Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Terima Kasih, Ans



Dua minggu kemudian setelah Lissa keluar dari rumah sakit.


Kesehatan jiwa Lissa semakin membaik. Dia sudah dapat bersosial meskipun Lissa belum berani keluar dari rumah.


Ansel menyewakan sebuah rumah sederhana untuk Lissa di kawasan perumahan yang berada di daerah Jakarta Selatan. Rumah itu cukup cocok untuk Lissa dengan fasilitas taman yang lumayan luas di depan dan belakang rumah. Ansel membuat sebuah saung di taman belakang rumah, ayunan, dan kolam ikan dengan air mancurnya. Ia berharap di taman itu Lissa akan lebih tenang, jauh dari kebisingan kota Jakarta.


Di rumah itu, Lissa tidak tinggal sendirian. Ada assisten rumah tangga yang sudah lama dikenal oleh Ansel, namanya bi Nani. Setiap hari Bu Nani selalu melaporkan kegiatan Lissa kepada Ansel. Selama dua minggu berlalu Lissa juga sudah berkomunikasi kembali dengan ibu dan adiknya.


Sedangkan Ansel, selalu mengusahakan waktunya untuk berkunjung melihat Lissa.


tinnn... tinnnn....


Nampak Bu Nani yang sedang membersihkan halaman depan. Ia segera berlari saat mendengarkan suara klakson mobil Ansel.


"Tuan, tumben pagi-pagi sudah datang." ungkap bi Nani.


"Iya bi. Apa Chalissa masih tidur Bi?" tanya Ansel menutup pintu mobilnya.


"Nona Chalissa sudah bangun tuan. Tadi bibi tinggal nona Chalissa sedang duduk di taman." ungkap bi Nani lagi.


Ansel meninggalkan Bu Nani dan masuk ke dalam rumah. Kakinya melangkah mencari keberadaan Lissa. Kemudian kakinya berhenti saat melihat Lissa yang duduk di kursi ayunan yang menggantung, ia sedang membaca buku.


Menyadari kehadiran seseorang di belakangnya, Lissa menghentikan aktivitasnya membaca. Ia memberi pembatas pada bukunya dan menutupnya.


"Kenapa berhenti?" Ansel duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu jati yang berada di samping Lissa.


"Kau..." diam sejenak "Kenapa tumben pagi sudah datang" Lissa berucap dengan lirih. Ia memang sudah mau berbicara dengan Ansel tapi tidak begitu berani.


"Apa kau baik-baik saja?"


Lissa menganggukan kepalanya, Lissa belum terlalu berani menatap Ansel lama-lama. Saat berbicara dia akan berusaha untuk menatap Ansel namun, dia juga akan dengan cepat mengalihkan tatapannya itu.


"Apa kau sudah sarapan?"


Lissa menggelengkan kepala, kemudian "Kau, kau sudah sarapan?" menatap Ansel, setelah itu tatapannya berlalu lagi dengan cepat.


"Belum"


"Ohh" menundukkan wajahnya


"Semalam bibi bilang kau tidak enak badan. Jadi aku datang pagi ini. Ayok kita sarapan?" ajak Ansel


Lissa tidak menjawab apapun, dia mematung di dalam kursi rotan yang menggantung. Tak lama ia justru semakin memasukkan tubuhnya ke dalam kursi ayunan itu menyenderkan tubuhnya ke dalam. Ansel bisa membaca maksud dari Lissa.


"Apa kau masih tidak enak badan?" tanya Ansel. Lissa menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa?" tanyanya terheran


"Aku belum lapar." ujar Lissa tak melihat Ansel sedikit pun.


"Kata Bi Nani, dari kemaren selera makanmu berkurang. Apa makanannya tidak enak?" tanya Ansel


"Aku gak tahu. Tapi aku memang gak selera makan." ucapnya dengan wajah polos.


Ansel tersenyum melihat tingkah kepolosan Lissa. Tingkahnya yang polos itu membuat Ansel selalu gemas padanya.


"Kau harus makan. Tunggulah di sini." ujar Ansel kemudian berlalu.


Ansel berjalan ke dapur. Ia mengambilkan makanan untuk Lissa. Kemudian kembali lagi menghampiri Lissa dengan piring dan gelas di tangannya.


"Ayok buka mulutmu. Aku tidak mau kau sakit." pinta Ansel, mengarahkan sendok ke mulut Lissa.


"Aku benar-benar tidak lapar" menghentikan tangan Ansel


"Kau harus makan Chalissa. Aku tidak mau kau sakit." ujarnya. Ekspresi tidak suka saat Lissa berusaha menolak untuk makan.


Belum sempat makanan masuk Chalissa sudah merasa mual mencium aroma makanan itu. Ansel segera menghentikan gerakan tangannya.


"Kau sakit ya?" Lissa menggelengkan kepalanya.


"Kalau aku lapar, aku akan makan." wajahnya memelas


"Baiklah." pasrah Ansel, ia menyerah tidak mau memaksa Lissa.


* * * * *


tuttt...tutttt....


Suara ponsel Ansel berdering, nampak di layar ponselnya "mom" memanggil.


"Iya mah." sahut Ansel


"Kamu di mana Ans?" tanya wanita paruh baya bernama Myra, mamanya Ansel.


"Ans lagi ada urusan ma sebentar" jawabannya


"Pulanglah. Mamah menunggu sebelum makan siang." jelas Bu Myra


"Iya mah" jawab Ansel menutup panggilan telponnya.


Hari itu adalah hari Sabtu, di mana Ansel tidak bekerja. Tadinya seharian ini Ansel ingin mengajak Lissa jalan-jalan supaya dia tidak bosan selalu di rumah. Tapi sepertinya rencanya itu harus ditundanya.


"Bi, Apa Lissa sedang tidur?" tanya Ansel yang baru keluar dari kamarnya.


Di rumah itu, terdapat tiga kamar tidur. Dan dia sengaja menyediakan kamar khusus untuk dirinya. Bermaksud jika ia bermalam, ia memiliki kamar untuk tidur.


"Tidak tuan." jawab bi Nani


"O iya bi, apa dia masih tidak enak badan?"


"Kelihatannya sih iya tuan. Soalnya nona Chalissa seperti tidak selera makan. Saya sudah berusaha memasak masakan yang enak, tapi sama saja. Selain itu tuan, nona alhir-akhir ini sebenarnya sering murung deh tua. Apa nona bosan ya di rumah?"... jelas bi Nani yang merasa heran dengan keadaan Lissa.


Ansel menemui Lissa


clekk membuka pintu kamar Lissa.


Ansel melihat Lissa seperti biasa sedang membaca buku. Dia duduk di sofa yang berada dekat jendela kamarnya yang terhubung ke taman belakang. Sejenak ia mengarahkan pandangannya melihat Ansel uang berjalan mendekatinya.


Ansel duduk di sisi kasur Lissa. "Apa kau bosan di rumah Lissa?"


"Tidak" balasnya tapi tetap membaca bukunya


"Apa yang ingin kau lakukan?" Ansel penasaran dengan keadaan Lissa


"Ap... apa aku boleh keluar?" tanya Lissa mengentikan kegiatannya, lalu matanya berhenti kepada Ansel.


"Kau ingin keluar?" tanya Ansel


Lissa menganggukan kepalanya


"Kau mau ke mana?" tanya Ansel


"Tidak tahu." jawab Lissa merasa bingung. Terlihat jelas di wajahnya kalau ia sebenarnya bosan di rumah terus, dia ingin sekali keluar tapi tidak tahu tujuannya.


"Kau punya sahabat atau teman yang ingin kau ajak mengobrol? atau teman untuk melakukan kegiatan lain??" Ansel yakin sekali dengan kejenuhan Lissa.


Lagi-lagi Lissa mengangkat kepalanya


"Siapa? lalu di mana dia?" Ansel masih intens melihatku Lissa. Lissa merasa canggung karena Ansel begitu intens melihatnya.


"Namanya Hanny. Aku tidak tahu dia di mana." ucap Lissa sambil menunduk.


Seketika Ansel teringat pada Hanny. Yahh... sudah satu bulan yang lalu setelah mereka berbincang mengenai Lissa. Setelah itu, Ansel tidak pernah lagi berbicara dengan Hanny.


"Bagaimana kalau kita keluar sebentar? Setidaknya berputar saja di area perumahan ini." tawar Ansel


Tapi Lissa mengganggukan kepalanya, pertanda ia tidak mau.


tutttt.... tutttt.... dering ponsel Ansel


Ia melihat, mamanya menghubunginya lagi. Tidak lama dering ponselnya berhenti ada notifikasi pesan masuk.


"Ansel, Mama menunggumu jam makan siang. Ada hal penting. segeralah pulang!"


Selesai membaca pesan ia menyimpan kembali ponselnya.


"Kau yakin tidak mau keluar?" tanya Ansel meyakinkan Lissa


"Tidak"


"Baiklah kalau begitu. Aku ada urusan, mungkin aku akan kembali lagi ke sini nanti malam" ujarnya, kemudia ia menggerakkan kakinya menuju pintu kamar Lissa untuk keluar.


"Ans.. Ansel" panggil Lissa menghentikan langkah Ansel.


"Kenapa?" tanya Ansel menoleh kepada Lissa


"Terima kasih Ans" Ansel diam memandang Lissa. Hatinya begitu teduh mendengarkan ucapan Lissa yang berterima kasih padanya. Ansel merasakan ucapan itu sangat lembut di hatinya.


"Terima kasih, Kau sudah memperhatikan keluargaku" air mata Lissa menetes. Kali ini Lissa sulit melepas tatapannya dari tatapan mata Ansel yang berdiri di depan pintu.


Sudah dua kali Ansel mengirimkan uang untuk ibu dan adiknya. Sekali ia mengirimkan uang sebanyak 1 juta, kedua ia kirimkan lagi sebanyak 2 juta. Ansel sengaja tidak mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak. Ia tidak mau ibunya curiga.


"Sama-sama Lissa."


Setelah itu Ansel pergi dengan mobilnya.


.


.


.


.


Happy reading ya 😍


Jangan lupa tekan FAVORITE, FOLLOW, LIKE


VOTE dan KOMENT yaaa reader...


Author akan terus berusaha untuk rajin UP.