Forza

Forza
Anjing Hitam Yang Ganas



Helena yang sudah selesai mandi dan berpakaian rapi keluar dari kamar. Berjalan ke arah Agatha dan duduk di sampingnya. Agatha yang terkejut dengan kehadiran Helena yang berwujud manusia membuat keripik kentang yang dipegang oleh tangan kanan miliknya terhenti masuk ke dalam mulut.


"Siapa kau?" tanya Agatha yang terkejut.


"Inilah penampilan asli ku." Jawab Helena yang duduk dan merebut bungkus kripik singkong milik Agatha.


"Nona Helena?" tanya Agatha yang langsung menebak dengan benar.


"....." Helena hanya melirik saja untuk memberikan jawaban.


"......" Agatha mencerna kondisi yang di hadapi olehnya saat ini. Helena sibuk dengan memakan.


"Nona Helena akan segera pergi?" tanya Agatha dengan wajah yang sedih.


"Kenapa?" tanya Helena yang cuek tanpa melihat Agatha dan hanya menikmati kripik singkong serta menonton televisi.


"Bisakah nona Helena disini lebih lama? Padahal aku baru saja merasa senang memiliki teman di rumah ini." Jawab Agatha.


"Ini bocah?" tanya Helena dalam hati saat menoleh ke arah Agatha. Wajah polos yang di tampilkan Agatha membuat Helena tanpa sadar berfikir memutuskan untuk mengiyakan ajakan Agatha untuk tetap tinggal.


"Aku tidak akan pergi dalam waktu dekat." Jawab Helena.


"Benarkah?" tanya Agatha.


"Tentu." Jawab Helena kembali mengarahkan wajahnya di depan televisi.


"Gampang sekali aku menyetujuinya. Ahhh, sudahlah. Lagi pula aku juga belum pulih sepenuhnya." Jawab Helena dalam hati yang menguyah kripik singkong dengan cepatnya.


"Apakah nona lapar? Bagaimana jika kita keluar untuk makan dan membeli beberapa pakaian untuk nona? Jika iya, bagaimana jika kita keluar." Ucap Agatha.


Helena yang tidak menjawab dengan cepat, hanya berdiri dan meletakan bungkus kripik singkong yang kosong di atas meja, 'kenapa diam saja? bukanya kita akan makan keluar?'. Helena menyetujui untuk makan di luar.


"Tunggu sebentar, aku mengambil jaket dulu." Ucap Agatha yang langsung berjalan masuk ke kamar.


"Restoran mana buka di tengah malam di sekitar sini?" tanya Agatha dalam hati sambil mengambil dua buah jaket di lemari pakaian.


"Nona pakai ini, di luar dingin jika hanya memakai baju piyama." Ucap Agatha memberikan jaket.


Mereka pergi ke supermarket yang kurang lebih 30 meter dari rumah Agatha. Helena hanya mengikuti Agatha saja tanpa banyak bicara. Agatha yang membeli mie instan cup yang langsung di makan di tempat. Dan beberapa sosis yang menjadi toping di dalamnya. Agatha memberikan satu cup mie instan kepada Helena yang sudah duduk di luar supermarket.


"Kau bilang kita makan di luar, tapi kita hanya makan mie instan seperti ini saja?" tanya Helena.


"Maaf nona, ini sudah terlalu malam. Tidak ada restoran atau tempat makan yang buka di jam segini kecuali supermarket. Lagian ini juga enak, sambil menikmati suasana." Ucap Agatha yang membuka mie instan cup dan menunjukkan ke arah jalan raya dan bulan yang masih terlihat di langit.


"Aku sudah memberikan banyak sosis di dalamnya, makanlah nona." Ucap Agatha yang mempersilahkan Helena untuk menikmati makanannya.


Mereka menikmati makan malam dengan mie instan cup di depan supermarket. Setelah itu langsung pulang dengan membeli beberapa sosis untuk di rumah. Mereka yang berjalan menuju rumah melewati lorong-lorong jalan yang sudah sunyi.


Tiba-tiba seekor anjing Hitam dengan wajah yang memiliki bekas luka di wajahnya sedang menghadang mereka berdua. Anjing itu menjulurkan lidahnya keluar dan menggonggong secara brutal hingga ingin menyerang Agatha dan Helena. Agatha yang merespon dengan baik, mendorong tubuh Helena sehingga mereka berdua terjatuh ke lantai.Anjing itu tidak berhasil menyerang mereka.


"Ini bocah mau menjadikan dirinya umpan dan membiarkan aku untuk kabur?" tanya Helena dalam hati.


"Lari nona." Ucap Agatha yang mengalihkan perhatian anjing itu dari Helena.


"Bagaimana bisa bocah itu tiba-tiba disana? Tadi baru saja di samping ku?" tanya Helena dalam hati. Tidak merespon ucapan Agatha, Helena melihat sendiri bagaimana Agatha mengalihkan anjing hitam dari satu tempat ke tempat lain sebanyak dua kali. Hal ini mengejutkan Helena yang melihat kekuatan Agatha.


"Apa bocah ini juga seorang Forza?" tanya Helena lagi dalam hati.


Agatha melihat ada sebuah balok kayu di pinggir jalan sebesar lengan tangan miliknya. Agatha menggunakan kayu itu untuk memukul anjing yang terus dengan gilanya menyerang Agatha. Helena yang ingin mengeluarkan kekuatan Forza tiba-tiba berubah kembali menjadi seekor rubah.


"Nona Helena?" ucap Agatha yang sudah memukul anjing itu namun anjing hitam semakin gila. Anjing itu berlari ke arah Helena yang tiba-tiba berubah menjadi rubah.


Untuk menghindari serangan anjing hitam itu, Helena melompat dan mengalirkan kekuatan miliknya menyerang anjing hitam di bagian kepala. Helen melompat dan mendarat di atas kepala anjing hitam. Anjing hitam yang terkena serangan Helena tiba-tiba pingsan.


"Berani sekali ingin menyerang ku." Jawab Helena yang melompat dari kepala anjing hitam ke jalanan.


"Nona Helena tidak apa-apa?" tanya Agatha.


"Tentu saja aku tidak apa-apa. Kau saja yang gila menyuruh aku kabur, lihat diri mu." Ucap Helena yang melihat Agatha tidak baik. Lutut kaki, siku tangan dan telapak tangan Agatha yang terluka akibat jatuh beberapa kali.


"Aku tidak apa-apa nona." Ucap Agatha yang menjawab pernyataan Helena sambil tersenyum dengan polosnya.


"Bocah ini sama sekali tidak peduli dengan dirinya." Jawab Helena.


Agatha yang berjalan melihat kondisi anjing hitam yang terbaring di atas tanah.


"Kasian sekali anjing ini, mungkin karena tidak ada makanan lagi di sekitar jalan ini membuatnya menjadi gila." Jawab Agatha yang langsung menggendong anjing itu.


"Kau mau bawa kemana?" tanya Helena.


"Dokter hewan," jawab Agatha dengan polosnya dan berjalan saja.


"Ini sudah jam 2 pagi, kau kira ada klik hewan buka di jam ini?" tanya Helena.


"Hhhh, aku lupa. Aku bawa kerumah saja. Memberikan pertolongan pertama. Besok pagi aku akan memanggil dokter hewan yang kemarin untuk datang melihat kondisinya." Jawab Agatha.


Di sisi lain, seorang gadis yang menggunakan baju hitam sport menelusuri setiap gang lorong jalan. Gadis berambut sebahu dengan sorotan wajah dingin yang tergambar membuatnya terlihat menyeramkan. Gadis itu melihat satu persatu anjing jalanan yang sedang membongkar tong-tong sampah.


Gadis itu dengan sudah menelusuri banyak tempat akhirnya masuk ke dalam rumah.


"Dimana bahan percobaan ku?" tanya seorang perempuan yang sedang di dalam laboratorium.


"Maaf guru, aku tidak menemukannya." Jawab gadis itu.


"Bagaimana bisa kau kehilangan jejaknya? Dasar bodoh." Ucap perempuan itu dengan mengeluarkan aliran bola api ke arah gadis itu.Gadis itu tidak mengelak sehingga membuatnya terluka.


"Maaf guru, besok aku akan mencarinya lagi. Jika tidak menemukannya, aku akan mencari bahan percobaan lain." Jawab gadis itu yang sudah terjatuh di atas lantai.