaan Agatha." Jawab Al yang berjalan di depan El.
"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Aku melihat ekspresi tuan Al begitu kesal." Ucap El dalam hati dan mengikuti di belakang Al berjalan.
Disisi lain, Rania dan Kaivan yang mendapatkan kabar dari Vero tentang insiden ini membuat mereka dengan cepat datang ke rumah sakit melihat keadaan Agatha dan Alin.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Rania yang baru saja datang melihat Alin yang terbaring di atas kasur rumah sakit dan di sampingnya Agatha yang masih belum sadarkan diri.
"Aku tidak apa-apa tapi Agatha mungkin...." Jawab Alin yang belum selesai berbicara Rania sudah duduk di antara kasur mereka berdua.
"Kalian terlalu ceroboh, bisa-bisanya melawan Dewa Dewi si api kembar penjahat dunia itu. Kalian kira kalian punya satu nyawa." Jawab Rania yang mengomel.
"Agatha........ Alin......" Suara yang mendekat ke arah kamar mereka setelah pintu ruangan terbuka. Kaivan datang dengan kehebohannya.
"Diam kau iblis es. Datang-datang mengacau saja." Ucap Rania.
"Kau juga diam penyihir." Jawab Kaivan.
"Ku dengar kalian melawan Dewa dan Dewi. Jadi bagaimana rasanya melawan penjahat internasional yang di kenal dunia itu. Apakah kalian terluka parah? Bagaimana tampang Dewi itu, aku dengar dia cantik walaupun begitu kejam." Jawab Kaivan mendekati Alin mengangkat tangan Alin yang sudah di perban dan melihat kepala Alin yang di balut juga.
"Kau sudah gila." Jawab Rania yang melepaskan tangan Kaivan dari Alin.
"Aku hanya ingin memeriksa lukanya penyihir." Jawab Kaivan.
"Diam Iblis essss. Kau kira mereka habis bermain? Mereka bertarung dengan penjahat internasional peringkat 100 itu." Jawab Rania.
"Iya aku tau. Oke aku diam." Jawab Kaivan yang duduk di kursi Rania tadi duduk.
Rania yang tidak ingin ribut, dia duduk di kasur Alin.
"Bagaimana kronologi kejadiannya?" tanya Rania yang ingin mengetahui.
"Iya. Kenapa kalian tidak meminta bantuan kepada kami. Kalau saja kalian mengirimkan pesan, aku pasti akan segera datang dan membantu kalian." Jawab Kaivan yang semangat namun terhenti melihat Rania yang matanya melotot ke dirinya.
"Ini semua salah ku. Aku juga tidak mengetahui mereka siapa dan kenapa tiba-tiba datang ke rumah ku. Aku hanya tau mereka mencari guru." Jawab Alin.
"Iya. Aku tidak berhasil kabur waktu itu. Dan aku tidak mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah di bawa di gedung terbengkalai dan saat itu Black menggonggong ke arah kami. Saat itu Agatha datang untuk menolong ku. Di saat itu juga guru Vero datang untuk menolong kami. Saat itu dokter Vero melawan Dewa. Sedangkan aku di bawa oleh Dewi masuk ke gudang. "
"Aku yang masuk ke dalam gudang di susul oleh Agatha yang mengejar kami. Saat itu juga aku mencoba untuk melawan Dewi sendiri dan membuat Agatha untuk pergi dariku mencari bantuan lainnya. Tapi saat itu tidak bisa, Agatha tidak mau meninggalkan aku yang menghadapi Dewi sendiri."
"Saat itu aku melihat ketulusan yang di berikan oleh Agatha untuk ku, aku merasa memiliki teman dan aku merasa memiliki keluarga. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti ide Agatha. Kami berdua bersatu untuk melawan Dewi. Tapi jarak perbedaan kekuatan kami memang sangat jauh, sekalipun aku sudah bergabung dengan Agatha, kami tidak dapat merobohkan mereka." Jawab Alin bercerita.
"Anak ini memang memiliki sesuatu yang aku pun tidak bisa mengatakan dengan kata." Jawab Rania.
"Hmmmm, aku juga merasakan." Jawab Kaivan.
"Saat itu, kami menggabungkan kekuatan hingga titik terakhir. Dan kami beruntung bisa mengalahkannya karena strategi yang di berikan oleh Agatha saat itu." Jawab Alin.
"Lalu kenapa dia belum sadar juga?" tanya Rania.
"Dia menyelamatkan ku tanpa melihat kondisi dirinya sendiri. Dia menghabiskan sisa kekuatan yang di miliki oleh ya untuk mengeluarkan kekuatan yang cukup besar." Jawab Alin yang harus sedikit berbohong.
Rania dan Kaivan mendengarkan apa yang di ceritakan oleh Alin. Tanpa sadar di balik pintu Al dan El juga mendengar apa yang di ceritakan kembali oleh Alin.
"Dokter mengatakan bahwa Agatha tidak apa-apa, karena dia mengalami banyak luka bakar dan juga kekuatan forza yang di miliki olehnya sudah terkuras habis sehingga dia pingsan. Kekuatannya tidak bisa pulih dengan cepat karena inti Forza miliknya tidak memiliki sedikitpun kekuatan. Semua ini salah ku sehingga Agatha seperti ini." Jawab Alin.
"Jangan khawatir, dokter juga sudah memberikan yang terbaik. Lagi pun inti kekuatan miliknya baik-baik saja. Agatha hanya perlu istirahat yang cukup dan dia akan pulih dengan cepat." Jawab Al yang datang masuk menjawab pertanyaan Alin.
"Abang?" tanya Rania yang terkejut melihat Al yang datang.
"Kenapa Abang ada di sini?" tanya Rania.
"Ini rumah sakit ku, kenapa aku tidak bisa di sini." Jawab Al.
"Nona Rania, tuan Al yang telah membawa nona Agatha kemari." Jawab El.
"Abang juga ada di sana? Tapi kenapa diam saja dan tidak menolong mereka?" tanya Rania.
"Kami datang di waktu yang tidak tepat. Saat kami datang mereka semua sudah selesai bertarung." Jawab El.
"Iya. Tuan Al datang membawa Agatha setelah kami selesai mengalahkan Dewi." Jawab Alin.
"Saat itu kami juga mencari Dewa dan Dewi yang masuk ke wilayah distrik A secara ilegal. Dan kami menemukan mereka di sana." Jawab El.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Vero yang tiba-tiba datang dengan luka yang sudah di balut.
"....." Alin hanya menundukkan kepalanya.
"Kalian hebat, terimakasih sudah baik-baik saja." Jawab Vero yang mengelus kepala Alin.
"Bagaimana keadaan Agatha?" tanya Vero.
"Tidak apa-apa tapi masih belum sadar." Jawab El.
"Terimakasih sudah menjaga mereka." Jawab Al kepada Vero membuat semua orang terkejut dengan ucapan Al.