Forza

Forza
Pertarungan Alin dengan Kaivan



"Apa?" tanya Agatha dan Rania dengan terkejut sedangkan Alin hanya berdiam tanpa ekspresi. Agatha dan Rania menoleh ke arah Alin dengan wajah yang ingin meminta penjelasan kepadanya.


"Terserah." Jawab Alin tanpa merubah eskpresi wajahnya.


"Apa kalian tidak mengetahui bahwa dia sudah merebut guru ku?" tanya Kaivan.


"Kau memang gila iblis es." Jawab Rania.


"Bukanya kau juga gila penyihir." Jawab Kaivan.


"Kau lupa bahwa kau juga menantang gadis polos ini?" tanya Kaivan untuk mengingatkan Rania yang telah bertarung melawan Agatha. Pertanyaan ini membuat mereka menjadi diam di dalam mobil hingga sampai di kantor Ken.


Mereka yang masuk ke dalam kantor dan menuju ke ruang perawatan sedangkan Kaivan masuk ke dalam lift menuju ke ruang atas untuk bertemu dengan Al.


"Hai tuan El," Kaivan menyapa El yang baru saja keluar dari dalam kantor Al.


"Kaivan?" El yang terkejut melihat kedatangan Kaivan.


"Bisakah aku bertemu dengan tuan Al." Jawab Kaivan.


"Tapi dia..." El yang belum selesai menjawab, Kaivan langsung saja masuk ke dalam ruangan Al.


"Selamat siang tuan Al." Kaivan yang memberi salam kepada Al di depan Al yang sedang memeriksa dokumen di meja.


"Ada apa?" tanya Al yang masih melanjutkan pekerjaannya tanpa melihat Kaivan.


"Tuan Al, bisa aku meminjam ruang latihan?" tanya Kaivan.


"Apa di keluarga Dev sudah tidak memiliki ruang latihan lagi?" tanya Al yang menghentikan pekerjaannya dan mata yang memandang Kaivan berdiri di depan mejanya.


"Hmmmm, soal itu......" Kaivan yang menundukkan kepalanya dengan posisi berdiri dan badan bergetar tidak berani melihat Al.


"Kau ingin berduel dengan siapa?" tanya Al yang sudah mengerti apa yang diinginkan oleh Kaivan.


"Aku hanya ingin melihat murid yang di angkat oleh guru Vero secara pribadi. Bukannya itu sudah biasa di lakukan?" tanya Kaivan.


"Sejauh mana yang ingin kamu buktikan?" tanya Al.


"Aku hanya ingin bertarung melihat kemampuannya." Jawab Kaivan.


"Oke. Tapi ingat, jangan ada hal merepotkan di tempat ku." Jawab Al.


"Terima kasih tuan Al." Menundukkan kepalanya memberi hormat dengan senyum dan keluar dari ruangan dengan cepat.


"Maaf tuan sudah..." Jawab El yang ada di belakang Kaivan sejak Kaivan masuk ke dalam ruangan Al.


"Tidak apa-apa, kita ikuti dia ke ruang latihan. Oh ya, Rania dan yang lainnya sudah datang?" tanya Al.


"Seharusnya sudah sampai." Jawab El yang melihat ponselnya untuk memastikan.


" Kita kesana." Jawab Al.


Di ruang perawatan, Agatha, Rania dan Alin masih di periksa oleh dokter yang bekerja di keluarga Ken. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka hanya menghabiskan waktu setengah jam pemeriksaan.


"Semua organ dalam kalian sudah pulih, luka yang ada di kulit luar sudah sembuh juga. Inti kekuatan Forza juga aman. Kalian sudah dalam kondisi baik-baik saja." Jawab sang dokter menyampaikan hasil pemeriksaan yang di lakukan olehnya.Tiba-tiba Kaivan datang dan mendengarkan hasil pemeriksaan itu.


"Bagus, jadi bisa kita lakukan sekarang gadis pendiam?" tanya Kaivan.


"Ayo." Jawab Alin yang berjalan melewati Kaivan menuju ruang latihan. Rania dan Agatha juga ikut ke sana. Al dan El sudah ada di ruang latihan.


"Aku akan menjadi wasitnya, jadi yang ingin kau lawan adalah Alin?" tanya El kepada Kaivan. Kaivan menganggukkan kepalanya.


"Kalian yakin ingin bertarung?" tanya Agatha yang khawatir.


"Apa yang di rasakan Kaivan lebih besar daripada apa yang aku rasakan saat ingin melawan mu. Jadi biarkan dia Agatha." Jawab Rania yang memegang bahu Agatha untuk berhenti menghentikan Alin.


"Jangan sampai terluka dan semangat Alin." Jawab Agatha kepada Alin. Alin hanya tersenyum tipis dari sudut bibirnya yang bergerak sedikit memajang.


"Ternyata kau memiliki teman yang baik." Jawab Kaivan yang mengejek Alin.


"Kenapa? Kau tidak memiliki teman seperti itu? Jangan fikirkan hal itu, lebih baik kau fokus pada lawan mu. Awas kalah, ahahah." Jawab Rania yang juga membalas ejekan Kaivan.


"Kau lihat saja bagaimana aku akan mengalahkan gadis pendiam yang lemah ini." Jawab Kaivan yang kesal atas ucapan Rania.


"Kau kira kau bisa membuat Alin itu kesal, kau malah yang ku buat kesal." Ucap Rania pelan dan hanya di dengar oleh Agatha yang berada di samping.


"Baiklah, kalian sudah siap?" tanya El yang berada di tengah Alin dan Kaivan. Dan di anggukkan mereka berdua. El menghitung dari 1 hingga 3, pertarungan di mulai.


Selesai El menyatakan mulai, Alin langsung menembakkan satu tembakan bola api ke arah Kaivan. Serangan pertama yang mengejutkan itu membuat Kaivan terkena karena tidak sempat untuk menghindar dan memasang tameng pelindung.


"Hahahahha, baru saja mulai kau sudah terkena serangannya." Rania bersorak kepada Kaivan.


"Sial, diam kau penyihir." Jawab Kaivan yang sedikit membungkuk memegang dadanya yang baru saja terkena serangan Alin.


"Kau, berani-beraninya menyerang." Jawab Kaivan yang langsung berdiri tegak dengan mengumpulkan kekuatan untuk segera menyerang.


Es berbentuk runcing-runcing mengambang di depan Kaivan dan langsung di tembakkan untuk mengarah Alin. Es yang menyerang ke arah Alin di tangkis oleh Alin dengan mencairkan es-es itu dengan api Alin.


Mereka bertarung dengan sengit tanpa cela, hingga Kaivan membuat lantai ruangan latihan sekitar dirinya hingga Alin menjadi lantai es. Lantai es yang membuat Alin tidak berdiri dengan seimbang dan terjatuh ke lantai. Di saat itu Kaivan melayangkan ke arah Alin tapi Alin tidak berhasil sepenuhnya menghindari. Pipi dan bahu kanan Alin tergores serangan es yang di lemparkan Kaivan.


"Kau beruntung. Keluar semua kemampuan mu gadis pendiam." Jawab Kaivan dengan berjalan mendekat ke arah Alin yang masih terduduk dan menyerang kembali dengan cepat ke arah Alin. Serangan itu membuat tubuh Alin terkurung di balok es tanpa bisa bergerak lagi.


"Hahahah, selesai sampai di sini." Jawab Kaivan yang melihat Alin sudah terjebak di dalam balok es. Tubuh Alin tidak dapat keluar dari es sebelum Kaivan yang mengeluarkannya. Kaivan membalikkan badannya dan melihat Rania beserta Agatha yang berdiri di samping Al.


"Kau lihat di belakang mu iblis es bodoh." Jawab Rania yang melihat balok es yang membekukan Alin meleleh.


Kaivan membalikkan badannya dan melihat balok es yang membekukan Alin menjadi cair. Alin mengeluarkan kekuatan api pada tubuhnya untuk mencairkan dengan mudah. Kaivan melihat tubuh Alin yang berwarna jingga seperti api yang membara membuat es mencair dengan cepat. Dalam beberapa detik, Alin sudah membuat balok es yang membekukan dirinya menjadi cair dan ia keluar dengan baju basah dan kering seketika tanpa terbakar. Padahal aura api dari tubuhnya keluar. Alin dengan cepat membalas Kaivan dengan menyerang bola-bola api yang lebih besar dan lebih banyak ke arah Kaivan.