Forza

Forza
Pembicaraan di Kantin



Mereka yang keluar dari kelas setelah menyaksikan pertandingan persahabatan antara Alin, Carlos dan Agatha. Mereka pergi ke kantin untuk makan siang. Kantin yang mereka kunjungi adalah kantin yang seperti sebuah ruangan meja makan keluarga besar. Hanya ada ruangan yang tidak terlalu besar. Meja panjang dengan ukuran 5 meter dengan kursi yang berhadapan di meja makan. Mereka hanya mempunyai hal itu saja di kantin selain dapur dan para koki.


"Suasana tadi bukankah sangat menegangkan?"


"Kau benar. Aku kira mereka berdua yang memiliki wajah yang imut dan tubuh kecil bukanlah lawan yang kuat. Tetapi dia adalah lawan yang cukup tangguh."


"Kau benar, kau lihat tadi Alin? Dia benar-benar menyerang Carlos dengan kekuatan api miliknya tanpa meleset."


"Kau benar. Agatha juga tidak kalah jauh dari Alin. Padahal aku berfikir bahwa Carlos lah yang paling kuat di antara murid akademik tidak berorganisasi."


"Mereka juga lawan yang tangguh."


Mereka yang berbisik saat sedang mengantri makanan di depan koki yang melayani mereka untuk mengambil makanan. Sedangkan Alin dan Agatha sudah lebih dulu di depan dan mengambil makan siang mereka.


"Ssttt. Diam, mereka dapat mendengar ucapan kalian." Melihat Alin dan Agatha yang sudah membawa tempat makan terisi dengan nasi, sayur dan ikan. Mereka berjalan ke kursi untuk menikmati makanan.


"Hei, kalian tau tidak bahwa kantin murid Forza akademik yang memiliki organisasi seperti mereka mendapatkan fasilitas yang melebih kita. Mereka berada di kantin yang luas dengan menu makanan yang lezat-lezat."


"Iya. Aku juga kemarin mengintip kantin mereka. Mereka cukup menikmati makan malam mereka dengan bahagia. Makanan yang banyak dan juga tempat yang bagus."


"Ahhhh, kenapa bukan hanya ruang kelas tapi juga kantin harus di pisahkan."


"Kau benar."


Alin dan Agatha yang mendengar teman-teman mereka yang bukan hanya menggosipkan mereka berdua tali juga menggosipkan tentang fasilitas yang mereka dapat untuk di bandingkan dengan fasilitas siswa lainnya.


"Apa perbedaan ya harus seperti itu?" tanya Agatha dengan berbisik di telinga Alin.


"...." Alin hanya menganggukkan dan menikmati makanannya. Alin yang tidak memilih makanan untuk di makan olehnya hanya fokus pada makanan ketika makan.


Agatha dan Alin yang keluar dari kantin setelah selain makan siang berjalan menuju kamar asrama mereka.


"Kenapa guru tadi menyudahi kelas kita padahal masih ada waktu 2 jam lagi kita baru keluar dari ruang kelas?" tanya Agatha. Alin menggeleng-gelengkan kepala karena tidak mengetahui.


"Apa mungkin karena kita keterlaluan sudah menyerang Carlos?" tanya Agatha.


"Tidak, itu semua karena dia yang mau." Jawab Alin.


"Benar juga. Semua itu karena dia yang menginginkannya sendiri. Tapi bagaimana pun juga, dia terluka karena kita. Bagaimana jika kita ke ruang medis terlebih dahulu sebelum kembali ke asrama?" tanya Agatha.


"Oke." Jawab Alin yang singkat.


"Kau benar mau di ajak olehku?" tanya Agatha. Dan Alin menganggukkan.


Mereka yang berhenti menuju lorong ruang medis untuk melihat Carlos. Saat tiba di ruang medis, mereka melihat Carlos yang sudah sadar dan menyapa."


""Ahhh, apa yang terjadi?" tanya Carlos memegang kepalanya karena masih pusing untuk mengembalikan ingatan milikinya beberapa jam yang lalu. Carlos yang melihat sekitar sudah berada di ruang medis tiba-tiba terlihat dua sosok yang sudah mengalahkan dirinya.


"Kalian?" tanya Carlos.


"Bagaimana keadaan mu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Agatha dengan tersenyum polos.


"Untuk apa kalian datang? Pergi, kalian hanya ingin mengolok-olok aku yang sudah kalah dengan kalian." Jawab Carlos dengan bernada tinggi dan masih saja dengan emosi marah.


Alin memegang pundak Agatha untuk menghentikan Agatha yang ingin berbicara. Alin berbalik dan menarik tangan Agatha untuk pergi.


"Bagus, pergilah." Jawab Carlos.


"Semoga cepat pulih Carlos. Maaf sudah membuat mu kalah pada pertandingan tadi " Jawab Agatha yang membungkukkan tubuhnya dengan sopan untuk meninggalkan ruang medis.


"Pergi ya pergi saja." Jawab Carlos.


"Kenapa kau menarik ku?" tanya Agatha kepada Alin.


"Dia akan berbuat ide liciknya kepada mu. Lebih baik menghindari mereka daripada terlibat dengan dirinya." Jawab Alin.


"Maksudnya?" Tanya Agatha.


"Sudahlah, suster juga sudah mengatakan bahwa dirinya sudah baik-baik saja. Dia cukup istirahat saja. Lebih baik kita kembali ke kamar." Jawab Alin.


"Oke." Jawab Agatha.


Sampai di depan pintu, ternyata Helena juga tiba.


"Non...putih?" panggil Agatha yang hampir saja memanggil nona Helena.


"Aku duluan." Jawab Alin yang masuk ke dalam kamar lebih dulu meninggalkan Agatha yang sedang menggendong Helena di depan pintu kamar.


"Oke." Jawab Agatha.


"Kau dari mana?" tanya Agatha masih di depan pintu. Saat dirinya sudah membuka pintu dan menurunkan Helena ke lantai.


"Nona dari mana saja?" tanya Agatha.


"Berkeliling dan kebetulan mendapatkan tempat yang bagus untuk bermeditasi." Jawab Helena.


"Bermeditasi di akademik ini?" tanya Agatha.


"Iya. Aku tidak menyangka bahwa di tempat ini banyak sumber inti energi yang keluar dari inti bumi di sekitar akademik ini." Jawab Helena.


"Benarkah?" tanya Agatha.


"Iya. Ini juga tempat yang cocok untuk mu bermeditasi di sini." Jawab Helena.


"Benarkah?" tanya Agatha.


"Sudahlah, lebih baik kau duduk dan cobalah untuk merasakan energi bumi yang dapat mengalir ke tubuh mu." Jawab Helena memerintahkan Agatha untuk bermeditasi dan mencoba untuk mengumpulkan energi keluar Forza.


"Baik nona." Jawab Agatha. Agatha yang baru saja memejamkan matanya, mulai merasakan energi bumi yang masuk ke dalam tubuhnya. Helena hanya melihat Agatha yang serius dalam bermeditasi.


Setelah beberapa waktu berlalu dari siang hingga sore hari, Agatha terus menyerap energi bumi yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Nona Helena, kau benar. Tempat ini sangat bagus. Aku yang baru saja bertarung dan juga bermeditasi sudah merasa banyak energi bumi yang masuk ke dalam tubuh dan merasa sangat ringan." Jawab Agatha dengan mengepalkan kedua tangannya dan membuka mata.


"Apa? Bertarung?" tanya Helena yang tidak mengetahui bahwa Agatha hari ini sudah melakukan pertandingan persahabatan.


"Iya nona Helena. Nona, aku merasakan akan betah disini." Jawab Agatha.


"Jangan bicara seperti itu. Kadang ada yang baik, adapula yang hanya mengambil keuntungan karena membutuhkan." Jawab Alin kepada Agatha.


"Aku tadi mengalahkan seseorang yang bernama Carlos........ ." Jawab Agatha yang menceritakan.


"Bagus. Kau dapat mengambil keputusan yang cepat dan cukup untuk membuat peluang itu." Jawab Helena.


"Semua berkat anda nona Helena." Jawab Agatha yang duduk langsung memeluk."


"Lepaskan pelukannya." Jawab Helena.


"Baiklah." Jawab Agatha.


"Aku juga menemukan sesuatu yang menarik saat berkeliling tadi. Aku menemukan bahwa tempat ini benar-benar di luar nalarnya orang. Mereka sangat disiplin dan juga pulau ini benar-benar memiliki banyak energi bumi yang aku rasakan." Jawab Helena.