
"SIAPA DIA" gumannya dalam hati. Sontak ia berdiri dan menjauhkan dirinya pada Lissa.
"Wanita itu siapa,?? Kenapa dia yang ada di sini. Bukannya tadi aku bersama dengan Bellva??.. Lalu Bellva dimana?!!!" pertanyaan demi pertanyaan bercampur dalam pikirannya.
"Kamu siapa??!".. tanya Ansel mimik wajahnya sangat kebingungan.
Lissa tak mengeluarkan sepatah katapun. Matanya terus dibasahi buliran air mata yang tak henti terus mengalir. Rasa hancur berkeping-keping. Sangat nampak di wajahnya sebuah kekecewaan, penyesalan, dan mungkin ada kebencian juga.
Ansel mengambil semua pakaiannya dan segera membersihkan dirinya. Setelah keluar dari bathroom ia duduk di sofa yang berada di sudut dinding ruangan tidur. Dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
* * * * *
Ting tong...
Ansel membuka pintu dengan sebuah penantian, saat melihat wanita pujaan hatinya telah berdiri di depan pintu Ansel segera mengajaknya masuk.
Ansel mengajak Bellvania Gracela untuk menikmati makan malam anniversary jadian mereka. Namun, Bellva menolaknya. Dengan alasan kalau dirinya baru saja menikmati makan malam. Akhirnya mereka menikmati wine.
"Mari kita berdansa"... ajak Ansel dengan romantis. Ia segera menyetel lagu romantis yang menjadi favorit mereka.
Dengan alunan musik yang indah, mereka saling menatap. Ansel merangkul erat pinggang Bellvania dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Bellva. Tatapan meraka semakin tajam, hingga tatapan Ansel tertuju pada bibir seksi Bellva. Ia berniat mendaratkan bibirnya pada bibir Bellva. Namun,...
"Ada hal yang ingin aku sampaikan Ans"... tutur Bellva menghindari ciuman Ansel.
"Katakanlah"
"Tapi tidak seperti ini".. Bellva bermaksud ingin menghentikan aktifitas mereka.
"Baikk. Aku juga ada yang ingin aku sampaikan"...mereka menghentikan aktifitas mereka.
"Kau boleh mengatakan lebih dulu Ans".. perinta Bellva. Ansel terdiam
"Katakanlah Ans".. ucapnya lagi mengijinkan Ansel untuk memulai pembicaraan mereka.
Ansel mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi. Ia membukanya dan mengarahkannya pada Bellva. Namun, diluar prediksinya. Bellva menutup kembali kotak persegi itu.
"Kenapa??!".. Ansel terheran
"Kau tidak suka dengan designnya?!!".. sambungnya
Bellvania tersenyum hambar, Ansel tak bisa menebak arti dari senyumannya.
"Bell, aku mencintaimu. waktu 4 tahun menurutku sudah cukup untuk kita. please, menikahlah denganku??".. wajahnya penuh harap. Sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya kini telah berhasil Ia sampaikan pada kekasih hati yang sudah merebut seluruh hatinya. Namun, Mengapa wajah wanita itu hanya tertangkap diam dan dingin!! Tidakkah seharusnya dia bahagia?? Pangeran hati melamarnya!!!
"Maafkan aku, Ansel!".. suaranya sangat ringan, kata maaf yang terlontar terdengar tidak berarti apapun.
"Maaf untuk apa sayang?".. kebingungan terpancar dari wajah pria tampan itu.
"Kau tahu kan aku sudah menduakanmu"..
"Aku sudah melupakannya sayang. Mungkin kau seperti itu karena aku terlalu sibuk. Jadi kau bersenang-senang".. dengan lembut Ansel ingin memastikan permasalah dengan kekasihnya.
"Tidak Ansel. Hubungan kami sudah berjalan 1 tahun!"..
DEG
Ansel mematung
"Apa??!!!".. bagaimana mungkin selama itu Ansel tidak menyadarinya. Pertanyaan itu berputar di otaknya. Dia menatapi Bellvania, berharap menemukan sebuah lelucon dari tatapan wanita cantik itu.
"Aku tahu sudah menyakitimu Ans. Memang kami tadinya hanya bersenang-senang saja. Tapi aku mulai merasakan kenyaman itu dengannya. Aku ingin mengakhiri semuanya... Mengakhiri hubungan kita!!!".. sebuah penekanan pada kalimat terakhirnya. Bellvania beranjak dari duduknya, sedangkan Ansel tidak bergeming. Hatinya terluka.
"Bellva.." panggil Ansel berusaha menghentikan langkah wanita berkaki jenjang itu.
Berllvania berhenti, ia berdiri membelakangi Ansel.
"Aku akan memaafkanmu. Kau tahu aku mencintaimu!!".. suara pria itu mulai menggertak. Tubuh Bellva menangkap sebuah amarah di dalam suara itu. Ia tidak membiarkan dirinya berlama-lama wanita itu melanjutkan langkahnya, Ia keluar.
* * * * *
"Yahhh.. aku melihat Bellva pergi. Lalu kapan wanita ini masuk?!!"... pertanyaan itu kembali berputar dalam pikiran Ansel setelah ia berhasil meruntuhkan kejadian ketika terakhir dia bersama Bellvania.
"Apa Bellva tidak kembali lagi?!!.. Apa wanita yang kukira kembali ke... itu adalah dia?!!.. Lalu, untuk apa dia masuk ke dalam kamarku?!!.. Apa tujuan wanita ini?!!..." pandangannya tertuju pada Lissa yang masih berada di atas kasur. Tubuhnya kaku, tidak bergerak, tatapannya kosong menatapi plafon. Hanya air mata yang tidak berhenti mengalir, entah berapa air mata itu akan berhenti. Ansel berdiri mendekati wanita tersebut.
DEG
DEG
"Dia masih virgin!!!"...
Ansel menarik selimut dan menutupi tubuh Lissa yang masih terlihat telanjang.
"Aku akan kembali"... Lalu tidak ada lagi kehadiran sosok pria tampan maskulin itu di kamar.
Menyadari pria itu tidak ada...
"Ibuuuu..." suaranya lembut dan lirih
"Ibuuuuu.."
"Rissaaaaa..."
"Ayahhhhh...."
dan terakhir "Kak Kenaaan..."
Penyesalan besar atas keputusannya membuat dia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Dia meraih selimut yang sudah membalut di tubuhnya, berusaha untuk berdiri. Setelah berhasil melangkahkan kakinya, tatapannya tertuju pada sebuah meja. Tangannya meraih sebuah botol, dan membawanya masuk pada bathroom.
PRAAAAANK
PRAAAAANK
Ia berhasil memecahkan botol kaca yang ada di genggamannya. Tidak ada yang dapat menghalangi perbuatannya. Kehancuran membuatnya tidak bisa memaafkan apa yang terjadi pada dirinya. Ia menangis sesenggukan.
"Aku... Aku... Ingin Pulang..." kata itu menjadi ucapannya terakhir, sebelum ia melukai pergelangan tangannya dengan pecahan kaca.
blakkk... Tubuhnya jatuh tersungkur di lantai bathroom.
* * * * *
Di kamar yang berbeda, kamar Pak Franky...
Cindy dan seorang pria mencari kehadiran Lissa..
"Boss, aku tidak melihat ada Lissa di sini"... laporan Cindy melalui handphone yang menempel pada telinga kanannya.
"Lalu bagaimana dengan Pak Franky???".. tanya pria di balik telpon
"Aku juga tidak melihat ada Pak Franky".. sambungnya
Saat Lissa tersungkur bersujud pada Pak Franky dan perkataannya dia
"Tuan... Usia... Sa.. Saya... Mungkin... Se.. Seumuran dengan putrimu, huuu... huuu.." Perkataan itu sebenarnya berhasil menyadarkan naruni Pak Franky. Ia bermaksud untuk melepaskan Lissa dan membantunya untuk berdiri. Tapi ketakutan Lissa membuatnya menyerang Pak Franky. Saat Pak Franky terjatuh, ia sengaja tidak mengejar Lissa, membiarkan Lissa lari darinya. Makanya tidak ada laporan yang sampai pada pria yang dipanggil boss itu. Tidak ada seorang pun yang tahu kejadian di kamar Pak Franky.
"Apa kau yakin ini kamarnya?!".. tanya seorang pria muda datang bersama dengan Cindy.
Cindy merasa bingung dengan keberadaan Lissa. Dia sudah berkali-kali menghubungi front office hotel menanyai kapan Pak Franky check out tapi tidak ada yang tahu kepergian Pak Franky.
Lama berada di kamar tersebut, akhirnya Cindy memutuskan untuk pergi bersama pria itu.
* * * * *
Setelah selesai menemui assistennya di caffe sambil meminum coffe. Ansel kembali ke kamar hotel di mana Lissa berada. Ia membawa sebuah paper bag berisi pakaian untuk Lissa.
klekk... pintu terbuka
"Di mana wanita itu?".. matanya melirik menyapu ruangan di bedroom, kemudian beralih pada ruangan di mana ia makan malam bersama Bellvania. Wanita dicarinya tidak ada.
"Apa di dalam kamar mandi?".. pintu terlihat tertutup.
Ansel menduduki tubuhnya pada sofa, matanya menatapi pakaian Lissa yang masih berserakan. Lama duduk di sofa dan merasa telinganya tidak menangkap ada suara, Ansel mulai bingung.
.
.
.
.
.
Happy reading 😍
Jangan lupa FOLLOW, VOTE, LIKE, dan KOMEN ya para readerku....
Baca cerita selanjutnya ya don't hate me, Baby!