
Selama di dalam bus Lissa tak henti-hentinya memikirkan ibu dan adiknya. Air matanya pun tak beberapa kali terus mengalir membasahi pipinya.
"Liss..." panggil Hanny, sahabatnya yang duduk di samping Lissa. Nampak Lissa tak menggubris panggilan Hanny.
Hari ini apa yang sedang mereka lakukan? Apakah adiknya terus menemani ibunya? Apa mereka sudah berhenti menangis??? Entahlah, terlalu banyak pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. ARGHHHH...
"Lissa, sudahlah"... kali ini Hanny berbicara sambil menggoyang bahu Lissa dengan bahunya.
Lissa tersadar akan keberadaan Hanny. "Eee.. Iy..Iya... Ada apa Han?".. suaranya terdengar putus-putus
"Kamu sedih ya?"... Hanny memelaskan wajahnya melihat raup wajah sedih pada sahabatnya itu.
"Kau harus kuat dan bersemangat Lissa. Di Jakarta kita akan bertemu"... jelas Hanny, dia berusaha ingin meredam kesedihan Lissa.
Lissa memaksa menarik garis bibirnya agar terlihat tidak muram lagi.
"Kalau kau sedih, kau bisa datang ke tempatku. Kita akan mengobrol bersama, menceritakan kekonyolan kita dulu, kita tertawa bersama. Bahkan kalau kamu sedih kita bisa menangis bersama Lissa"... tutur Hanny membuat bola matanya hampir basah. Tapi Hanny menahan perasaan itu supaya sahabatnya tidak kembali menangis lagi.
Kemudian Lissa memeluk Hanny. "Terima kasih ya Hanny"
* * *
Hanny keluar dari toilet rumah makan. Ia berjalan dan dari jauh ia tahu kalau sahabatnya itu masih murung. Hanny melihat minuman, ia membeli dua botol air mineral setengah dingin.
"Liss".. Hanny menyerahkan sebuah botol berisi minuman. Saat ini mereka sedang berhenti di rumah makan untuk makan siang. Lissa menerima minuman dari Hanny.
"Terima kasih ya Han".. ucapnya singkat
"Emang kamu kerja apa Liss di Jakarta?".. Hanny penasaran
"Aku belum tahu Hanny"..
"HAH!!.. trus untuk apa kamu ke Jakarta??!"... Hanny terheran-heran dengan keputusan sahabatnya itu.
"Yah untuk bekerja. Kamu kenal Cindy gak anak sekretaris satu sekolah dengan kita???"...
"Tentu saja aku kenal dia, kami kan satu kelas. Si cewek seksi yang gonta ganti cowok itukan"... nyinyir Hanny dengan ekspresi tidak suka
"Iya ya".. Lissa menggaruk kepalanya, merasa lupa kalau sahabatnya mengambil jurusan sekretaris saat SMK dulu. "Hehehe..."
"Dasar bodoh".. ketus Hanny yang merasa aneh dengan kelakuan temannya yang sering pelupa
"Emang kamu gak tanya kerjaan apa dari dia?"... Hanny masih terheran
"Aku udah pernah tanya. Tapi kata dia gak usah kuwatir".. sahutnya dengan polos
"Kamu batalkan aja deh kerja sama dia. Aku takut kalau gak jelas Lissa".. Hanny merasa takut dengan sahabatnya itu
"Tapi Cindy sudah tahu Han, dan dia akan menjemputmu nanti"...
"Tinggal saja bersamaku. Nanti kita cari kerjaan bersama".. tutur Hanny masih merasa cemas
"Kamu kasih aja alamat kamu Hanny. Nanti kalau memang tidak ada pekerjaan dari Cindy, aku akan ke tempatmu".. pinta Lissa
Hanny pun mengiyakan permintaan Lissa. Bus akan melanjutkan perjalanan. Karena tujuan mereka berbeda, mereka berpisah di rumah makan itu. Bus yang mereka tumpangi adalah bus dengan tujuan Lissa. Lissa masuk ke dalam bus itu, sedangkan Hanny menaiki bus tujuannya. Lissa semakin sedih ketika berpisah dengan Hanny.
"Lissa ingat ya segera kabari aku".. kecemasan seorang sahabat. Lissa menganggukan kepalanya.
"Jaga dirimu baik-baik. Stop jangan menangis lagi, okay!!".. Hanny memeluk erat sahabatnya
"Hanny terima kasih ya"..
"Dari tadi terima kasih mulu. Sudah sana busnya udah mau jalan".. Lissa masuk
Hanny terus berdiri melambaikan tangannya melihat bus membawa sahabatnya pergi dari hadapannya. Ada kesedihan yang tertangkap di wajah Hanny. Rasa kasihan, sayang. Bahkan was-was. Padahal kalau dia berpisah dengan sahabatnya saat akan ke Jakarta melanjutkan kuliahnya rasa perpisahan itu tak seberat saat ini. Apa mungkin karena keharuan tadi pagi? Yah bisa jadi karena itu.
* * * * *
"Masuklah"... ajak Cindy kepada Lissa. Lissa masih berdiri di ambang pintu.
"Ini yang kamu bilang kosan Cindy?".. mata Lissa masih mengelilingi pemandangan kosan milik Cindy. Sebenarnya itu bukan kosan, itu apartemen. Meskipun bukan apartemen elit dan mewah, tapi bagi Lissa tempat tinggal Cindy sangatlah bagus.
"Kenapa?".. Cindy mengernyitkan alis matanya
"Kosan kamu ini bagus ya"..
"Ini belum seberapa. Kamu juga bisa tinggal di tempat seperti ini kelak"..
"Oya.. Ini bayaran berapa Cindy?".. Lissa nampak polos
Cindy menyunggingkan senyum menatapi kepolosan Lissa. "Nanti kamu juga tahu yang pasti lebih dari gajimu di kampung per bulannya!"..
"APA??!!! Semahal itukah?!!".. kaget Lissa
"Sudahlah, gausah dipikirin"..
"Cindy kapan aku mulai ikut bekerja denganmu??".. Lissa nampak tak sabar. Tentu saja tujuan dia ke Jakarta memang untuk bekerja dan bisa mengirim uang kepada ibunya.
Lagi-lagi Cindy menyunggingkan bibirnya, tersenyum licik. "Sabarlah... Kau baru saja tiba. dua hari lagi kau akan aku ajak ke tempat kerjaku"...
"O iya, kau bersedia kan bekerja apa saja?".. Cindy memastikan Lissa
"Tentu Saja Cin. Aku benar-benar butuh pekerjaan".. Lissa terlihat sangat berharap
"Okey, baiklah. Lebih baik kau beristirahat dulu. Hari ini aku mau keluar karena aku sudah ada janji. Jika kau membutuhkan makanan kau boleh lihat semua di dapur semoga itu cukup untukmu".. Cindy mengambil tasnya kemudian berlalu meninggalkan Lissa sendirian di apartemennya.
* * * * *
Sore hari, setelah selesai membersihkan diri.
Pikirannya sudah melalang buana membayangkan seandainya ia sukses di Jakarta.
Mungkin ibu dan Rissa bisa tinggal bersamanya. Yah, Setidaknya mereka tidak akan berpisah lagi. Belum ada satu hari Lissa sangat merindukan keluarganya. Bahkan, baru saja dia berkomunikasi lewat hape nya dia sudah merindukan keluarganya lagi. Sampai kapan dia akan terus merasa bersedih seperti ini. AHHH.. Sudahlah jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. Kelak juga akan bertemu.
"Lapar sekali".. Lissa memeriksa makanan di dapur. dia dikejutkan ketika membuka isi kulkas.
"Rokk Vodka jenis minuman apa ini??"... merasa asing dengan botol minuman yang terdapat di dalam kulkas.
Setelah merasa kenyang Lissa menonton TV, dia merasa bosan. Hingga waktu menunjuk pukul 22.00 Cindy belum juga pulang. Di kampungnya jam segini sudah mulai sepi. Rasa kantuk mulai menyerangnya namun ia merasa enggan untuk tidur tanpa menunggu Cindy. Lissa masih menunggu hingga jam sebelas malam. Sangkin tak tertahan lagi, akhirnya ia memutuskan untuk tidur lebih dulu.
"Rokok siapa ini? Apa ini rokok pacarnya Cindy ya? tapi kenapa ada di kamar??!!"..
Lissa segera mengacuhkan pikirannya. Dan meletakkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk baginya. Kemudian ia pun tertidur.
-
-
-
-
-
Happy reading guys 😍
Jangan lupa dukung author yah
FOLLOW, VOTE, LIKE