Forza

Forza
Perundungan 1



Agatha yang bersekolah beberapa hari ini tidak melihat Alin. Alin tidak datang ke sekolah seperti biasanya. Agatha yang melihat ke arah belakang pada barisan kursi miliknya, melihat meja Alin yang kosong tanpa kehadiran Alin di sana selama dua hari belakangan ini.


Agatha yang mendengar bel istirahat berbunyi, ia keluar untuk mengantarkan buku tugas yang di perintahkan oleh guru ke ruang guru.


"Agatha, bantu ibu membawa tugas teman-teman mu ini ke ruangan ibu." Jawab seorang guru matematika kepada Agatha.


"Baik Bu." Jawab Agatha yang berdiri dan menghentikan lamunannya memikirkan kondisi Alin yang tidak hadir sejak terakhir kali bertemu dengannya saat itu. Sisi lain, para siswi perempuan yang memiliki grup terpopuler di kelas itu melihat Agatha dengan sinis.


"Baru saja tiga bulan sudah membuat guru killer itu memanfaatkannya. Bukannya dia adalah siswi pindahan yang tidak memiliki teman itu?"


"Iya, dia itu terlihat diam dan seperti ada tembok pada dirinya sehingga tida ingin kita mendekati."


"Tapi dia cantik, banyak lelaki yang menyatakan cinta kepadanya termasuk di kelas kita juga, tapi tidak ada yang diterima olehnya."


"Sok cantik sekali dia."


"Tentu saja masih cantikan aku."


"Kau benar, masih cantik grup kita yang berisi orang-orang cantik, kaya dan pintar."


"Tapi semuanya berubah karena kehadiran dia beberapa bulan ini."


"Bagaimana jika kita mencoba memberikan pelajaran sedikit untuknya."


Mereke berjalan keluar dan menunggu di depan tangga dekat ruang guru. Saat Agatha keluar dari ruang guru, salah satu teman perempuan itu menyapa.


"Agatha, bisa aku mintak tolong kepada mu?"


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Aku kehilangan anting-anting milik ku di tangga, tadi aku ke rooftop."


"Aku bantu cari." Jawab Agatha yang berjalan ke tangga. Melihat lantai tangga dan berjalan dari satu tangga demi satu tangga. Agatha fokus mencari hingga menaiki anak tangga paling atas dekat dengan pintu menuju rooftop.


Tangan seseorang yang menarik tubuh Agatha dan masuk ke dalam pintu rooftop. Mereka berempat sudah berada di atas rooftop. Agatha yang terkejut karena ditarik tiba-tiba dan secara paksa membuatnya terjatuh di lantai rooftop. Dan teman yang meminta bantuan tadi menutup pintu rooftop.


"Dia sangat mudah untuk di bodohi."


"Kau benar, bagaimana bisa dia percaya kepada mu."


"Hahahaha." Mereka berlima tertawa melihat Agatha yang terjatuh.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Agatha kepada mereka berlima yang masih tertawa senang melihat keadaan Agatha.


"Tentu saja ingin melakukan sesuatu kepada mu." seorang dari mereka berlima memegang dagu wajah Agatha.


"Jangan sok cantik."


"Kau menggoda semua lelaki yang ada di sekolah ini, kau kira kau cantik?"


"Bagaimana jika kami membuat mu mengerti bahwa kau bukanlah yang tercantik di sekolah ini."


"Kau juga harus tau menempatkan diri."


Mereka yang sudah menyiapkan air mineral dan membuka botol, menuangkan air mineral itu di atas kepala Agatha. Air yang berisi 500ml itu membuat rambut Agatha basah hingga ke bajunya.


"Hahahha, lihat dia yang tidak berdaya."


"Sudahlah, hari ini cukup sampai di sini."


"Ingat, jika kau bertingkah tidak baik mulai sekarang maka akan ada perundungan lagi untuk mu dari kami."


"Kau dengar itu."


"Ingat dan kerjakan dengan baik."


Mereka yang sudah puas berbuat perundungan kepada Agatha, pergi meninggalkan Agatha yang masih terduduk di lantai rooftop. Agatha yang tidak mengerti situasi ini hanya terdiam dengan penuh pertanyaan yang gak memiliki jawaban.


"Apa aku sudah berbuat salah?"


"Kapan?"


"Dimana?"


Agatha berdiri dan mencoba membersihkan air dari kepalanya dan tubuhnya. Agatha berjalan menuju toilet dan terus bertanya dalam hati tentang kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga ia menjadi objek bullying.


Agatha mengeringkan dengan tisu dan membuka bajunya untuk di keringkan. Menunggu hingga cukup lama sampai jam istirahat sudah selesai. Agatha yang sudah mendengar suara bel langsung memakai baju dan merapikan dirinya. Berjalan untuk ke kelas.


Sampai di kelas, Agatha melihat teman-teman yang telah melakukan hal itu kepadanya. 5 orang siswi itu hanya melirik dan menggerakkan tangan ke arah mata dirinya sendiri ke arah mata Agatha.


Agatha menghiraukannya dan berjalan ke arah tempat duduknya. Ia tetap berdiam diri hingga pelajaran selesai.


Saat pulang sekolah, Agatha yang di datangi oleh seorang lelaki dan memberikannya surat cinta. Agatha yang masih di depan pintu kelas di lihat oleh 5 orang yang sudah melakukan hal itu kepadanya.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya." Jawab Agatha kepada lelaki itu dan pergi meninggalkannya.


Agatha yang pergi di ikuti oleh mereka berlima hingga sampai di sebuah gang. Agatha yang di dorong oleh mereka.


"Apa kau masih belum mengerti apa yang kami katakan?"


Agatha yang terjatuh lagi di atas tanah.


"Kau sudah kami peringatkan tadi di rooftop tapi kau mengabaikannya?"


"Bagaimana kau bisa tetap menggoda banyak lelaki?"


"Dasar wanita murahaaaaan." satu tamparan melayang kepada Agatha. Pipi merah bekas tamparan membuat Agatha sakit.


"Padahal aku tidak ingin melakukan ini." Ucapnya setelah menampar Agatha. Agatha yang memegang pipinya karena sakit membuatnya membuka matanya lebar-lebar dan membuatnya menjadi tersadar. Agatha berdiri dengan cepat, tidak seperti tadi. Agatha berjalan dengan cepat melewati mereka berlima.


"Di mana dia?"


"Ke mana Agatha?"


"Bukannya tadi masih ada di depan ku?"


"Bagaimana dia bisa hilang?"


Mereka mencari keberadaan Agatha yang tiba-tiba menghilang dari mereka. Mereka yang saling bertatapan satu sama lain mencari keberadaan Agatha hingga mereka berbalik badan dan melihatnya sudah berdiri dengan tatapan mata yang menyeramkan.


"Setelah aku fikir, aku tidak memiliki kesalahan kepada kalian. Tapi aku tetap ingin mengetahui apa yang membuat kalian melakukan ini?" tanya Agatha dari balik badan mereka.


"Ha?" mereka yang kaget mendengar suara Agatha di belakang mereka setelah berbalik badan.


"Bagaimana kau bisa ada di belakang kami? Bukannya tadi kau ada di sana?" menunjuk ke arah tempat Agatha terjatuh tadi.


"Iya, bukanya tadi dia ada disana?"


"Aku juga melihatnya, tadi dia ada di sana. Bagaimana bisa dia secepatnya berada di belakang kita?"


"Trik apa yang sudah kau lakukan kepada kami?"


"Kenapa kalian melakukan ini? Jawab pertanyaan aku baru aku akan menjawab pertanyaan kalian." Ucap Agatha dengan tegas.


"Dia, dia monster." Jawab Seseorang yang melangkah kebelakang karena merasa takut.


Agatha yang mendengar kata monster membuatnya bergemetar.


"Kalian lihat? Dia, dia bisa di sana secara tiba-tiba."


"Kau benar, dia monster."


"Bagaimana ini? Bagaimana kita bisa kabur jika dia berada di depan kita sementara di belakang kita hanya ada tembok."