Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Teman Untuk Chalissa



Di kantor Ansel.


Ansel sedang berkutat di depan laptop kerjanya. Hari itu, ia ingin sekali cepat menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya pikirannya masih melayang kepada Lissa. Dia merasa takut setiap mengingat kenekatan Lissa.


Saat merasa hampir selesai pekerjaannya, Ansel menarik napas dan berusaha merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tiba-tiba matanya dibuat aneh pada sosok Harrys yang tersenyum melihat sesuatu di dalam ponselnya.


Cetakkkk... sebuah pulpen berhasil diluncurkan Ansel mengenai kepala Harrys.


"Auwwww" mengelus jidatnya yang terkena benturan pulpen.


"Wahhhh benar-benar parah nih pak boss" melihat ke arah Ansel yang tersenyum nyinyir.


"Film hot apa lagi yang Lo tonton?" nyinyir Ansel.


Ansel merasa penasaran dengan cepat ia segera menyita ponsel Harrys.


"Iihhh... sial!" kesal Harrys menghadapi tingkah Ansel.


"Whatttt... Apa maksdunya ini??" kaget Ansel, "Wahhh jangan bilang sekarang Lo bakal gebet sekretaris pribadiku?"


"Apa sih pak boss" menarik ponsel miliknya, "Cantik mana dia dengan Chalissa??!" Harrys menyindir Ansel, sebenarnya Harrys memang sengaja ingin tahu apakah bossnya itu telah jatuh hati pada Chalissa atau hanya sekedar rasa bersalah.


"Kenapa kamu bandingin dia dengan Chalissa?!!" sewot Ansel


"Hahahaha... jangan marah pak direktur" candaan Harry saat melihat wajah masam Ansel.


"Tapi nih boss, kalau saya amati nona Chalissa itu memang cantik kok. Postur tubuh memang tidak setinggi nona Belva, tapi gak kalah seksi kok dengan nona Belva. Apalagi wajahnya itu manis dan menggemaskan" Harrys mulai lupa pada daratan, khayalannya mulai memuncak.


PLAKKK


Sebuah buku berhasil menyadarinya


"Auwwww" kali ini Harrys merasa kesakitan karena Ansel memukulkan buku pada kepalanya.


"Sudah sadar??!" tanya Ansel sambil berjalan ke arah meja kerjanya, melihat bossnya Harrys mengernyitkan alis.


"Lebih baik sekarang kamu urus berkas untuk meeting kita di Singapura!" perintah Ansel, kembali duduk di meja kerjanya menghadap laptopnya.


Harrys hendak keluar dari ruangan Ansel, tapi sebelum keluar ia lebih dulu menggoda bossnya.


"Boss seruan mana nona Bellva atau Chalissa" dengan cepat Harrys kabur dari bosnya sebelum malapetaka dari bosnya menimpanya.


Gubrakkk, suara benturan benda mengenai pintu.


Mendengar suara ricuh yang berasal dari ruangan Ansel, membuat jantung Davina dan Hanny hampir copot. Mereka saling melihat setelah melihat Harrys dengan cepat menutup pintu ruangan Ansel.


"Maaf ya" ucap Harrys yang sadar kalau Hanny dan Davina mengamati dirinya. Lalu pergi menuju ruangannya.


"Han, kamu ke ruangan pak Ansel ya. Minta berkas yang harus kita kerjakan" suruh Davina, ia merasa takut mengira bosnya sedang marah. Hanny pun menuruti perinta dari Davina.


"Permisi pak" ucap Hanny melongokkan kepalanya ke ruangan Ansel. Ansel hanya menoleh sebentar, Hanny pun masuk.


"Pak, saya disuruh nona Davina mengambil berkas di ruangan bapak" terang Hanny.


Ansel menyerahkan berkas yang diminta oleh Davina.


"Hanny" panggil Ansel saat Hanny akan keluar


"Iya pak" sahutnya


"Setelah kasih berkas itu ke Davina, kamu ke ruangan saya ya. Ada hal penting ingin saya ceritakan ke kamu" jelas Ansel


"Iya pak" Hanny segera keluar. Sepertinya kali ini dirinya tahu, hal apa yang akan diceritakan oleh Ansel. Ini pasti tentang hubungannya denga Lissa, karena sebenarnya Hanny sangat penasaran.


Setelah menyerahkan berkas kepada Davina. Hanny ijin pada Davina kalau dirinya dipanggil oleh pak direktur.


Hanny masuk ke dalam ruangan Ansel. Ia duduk berhadapan dengan Ansel. Sebenarnya ada perasaan sungkan saat berhadapan dengan bosnya itu.


"Hanny, kamu pasti bingungkan apa hubunganku demha Chalissa?" tanya Ansel duduk berhadapan dengan Hanny. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja.


Hanny bingung harus menjawab apa. Ia hanya menunjukkan mimik wajah penasaran dibarengi dengan senyuman kecil di pipinya.


Lalu Ansel mulai menceritakan kejadian malam di mana ia telah merenggut masa depan Chalissa. Ia menceritakan dari awal, mulai dari rencananya ingin melamar Bellva, makan malamnya dengan Bellva, saat Bellva pergi dan membuatnya hancur. Hingga saat keadaannya yang mabuk dan melihat kehadiran Chalissa yang ia pikir adalah Bellva. Ansel juga menceritakan tentang keadaan Chalissa saat depresi. Bahkan ia menceritakan kalau selama Chalissa depresi dialah yang terus membalas pesan dari Hanny dan keluarganya, ia bermaksud tidak mau membuat Hanny dan keluarganya menjadi cemas nantinya.


"Ternyata hubungan pak Ansel dan Lissa sangat jauh tapi tidak jelas" guman Hanny dalam hatinya.


"Hanny, apa kamu berpikir rendah tentangku?" tanya Ansel saat melihat Hanny sedang tidak fokus padanya.


"Hahh!! Ap... apa pak??" merasa gugup


"Aku harap kamu mengerti situasi kami saat ini. Aku tahu kau sangat dekat dengan Chalissa"


"I.. Iya pak. Aku dan Lissa memang berteman sejak kecil. Rumah kami juga bersebelahan" tiba-tiba Hanny merasa bingung harus bersikap bagaimana.


"Ee... apa Lisssa bekerja... (diam), apa mungkin ia bekerja sebagai wanita malam??!" Hanny dengan cepat menyelesaikan kalimatnya.


Hanny langsung menundukkan wajahnya saat ia merasa Ansel sedang menatapnya dengan tajam.


"Apa menurutmu dia bekerja seperti itu?!!" pertanyaan itu membuat Hanny merasa bersalah. Hanny menggelengkan kepalanya, "Lalu??!" tanya Ansel lagi


"Aku... Aku hanya, hanya merasa bingung pak" Hanny menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Lalu ia melihat Ansel memegang hapenya, Ansel membuka sebuah video CCTV dari hotel yang didapatkan oleh Harrys. Mata Hanny melotot melihat kehadiran Cindy. Pikirannya langsung menerka-nerka pekerjaan Cindy yang sudah lama sebenarnya mengganggu pikirannya.


"Cindy" ceplosnya


"Kau kenal dengan wanita ini?" tanya Ansel


"Dia teman sekelasku waktu sekolah pak" jawab Hanny


"Apa dia teman sekolah Chalissa juga?"


"Iya pak. Tapi Cindy sekelas dengan saya di sekolah"


"Kau tahu pekerjaannya??!" Ansel penasaran apakah Hanny tahu pekerjaan wanita itu.


Hanny menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya saya dulu penasaran dengan pekerjaan Cindy. Jujur saya sendiri tidak tahu jenis pekerjaan apa yang dia tawari kepada Lissa, pak. Karena Lissa saja selalu menjawab tidak tahu setiap saya bertanya" jawab Hanny


"Berarti apa ada kemungkinan kalau Chalissa tidak tahu juga?!!" Hanny menganggukan kepalannya


"Kenapa Chalissa begitu bodoh" kesal Ansel dalam hati.


"Ap... Apa... Pak Ansel tahu? E.. tahu pekerjaan Cindy??" tanya Hanny tidak sabar ingin sekali memastikan perasaannya yang buruk tentang Cindy.


"Dia bekerja sebagai wanita malam. Dan itu sudah 3 tahun dilakukannya" ucap Ansel


"hahhh" suara Hanny lirih


Ternyata dugaan buruknya tentang Hanny beralasan. Tapi ia sangat menyesali, karena terlambat untuk mencegah keterlibatan Chalissa dalam pekerjaan itu. Tidak!!! Chalissa belum terlibat, karena bukan Ansel yang menyewa wanita malam atau yang menyewa Chalissa malam itu. Ansel dan Chalissa hanya bertemu tidak sengaja, itu hanya sebuah insiden.


"Hanny" Ansel mencoba menyadari Hanny yang dilihatnya sedang memikirkan sesuatu. Hanny sadar saat Ansel memanggilnya, ia menoleh kepada Ansel.


"Apa kau bisa membantuku??"


"Ba... bantu apa pak?" Hanny tidak percaya seorang direktur utama di tempat ia magang meminta bantuannya padanya. Bukankah pak Ansel orang yang hebat!! pikir Hanny.


"Chalissa sedang hamil"


"HAHHH..." Hanny merasa salah mendengar


"Maksud bapak apa??!" suaranya agak melengking, kedua tangan yang dari tadi ia sembunyikan kini sudah berada di atas meja kerja Ansel.


"Kondisi Chalissa sering tidak stabil, apalagi dia pernah depresi. Saya ingin kamu sering menemani dia. Tolong hibur dia" minta Ansel pada Hanny.


"Jadi karena ini pak Ansel begitu memperhatikan Chalissa. Menyewakan rumah untuk Chalissa. Mencukupi kebutuhan Chalissa" pikiran Hanny terus berputar.


"Apa kamu bisa Hanny?!!" Ansel menunggu jawaban keluar dari mulut Hanny.


"Tanpa bapak meminta sudah pasti saya akan selalu menemani Chalissa" tiba-tiba air mata Hanny menetes.


"Lalu bagaimana dengan kekasih pak Ansel?"


"Maksudmu Bellva?" tanya Ansel


Hanny terdiam


"Saya dan Bellva tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kan dia yang sudah memutuskan hubungan kami" ujar Ansel


"Tapi sepertinya nona Bellva mengharapkan kembali dengan pak Ansel. Buktinya dia selalu datang mencari pak Ansel" imbuh Hanny ingin memastikan kehidupan sahabatnya kelak.


"Bagiku saat ini yang terpenting adalah Chalissa dan bayiku yang sedang dikandung Chalissa" ucap Ansel dengan yakin. Setidaknya itu sementara membuat Hanny sedikit lega.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍