
"Kak Chalissa, ibu kangen kakak. Nanti siang ibu ingin mendengar suara kakak"
"Chalissa"... Ansel menyebutkan nama itu,
"Aku harus segera kembali ke rumah sakit menemuinya".. Ansel beranjak dari kursi kebesarannya.
Tanpa di temani Harrys, Ansel mengemudikan mobilnya sendiri. Itu karena Harrys memang berada di rumah sakit mengurus Chalissa.
Ansel melajukan mobilnya dengan cepat. Membayangkan wanita itu di rumah sakit.
"Pak direktur anda kemari"... sahut Harrys di lorong menuju kamar Lissa.
"Bagaimana kondisinya apa sudah siuman??"... tanya Ansel
"Tadi dia sudah sadarkan diri, tetapi..." Harrys tidak memberanikan diri untuk melanjutkan ucapannya.
Ansel meletakkan dua tangannya ke dalam saku celananya. Mendapati Harrys tidak melanjutkan ucapannya membuat Ansel menatap wajah Harrys dengan tajam. "Tetapi, apa?"... masih menatap wajah Harrys dengan tatapan tajam.
"Lanjutkan tetapi apa??!"... mulai geram
"Wanita itu bangun dengan histeris. Sepertinya dia memang mengalami depresi pak Ansel"... sambung Harrys.
"Benarkah?".. Ansel berkata dalam hatinya.
Kemudian Ansel melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Lissa, Ia masuk diikuti oleh Harrys. Ia melihat Lissa masih tidur di bawah pengaruh penenang. Ada rasa kasihan pada wanita malang itu.
"Selidiki keberadaan wanita ini di hotel itu!!"... ucap Ansel.
"Baik Pak"... Harrys berlalu meninggalkan Ansel. Sepertinya hari ini ia harus mencari tahu mengapa wanita ini bisa berada di kamar direkturnya.
"Sebenarnya siapa kau?!! Mengapa kau bisa berada di dalam kamarku?!!!"... tatapan Ansel begitu tajam. Dia pelik memikirkan keberadaan wanita itu yang tiba-tiba muncul dan menjadi korbannya.
Wajah sendu Lissa tak menutupi parasnya yang cantik dan manis. Ansel, membayangkan betapa dia sudah meniduri wanita itu. Terbesit rasa kasihan dan penyesalan. Tapi dia juga menyalahkan wanita itu yang tiba-tiba muncul. Bukan salahnya kalau akhirnya wanita itulah yang jadi korban birahinya. Dia hanya menganggap Lissa sebagai Bellvania, pujaan hatinya.
* * * * *
Di kantor
Hanny memikirkan Lissa. Entah kenapa hatinya gundah gulana. Jam makan siang dia gunakan kesempatan untuk menghubungi Lissa.
tutttt... tutttt
Ansel sedang merebahkan tubuhnya di sofa, merasa mendengar suara getar hape dari saku celananya. Ternyata hape Lissa bergetar. Ansel telah merubah settingan pemanggilan hanya dengan getar saja.
"Hanny"... nama di layar yang muncul.
Ansel mengamati wajah wanita di ponsel Lissa, ia merasa pernah melihat wajah itu. Tapi ia bingung di mana. Ansel membiakan ponsel itu terus bergetar sampai berhenti.
Merasa tidak ada sahutan dari Lissa, akhirnya Hanny mengirimi pesan.
"Lissa bagaimana pekerjaanmu?"
"Apa itu menyenangkan? Aku sedang makan siang. Apa kau sudah makan?"
Notifikasi pesan masuk, Ansel membukanya.
Hanny kaget ternyata pesannya langsung terbaca.
Hanny segera menelpon Lissa kembali. Namun, Lissa mereject panggilannya.
Notifikasi pesan masuk di layar ponsel Hanny.
"Jangan menghubungi. Aku sedang bekerja."
"Baiklah. Ceritakan pekerjaanmu"
"Biasa saja"
"Kau bekerja apa?"
"Kau di mana Hanny?"
"Aku di kantor tempatku magang"
"Di mana itu?"
"Kau mau ke sini Lissa?"
"Iya, tempatmu bekerja"
"Perusahan Netware Corporation"
DEG
DEG
* * * * *
Cindy bermalas-malasan di kamarnya. Dia sudah lelah mencari tahu akan keberadaan Lissa.
tuttt.. tuttt....
"Hallo boss"
"Tidak usah mencari wanita itu lagi"
"Kenapa boss??".. terheran, karena bossnya itulah yang sudah membuat Cindy menjadi lelah mencari Lissa.
"Anak buah Pak Franky tadi datang. Dia mengancam akan membocorkan agency kita. Lagi pula dia juga sudah memberikan harga ganti Lissa." jelas pria si boss itu
Kemudian sambungan terputus
"Beruntung sekali Lissa. Mudah sekali dia lepas." Cindy tersenyum sinis.
"Aku penasaran dengan pak Franky"... Cindy membayangkan wajah pria bernama pak Franky itu. Malam itu Cindy tidak bisa melihat wajah pak Franky dengan jelas. Wajahnya ditutupi kacamata hitam yang lumayan besar dan mengenakan topi fedora hitam. Jadi sulit bagi Cindy membayangkan wajah Pak Davidson yang dia sebut pak Franky.
"Kenapa bukan aku saja yang melayani pak Franky semalam. Harusnya itu adalah keuntungan besar bagiku!! Sekarang Lissa menjadi simpanannya!"... celoteh Cindy.
* * * * *
"Ak.. Aku!" terdiam sejenak "Aku di mana ini?" Ini kedua kalinya Lissa sadarkan diri. Setelah yang pertama kali dia sadar dan masih dalam keadaan syok. Kali ini sepertinya Lisssa jauh lebih baik.
krekkk - Suara pintu terbuka
Lissa yang sudah berusaha menduduki tubuhnya di atas tempat tidur pasien, menoleh ke arah pintu yang terbuka. Matanya menunggu siapa yang akan muncul di balik pintu yang sudah terbuka.
DEG
DEG
Matanya terbelalak ketika Ansel yang dilihatnya muncul.
Sontak wajahnya menjadi kaku seperti es batu yang dingin. Tubuhnya seperti merasakan getaran yang kuat yang bercampur rasa pada ketakutan. Bayangan malam itu seperti rekaman yang diputar ulang. Jantungnya seolah sangat cepat memompa darahnya "dug..duh...dug..." suara jantung yang berdegup cepat!
"Kau!" suara yang lirih
Ansel berdiri terpaku, ia belum sempat menutup pintu ruangan itu. Matanya dan mata Lissa saling bertemu. Ada perasaan bersalah, takut pada ekspresi wajah Lissa, bahkan Ia tiba-tiba merasa berat untuk melangkahkan kakinya mendekati Lissa. Ia takut Lissa akan berteriak seperti yang di eritakan Harrys padanya.
"Kau... Kau... Huuuuu" tiba-tiba Lissa seperti mengalami serangan panik. Ia seperti berusaha mencari sesuatu entah apa itu.
Ansel terkejut dengan perubahan sikap dan ekspresi Lissa. Ia bermaksud untuk menenangkan Lissa. Tapi ternyata...
"Toolong... tolong... aku... aku harus pergi!!!" terdengar Lissa sedang membentak dirinya sendiri.
"Tenanglah Chalissa".. sahut Ansel dari jarak 2 meter sambil mengarahkan tangannya pada Lissa.
PRAKKKK...
Lissa melempar gelas yang ada di samping tempat tidurnya ke arah Ansel.
"JANGAAAN... aku mohon, ahhaaaaaa, ibuuu toloooong. Aku... aku harus pergi, AKU HARUS PERGI!!!"... suaranya meledak-ledak membuat Ansel semakin ragu untuk mendekati Lissa.
Benarkah dia depresi?? Apa kejadian malam itu membuat dia depresi??!!! Ansel sangat cemas.
"Toloooooong... toloooooong!!!" Lissa semakin berteriak
"Maaf tuan tolong anda segera keluar. Sepertinya dia masih syok" perintah seorang perawat yang tiba-tiba muncul di samping Ansel setelah mendengar teriakan Lissa
Ansel pun keluar. Ia mencari dokter yang menangani Lissa. Di dalam ruangan dokter Ansel meminta petunjuk apa yang harus diambilnya untuk Lissa, dokter menyarankan supaya Lissa diperiksa oleh psikiater. Ansel mengiyakan perkataan dokter dan mengijinkan Lissa untuk diperiksa oleh psikiater yang ada di rumah sakit itu langsung.
"Saya akan segera menghubungkan adik anda kepada dokter psikiater di rumah sakit ini tuan" ucap dokter Lutfi yang menangani Lissa. Ansel menerangkan bahwa Lissa adalah adiknya kepada dokter Lutfi.
tuttt... tutttt...
"Adikku.."
"Lebih baik aku matikan saja dulu" Ansel menekan tombol merah di layar ponsel Lissa.
Kemudian ia mengirimi pesan
"Dek, kakak sedang bekerja tidak bisa diganggu"
Lalu Ansel menonaktifkan hape Lissa.