
"Tuan Al mengucapkan terima kasih?" tanya Vero, El, Rania dalam hati melihat Al yang begitu jarang mengucapkan terima kasih secara langsung.
Mereka semua terdiam dan menatap Al dengan tatapan terkejut. Beberapa detik ruangan hening tanpa suara. Suara Agatha yang membuat kesunyian itu hilang.
"Aku di mana?" tanya Agatha yang baru saja membuka matanya memegang kepala.
"Agatha." Panggil Rania yang langsung ke arah tempat tidur Agatha. Yang lain mengikuti melihat Agatha yang membuka matanya.
"Kalian?" tanya Agatha melihat satu persatu wajah orang-orang yang di kenal olehnya. Al menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Apa yang sakit?" tanya Al yang mendekat memegang kepala Agatha dengan lembut.
Mereka semua terdiam kembali melihat apa yang dilakukan Al. Dan suasana itu kembali normal ketika dokter datang untuk memeriksa keadaan Agatha.
"Bisa saya periksa dulu tuan Al?" tanya dokter dan Al menganggukkan kepalanya.
Dokter memeriksa kondisi Agatha serta memastikan keadaannya juga dengan bertanya kepada Agatha.
"Istirahat yang cukup." Jawab Dokter yang tersenyum memberikan saran kepada Agatha untuk beristirahat secukupnya.
"Aku pergi dulu, Vero ikut aku dengan El ke kantor." Jawab Al yang sudah melihat kondisi Agatha baik-baik saja.
"Baik." Jawab Vero.
"Aku menginap di sini malam ini." Jawab Rania.
"Oke." Jawab Al.
"Abang membolehkannya?" tanya Rania.
"Iya." Jawab Al.
"Kau juga istirahat dengan cukup seperti apa yang dikatakan dokter." Jawab Al yang melirik ke arah Agatha. Agatha hanya menganggukkan kepalanya.
Al, El dan Vero pergi ke ruang kantor Al.
"Apa yang ingin Anda katakan?" tanya Vero kepada Al.
"Insiden kali ini dilakukan oleh keluarga Gon. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan untuk bekerjasama dengan penjahat internasional seperti Dewa dan Dewi." Jawab Al menjelaskan.
"Apa? Keluarga Gon?" tanya Vero dan El bersama-sama. Vero dan El saling menatap satu sama lain karena mereka juga terkejut dengan ucapan Al.
"Aku bertanya kepada mereka berdua hanya ingin mengintrogasi tentang hal itu saja. Bagi ku kepentingan mereka bukanlah hal yang paling penting tapi siapa yang membantu mereka masuk ke dalam wilayah kita adalah hal yang harus aku ketahui dengan jelas." Jawab Al.
"Kenapa keluarga Gon melakukan ini? Siapa yang melakukan hal ini?" tanya El.
"Aku juga tidak tau, tapi disini membuktikan bahwa orang yang membantu Dewa dan Dewi bukanlah orang biasa. Mungkin saja dia adalah orang yang paling tinggi di keluarga Gon." Jawab Al.
"Kenapa tuan bisa berfikir seperti itu?" tanya El.
"Karena akses masuk ke distrik kita sangat ketat. Ditambah pada distrik A wilayah kita hanya terdiri dari 3 keluarga besar saja yang mengendalikan keamanan dan kedamaian ini. Kita sudah sepakat untuk bekerjasama jika ada musuh datang. Musuh yang ingin menghancurkan wilayah kita." Jawab Al.
"Benar juga. Jika orang biasa seperti kami, tidak mungkin penjahat internasional itu bisa tiba di wilayah distrik A secara kebetulan. Di tambah lagi, saat dia datang menemui Alin secara khusus dan bertarungnya. Dan menurut informasi yang di katakan oleh Alin, dia mencari dokter Agnia." Jawab Vero.
"Dokter Agnia?" tanah El.
"Yah, dokter yang tinggal dengan Alin selama ini." Jawab Vero.
"Hmmmm baiklah. Sekarang aku meminta bantuan dari pihak keluarga Dev untuk diam-diam melindungi merek berempat ke depan. Kedua, kita harus cari tau apa hubungannya dokter Agnia dengan penjahat internasional." Jawab Al.
"Baik." Jawab Vero dan Al.
"Oh ya, aku akan mengabarkan hal ini kepada para senior. Dan juga tentang sekolah Akademik yang akan datang setelah ujian sekolah mereka. Keluarga Dev juga harus menyiapkan siapa saja murid terbaiknya untuk ikut berpartisipasi." Jawab Al.
"Waktunya sudah dekat?" tanya Vero.
"Kau juga bisa merekomendasikan Alin untuk kuota undangan setiap keluarga besar. Dia akan menjadi orang yang tidak perlu terikat dengan keluarga Dev tapi bisa menjadi kartu as keluarga Dev." Jawab Al.
"Oke." Jawab Al.
Vero pergi dari ruangan dan El kembali bertanya tentang hal ini kepada Al.
"Apa yang harus kita lakukan kepada Dewa dan Dewi?" tanya El kepada Al.
"Tidak ada. Biarkan mereka membusuk di dalam penjara atau menjadi umpan mendatangkan apa yang akan kita butuhkan." Jawab Al.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang anda fikirkan tuan Al." Jawab El.
"Kerjakan saja persiapan kita untuk sekolah akademik anak-anak ini.
Sementara di kamar pasien hanya tinggal Rania, Alin, Kaivan dan Agatha.
"Baguslah jika kalian semua mau menginap di sini. Auuu." Agatha yang senang mencoba untuk menggerakkan tubuhnya duduk bersandar tapi sulit untuk di lakukan. Rania membantu Agatha duduk.
"Terima kasih. Apa kau tidak apa-apa jika menginap di sini?" tanya Agatha
"Tidak apa-apa, bukanya tadi Aku udah meminta izin kepada Abang Al?" tanya Rania.
"Benar juga." Jawab Agatha.
"Kau juga di sini Kaivan?" tanya Agatha.
"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan 3 wanita untuk sendirian ." Jawab Kaivan.
"Kau tidur di sofa," Ucap Rania yang langsung tidur di tempat tidur yang kosong di dalam ruangan itu.
"Oke. Lelaki harus mengalah." Jawab Kaivan.
"Aku memesan makan, kalian mau apa?" tanya Alin.
"Mie ayam bakso." Jawab Rania.
"Aku juga." Jawab Kaivan.
"Kau Agatha?" tanya Alin.
"Roti saja, apapun jenis roti oke." Jawab Agatha.
"Oke." Jawab Alin.
"Sambil menunggu, bagaimana jika kita main permainan ular tangga online?" tanya Agatha.
"Boleh." Jawab Mereka bertiga.
Mereka menggabungkan 3 tempat tidur menjadi satu dan duduk di atas tempat tidur mengelilingi ponsel Agatha yang menjadi pusat permainan. Mereka menggunakan aplikasi game online berempat dengan warna berbeda. Mereka menikmati waktu menunggu makanan delivery dengan bermain game bersama. Suasana ruang rawat begitu harmonis dengan senyum dan tawa dari mereka berempat.
"Kau benar-benar tidak apa-apa Agatha?" tanya Rania.
"Tidak apa-apa, hanya saja masih sedikit lemas." Jawab Agatha. Saat bermain tiba-tiba pesan masuk pesan ke dalam ponsel Agatha.
"Kau sudah sadar?" tanya Helena dalam pesan di ponsel Agatha dengan nama pengirim Guruku. Rania dan Kaivan terkejut dengan tampilan pesan yang tampil di ponsel Agatha.
"Kau punya guru?" tanya Kaivan dan Rania. Agatha hanya menganggukkan lalu mengambil ponselnya untuk membalas pesan dari Helena.
"Siapa?" tanya Kaivan.
"Jangan bilang kau semakin hebat karena latihan dari guru mu beberapa hari yang lalu yang waktu itu kau memberitahu kami bahwa kau tidak ada di rumah karena sedang latihan?" tanya Rania dan Agatha menganggukkan kepala lagi sambil mengetik pesan balasan untuk Helena.
"Siapa sebenarnya guru mu?" tanya Rania dan Kaivan bersama-sama.
"Nanti kalian akan bertemu dengannya." Jawab Agatha yang tersenyum.