
"Tuan Ansel, anda sudah tiba. Nyonya sudah menunggu anda tuan di ruang tengah" ungkapan Pak Anwar salah satu pelayan di rumahnya.
"Baik, saya akan ke sana" Ansel melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah.
Saat tiba di ruang tengah, Ansel terkesiap melihat salah satu wanita yang duduk di sofa ruang tengah tersebut adalah Bellvania.
"Ansel, kau sudah datang ternyata" ucap Bu Myra.
Ansel hendak duduk di sofa sebelah mamanya. Tiba-tiba Bellvania menghalangi langkahnya hendak memberikan ciuman dan pelukan pertemuan dengan Ansel. Namun, tangan Ansel segera mencegat tindakan Bellvania.
"Aku rasa sebagai wanita harus bisa menjaga harga diri" ketus Monique yang duduk di sofa sambil memangku kaki kananya yang tertutup stocking hitam.
Monique adalah kakak kandung Ansel. Empat bulan yang lalu dia baru saja menggelar status jandanya, lantaran bercerai dengan suaminya. Monique sesungguhnya kurang menyukai Bellvania.
"Monique" tegur Bu Myra
"Bellva duduklah nak" perintnya Bu Myra. Bellvania segera mengikuti perintah Bu Myra. Ia duduk di samping Bu Myra.
"Ada apa mamah menyuruhku pulang? dan apa maksud kedatangan Bellvania ke rumah ini lagi??!" Ansel menanatap Bellva dengan tatapan tajam dan marah.
"Aku tahu kau pasti merasa muak, karena aku pun begitu!" cetus Monique melirik ke arah Bellvania dengan tidak suka.
"Monique kau lebih baik diam!!" tegas Bu Myra
"Nak, Bellvania sudah menyadari kesalahannya. Dan dia datang untuk meminta kesempatan lagi pada keluarga kita" ucap Bu Myra
Ansel tersenyum sinis merasa dipermainkan.
"Lalu?? Mamah mau??!"
"Tentu saja nak"
"Apa perselingkuhan itu hal biasa yang dilakukan orang, sehingga mudah melakukannya?!!" Ansel begitu geram
"Ans.. maafkan aku. Aku tahu sudah mengambil keputusan yang salah saat itu. Sekarang aku sudah mengerti semuanya" wajah Bellvania gugup melihat kegeraman Ansel.
"Lagi pula bukankah malam itu kau sendiri yang bilang akan melupakan masalah perselingkuhanku Ans??"
"Apa yang membuatmu mengerti?!!" tatapan Ansel seakan ingin menerkam Bellvania.
Bellva begitu gugup untuk menjawab pertanyaan Ansel, ia menundukkan wajahnya.
"Katakan!!!" teriak Ansel tidak dapat menahan amarahnya
"Ans tenanglah!!" teriak Bu Myra
"Kau sudah membuatnya takut!" lanjut Bu Myra
"Katakan Bell, kau tidak perlu takut pada Ans" Bu Myra mengelus lengan Bellva.
Terdengar suara tangisan Bellva. "Martin tidak benar-benar serius denganku, Ans. Dia hanya ingin bermain-main denganku dan juga wanita lain"
Ansel meringkik dengan sinis, dia merasakan kepuasan atas apa yang dialami Bellvania.
"Ohh.. lantas kau ingin kembali padaku??" menekan pertanyaannya
Bellvania mengangguk
"Hahh!!! kehadiranku sepertinya tidak dibutuhkan di sini" kesal Monique yang segera berdiri dan hendak meninggalkan ruang tersebut.
Sebelum ia benar-benar pergi Monique memberi pesan kepada Ansel. "Ans, kalau aku jadi kau. Aku tidak akan menerima orang yang sudah pernah menjatuhkan harga diriku!!" sindiran Monique kemudian berlalu.
"Kau dengar itu?!!" tanya Ansel menatap Bellvania
Bu Myra dan Bellvania saling diam. Bu Myra tidak dapat memutar otaknya untuk melindungi Bellvania.
"Tidak segampang itu kau minta kembali setelah malam itu kau menjatuhkan harga diriku!!... Kau tidak tahukan apa yang terjadi padaku malam itu setelah kau pergi?!!!" Ansel segera pergi meninggalkan mamanya dan Bellvania di ruangan itu.
Sebenarnya sampai detik ini Ansel masih sangat mencintai Bellvania. Tapi rasa sakit hati membutakan rasa cinta itu, apalagi ketika dia harus mengingat Lissa yang harus menjadi sasaran kemarahan Ansel.
"Mahh apa yang harus aku lakukan?" tanya Bellvania memegang kedua tangan Myra.
"Hahhh" menghela napas dengan kasar
"Lebih baik kau pulang dulu. Nantu mamah coba pikirkan bagaimana cara membujuk Ansel, okay!"
"Baiklah mah"... Bellvania menuruti perintah Myra.
* * * * *
Tiga hari berlalu
"Pak, apa anda benar-benar tidak ingin memberi kesempatan pada nona Bellvania?" tanya Harrys
Ansel tidak menghiraukan pertanyaan Harrys. Tangannya masih sibuk mengecek berkas-berkas yang diberikan oleh Harrys padanya.
"Bukankah Anda mencintai nona Bellvania, pak?" Harrys masih mencoba untuk bertanya.
"ekhmmm" Ansel batuk kecil memberikan kode pada Harrys.
Harrys langsung terkesiap dengan kode dari Ansel. Ia diam masih memperhatikan Ansel yang sedang sibuk mengecek berkas.
"Ini" Ansel menyerahkan berkas-berkas yang sudah diperiksanya kepada Harrys.
"Kau kenapa?" bingung Ansel
"Anda baik-baik saja kan pak??"
"Saya baik. Saya hanya tidak suka membahas masalah Bellvania" ucap Ansel menyatukan kedua tangannya.
"Apa itu ada hubungan dengan Chalissa, Pak?" Harrys masih penasaran
Ansel membuang napas dengan kasar, kemudian "Pergilah, selesaikan pekerjaanmu" Ansel merasa enggan membicarakan masalah pribadinya.
* * * * *
"Hallo bi" sapa Ansel
"Tu-tuan Ansell" sahut Bu Nani dari telpon
"Iya bi, ada apa?"
"Tu-tuan, no-nona, eee nona..." suara bi Nani terdengar terbata-bata
"Kenapa bi? ada apa dengan Chalissa?!!" sentak Ansel
"Nona... nona pingsan tu-tuan"
"Apa?!!!" kaget Ansel
"Kenapa bisa??!" Ansel mengusap wajahnya dengan kasar
"No-nona kurang, kurang enak badan tuan. D-dan sekrang nona, nona belum sadar" suara bi Nani yang terbata-bata membuat Ansel semakkin kesal.
"Saya segera datang" Ansel mematikan ponselnya dengan tergesa-gesa ia mengambil jas dan kunci mobilnya.
Saat melewati meja Davina
"Pak, anda mau ke mana? melihat bosnya nampak terburu-buru.
"Saya ada urusan"
"Tapi bapak harus menandatangani dokumen ini" menunjukkan dokumen kepada Ansel. Ansel segera mengambil dokumen dari tangan Davina, dan dengan cepat mencoretkan tanda tangannya di atas namanya.
"Okay ini" memberikan kembali dokumen kepada Davina.
"Maaf pak. Apakah anda akan kembali? karena jam 11 nanti akan ada meeting dengan klien pak" ujar Davina
"Serahkan kepada divisi bidang" Kemudian Ansel berlalu
Davina berdecak pasrah. Sedangkan Hanny merasa heran dengan bosnya yang begitu buru-buru.
Di perjalanan Ansel segera menghubungi Harrys untuk mengawasi meeting.
* * * * *
Ansel tiba di rumah tempat tinggal Lissa
Bibi yang sudah membuka pagar, segera menghampiri Ansel.
"Nona ada di kamar tuan belum sadar juga" ucap bi Nani
"Kenapa dia bisa pingsan bi?" tanya Ansel
"Dari kemaren makan nona sangat sedikit tuan. tiap makan selalu dimuntahkan" jelas bi Nani
Tiga hari yang lalu Ansel memang tidak pernah datang berkunjung.
Di kamar Lissa
"Chalissa" panggil Ansel, ia memegangi kening dan pipi Lissa. Namun ia tidak menemukan suhu tubuh Lissa panas atau pun dingin.
"Sudah berapa lama dia pingsan bi?" tanya Ansel cemas
"Tadi sudah sempat siuman tuan. Tapi waktu saya mengambilkan minum karena nona bilang kepalanya pusing dan haus. Setelah saya kembali nona tidak sadar lagi" ucap bi Nani yang sangat panik dengan keadaan Lissa.
Tanpa pikir panjang Ansel segera mengangkat tubuh Lissa.
"Ayok bi" ajak Ansel.
"Ke mana tuan?"
"Ke klinik terdekat" jawan Ansel
Ansel menyuruh Bi Nani untuk duduk di bangku belakang dan memangku kepala Lissa.
Selesai Ansel menutup gerbang. Ia segerakan melajukan mobil dengan cepat, hingga sampai di rumah sakit.
-
-
-
Happy reading 😍
P.l.e.a.s.e. ya Reader
TEKAN FAVORITE
FOLLOW
LIKE
VOTE
KOMENTAR
Supaya Author semakin semangat 🙏
.
.