
"Bi, tolong buatkan saya kopi. Malam ini saya akan menginap" ujar Ansel, lalu ia masuk ke dalam kamarnya.
"Baik tuan" ucap bi Nani, lalu segera menuju dapur untuk membuatkan kopi.
Tok... tok... tok...
"Permisi tuan, saya mau antar kopi" ucap bi Nani
"Iya bi" jawab Ansel yang sedang duduk di sofa.
Selesai meletakkan kopi, bi Nani berjalan menuju pintu kamar untuk keluar.
"Bi" panggil Ansel
"Iya tuan" sahut bi Nani
"Tolong buatkan susu untuk Chalissa ya bi" pinta Ansel.
"Baik tuan" kata bi Nani yang agak terheran, karena biasanya kalau Ansel menginap, dia suka membuatkan susu untuk Chalissa sendiri.
Selanjutnya bi Nani melakukan tugasnya sesuai yang diperintahkan oleh Ansel. Ia membuat susu untuk Chalissa, lalu membawanya ke kamar Chalissa. Hanya saat mengetuk pintu kamar Chalissa tidak ada sahutan dari dalam kamar dan kamar pun dikunci.
"Duh kok nona Chalissa gak buka-buka ya??!" bingung bi Nani
Ia terus mencoba mengetuk kamar dan memanggil Chalissa, namun tetap saja tidak ada sahutan. Akhirnya bi Nani memutuskan menghampiri tuannya ke kamar.
Tok... tok.. tokk
"Permisi tuan" ijin bi Nani sebelum masuk ke dalam kamar Ansel.
"Iya ada apa bi?" jawab Ansel dengan bertanya.
"Tuan, kamar nona Chalissa dikunci dan saya panggil nona tidak menyahut" terang bi Nani
Mendengar keterangan dari bi Nani, Ansel segera menuju kamar Chalissa.
Sepulang dari rumah Ansel. Chalissa masih menangis di dalam kamarnya, ia sangat terpukul dengan perkataan orang tua Ansel.
"Chalissa" suara Ansel dari balik pintu, namun Chalissa mengacuhkan panggilan Ansel.
Dia merasa benci pada Ansel. Bagi Chalissa, Ansel adalah penyebab dari penderitaannya. Mungkin, jika ia tidak bertemu dengan Ansel hidupnya tidak akan serumit sekarang ini. Atau setidaknya, jika ia tidak sedang mengandung mungkin saat ini dirinya bisa mencoba mencari pekerjaan. Lalu bisa melanjutkan hidupnya tanpa bergantung lagi pada Ansel.
"Chalissa" panggil Ansel lagi. Tapi masih sama tidak ada tanda-tanda suara langkah Chalissa.
Ansel mulai panik. Ia takut jika Chalissa melakukan tindakan aneh-aneh. Ansel terus saja mengetuki kamar Chalissa sampai nada suara yang tinggi. Tetapi tidak ada balasan dari Chalissa.
"Bi, tolong cari kunci cadangan kamar ini" ucap Ansel
"Tapi kunci cadangannya tidak ada tuan" balas bi Nani
"Okay, sekarang bi tolong menjauh saya akan mendobrak pintu ini" ucap Ansel
"Braghh" pintu belum terbuka
Mendengar suara pintu seperti sedang akan didobrak, Chalissa akhirnya membuka pintu.
"Tuan" teriak bi Nani
"Sepertinya tadi suara kunci pintu sudah dibuka" kata bi Nani lagi
Kemudian Ansel menggerakkan ganggang pintu.
CLECKKK - suara pintu terbuka
"Tuan, ini susu nona Chalissa" bi Nani menyerahkan gelas berisi susu pada tangan Ansel.
Ansel masuk ke dalam kamar. Dia tidak melihat ada Chalissa di dalam kamar itu. Lalu ia melihat pada pintu kamar mandi yang tertutup. Ansel meletakan susu di atas nakas.
Chalissa keluar dari kamar mandi. Mereka saling melihat. Chalissa segera mengalihkan pandangannya, ia berpura-pura membuka pintu lemari dan sibuk mencari sesuatu.
"Kamu sedang cari apa?" was-was Ansel.
"Chalissa" panggi Ansel
Chalissa terus tidak memperdulikan Ansel.
"Tolong minggir" ucap Chalissa merasa kesal karena Ansel tiba-tiba berdiri di depannya.
"Apa yang kamu cari??" tanya Ansel
"Ini bukan urusanmu!" cetus Chalissa, ia berusaha menghindari Ansel
"Chalissa" Ansel memegang tangan Chalissa yang hendak meninggalkan dirinya.
Chalissa menepis tangan Ansel dengan kasar. Ansel tertegun dengan sikap Chalissa. Tapi ia mencoba untuk mengerti bahwa saat ini Chalissa sedang marah padanya.
"Okay, kalau begitu sekarang kamu minum susu ini" Ansel menyodorkan segelas susu di hadapan Chalissa.
PRAKKK
Tiba-tiba tangan Chalissa menolak segelas susu di depannya. Ia sengaja menjatuhkan gelas yang ada di tangan Ansel.
"Maksud kamu apa?!!" Ansel mulai tersulut
"Aku tidak mau minum susu itu"
"Alasannya apa??!" Ansel berkata-kata dengan tatapan yang tajam
"Karena aku tidak mau bayi ini" perkataan Chalissa sontak membuat Ansel terperangah.
Ansel Manarik napas dan mengeluarkannya dengan kasar. Ia mencoba untuk tidak terpancing, karena ia masih ingat bahwa Chalissa pernah mengalami depresi. Ia tidak mau kemarahannya akan membuat Chalissa menjadi takut lagi padanya.
"Chalissa, aku minta maaf untuk hari ini" ucapnya mengatur nada suaranya agar terdengar lembut.
"Mungkin hari ini berat untukmu. Beristirahatlah! Aku akan menyuruh bibi untuk membersihkan semua ini" Ansel hendak melangkah ke arah pintu
"Aku ingin pergi!" ucap Chalissa yang duduk di sisi tempat tidur, tanpa menoleh ke arah Ansel.
Ansel menghentikan langkahnya. Tubuhnya sudah membelakangi Chalissa.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Ansel memutarkan kepalanya ke arah Chalissa.
"Kamu terlalu lelah hari ini. Istirahatlah" suara Ansel lirih
"Aku tidak mau anak ini!! Dan aku tidak mau menikah denganmu!!" Chalissa makin menjadi, hatinya begitu berkecamuk. Perasaan marah yang tidak dapat dikendalikannya.
"Hemmm" Ansel mengeluarkan napas dengan kasar sambil memejamkan matanya.
"Jangan bahas ini lagi. Tidurlah, besok kita bicara" Ansel berusaha melunakkan hatinya.
Saat Ansel akan sampai pada pintu. Ia membalikan tubuhnya, tiba-tiba matanya terbeliak. Ia segera berlari mendekati Chalissa.
"Apa yang kamu lakukan?!! HAH!!!" teriak Ansel, menarik pecahan kaca dari tangan Chalissa.
"LEPASKAN" teriak Chalissa, ia mendorong tubuh Ansel ke lantai. Kemudian mengambil pecahan kaca yang lainnya lagi.
PLAKKK
Tanpa sadar Ansel menampar Chalissa.
HENING
"Aku sangat membencimu" suara Chalissa diikuti suara tangisnya.
"Ch-chalissa, maafkan aku" Ansel menyesal sudah menampar Chalissa, ia mencoba untuk membujuk Chalissa.
"Pergi... Pergi... Aku sangat membencimu. Aku tidak ingin menikah denganmu. Aku tidak ingin anak ini. Pergiii" Teriak dan tangis Chalissa hingga terdengar ke telinga bi Nani.
Bi Nani berlari menghampiri kamar Chalissa, tapi ia tidak berani masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.
"Jangan bicara seperti itu, pliss" bujuk Ansel
"Haaaa... aaaaa.... aku benci anak ini, aku benci anak ini" Chalissa memukuli perutnya, menyalahkan keberadaan janin di perutnya.
Ansel menahan tangan Chalissa. "Dengarkan aku Chalissa, Dengarkan aku!!!" nada suara Ansel makin meninggi
"Kamu ingin janin ini mati??! Hah!!! Okey, ayok malam ini kita aborsi!!! Malam ini aku akan bantu kamu untuk jadi pembunuh anakmu sendiri!!!" lanjutnya masih dengan nada suara yang tinggi.
Dengan kasar Ansel menarik tangan Chalissa, hingga Chalissa tidak dapat mengimbangi gerakan Ansel.
Melihat adegan itu, bi Nani menjadi syok.
"Tuan, jangan tuan" kata bi Nani sangat panik
"Lepaskan bi!!" cetus Ansel
Ekspresi wajah Chalissa berubah, ia menjadi takut melihat Ansel yang marah.
"Tapi tuan..." belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Ansel langsung melintas dari hadapan bi Nani.
Chalissa merasakan rasa sakit di pergelangan tangannya. Ansel memegang tangannya dengan kasar dan kuat. Chalissa mencoba melepaskan tangannya, tapi tidak bisa. Ia terus menangis.
"Lepaskan tanganku!" pinta Chalissa
"Ayok cepat!!! Inikan yang kamu mau!!!! Sekarang ikut aku!!!" ajak Ansel dengan kasar
"Lepaskan... lepaskan tanganku!!!" teriak Chalissa, namun Ansel tidak menghiraukan teriakan Chalissa. Amarahnya benar-benar memuncak.
"Ayok cepat!!!!"
"Kita mau ke mana?"
"Membunuh janin itu!!!"
Chalissa ketakutan. "Tidak... Aku... aku" tangis Chalissa
Ansel membuka pintu rumah, lalu ia menarik tangan Chalissa lagi hendak keluar.
"Tidak Ansel... Ansel, Aku takut" tangis Chalissa sama sekali tidak digubris oleh Ansel.
"Auwwww" teriak Ansel kesakitan karena Chalissa menggigit tangannya. Dan Chalissa mencoba untuk kabur.
"Kau mau ke mana? Hahh!!" Ansel meraih tangan Chalissa lagi.
Ansel menatap wajah Chalissa yang menangis tersedu-sedu, nampak ketakutan dan kekalutan di wajahnya. Seketika amarah Ansel mencair.
"Haaaa... aaaaa, Haaaa... aaaaa" suara tangis Chalissa, tiba-tiba kesadaran Chalissa hilang. Tubuhnya menjadi lemas dan ia hampir terjatuh.
"Chalissa" Ansel menangkap tubuh Lissa.
Ansel menggendong Chalissa dan membawanya masuk ke dalam kamar milik Ansel. Ansel takut jika dia meletakkan Chalissa di kamarnya, wanita itu akan berbuat nekat lagi.
"Bi, istirahatlah. Tolong kunci saja kamar Chalissa" ucap Ansel lalu membawa Chalissa masuk ke dalam kamarnya.
Setelah meletakkan Chalissa di atas tempat tidur, Ansel sengaja mengunci kamarnya.
.
.
.
.
.
Haii reader maaf ya kalau author lama UP
nya.
Terima kasih ya untuk reader yang sudah
setia membaca novel DON'T HATE ME, BABY!
Ikuti terus kelanjutan ceritanya 😊
Dan jangan lupa ya dukungannya untuk
author.
_ _ _ Happy Reading 😍_ _ _