Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Malam Pertama Sekamar



Gaesss Jangan lupa like, vote, komen, dan follow ya sebelum membaca kelanjutnya cerita Don't Hate me, Baby!


-------------------------------------------


Hari ini Ansel memutuskan untuk bekerja di rumah dan menyerahkan pekerjaan kantor pada Harrys. Ia lelah karena perjalananny dari Singapore, setelah itu langsung ke kampung Chalissa menemui keluarganya.


Di ruang kitchen nampak ibu dan adik kecilnya sedang duduk di kursi meja makan. Sedangkan Lissa seperti biasa membantu bi Nani.


"Nak Hanny tidak tinggal denganmu nak?" tanya Bu Dewi.


"Tidak Bu. Tapi dia sering menginap di sini" jawab Chalissa


"Kenapa tidak kau ajak tinggal bersamamu nak?"


"Hanny tidak enak Bu pada Ansel. Sebenarnya Ans juga gak masalah sih" ungkap Chalissa


"Hanny sudah mengenal nak Ansel ya nak?"


"Hanny magang bekerja di perusahaan Ansel, Bu"


"Ooooo"


"Kakk, kak Ansel ganteng ya hehehe... baik lagi" celoteh Rissa, anak ABG yang takjub pada ketampanan calon kakak iparnya itu.


"Husss... kamu, Ris" tegur Bu Dewi pada Clarissa


"Ihhh ibu kenapa sih? Kan Rissa cuma ngomong kenyataannya" cemberut Rissa dengan teguran Bu Dewi.


"Wahhh, kak Ansel senang sekali nih dipuji" suara Ansel tiba-tiba menyusup.


Ansel segera duduk di samping Rissa yang mulai merasa malu karena didekati oleh calon kakak iparnya.


"Hehehe.. kak Ans dengar aja" ucap Rissa menahan rasa malunya.


"Kamu gak kerja nak hari ini?" tanya Bu Dewi


"Saya akan bekerja di rumah Bu" ucap Ansel, menerima piring berisi nasi goreng dari Chalissa.


Melihat kerukunan keluarga itu membuat bi Nani terharu, ia merindukan keluarganya juga di kampung.


"Rissa, kalau sudah selesai makan bisa tinggalkan ibu dengan kakakmu?" pinta Bu Dewi yang memang ingin berbicara hal penting dengan Ansel dan Chalissa.


Karena menyadari usianya yang masih belia, Rissa pun mengundurkan diri dari ruang makan. Ia memutuskan memainkan hapenya di taman belakang.


"Bagaimana rencana kalian nak?" Bu Dewi mulai membahas masalah pernikahan Chalissa dan Ansel.


"Saya dan Chalissa sudah mengatur semuanya Bu. Dan kemungkinan saya ingin pernikahan ini dipercepat" ungkap Ansel.


Chalissa melongok ke arah Ansel.


"Bukannya kita sepakat 1 bulan nanti Ans?" Chalissa memotong pembicaraan Ansel sebelum ia memebritahu waktu yang dimaksud Ansel.


"Tidak Chalissa. 1 Minggu lagi kita akan menikah" ucap Ansel


"Hah.. kenapa secepat itu?" kaget Chalissa


"Aku tidak mau lama-lama Chalissa, maaf aku" tutur Ansel


"Kalau ibu sih setuju-setuju aja nak Ans. Tapi bagaimana dengan keluargamu?"


"Keluargaku sudah memberi ijin Bu. Dan tidak ada masalah" ungkap Ansel.


* * * * *


Satu minggu kemudian


Pernikahan sederhana yang digelar di sebuah hotel mewah, di mana hanya dihadiri oleh beberapa tamu yang terdiri dari keluarga Ans, kerabatnya, keluarga Chalissa, keluarga Hanny, dan rekan kerja di Perusahaan Ansel.


Sebelum menjelang hari pernikahan mereka, Ansel sudah membeli rumah yang lumayan besar untuk mereka tempati.


Rumah yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama terdiri dari teras yang dihiasi tanaman hias, ruang parkir yang muat untuk tiga mobil, bagasi, ruangan tamu, ruangan santai, ruangan khusus untuk asisten rumah tangga, ruang kitchen yang terdiri dari dapur utama tempat mengolah semua makanan dan ruang makan, terakhir taman utama di mana terdapat konsep greenwall mulai dari lantai dasar hingga menembus lantai tiga, hingga tampak sebuah livingwall.


Lantai dua terdiri dari ruang santai atau ruang keluarga yang bagian temboknya menggunakan kaca memperlihatkan greenwall dari taman utama, empat kamar pribadi, di mana kamar Ansel dan Chalissa sengaja sebagian temboknya dibuat dari kaca yang memperlihatkan pemandangan greenwall juga, ruangan kosong yang Ansel persiapkan sebagai tempat bermain anaknya kelak, dan dapur mini yang diset seperti caffe kecil hanya sebagai ruang menikmati makan-makanan kecil.


Sedangkan lantai tiga terdiri dari ruang kerja Ansel, ruang gym, ruang santai, taman kecil yang menghiasi kolam renang dengan panjang 10 meter, lebar 5 meter, dan kedalaman hanya 150 centimeter.


Tengah malam setelah rangkaian acara selesai di mana beberapa tamu sudah pulang sedangkan beberapa keluarga kembali ke kamar hotel yang sudah dipesan oleh Ansel.


Chalissa berada di dalam kamar bersama dengan Hanny.


"Duh aku gak nyangka secepat ini kamu menikah Chalissa" peluk Hanny


"Iya ya Han seperti mimpi deh rasanya"


"Hehehe.. padahal baru beberapa bulan kau di Jakarta. Udah itu kau menikah dengan bos tempat aku magang lagi. Dunia ini sempit" takjub Hanny yang merasa semua seperti kebetulan.


"O iya setelah kau menikah dengan pak Ansel, berarti kau tidak akan sesusah dulu Lissa"


"Maksudmu apa?" kesal dengan ucapan Hanny.


"Ihsss... gitu aja sewot. Aku gak bermaksud yang lain Lissa" Hanny merasa tidak terima dengan kesewotan wajah Lissa.


"Aku tidak sematre itu Han. Aku juga tidak suka menikah dengan cara seperti ini. Kau lihatkan tadi kehadiran mantan kekasih Ansel" muka Chalissa langsung memurung


"Sudahlah, dia kan hanya mantan. Sekarang kau istrinya" hibur Hanny.


Di tempat yang berbeda, di dalam kamar Harrys.


"Kau mau menemaniku minum boss?" ucap Harrys menyinyir.


"Tidak bisa menunjukkan ketampananmu apa?!!" ketus Ansel membalas nyinyiran assistennya itu.


"Hahahaha... Lagian inikan malam pertamamu, boss masih betah saja di kamarku" goda Harrys


Ansel berdecak kesal dengan tingkah Harrys.


"Tapi boss apa kau akan melakukan malam pertamamu?" tanya Harrys sedikit kepo


Ansel tersenyum miring. Sebenarnya malam ini Ansel merasa bingung harus menemui Chalissa di dalam kamarnya. Ansel juga tidak tahu apa yang yang terjadi dengannya, ia seperti baru menyadari tentang perasaannya yang terluka saat kedatangan Bellva. Semua orang pasti tahu bagaimana perasaan Ansel sebenarnya pada Bellvania. Wanita yang sangat dicintainya.


"Mau ke mana boss?" tanya Harrys memicingkan matanya.


Ansel berlalu tanpa membalas pertanyaan Harrys. Ia mengeluarkan cardlock pada pintu kamar hotel yang terdapat Chalissa di dalamnya.


"Kau belum tidur?" tanya Ansel saat memasuki ruang bedroom.


"Aaa belum" ucap Chalissa


Tiba-tiba Chalissa merasa suasana ruang itu seketika membekukan tubuhnya.


Ansel masuk ke kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya. Saat ia keluar, dirinya masih mendapati Chalissa yang belum tidur. Ansel merasa bingung.


"Kau kenapa?" mendekati Chalissa yang duduk di sisi ranjang.


Ansel membaringkan tubuhnya di sisi ranjang samping Chalissa.


"Kau takut padaku Chalissa?!" Ansel merasa kecanggungan yang dialami oleh istrinya itu.


"A... a... Aku... Aku tidak bisa tidur" ucap Chalissa menyembunyikan wajahnya dari Ansel.


"Tidurlah, jangan berpikir aneh-aneh. Kau sangat lelah hari ini" selesai berbicara Ansel memiringkan tubuhnya membelakangi Chalissa.


Melihat Ansel membelakanginya membuat Chalissa sedikit lega. Entah kenapa, meskipun mereka mulai dekat namun rasa takutnya masih suka timbul. Pikirannya masih digerayangi kejadian mengerikan malam itu.


Malam itu, akhirnya mereka berdua pun tertidur di atas ranjang yang sama. Chalissa yang tadinya sulit memejamkan matanya, tanpa sadar ia pun tertidur.


.


.


.


.


.


Happy Reading 😍


Authorrr senang sekali jika reader menyukai cerita Novelku..


Ikuti terus ya kisah Chalissa dan Ansel pada Novel Don't Hate me, Baby!