
"Siapa namamu?" tanya Ansel kepada Hanny.
"Han, Hanny Pak." ungkapnya
Hanny begitu terkejut ketika Davina menyuruhnya menghadap Ansel. Dia takut kalau-kalau sudah melakukan kesalahan. Meskipun dia tahu rasanya dia tidak ada membuat kesalahan. Ia nampak panik dan cemas, bahkan wajahnya tidak berani menatap boss sementaranya itu selamat magang.
"Kau tinggal di mana?" dengan kharisma seorang direktur
"Hah!! aaa... maksudnya bapak tanya tempat tinggal saya?" Hanny nampak bodoh
Ansel terdiam melihat Hanny. Terlihat tidak suka dengan respon Hanny.
"Maaf Pak" menundukkan kepalanya lagi
Ansel masih menunggu jawaban keluar dari mulut Hanny
"Saya tinggal di kosan khusus putri pak. Tepatnya di jalan merpati no. 8 X..." terang Hanny
"Apa kau kos sendiri atau dengan seseorang??".. tanya Ansel mengintrogasi Hanny.
Sebenarnya Ansel hanya ingin tahu tentang siapa itu Chalissa.
"Saya kos sendiri pak" ucap Hanny masih bingung tujuan bosnya memanggilnya.
"Di Jakarta, apa kau punya saudara? keluarga? atau seorang sahabat??" Ansel belum menemukan titik tentang Lissa.
"hmmmm" tatapan Hanny berusaha mengingat
"Saya punya keluarga pak..."
"Siapa?" Ansel tidak sabar langsung memotong ucapan Hanny. Hanny yang masih ingin melanjutkan perkataannya terkejut saat Ansel memotongnya.
"Paman saya ada di Jakarta pak" ucap Hanny hati-hati
"Hanya itu saja?" Hanny menganggukan kepalanya.
"Seorang sahabat. Apa kau punya?" tanya Ansel lagi masih menunggu jawaban yang dicarinya.
"Ada pak."
Wajah Ansel berubah seolah akan segera mendapatkan informasi yang ia cari. "Siapa?"...
"Siapa namanya?" lanjutnya
"Lissa, pak. Chalissa namanya."
"Bisakah kau cerita tentang sahabatmu itu??" tanya Ansel melipat kedua tangannya di dadanya.
Hanny merasa bingung mengapa bosnya itu seolah tertarik tentang Lissa. Tapi, karena tidak menemukan jawaban atas kebingungannya itu. Hanny hanya mengiyakan bosnya itu. Ia menceritakan tentang Lissa, kelurganya, hingga tentang keberadaan Lissa di Jakarta.
"Lalu apakah kau sudah pernah bertemu sahabatmu sejak di Jakarta?"
"Belum pernah. sudah dua hari ini ponselnya tidak pernah aktif" ujar Hanny
"Permisi pak Ansel" suara Harrys
Kemudian percakapan mereka berakhir. Hanny keluar dari ruangan Ansel. Ia masih bingung sebenarnya apa pokok pembahasan mereka.
Setelah Hanny keluar. Harrys menyerahkan bukti video cctv yang ia dapatkan dari hotel tempat Ansel bertemu Lissa. Dari cctv terlihat Cindy memaksa Lissa masuk ke dalam kamar hotel, lalu seorang pria yang sulit dikenali wajahnya keluar karena pria itu menghindari cctv. Setelah itu, nampak Cindy keluar dari kamar sendiri. Mereka menunggu 20 menit Lissa akhirnya terlihat keluar dengan tergesa-gesa. Ia terlihat kacau sekali mimik wajahnya. Tiba-tiba Ansel kaget ketika Lissa berlari melewati 3 pintu kamar hotel, terlihat Bellvania keluar kemudian disitulah Lissa masuk seperti orang dikejar-kejar.
"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Ansel menunjuk ke arah Cindy.
"Wanita ini adalah pekerja Club malam pak. Dia salah satu primadona di sebuah Club malam tempatnya bekerja. Dan Lissa adalah salah satu pekerja di Club itu juga pak. Dia adalah wanita penghibur dan mungkin malam itu dia sedang melayani pelanggannya."
"Tapi aku rasa hari itu adalah hari pertama dia melayani pelanggannya. Bahkan mungkin justru itu tidak terjadi." yakin Ansel
"Bagaimana anda menyimpulkan itu pak?"
"Karena malam itu dia bersamaku. Dan itu adalah pertama kali dia melakukannya." jelas Ansel singkat
"Berarti wanita itu masih perawan. Pantas saja dia depresi setelah tidur dengan boss." celetuk Harrys tanpa sadar Ansel menatapnya dengan tatapan datar dan dingin.
"Ee maaf pak".. ucap Harrys
"Tolong pastikan wanita ini tidak akan menemukan keberadaan Chalissa." perintah Ansel
"Baik" kemudian Harrys berlalu
"Sialan Harrys! Dia pikir aku seliar itu apa"
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Bagaimana keadaanya, dok?" tanya Ansel
"Adik anda sudah mengalami kemajuan. depresi yang dialaminya masih dalam tahapan ringan sehingga tidak terlalu berat dalam penanganannya." jelas dokter psikiater yang merawat Lissa.
"Lalu selanjutnya harus bagaimana dok?" tanyanya lagi
"Besok dia sudah boleh pulang. Jangan membuatnya tertekan, usahakan terus menciptakan suasana yang tenang. Carilah hal apa yang bisa membuatnya bahagia. Dan saya harap anda memberikan dia seorang teman yang bisa mengajak dia berbicara, seorang teman yang benar-benar memberikan energi positif baginya" jelas dokter lagi.
"Baik dong, terima kasih." kemudian Ansel keluar, ia memasuki ruangan Lissa.
Di dalam kamar ia melihat Lissa yang sedang berbaring tidur. Ia mendekati Lissa dan mengatu wajahnya dengan melas.
Tiba-tiba Lissa mengercapkan matanya. Ketika dilihatnya Ansel, ia sontak duduk dan memeluk kakinya yang menekuk di depan dadanya. Ia memeluk kakinya dengan sangat kuat. Wajah sangat cemas, takut, panik semua bercampur. Sedangkan Ansel intens melihat Lissa.
"Tenanglah Lissa, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu lagi." pinta Ansel
Lissa menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah Ansel.
"Lissa, aku minta maaf kalau kau jadi takut padaku." Lissa tetap tidak mengalihkan pandangannya, posisinya tetap sama memeluk kakinya dengan erat.
"Apa kau tidak percaya padaku?" Ansel menjongkokkan tubuhnya agar Lissa bisa melihat wajahnya meskipun sepintas. Seketika Lissa menyembunyikan wajahnya ke dalam dekapan kakinya.
"Cobalah lihat aku serbentar Lissa." Ansel berharap Lissa bisa percaya padanya meskipun hanya sedikit.
HENING
Ansel menunggu lama tetapi Lissa tak masih terdiam menyembunyikan wajahnya. Ansel merasa putus asa. Ia memutuskan berdiri.
"Aaa..." Ansel membatalkan keputusannya untuk berdiri, kembali menunggu Lissa yang belum melanjutkan ucapannya.
"Aku... baik... baik... saja..." ucap Lissa, Ansel tersenyum. Meskipun Lissa masih menyembunyikan wajahnya tapi setidaknya Lissa sudah mau berbicara.
"Aku akan merawatmu. Sampai kau benar-benar sehat Lissa." suaranya lembut, sangat berbeda dengan dirinya ketika berada di kantor dengan posisi seorang direktur.
"Apa kau percaya?" tanya Ansel, ia berharap Lissa akan mempercayainya.
Lissa tak memberikan jawaban dari mulutnya, dia hanya menganggukan pertanyaan Ansel.
"Aku sudah menyewa tempat tinggal untukmu. Dokter bilang kau sudah boleh pulang."
Ansel terdiam sejenak, ia ingin tahu apakah Lissa akan keberatan. Melihat Lissa hanya terdiam Ansel pun melanjutkan ucapannya.
"Atau apa kau punya tempat tinggal lain? Mungkin kembali ke tempat tinggalmu dulu?" Kali ini Ansel ingin melihat respon Lissa.
Sebenarnya ia tahu di mana Lissa tinggal. Ansel pun tidak akan membiarkan Lissa kembali ke tempat tinggal temannya yang sudah menyeretnya hingga musibah yang menimpa dirinya.
Beberapa menit menunggu. Akhirnya Lissa mengangkat wajahnya kemudian pandangan berpindah melihat Ansel.
"Kau mau aku mengantarmu ke mana?" tanya Ansel lagi dengan sabar.
Ansel benar-benar berbeda. Ia sabar terhadap Lissa.
.
.
.
.
Haiii
Reader plisss ikuti terus ceritanya ya.
Jangan lupa di Favorite supaya kamu bisa selalu lihat UP dari authorrr...
FOLLOW
LIKE
KOMENT
VOTE
Makasih Para Readerkuuuu 😍
Happy Reading 😍