
Setelah berbicara lama di ruangan Ansel, kini Hanny duduk di kursi kerjanya. Dirinya sungguh tidak percaya dengan apa yang menimpa Chalissa, sahabatnya.
* * * * *
Tuttt... tuttt... tuttt...
Suara telpon rumah. Bi Nani mengangkat telpon yang berbunyi.
"Hallo" sapa bi Nani
"Bi, Chalissa sedang apa?"
"O tuan Ansel" mendengar suara bibi menyebut nama Ansel membuat Chalissa yang sedang berada di dekat bi Nani mengarahkan matanya.
"Non ini tuan Ansel" kata bi Nani terdengar dari telepon.
Bi Nani menyerahkan telpon kepada Lissa
"Hallo" suara Lissa sangat pelan
"Kau sedang apa tuan putri?" tanya Ansel membuat telinga Chalissa menjadi risih.
"Membaca"
"Kau hobby membaca ya? Okay, kau suka baca buku apa??!" tanya Ansel sepertinya ia ingin membelikan buku kesukaan Lissa.
"Tidak usah, jangan repot-repot" ucap Lissa enggan menyahut.
"Okay kalau begitu 2 jam lagi kita pergi ke toko buku. Sekarang aku dalam perjalanan pulang. Bersiap-siaplah" tutur Ansel
"Iya" Chalissa segera menutup telpon dan Ansel hanya membuang napas dengan kesal karena belum selesai berbicara Chalissa langsung memutuskan telpon.
* * * * *
Tok... tok... tokkk
Bi Nani membuka pintu
"Siapa bi" tanya Lissa dengan suara yang lumayan terdengar hingga ke ruang tamu.
"Hallo bi Nani"
"Ha... hallo nona Monique" balas bi Nani merasa heran dengan kedatangan majikannya dulu.
Bi Nani mempersilakan Monique masuk hingga ke ruang tengah.
"Hai Chalissa" sapa Monique sambil tersenyum ke arah Chalissa yang sedang berdiri mematung saat melihat kedatangannya.
"K... Kakak" suara Lissa terkesiap
"Kamu gausah tegang begitu. Aku hanya ingin mengobrol denganmu, dan rileks saja. Kau bisakan??" tanya Monique mencoba bersahabat dengan Chalissa.
Mereka memilih mengobrol di taman belakang.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Chalissa memulai obrolan
"Baik kak" jawab Lissa pelan
"Aku minta maaf kalau malam itu mama dan papa menyinggung perasaanmu. Tapi aku harap kamu bisa memaklumi perasaan orang tua" ucap Monique menatap Chalissa dengan intens.
"Kau tidak perlu merasa takut denganku" imbuh Monique yang dari tadi menatapi Chalissa sedang menunduk.
Chalissa mengangkat kepalanya hingga wajahnya terlihat.
"Aa... Aku... mengerti kak?" jawabnya tetap dengan suara pelan.
"Ansel sudah cerita semua kejadian yang sebenarnya. Jujur, aku kasihan padamu. Tapi, aku juga tidak sepenuhnya menyalahkan Ansel. Karena malam itu kau pasti tahu kan Ansel sedang mabuk" tutur Monique membuat Lissa mengingat kejadian menakutkan itu.
Chalissa memilih diam mendengarkan Monique berbicara.
"Chalissa, sebenarnya aku juga tidak ikhlas Ansel harus menikah dengan wanita yang belum kami kenali. Apalagi harus menikah karena insiden ini. Tapi, aku sebagai wanita juga tidak mungkin tega melihatmu seperti ini" Lissa mulai merasa longgar untuk menghirup oksigen masuk dalam tubuhnya. Dia mulai merasa kalau Monique itu baik.
"Aku bukan sedang berpihak padamu, ini hanya sebagi sesama wanita" jelas Monique seolah mempoint maksudnya.
Tapi apapun itu. Chalissa memang terlihat merasa memiliki ruang untuk bernapas. Karena Monique tidak semenakutkan seperti yang dirinya bayangkan.
"Terima kasih kak" ucap Chalissa membuat Monique terperangah, lalu Monique tersenyum tipis tanpa memandang Chalissa.
"O iya, berapa usia kandunganku?" kata-kata Monique membuat Lissa melongok.
"Kau kenapa?? Apa aku salah ingin tahu usia calon keponakanku??!" imbuhnya tersenyum sangat cantik, itu membuat Chalissa kagum pada sosoknya.
"Mi... Minggu ini, masuk 6 Minggu kakk" jawab Lissa
"Chalissa, Apa kau membenci adikku? Ansel??"
Chalissa hanya diam. dia bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya Lissa juga tidak tahu perasaannya pada Ansel, kadang dia merasa berterima kasih atas kebaikan Ansel, kadang juga dia bisa merasa takut, muak, dan bahkan rasanya ia tidak ingin melihat Ansel. Tapi terkadang saat Ansel beberapa hari tidak dilihatnya, ia bisa merasa mencari-cari Ansel.
"Sudahlah tidak usah dijawab" ujar Monique, seusai berbicara ia bangkit berdiri dan mengambil tasnya.
"Aku akan pulang" ucap Monique berdiri dari duduknya. Chalissa ikut berdiri dan mengantar Monique keluar.
"O iya, aku harap kau selalu menyiapkan hatimu jika bertemu orang tuaku. Karena bagaimanapun kamu memang harus siap menghadapi mereka" Monique mengusap bahu Lissa memberikan ketenangan pada dirinya.
"Kakak" panggil Ansel dengan suara keras
Monique tersenyum menyambut adik satu-satunya itu.
"Aku baru saja mau pulang" ucap Monique
"Kau jangan khawatir, aku hany mengobrol sebagai seorang teman dengan Chalissa" tuturnya menangkap mimik wajah Ansel yang sepertinya khawatir dengan kedatangannya.
"Okay Chalissa, jaga dirimu baik-baik ya. Kau tidak perlu takut dengan adikku ini, dia pasti melakukan yang terbaik untukmu" ujar Monique sedikit membuat Ansel tersipu.
* * * * *
Setelah Monique pergi mereka berdua masuk.
"Apa kamu sudah bersiap?"
"Bisa gak besok saja" Lissa tidak bersemangat.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Ansel cemas
"Tidak" jawabnya sambil pergi meninggalkan Ansel, masuk ke dalam kamarnya.
"Bi, Chalissa kenapa?"
"Ahh, tidak tahu tuan. Tadi baik-baik saja" jawab bi Nani
"Apa karena kedatangan kak Monique, bi?"
"Sepertinya tidak deh tuan. Soalnya tadi bibi perhatikan non Chalissa dan non Monique baik-baik saja, malah mereka saling tersenyum" ungkap bi Nani
"Lalu kenapa ya? Kenapa sekarang dia seperti malas melihatku" celetuk Ansel bingung dengan sikap Chalissa.
"Mungkin bawaan hamil kali tuan. Kadang orang hamil juga bisa bawaannya kesel terus kalo ketemu sama bapak si anak" ucap bi Nani membuat Ansel melongok.
"Hamil macam apa itu? Apa iya ada bawaan hamil seperti itu??" gerutu Ansel dalam hati tak terima dengan penjelasan bi Nani.
"Yaudah bi, saya mau bersih-bersih dulu ya" ujar Ansel
"Tuan" panggil bi Nani menghentikan langkah Ansel. Ansel membalikkan tubuhnya menghadap bi Nani.
"Apa hari ini saya boleh ijin ke rumah nyonya besar. Saya ada urusan dengan bi Wati" ucap bi Nani
"Ohh.. yasudah bi. Bibi bisa pergi sekarang juga gak apa-apa sepaya tidak kemalaman" ucap Ansel
"Tapi, saya kan harus menyiapkan makan malam dulu tuan"
"Tidak usah bi" ucap Ansel sambil memesankan taksi online.
"Saya sudah pesan taksi online buat bibi"
Bi Nani segera bersiap-siap, sebelum pergi bi Nani berpamitan pada Chalissa. Sebenarnya Chalissa keberatan bi Nani pergi dan menginap di sana. Ia merasa canggung dan takut kalau di rumah hanya berdua dengan Ansel. Tapi apa boleh buat, ia tidak dapat melarang bi Nani.
"Bi Nani sudah pergi?" tanya Ansel yang baru selesai mandi, ia menghampiri Chalissa di dapur.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Ansel mengamati Lissa yang sedang sibuk.
Selesai memasak makan malam, Chalissa segera menatanya di meja makan. Ada kesenangan tersendiri baginya, karena rasanya dia sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan itu semenjak ia memutuskan berangkat ke Jakarta.
"Karena bi Nani belum memasak jadi aku memasak makanan untuk malam ini" ujar Lissa lalu duduk di kursi makan yang berhadapan dengan Ansel.
Lissa mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk Ansel. Untuk pertama kalinya Lissa melayani Ansel saat makan. Ansel terus menatapi Lissa, dia tersenyum bahagia namun ia bingung dengan senyumannya sendiri.
"Kenapa?" tanya Lissa bingung menanggapi sikap Ansel yang terus menatapinya.
"Kau ternyata bisa masak. Ini enak sekali" ucap Ansel sambil menikmati makan malamnya.
"Apa kamu gak capek kalau harus memasak?" tanya Ansel tidak berhenti menatapi Lissa.
Chalissa tidak menjawab permintaan Ansel, dia berusaha menganggap tidak ada Ansel. Padahal jantungku berdegup kencang lantaran Ansel menatapnya dengan senyuman yang membuatnya risih.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😍
Hallo reader setiaku... Yukzzz dukung author.
jangan lupa kasih like, vote, komen, dan
follow author ya.
Terima kasih 🙏
Ikuti terus cerita Don't Hate me, Baby!