Forza

Forza
Kekuatan Yang Besar ( Akademik)



"Sial ......." Carlos yang terjatuh dan tubuhnya tidak bisa lagi berdiri kokoh. Keringat yang bercucuran dari tepi pelipis mata hingga ke dagu. Mata yang tajam seperti elang yang melihat mangsa. Kaki yang sudah sempoyongan akibat tendangan Agatha.


"Kau yakin ingin melanjutkannya dengan kondisi mu?" tanya Agatha yang masih dengan posisi kuda-kuda tangan yang siap meninju dan kaki yang siap menendang.


"Gadis ini..... jika saja aku bisa memukulnya sekali saja. Dia pasti akan jatuh seketika. Tapi tubuh ku?" Ucap Carlos dalam hati yang masih berusaha untuk berdiri kokoh dengan kedua kakinya.


"Jangan banyak bicara," jawab Carlos yang memaksakan dirinya mengeluarkan semua aura kekuatan Forza yang tersisa dan segera meluncur serangan kepada Agatha dengan sekuat tenaga.


Cahaya yang terlihat dari tinju Carlos ke arah Agatha di lihat semua orang ya g menyaksikan. Bukan mengenai Agatha tetapi tertahan oleh tangan Agatha. Kepalan tangan Carlos yang hampir saja mendarat ke arah wajah Agatha ditahan dengan telapak tangan kanan Agatha dan di dorong ke belakang. Agatha langsung meninju balik ke arah perut Carlos.


Dengan seketika Carlos terlempar ke arah dinding ruang latihan. Carlos muntah darah dan terjatuh ke lantai setelah terlempar di dinding ruang latihan.


"Serangan apa itu?" tanya Carlos lalu menutup matanya tidak sadarkan diri.


"Huhh,,,, apa?" mereka lagi-lagi dikejutkan dengan penampakan pertandingan antara Agatha dan Carlos.


"Aku tidak bisa menilai dengan jelas kekuatan Agatha. Dia tipe kekuatan Forza kecepatan tapi serangan yang dilakukan olehnya juga adalah tipe kekuatan bertarung. Dan setiap serangannya miliknya itu teratur. Dia juga mengetahui dengan kecepatan yang dimiliki olehnya dapat memberikan efek yang bagus untuk serangan ke lawan. Dia benar-benar....... dari mana sebenarnya Agatha dan Alin berasal. Bagaimana keluarga Ken dan Dev bisa menemukan anak-anak seperti ini?" tanya Dirga dalam hati.


"Pertandingan selesai. Sampai disini saja kelas kita hari ini. Kembali ke kamar masing-masing." Jawab Dirga yang langsung berjalan ke arah Carlos dan menggendongnya . Tim medis datang lalu membawa Carlos.


"Kau hebat Agatha." Jawab Ludwig.


"Itu hanya keberuntungan." Jawab Agatha yang rendah hati tidak ingin menonjol. Tersenyum dan tidak membenarkan ucapan para teman-teman sekelasnya tentang kekuatan yang di miliki olehnya.


Alin memberikan jempol kepada Agatha dan Agatha tertawa kecil.


"Permisi," jawab Agatha yang di kerumuni teman-teman yang lain untuk berlari ke arah Alin. Mereka keluar kelas dengan berbincang.


Sementara disisi lain. Helena yang berkeliling akademik berhenti di sebuah pohon rindang. Pohon yang paling tinggi di pulau itu.



"Lebih luas dari perkiraan ku. Mereka memang mencari tempat yang bagus. Bukan hanya segi tempat tapi ternyata tempat ini menyimpan energi bumi yang cukup besar. Aku merasakan aliran kekuatan bumi yang aku serap." Jawab Helena yang melihat keseluruhan pulau dengan terbentang pepohonan dan gedung.


"Pulau ini juga di sembunyikan dari pihak luar dengan lapisan pelindung yang cukup kuat. Mereka benar-benar ingin membuat kekuatan bagi generasi muda mendatang." Jawab Helena sambil menguap.


"Baiklah. Karena aku juga sedang memulihkan tubuh ku. Lebih baik aku bermeditasi di pohon ini saja. Ini tempat yang bagus untuk aku tempati di pulau ini." Jawab Helena yang sedang di batang pohon.


Helena memejamkan matanya dan mulai bermeditasi untuk menyerap kekuatan bumi yang ada di sekitar. Kicauan burung menemani meditasi Helena sejak pagi hingga siang hari. Helena menghentikan meditasinya karena perut yang mulai keroncongan.


"Aku sudah lapar? Kenapa jadi rubah menjadi suka lapar?" tanya Helena.


"Lebih baik aku kembali." Jawab Helena.


"Energi ini? Aku seperti mengenalnya. Walaupun samar-samar tapi aku pernah merasakannya. Pantas sejak datang aku udah merasakan ini, aku rasa ini adalah kekuatan seseorang. Hmmmmmm, ternyata bukan hanya sekedar tempat, bangunan tapi juga orang yang ada di dalamnya. Mereka memang memikirkan banyak hal dalam membuat keputusan mendirikan akademi Forza ini." Jawab Helena dalam hati.


Tiba di depan gerbang akademik, Helena berhenti. Ia merasakan energi yang ia rasakan tadi semakin mendekat.


"Kekuatan ini?" tanya Helena yang tiba-tiba berhenti melihat dua orang yang sedang berjalan-jalan.


"Bram? Orangtua ini disini? " tanya Helena dalam hati menghentikan dirinya berjalan melihat Bram dan seorang asisten sedang berjalan bersama.


"Ah sudahlah, aku juga tidak peduli jika dia ada sini. Dia juga termasuk anggota keluarga Dev." Jawab Helena yang langsung tidak peduli karena ia sudah kelaparan dan ingin segera sampai di kamar.


"Hah, kenapa ada rubah yang masuk ke dalam halaman sekolah?" tanya Bram yang kaget melihat Helena yang berjalan mendekatinya.


"Oh ini, ini adalah hewan peliharaan salah satu Forza non organisasi. Rubah ini sudah terdaftar tuan."


"Oh begitunya?" tanya Bram dengan tersenyum tipis menundukkan kepalanya ke arah Helena yang berjalan mendekatinya. Tiba-tiba Bram menggendong Helena dan mengelus kepala Helena.


"Tuan?" tanya asistennya.


"Ahhhh, begini rasanya mengelus bulu rubah. Rubah ini benar-benar rubah yang patuh menjadi peliharaan. Jika saja ini adalah rubah liar, aku tidak berani untuk menggendongnya seperti ini." Jawab Bram yang tersenyum.


"Apa-apaan lelaki tua ini? Dia menggendong ku tiba-tiba?" tanya Helena yang kaget tapi diam saja saat ini seperti hewan peliharaan yang sudah di latih lama.


"Ia, pemiliknya adalah seorang gadis yang bernama Agatha. Dia juga memiliki lisensi hewan langka. Dia memelihara ini sudah setahun, jadi legal." Jawab Asisten itu.


"Pantas saja. Lihat, dia terlihat senang. Sepertinya dia menyukai ku." Jawab Bram.


"Duh duh, lembutnya bulu ini. Kamu hewan ganas yang bisa selembut ini. Andai saja kau milikku aku akan membawa mu setiap hari. Lucu sekali, ahhhh aku suka sekali dengan buluh putih miliknya." Jawab Bram yang berbicara sendiri sambil mengelus bulu Helena.


"Laki-laki tua ini sudah gila." Jawab Helena dalam hati dengan melotot ke arah Bram.


"Wahhh, mata mu sangat cantik. Tapi apa kau tidak menyukai jika aku menggendong mu? Baik-baik, aku turunkan." Jawab Bram yang menurunkan Helena ke bawah.


"Apa makanan rubah? Daging ya? Ahhh, sayang sekali aku tidak membawa makanan. Kau bisa mengambilnya?" tanya Bram yang berbicara kepada asistennya.


"Tuan Bram, lihat? Rubah itu sudah melarikan diri." Jawab assisten Bram.


"Yahh, sayang sekali." Jawab Bram yang melihat Helena sudah melompat pergi meninggalkannya.


"Orangtua gila, jika bukan memikirkan akan merepotkan jika menyerangnya aku tidak akan mau untuk di elus-elus olehnya." Jawab Helena yang pergi meninggalkan Bram.