
Pukul 20.00
Setelah Killian tertidur pulas. Chalissa keluar dari kamarnya menuju balkon kamarnya. Di sana ia mengingat kembali perbincangannya dengan Hanny. Ia masih seperti mimpi setelah sekian tahun tak mendapat kabar tentang Keenan dan akhirnya tak lama lagi malah akan bertemu.
Saat asyik termenung, ia disadarkan dengan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, memeluknya dari belakang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"
"Sayang, kamu sudah pulang?" kaget Chalissa. Ia membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.
"Ada apa?" tanya Ansel masih melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya.
"Hem, tidak ada apa-apa sayang"
"Kalau tidak apa-apa, lalu kenapa kamu melamun? bahkan kamu gak dengar suara langkahku." Ansel berdiri dengan tegap dengan tatapan menyelidik, ia masih menunggu istrinya untuk berterus terang.
"Kamu masih ingat gak tentang kak Keenan yang pernah aku lihat di rumah sakit?"
"Iya, kenapa?"
"Feeling aku bilang itu adalah kak Keenan"
Ansel mengerutkan keningnya.
"Dan tadi siang Hanny juga cerita bahwa dia sudah bertemu dengan kak Keenan" tambahnya.
"O ya?"
Chalissa menganggukan kepalanya.
"Sayang, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan kak Keenan" ucap Chalissa sambil meletakkan kepalanya pada dada suaminya.
Ansel mengelus punggung istrinya, "Kalau kalian bertemu, apa yang akan kamu lakukan pertama kalinya?"
"Aku ingin tahu alasannya tak pernah kembali"
"Hanya itu saja?"
"Iya sayang" ucap Chalissa
Mereka menjadi diam. Hanya pelukan yang masih mereka nikmati. Chalissa sendiri pikirannya masih membayangkan pertemuannya nanti dengan Keenan.
Setelah hampir setengah jam.
"Sayang, kamu belum mandi kan?" tanya Chalissa setelah merasakan aroma keringat suaminya.
Ansel tergelak.
"Sana mandi sayang" titah Chalissa.
"Gak mau peluk lagi sayang?" ucap Ansel dengan nada menggoda saat Chalissa berjalan memasuki kamar, yang kemudian disusul oleh Ansel.
"Sayang lusa aku akan pergi ke Bali ya" ucap Ansel.
Ia membuka kancing kemejanya.
"Ada pekerjaan penting yang tidak bisa kuwakilkan" imbuhnya.
"Berapa lama?" tanya Chalissa sembari ia menerima pakaian kotor suaminya.
"Satu minggu sayang"
Mimik wajah Chalissa berubah saat Ansel menjawab pertanyaannya. Ansel menyadari perubahan wajah istrinya. Ia menangkup pipi Chalissa dengan kedua tangannya.
"Tuh kan cemberut deh. Cuma satu minggu sayang gak satu bulan kok"
"Apa gak bisa lebih cepat pulangnya. Killian pasti akan merindukanmu" terang Chalissa.
Ansel tersenyum, "Kamu yakin Killian yang kangen?" goda Ansel.
"Iya"
"Jadi mamanya gak nih?" Ansel berdiri berhadapan dengan Chalissa lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal.
Chalissa menggeleng.
"Yaudah aku kemungkinan bisa dua minggu sayang"
Bola mata Chalissa mendelik. "Kenapa makin lama?"
"Abis mamanya gak kangen sih" goda Ansel.
"Yaudah sekalian gak usah pulang" kesal Chalissa, kemudian berjalan meninggalkan Ansel untuk meletakkan pakaian kotor suaminya.
"Ih sayang kok ngambek sih"
"Ini sana mandi" Chalissa menyerahkan handuk tanpa menoleh pada suaminya.
Ansel masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu mau aku siapkan makan malam gak?" tanya Chalissa dengan suara keras dari balik pintu kamar mandi.
"Gak sayang, aku sudah makan tadi sama Harrys"
"O baiklah"
Chalissa memutuskan kembali ke ranjang. Sebelum ia naik ke ranjang, ia lebih dulu mengecek Killian yang sedang tertidur.
Ansel sudah selesai mandi. Ia mengambil kaos yang sudah disiapkan oleh Chalissa di atas kasur.
"Sayang, kapan-kapan kita liburan berdua yuk" ucap Ansel yang kini sudah duduk sambil meluruskan kakinya di atas kasur.
Chalissa yang sedang melakukan rutinitas perawatan wajahnya di depan meja rias, memandang suaminya dengan seksama dari pantulan cermin.
"Liburan berdua?" bingung Chalissa
"Iya" ucap Ansel membalas pandangan istrinya dari cermin.
Sebenarnya mereka memang belum pernah melakukan liburan hanya berdua. Karena saat itu waktunya tak memungkinkan. Ansel sangat sibuk dengan pekerjaannya, lagi pun saat itu Chalissa sedang hamil.
Ansel paham dengan kebingungan istrinya. Ia memanggil istrinya untuk mendekatinya dengan cara memukul kasur di dekatnya. Chalissa mendekat, duduk disamping Ansel.
"Kita belum pernah liburan berdua say..."
"Lalu Killian bagaimana?" Chalissa masih tak abis pikir dengan keinginan suaminya.
"Kita akan titipkan pada mama dan papa"
"Apa???" timpal Chalissa
"Killian akan baik-baik saja sayang" Ansel mengambil tangan istrinya dan mengelusnya.
"Anggap saja ini honeymoon kita yang sudah tertunda sangat lama" lanjut Ansel.
"Kenapa gak kita bawa saja sayang?" tawar Chalissa.
Ansel mengerutkan keningnya.
"Kita honeymoon sayang bukan liburan keluarga" jelas Ansel.
"Kamu tega tinggalin Killian" suara Chalissa terdengar tak ikhlas.
"Bukannya begitu sayang. Kita juga butuh waktu berdua supaya kita semakin harmonis" alasan Ansel.
"Memang harus honeymoon ke luar ya? Kenapa gak di rumah saja" tawar Chalissa lagi.
Ansel merubah posisi duduknya menghadap Chalissa, "Jadi kamu keberatan?"
Chalissa bungkam.
"Ya sudah kalau begitu kita batalkan rencana tadi" ucap Ansel tak mau membuat istrinya gusar.
Ansel kembali pada posisinya semula. Namun kini ia memilih untuk berbaring. Hari ini dirinya cukup lelah karena tak memiliki waktu celah yang panjang untuk beristirahat, karena adanya banyak pekerjaan dan jadwal rapat yang padat.
Setelah selesai dengan perdebatan kecil mereka mengenai liburan berdua. Ansel berbaring dan menutup matanya dengan lengan kirinya berada di atas kepala.
"Sayang" panggil Chalissa
"Hemmm"
"Kamu sudah mau tidur?" tanya Chalissa.
"Sayang, kamu marah ya?" tanya Chalissa lagi.
"Aku gak marah sayang" balas Ansel membuka matanya sejenak ke arah Chalissa. Lalu kembali menutup mata.
Chalissa membaringkan tubuhnya di dekat suaminya, melingkarkan tangan di pinggang Ansel, dan meletakkan kepalanya pada dada suaminya.
"Aku bukan keberatan sayang, aku hanya khawatir pada Killian. Mungkin karena dia masih kecil" ungkap Chalissa.
"Iya sayang aku mengerti. Tidurlah, aku tidak marah kok. Hanya capek" ucap Ansel kembali membuka matanya dan melihat wajah istrinya yang sendu.
Ansel mencium puncak kepala istrinya dan melingkarkan tangannya pada punggung istrinya. "Jangan merasa sedih sayang, aku hanya capek seharian bekerja" ucap Ansel lagi berusaha meyakinkan istrinya agar tak memikirkan perdebatan mereka tadi.
"Memangnya pekerjaanmu sangat banyak ya hari ini. Bukankah kamu punya assisten sekaligus sekretaris yang dapat membantumu" ucap Chalissa, ia memainkan dada suaminya dengan permainan jarinya.
"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sendiri sayang" Ansel tak menutup kembali matanya. Kini tatapannya fokus pada jari istrinya yang bermain di dadanya.
"Ouh" balas Chalissa singkat.
"Sayang, apa kau menginginkan honeymoon?" tanya Chalissa tanpa melihat ke arah suaminya.
Ansel tersenyum segar, rasa capeknya seolah hilang.
"Kalau kamu keberatan gak masalah sayang," Ansel menarik napas berlahan, "kita bisa honeymoon di rumah saja." Ansel tersenyum nakal.
Chalissa mencebikkan bibirnya, ia melonggarkan rangkulan tangan suaminya, dan melihat wajah suaminya yang tersenyum nakal sambil bolak-balik mengangkat kedua alisnya.
"Maksudmu apa?" tanya Chalissa pura-pura tak tahu, karena ia malu harus menebak maksud suaminya.
Ansel menarik pundak istrinya dengan merangkulkan tangannya kembali.
"Maksudku, malam ini kita juga bisa honeymoon sayang" bisik Ansel pada telinga Chalissa yang sudah menempel pada bibir Ansel.
Chalissa mencubit pinggang Ansel pelan. Ansel hanya terkekeh karena ia bisa melihat wajah istrinya yang selalu merona karena menahan malu. Chalissa berusaha menjauhkan tubuhnya dari suaminya, namun Ansel lebih cepat darinya hingga kini Ansel memutar posisinya menindih Chalissa.
"Katanya kamu capek?" gerutu Chalissa.
"Capek sih. Tapi untuk satu ini sepertinya aku tidak akan melewatkannya malam ini" goda Ansel.
Chalissa masih saja salah tingkah setiap Ansel menginginkan dirinya. Tatapan Ansel yang tajam membuatnya tak mampu menatapnya terlalu lama. Ansel sendiri selalu senang menggoda istrinya dengan tatapannya.
Ansel memulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Awalnya Chalissa selalu diam menerima ciuman suaminya, hingga ia membalasnya.
Dan seperti malam-malam sebelumnya. Mereka akan selalu bertempur dengan sangat panas. Apalagi Ansel yang selalu candu pada bibir dan tubuhnya istrinya.
*
*
*
*
*
Happy Reading 😍
Hai readers, author mau mengucapkan terima kasih buat kalian yang sudah setia kasih like dan vote buat author, dan sudah setia mengikuti cerita author.
Mohon maaf ya kalau author lama UP nya, karena pekerjaan sehari-hari author. Tapi author selalu berusaha agar next bisa lebih rajin buat UP nya.
Jangan lupa like, vote, dan follow terus author ya readers. 🙏