
"Sayang, kok kamu belum mandi sih?" tanya Chalissa melihat suaminya malah masih berbaring terlentang, di mana Killian pun ikut tertidur menindih tubuh suaminya dengan posisi tengkurap.
"Sussssst" Ansel meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang setengah mengkerucut, memberikan kode agar tak mengganggu tidur anaknya.
"Ini sudah jam berapa?" tanya Chalissa tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya.
Ansel mengedipkan matanya sambil mengangguk.
Kemudian, setelah di rasa Killian sudah tidur nyenyak. Ia berusaha membangunkan dirinya dan turun dari ranjang dengan tetap membiarkan Killian menempel pada dadanya.
"Ya sudah sini sayang. Kamu cepat mandi nanti kesiangan" tutur Chalissa mengambil alih putranya dari Ansel.
Ansel masuk ke dalam kamar mandi.
Selang beberapa menit, ia keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan kemejanya.
Ia melihat istri dan anaknya sudah tak ada di dalam ruangan itu.
"Pagi" sapa Ansel sudah rapi dan siap untuk menyantap sarapannya.
Hari ini ia sengaja meminta pada istrinya dibuatkan nasi goreng telur ceplok.
"Ternyata ada kak Monique" ucap Ansel melihat kehadiran kakaknya yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Hai, Ans. Bagaimana kabarmu?" sapa Monique. Sudah beberapa minggu mereka tak bertemu. Karena beberapa minggu lalu, Monique banyak melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri mengurus kerja perusahaan papa nya yang ada di Singapura.
"Seperti yang kau lihat, sangat baik" Ansel berucap dengan wajah bahagia.
"Kau sendiri bagaimana? Aku dengan kau bertemu seseorang di sana?"
Monique tak menjawab pertanyaan Ansel, dia hanya tersenyum tipis sambil menikmati lemon tea yang sudah dibuatkan oleh Chalissa.
"O iya, kudengar dari Harrys. Kau menolak menangani kerja sama dari salah satu cabang perusahaan milik tuan Davidson?" Monique tak bermaksud menyinggung nama Bellvania di depan Chalissa.
Ansel tersedak saat mendengarkan lontaran pertanyaan dari Monique.
Chalissa segera memberikan minuman padanya. "Hati-hati sayang" ucap Chalissa perhatian.
"Okay, terima kasih sayang" balas Ansel kemudian meneguk minuman dengan pelan sbil memicingkan matanya pada Monique. Monique paham arti dari tatapan Ansel.
Chalissa terdiam kelihatan tatapan suami kepada kakak iparnya. Namun, ia tak mau ikut campur.
Bukannya Ansel ingin membuat rahasia pada istrinya mengenai Bellvania. Namun, karena menurutnya masalah itu sudah bisa di atasi oleh Harrys yang tak perlu berurusan langsung dengan dirinya. Jadi menurutnya itu bukan hal penting yang harus dibahas dengan istrinya.
"Sebenarnya bukan menolak. Tapi banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sendiri. Jadi, jabatan Harrys sangat kubutuhkan di sini untuk menangani kerja sama itu" terang Ansel berusaha hati-hati.
"Oh" ucap Monique yang kemudian melirikkan matanya pada Chalissa.
"Ada sesuatu yang penting? tumben sepagi ini datang kak?" Ansel mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kebetulan saja lewat, jadi hanya sekedar mampir sambil melihat keponakanku"
Ansel mengangguk.
"O iya Chalissa, kenapa saya belum melihat Clarissa ya?" Monique menggerakkan kepalanya mencari keberadaan Clarissa.
"Hari ada tugas yang harus ia selesaikan katanya. Jadi pagi-pagi tadi, dia sudah dijemput oleh teman-temannya"
"Oh begitu"
"Benarkah itu?" tanya Ansel merasa heran.
"Iya sayang, tadi temannya bernama Xania dan Eva datang menjemputnya" tutur Chalissa.
Saat mereka sedang mengobrol.
"Tuan, di bawah ada tuan Harrys menunggu" ucap bi Suti.
Ansel yang kebetulan sudah menyelesaikan sarapannya, pun segera merapikan dirinya untuk berangkat.
"Seperti saya juga harus berangkat ke kantor juga sekarang" tutur Monique.
"Bukannya kamu bilang Harrys akan menyusul?"
"Dia hanya mengantarku ke bandara sayang." ucap Ansel, ia berjalan menghampiri putranya dan meninggalkan ciuman pada pipi Killian yang sudah terbangun.
"Baik-baik di rumah ya sayang. Sebisa mungkin, aku akan menghubungimu setiap hari di sana."
Chalissa mengangguk. Ansel mencium kening istrinya dan memeluknya sebentar namun erat.
"Jagoan papa, jaga mama ya. Ingat tidak boleh menyusahkan mama ya sayangnya papa" pesan Ansel pada Killian. Killian bergerak aktif sambil mengeluarkan tawa kecilnya seolah paham dengan pesan yang diberikan.
Monique sangat gemas melihat respon keponakannya.
"Aduh aunty gemas banget deh sama Killian" tutur Monique mengulum bibirnya.
Chalissa menggendong anaknya dan ikut turun untuk mengantar suaminya dan kakak iparnya.
Mobil Monique lebih dulu pergi.
Ansel sendiri kembali memeluk istri dan anaknya dalam gendongan istrinya. "Aku mencintaimu, sayang"
"Aku juga mencintaimu, sayang" balas Chalissa.
Setelah berpamitan, Ansel pun masuk ke dalam mobil di mana Harrys sudah berada di bangku kemudi siap untuk menancap gas.
* * * * *
"Bos, ada kabar yang harus bos dengar?" ucap Harrys tetap memperhatikan kemudinya.
Ansel yang sedang melihat ke layar ponsel di tangannya, sejenak berganti melihat ke arah Harrys di sampingnya.
"Apa bos tahu, kalau klien yang di Bali ternyata bekerja sama juga dengan Bellvania?" tutur Harrys sepintas pandangan ke arah Ansel kemudian ia kembali memperhatikan ke depan.
Ansel diam memikirkan sesuatu.
"Apa dia juga kemungkinan di Bali?" tanya Ansel menerka.
"Dugaanku benar bos" Harrys mengangguk.
Ansel menyandarkan punggungnya pada jog yang ia duduki. Ia memijit sisi dahinya.
"Apa jangan-jangan kerja sama ini adalah akal-akalan dia juga?" pikir Ansel.
"Mungkin karena dia sudah gagal mendekatimu bos melalui kerja sama perusahaannya." ucap Harrys, "sungguh wanita yang tak pernah menyerah" tambahnya tersenyum getir.
"Apa kau ingin, aku yang mengatasi ini bos?" tawar Harrys melihat wajah Ansel yang gusar.
"Tidak perlu. Kau selesaikan saja pekerjaan di sini, setelah itu kau boleh menyusul ku" tutur Ansel, pandangan melihat ke arah kaca sebelah kirinya. Ansel mengepalkan tangan kanannya, berpikir cara menghentikan kebodohan Bellvania yang rasanya selalu berusaha mengikutinya.
"Kau, benar-benar tak bisa dipandang remeh Bellvania!" ucap Ansel dalam hati.
***
Tiba di Bali.
Ansel kini sudah berada di hotel tempat ia akan menginap. Hotel tersebut merupakan hotel milik kliennya. Sebenarnya, saat Ansel mengetahui bahwa kliennya juga bekerja sama dengan perusahaan Bellvania. Ia ingin sekali mengurungkan permintaan kliennya itu untuk menginap di hotelnya. Namun, setelah dipikirnya, ia tidak akan lagi menghindar dari Bellvania.
"Hallo sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Ansel kepada istrinya melalui telpon.
Chalissa tak menjawab Ansel. Ia memindahkan panggilan suaminya ke panggilan video. Ansel tersenyum dan menggeser panggilan video itu sehingga terlihat wajah Killian yang sedang berceloteh penuh dalam layarnya.
"Hallo jagoan papa" sapa Ansel sambil berbaring terlentang di atas kasurnya.
"Sayang, kok cuma wajah Killian sih yang ditunjukkan?" Ansel menunjukan ekspresi cemberut.
"Emang, kamu gak kangen?" tanya Chalissa balik.
"Kangen sayang, tapi aku kan juga kangen sama mamanya. Emang kamu gak kangen apa?"
"Belum ada sehari udah kangen, dasar manja" gerutu Chalissa tanpa menunjukkan wajahnya.
Ansel tertawa. "Biarin aja manja, kan dimanja sama istri sendiri gak masalah sayang. Kecuali dimanja sama istri orang"
"Husss. Apaan sih sayang? emang mau dimanja sama istri orang?" dengan nada kesal.
Ansel terkekeh.
"Makanya, lihatin dong wajahnya. Biar papa Killian bisa cium mama Killian dari jauh, hehehe" goda Killian sambil tertawa.
"Ya udah ini" Chalissa ikut berbaring di samping Killian.
Ansel merubah mimik wajahnya setelah melihat wajah istrinya. Mereka mengobrol dengan Killian pun yang sesekali mengeluarkan celotehannya yang membuat Ansel rasanya ingin segera terbang menghampiri istri dan anaknya.
"Sayang, kamu jam berapa ketemu sama klienmu?"
"Satu jam lagi kok sayang" Ansel enggan mengakhiri telponnya.
"Kamu makan siang dulu sayang" titah Chalissa.
"Iya, bentar lagi ya sayang" bujuk Ansel.
Chalissa diam memberi Ansel waktu 15 menit lagi. Sampai akhirnya, terdengar suara bell.
"Sayang, tunggu sebentar ya" Ansel meninggalkan telepon yang masih tersambung.
Tak lama Ansel kembali dengan wajah datar.
"Sayang, maaf ya, aku harus menemui klienku sekarang" tutur Ansel.
Chalissa tak mau membuat Ansel lemas tak bersemangat. Jadi dia memberikan senyuman semangatnya pria yang sedang berada di Bali itu.
"Iya saya, gak apa-apa kok. Kamu jangan lupa makan siang ya sayang"
Ansel membalas senyuman istrinya.
"Papa semangat kerjanya ya, Killian love papa" ucap Chalissa menirukan suara anak kecil mewakili Killian.
Ansel semakin tersenyum, "I love you Killian. I love you my wife, muahhhh" ucap Ansel sebelum mengakhiri teleponnya ia memberi ciuman dari jauhnya. Chalissa pun membalasnya, "Muahhh, papa."
Sambungan telepon pun terputus.
*
*
*
*
*
Hai readers... jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya... O iya, ada yang punya ide gak? kira-kira supaya novel author ramai dikunjungi gimana sih caranya???
Author udah coba buat promo, tapi sepertinya pengunjungnya masih sedikit readers. Mohon masukannya ya readers buat author. 🙏
Jangan lupa like, vote novel author ini ya. Dan jangan LUPA FOLLOW author ya readers.
Happy Reading 😍