Forza

Forza
Rania mengajar Fara Di Ruang Perawatan.



"Kenapa kau hanya bisa marah-marah setelah kalah melawannya? Kau saja yang tidak serius untuk melawannya, dari awal kau sudah menganggap lawan mu dengan begitu mudah untuk mengalahkannya." Jawab Ferry yang sedang memberikan sarapan pagi untuk Fara yang masih di rawat di ruang pasien kantor Ken.


"Berisik, kalau mau masih mengomel saat datang disini lebih baik kau pergi." Jawab Fara.


"Aku tidak ada mengomel, kau saja yang sejak tadi hanya bisa mengomel. Aku saja yang tidak bisa mengalahkannya dan malah marah-marah di tempat ini terus menerus." Jawab Ferry.


"Kau selalu saja menyalahkan aku. " Jawab Fara


"Aku datang untuk menemani mu loh." Jawab Ferry.


"Jadi, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Ferry lagi.


"Aku tidak akan membiarkan gadis itu begitu saja, aku sudah di hina di depan tuan Al. Oh ya bicara tentang tuan Al, sepertinya mereka memiliki hubungan khusus." Jawab Fara.


Belum lagi Ferry menjawab, mereka di kejutkan dengan sebuah pintu masuk yang terbuka dengan iringan suara pintu yang jatuh terlepas dan terjatuh ke lantai.


"Rania?" mereka berdua terkejut dengan kehadiran Rania yang membuat pintu ruang pasien rusak terjatuh ke lantai. Rania menggunakan kekuatan angin miliknya untuk merusak pintu dan masuk dengan tatapan emosi.


"Brkkkkkkk" suara pintu jatuh ke lantai.


"Fara!!!!!!" Rania yang berjalan dan memanggil nama Fara dengan nada tinggi dan emosi marah yang bergejolak.


"Lama tidak bertemu Rania." Jawab Ferry yang berdiri dari kursi duduknya.


"Rania? Ada apa kau datang kesini?" tanya Fara.


"Gadis gila," Rania yang mengeluarkan kekuatannya membuat Fara terbang dan mengenai tembok lalu terjatuh ke lantai.


"Uhukkkkk uhukkkkk." Fara yang mengeluarkan darah dari mulutnya.


Rania berjalan mendekati Fara yang sudah terduduk di lantai dengan menggunakan tangan kanannya menarik rambut Fara. "Atas dasar apa kau menentang keputusan Abang ku?" tanya Rania dengan menarik rambut Faza kebelakang dan bertatapan wajah dengannya.


"Apa maksud mu Rania?" tanya Fara sedang Ferry hanya terdiam melihat Rania yang seperti itu.


" Ini maksud ku!" jawab Rania dengan menampar Fara berulang kali.


"Aku mendengar Rania sekarang sudah tidak seberutal dulu yang emosinya tidak bisa terbendung. Tapi sekarang kenapa Rania masih tidak berubah seperti dulu?" tanya Ferry dalam hati.


"Bahkan dia melakukan hal ini di kantor Abang Al. Dia benar-benar tidak takut dengan kemarahan Abang Al yang akan menghukumnya telah membuat onar seperti ini?" tanya Ferry lagi.


"Kau?" Fara mulai emosi dan bangkit dari duduknya segera melayangkan tinju ke arah Rania. Tapi Rania dengan mudah menghindari serangan Fara dan balik menyerang. Fara terjatuh kembali ke lantai karena Rania membanting tubuh Fara dengan begitu mudah.


"Pukulan mu itu tidak berguna bagi ku. Apakah kau selama ini hanya mengandalkan nama keluarga Ken dan kemampuan mu yang tidak seberapa ini? Apa kau tidak latihan dengan keras? Apakah kau hanya menikmati fasilitas yang ada tanpa berjuang dan berusaha sekuat tenaga?" tanya Rania.


Fara yang mulai emosi dan mengeluarkan kekuatan Forza miliknya dengan menggebu-gebu.


"Kau mulai serius sekarang? Baiklah ayo kita lakukan!" ucap Rania juga mulai serius mengeluarkan kekuatan miliknya.


Kedua yang sedang siap menyerang tiba-tiba berhenti karena kedatangan Al.


"Abang Al." panggil mereka bertiga dengan melihat Al yang hadir di depan mereka sambil melihat kedua tangannya di perut.


"Abang Al, ini bukan salah ku. Aku hanya di rawat di sini tapi dia tiba-tiba datang dan menyerang ku. Aku hanya melindungi diri saja." Jawab Fara. Al kemudian melirik ke arah Rania untuk mendapatkan klarifikasi Rania.


"Apa ini tidak keterlaluan Al?" tanya Farel yang tiba-tiba datang dan sudah berdiri di belakang tubuh Al.


"Kau bilang keterlaluan? Bukannya anak mu yang manja ini yang sudah keterlaluan. Apa kalian lupa apa yang sudah kalian lakukan dengan mencoreng nama baik keluarga Ken? Apa perlu aku ingatkan lagi?" tanya Rania.


"Aku paham apa yang kau maksud tapi aku sudah menyelesaikannya dengan Abang mu. Kalian ini mengapa harus seperti ini hanya karena seorang gadis dari luar keluarga kita?" tanya Farel.


"Oh maksud ada dengan meminta maaf. Maaf saya sudah menyerang anak mu, semua ini bukan karena seorang gadis tapi karena kesalahan anak mu sendiri yang sudah menerobos masuk ke rumah orang lain. Apa seperti itu yang kau ajarkan kepada anak perempuan ini paman?" tanya Rania dengan membungkukkan dan bertanya balik kepada Farel.


"Apa maksud mu?" tanya Farel balik.


"Apa dengan meminta maaf kepada Agatha dan Abang ku masalah ini bisa selesai, maka apa aku tidak boleh melakukan apa yang seperti anak anda lakukan?" tanya Rania.


"Bahkan dengan melawan keputusan dari ketua keluarga Ken selesai dengan permintaan maaf saja?" tanya Rania.


"Jadi kenapa pertarungan dengan sepupu dan umur yang sama tidak boleh? Bukanya Fara sudah menantang Agadapa dan kalah dalam pertarungan itu?" tanya Rania.


" Dia benar-benar gila mengatakan hal itu kepada Ayah. Dia benar-benar lebih parah di banding dulu." Jawab Ferry dalam hati.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Al dengan menghentikan perdebatan mereka.


"Rania, ikut Abang ke ruang kantor. El urus sisanya." Jawab Al yang meninggalkan mereka begitu saja di dalam ruangan pasien.


"Sial aku di permalukan lagi dengan keponakanku sendiri bahkan saat ini di depan orang banyak. Semua ini gara-gara anak ini." Jawab Farel dalam hati.


"Kita kembali, kalian di rawat di rumah sakit di rumah saja. " Jawab Farel.


"Baik ayah, aku akan membereskan barang-barang." Jawab Farel kepada mereka berdua.


El hanya melihat mereka yang pergi dari rumah sakit dan segera membereskan pintu rumah sakit yang sudah di hancurkan oleh Rania.


Rania yang di bawa oleh Al di dalam kantornya.


"Apa alasan mu melakukan hal itu di dalam ruang pasien?" tanya Al.


"Karena aku kesal." Jawab Rania dengan jujur.


"Huh, lain x jangan lakukan hal itu lagi " Jawab Al.


"Iya akan aku coba. Lagi pula suruh siapa dia menjadi penjahat yang ingin memata-matai Agatha bahkan sudah melakukan hal ini ke rumah Agatha. Mereka memang pantas mendapatkan hal tadi. Hahahha, aku sudah melihat kekalahan Fara. Kalau saja kemarin aku melihat pertandingan Agatha dan Fara, aku akan menjadi orang pertama yang mengolok-olok Fara atas kekalahan yang di dapat olehnya." Jawab Rania dengan jelas dan jujur apa yang ingin di lakukan olehnya


"Lagi pula, jika semua ini di ketahui oleh organisasi lain, mereka akan meremehkan Abang. Masalah internal saja tidak bisa di selesaikan bagaimana masalah eksternal?"" tanya Rania