Forza

Forza
Hari Pertama Akademik Forza



Matahari yang begitu bersinar di pagi hari telah memberikan semangat kepada para siswa siswi akademi Forza untuk mengikuti kegiatan hari pertama di akademik. Agatha yang sudah siap berpakaian rapi dan membawa tas sekolah yang berisi buku yang sudah di sediakan oleh pihak akademik.


Agatha yang melihat Helena masih tertidur di atas kasur dengan begitu pulas tak berani untuk membangunkannya. Agatha menuliskan sebuah memo untuk Helena dan menyiapkan sarapan untuknya lalu pergi meninggalkan kamar. Di luar kamar, Alin sudah berdiri menunggu Agatha keluar.


"Alin? Menunggu ku?" tanya Agatha yang terkejut saat menutup pintu kamar.


"Gak. Aku juga baru keluar. Sudahlah, ayo kita berangkat." Jawab Alin.


"Ayo." Jawab Agatha.


"Aku tidak sabar untuk kegiatan hari ini. Kau juga?" Agatha berbicara dalam perjalan melangkah ke ruang kelas.


"Ya." Jawab Alin dengan datarnya.


Helena yang terbangun karena sinar matahari yang masuk dari jendela menyinari tubuhnya. Helena bangun dan melihat kamar yang sudah kosong.


"Kenapa aku sangat mengantuk sekali? Capek banget lagi." Jawab Helena dalam hati masih mengumpulkan semangat untuk bangun dari tidur.


"Memo?" tanya Helena yang melihat sebuah kertas ada di sampingnya.


"Nanti saja aku membacanya. Aku masih terlalu malas dengan tubuh yang lemas ini untuk bangun dari tidur." Jawab Helena yang memejamkan matanya lagi.


Agatha dan Alin yang masuk ke dalam kelas melihat sekitar, ruangan kelas yang begitu luas seperti lapangan kosong hanya dengan beberapa kursi saja di sudut kanan dengan sedikit dinding tembok sebagai papan tulis serta papan untuk infokus menampilkan layar.


"Selamat pagi semua." Ucap Agatha dengan tersenyum lebar memberikan salam kepada semua orang yang ada di dalam kelas. Namun tidak ada satupun orang yang membalas salam Agatha. Mereka hanya satu detik diam melihat ke arah Agatha yang memberikan salam namun setelah itu kembali kepada aktifitas mereka dan mereka mulai membicarakan Agatha dan Alin.


"Sudah jangan di hiraukan. Ayo cari tempat duduk." Jawab Alin yang berjalan lebih dulu dari belakang Agatha tepat di luar pintu masuk.


"Jadi mereka berdua yang mengenal keluarga Dev dan Ken?" tanya seseorang yang berada di dalam ruang kelas. Alin dan Agatha adalah siswa terakhir yang masuk ke dalam kelas. Sementara yang lain sudah datang sejak awal di dalam kelas.


"Iya, mereka yang mengenal Rania Ken dan Kaivan Dev."


"Benarkah? Kau serius? Pantas saja mereka berani menolak tawaran yang di tawarkan oleh Carlos."


"Iya. Mereka berani menolak bergabung karena ada orang di belakang mereka yang dapat menjamin mereka."


"Aku juga melihat, mereka tadi malam ke kamar gadis yang bernama Agatha itu. Mungkin mereka sedang mengadakan pesta tadi malam."


"Wah, perlakukan mereka benar-benar membuat iri."


"Iya benar."


Mereka berbisik-bisik membicarakan Agatha dan Alin. Agatha dan Alin hanya melihat mereka yang begitu menghindari mereka untuk berbicara. Padahal saat itu Agatha yang baru saja masuk ke dalam kelas langsung menyapa mereka.


"Selamat pagi semua, apakah semuanya sudah berkumpul?" tanya seseorang yang berjalan menuju ke meja guru. Lelaki itu meletakkan buku di atas meja dan memandang semua orang yang sudah duduk di hadapannya.


"Sepertinya sudah kumpul semua. Perkenalkan nama ku, Dirga. Aku yang akan menjadi penanggung jawab kalian selama akademik ini berlangsung. Bisa dikatakan aku sebagai wali kelas kalian sekaligus pelatih kalian." Jawab Dirga dengan tegas kepada mereka semua yang diam dan melihat Dirga dengan serius.


"Sebelum memulai, ada yang harus kalian dengarkan dengan baik, diingat selalu dan diikuti selama berada di dalam akademik ini. Kalian harus mengikuti aturan yang aku buat. Jangan membuat masalah dan jangan melanggar aturan yang sudah aku tentukan untuk kalian. Aturan itu sudah aku tuliskan kedalam gulungan kertas ini. Baca dan ingat dengan jelas." Jawab Dirga kepada mereka dengan begitu tegas. Dirga memberikan gulungan kepada mereka dengan kekuatan yang di milikinya untuk melemparkan setiap gulungan kepada setiap orang. Semua orang terkejut dan menerima gulungan itu.


"Kalian wajib untuk mengikuti aturan yang aku buat. Kalau kalian beranggapan bahwa kalian adalah manusia spesial, kalian salah. Di tempat ini, kalian berada di level paling bawah."


"Apa kalian mengerti?" tanya Dirga.


"Iya pelatih." Jawab mereka bersama -sama dengan kompak. Mereka semua sudah menilai Dirga di dalam hati mereka masing-masing.


"Guru ini terlalu menyeramkan."


"Wahh, lihat tubuhnya begitu bagus."


"Kemampuan apa yang di miliki olehnya tadi? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?"


"Seperti memang tidak mudah seperti yang dikatakan nona Helena." Jawab Agatha dalam hati.


"Oke, kita mulai pembelajaran hari ini jika kalian sudah mengerti apa yang aku katakan tadi."Jawab Dirga. Dirga berjalan keluar dari meja guru ke depan meja mereka dengan posisi berdiri yang sempurna. Tangan di belakang dan kaki sejajar dengan bahu, badan tegak dengan kepala yang bertatapan lurus ke arah para siswa siswi.


"Satu persatu perkenalkan diri kalian beserta dengan kemampuan Forza apa yang kalian miliki." Jawab Dirga kepada mereka.


"Saya bisa mengangkat beban seberat 100 kg. Elemen Forza yang saya miliki adalah tanah."


"Saya bisa melakukan hipnotis kepada orang dewasa. Kemampuan saya adalah psikokinesis, elemen kesadaran seseorang."


"Saya bisa membuat tubuh saya seperti batu yang keras. Saya bisa di tabak truk namun tidak terluka. Saya bisa dengan mudah mengangkat beban seberat 100kg pada masing-masing tangan saya. Elemen Forza saya adalah tanah." Jawab Carlos.


"Saya..... hmmmm,..... saya..... Saya bisa mengamati keadaan sekitar dengan cepat dan mengingatnya dengan mudah. Elemen Forza saya adalah daya ingat yang cepat."


"Baru kali ini aku mendengar kemampuan itu. Bukannya semua forza itu memiliki daya ingat yang tidak biasa seperti manusia lainnya?" tanya Carlos dalam hati. Yang lain juga membicarakan kemampuan daya ingat seseorang ini dan tertawa kecil.


"Ada yang lucu? Kenapa kalian tertawa?" tanya Dirga. Mereka kembali menunduk kepala dan diam seketika.


"Dengarkan aku baik-baik. Kemampuan daya ingat akan memberikan dampak besar kepada organisasi. Memang benar jika semua Forza memiliki daya ingat yang melebih manusia biasa. Tapi untuk dia, daya ingat yang cepat ini akan membuat dirinya mampu dengan cepat membaca situasi di saat semua orang sedang bertarung. Dia adalah otak dari ahli strategi dalam tim. Makanya kemampuan dia sangat berguna bagi organisasi daripada seseorang Forza yang hanya memiliki kemampuan bertarung dan hanya bisa merendahkan kemampuan orang lain." Jawab Dirga kepada mereka.


"Walaupun memang semua Forza harus memiliki kemampuan bertarung untuk melindungi dirinya sendiri sebelum melindungi orang lain. Tapi kemampuan dia harus di hargai karena tanpa dia suatu organisasi akan kesulitan dalam membuat strategi yang cocok dalam suatu keadaan yang akan di hadapi." Jawab Dirga lagi.