
Setelah membawa semua hasil belanjaan ke dapur. Chalissa segera membenahinya, sedangkan Ansel memilih duduk di kursi meja makan sambil menatapi kegiatan istrinya yang terlihat tidak memiliki beban.
"Kakk, sini Rissa saja yang merapikannya" tawar Rissa yang hari itu memang sudah tidak ke sekolah lagi.
"Kamu bantuin kakak aja dek" pinta Lissa, ia memberikan sekantong belanjaan pada Rissa untuk dibersihkan.
* * * * *
Di tempat lain
Nampak Hanny sedang berkutat di depan laptopnya. Pikirannya sedang terganggu dengan pria yang kemaren tidak sengaja ia lihat.
"Kenapa aku seperti mengenalnya ya?!" pikir Hanny, berusaha memastikan apa yang dilihatnya.
"Kenan" ia memejamkan mata mengingat wajah pria yang adalah kakak dari Chalissa, "Dia mirip seperti kak Kenan" ujarnya lagi.
FLASHBACK
Hanny yang berada di mall sedang mengantri di kasir saat akan membayar hasil belanjaannya tidak sengaja disuguhkan dengan pemandangan pria yang wajahnya tidak asing. Yah, dia adalah Kenan. Memang mereka sudah bertahun-tahun tidak lagi bertemu, semenjak Kenan memutuskan pergi dari rumahnya. Penampilan dan wajah Kenan memang banyak berubah, dia sudah menjadi laki-laki dewasa yang wajahnya memang ganteng dengan hidung mancungnya.
Tapi sayang, saat Hanny ingin memastikan sosok pria yang dilihatnya. Ia malah kehilangan jejak. Hanny berada di lantai tiga, kembali menemukan sosok itu, namun kini pria itu sudah merangkul seorang wanita. Hanny tidak dapat memastikan pandangannya, karena mereka berdiri di eskalator hendak turun membelakangi sorot mata Hanny.
_ _ _ _
"Kalau itu benar kak Kenan, berarti dia tidak jauh dari kota ini" guman Hanny, pikirannya masih melayang menerka keberadaan sosok pria yang sudah lama dirindukan oleh Chalissa, sahabatnya.
"Apa aku perlu menceritakan ini pada Lissa ya??" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Tidak! Aku harus benar-benar memastikannya dulu. Setelah mendapatkan info itu, baru aku akan cerita pada Lissa" pikirnya dengan ekspresi rumit.
Tutttt...tutttt...tuttt...
Tiba-tiba suara ponselnya mengejutkannya, hingga membuat siku lengannya yang sedang bertumpu pada meja jadi bergeser tanpa sengaja.
Hufffff... membuang napas dengan kasar, lalu maniknya beralih pada layar ponselnya.
"Hallo" jawabnya
"Sedang apa? Apa kamu sudah makan??" tanya seseorang yang terdengar layaknya seperti seorang kekasih saja. Karena yang menelpon Hanny adalah seorang laki-laki.
Sejenak Hanny melihat layar ponselnya, yang sudah ia sematkan pada sisi daun telinganya. "Dasar Playboy" gumannya dalam hati mencebikkan pria yang ada diseberang telponnya.
"Apa orang yang menerima telponku bisu ya? atau sedang puasa bicara??" suaranya nampak kesal lantaran tak jawaban atas pertanyaannya.
Hanny melospekear panggilannya. "Kenapa pak Harrys??!" tanya Hanny berbalik tanpa menjawab pertanyaan Pria tersebut yang adalah Harrys, assisten sekaligus sahabat Ansel.
"Turunlah, aku di bawah" ucap Harrys, "Haaaa" terdengar sahutan Hanny yang sepertinya ia melongo dari pikiran Harrys.
"Jangan terlalu lama, aku bisa bosan menunggu di sini!" ungkap Harrys sedikit meninggikan suaranya dan segera memutuskan panggilannya agar Hanny segera menemuinya.
"Ahhh, kebiasaan" sedikit mengerucutkan bibirnya. Ia segera bergegas merapikan laptopnya dan berbagai buku yang berserakan di meja belajarnya. Ia terpaksa menghentikan kegiatannya yang sedang menulis skripsi.
Setelah mengambil tas yang biasa ia kenakan sebagai pemanis penampilannya, ia bergegas membuka pintu. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika wajahnya terpantul di sebuah cermin yang ia lewati. "Huhhh, kenapa kucel sekali!" makinya pada wanita yang berada di cermin yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Ia merapikan rambutnya, menguncir rambutnya dengan sedikit direnggangkan. Ia pun memoleskan sedikit bedak dan bluss on agar wajahnya terlihat segar.
"Okay, sekarang aku akan menemuimu" ucapnya tersenyum sendiri seolah sedang memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian
Tok...tok..tok
Hanny mengetuk kaca mobil Harrys yang ternyata sedang membaringkan tubuhnya di jog kemudi.
"20 menit nih, Huftt" ucap Harrys, meletakkan ponselnya setelah melihat jam yang tertera di layar ponselnya.
Hanny tak berkomentar, ia hanya duduk di samping Harrys dengan cuek.
"Kenapa diam?" tanya Hanny karena merasa aneh, ia sudah berada di dalam mobil Harrys bahkan sudah mengaitkan seatbelt, namun Harrys masih terlihat duduk tanpa bergegas untuk menggerakkan laju mobilnya.
"Kau masuk tanpa basa-basi, menyapa saja tidak. Apa aku ini supir yang siap mengantar majikannya??!" komentar Harrys yang merasa dicuekin oleh Hanny.
"Ouhhh, maaf kalau begitu" ucap Hanny sedikit nyengir.
Hanny sendiri memang sedikit memberi perhatian pada assisten dan sahabat boss sementaranya itu. Tapi Hanny juga terkadang merasa kesal dengan sosok Harrys, yang ia rasa sedikit egois dan playboy. Tapi tidak dipungkiri Hanny senang jika sedang bersama dengan Harrys meskipun usia mereka berpaut jauh sama seperti usia Ansel dengan Chalissa.
* * * * *
Sore hari menjelang malam
"Ans, kamu kenapa? dari tadi siang gak semangat!" tutur Chalissa yang duduk di atas ranjang di samping suaminya.
Ansel tak bergeming, ia malas menyahuti ucapan istrinya. Chalissa yang masih penasaran semakin mendekati Ansel, ia berkali-kali menyenggol bahu suaminya hingga Ansel merasa terusik. Ansel menunjukkan mimik tidak suka, tapi berbeda dengan Chalissa yang terus mengguncang bahu suaminya sambil memberi senyum meringis.
"Kamu mau menggodaku ya?" Ansel mencebikkan bibirnya. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu yang dipahami oleh Chalissa. Tidak butuh waktu lama, Chalissa segera menghentikan aksinya mengguncang bahu suaminya itu, lalu ia bergegas menjauhkan tubuhnya dari Ansel. Ansel yang menangkap pergerakan Chalissa langsung menarik pergelangan tangannya dan membawa wanita itu pada dekapannya.
"Lepas Ans" ucap Chalissa mengeluarkan suara tawa yang terdengar pelan.
Namun Ansel tak mengindahkan ucapan istrinya itu, justru ia semakin mendekapkan tubuhnya pada wanita didekapannya itu semakin erat, "Tadikan kamu yang menggodaku, haaa" bisik Ansel diakhir kalimatnya memberikan hembusan napasnya menyentuh ceruk leher Chalissa.
Chalissa merasakan sensasi geli di bagian lehernya. Apalagi Ansel terus menerus melayangkan ciuman di leher istrinya yang membuatnya semakin sulit untuk melarikan diri dari Ansel.
"Sayang, aku kangen nih" bisik Ansel, "kamu mau gak?" imbuhnya lagi.
"Kamu mau apa sih Ans?" tanya Chalissa yang sebenarnya mengerti maksud dari kalimat suaminya.
"Oh jadi kamu gak tahu ya?, apa perlu aku tunjukkan hmmm??" balas Ans siap menyerang Chalissa dengan ciuman bertubi-tubi di area lehernya yang semakin membuat Chalissa berjingkrak ria karena terus merasa geli dengan ulah suaminya.
Tokk... tokk... tokkk...
Suara ketukan pintu bersamaan dengan panggilan di balik pintu "Kaaaaa" Rissa sudah berdiri menunggu sahutan dari dalam kamar.
seketika mereka berhenti saat menangkap suara Rissa memanggil. Mimik wajah Ansel terlihat kesel karena mendapatkan gangguan dari adik kecilnya.
"Iya dek" sahut Lissa
"Ayo kita makan" teriak Rissa masih dari balik pintu.
Chalissa segera bergegas untuk mendekati pintu. "Ans mau apa lagi?" tanya Lissa saat Ansel malah menarik tangannya. "Kamu gak dengar Rissa sudah memanggil? Ayo cepat berdiri dari situ" titah Lissa, ia tersenyum saat melihat wajah sayu suaminya.
CLEKKKK
"Loh kak Ansel gak makan?" tanya Rissa saat sudah dapat melihat sosok kakak iparnya yang masih terduduk di atas ranjang. Ansel tersenyum sambil mengangkat alis tebalnya, lalu ia pun bangkit dari ranjang.
* * * * *
Malam sudah menunjukkan pukul 20.30 Ansel sedang berada di teras mengobrol dengan pak Rusdi, ayah Hanny. Sedangkan Chalissa sedang mengobrol dengan ibu dan adiknya.
Lissa membaringkan tubuhnya di paha ibunya dan Rissa berbaring di samping kakaknya dengan posisi miring, di mana tangannya terlihat menopang kepalanya. Adik kecil itu terlihat serius memperhatikan dan menyimak obrolan ibu dan kakaknya itu.
"Berarti SMA nanti aku akan melanjutkan di Jakarta ya kak?" tanya Rissa polos.
"Kalau ibu setuju" tutur Chalissa mengerucutkan bibirnya.
Rissa segera duduk mendekati ibunya. "Ibu setuju ya, plisss" mohon Rissa mengatupkan kedua telapak tangannya. Namun Bu Dewi terdiam tidak menyahuti putri bungsunya yang sudah menunjukkan wajah memelas. Akhirnya Bu Dewi tersenyum ke arahnya sambil menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Rissa bersandar manja pada sisi bahu ibunya.
Terlihat tiga wanita itu sangat bahagia. Seperti sudah lama tidak merasakan manisnya hidup. Malam itu bukan hanya melepaskan rindu, tetapi menjadi malam di mana mereka saling bermanja lagi di sisi ibunya. Pemandangan itu terpotret pada sorot mata yang mengawasi mereka.
"Melihatmu tersenyum adalah kebahagiaanku" Ansel
Ansel yang baru selesai mengobrol dengan pak Rusdi, memutuskan masuk ke kamar. Namun, tidak melihat istrinya. Lalu ia memberanikan diri masuk ke kamar ibu mertuanya, karena ia yakin bahwa istrinya pasti ada di dalam. Tak disangka ia melihat kebagian tiga wanita yang berada di atas ranjang. Ansel yang tak mau mengganggu akhirnya memutuskan keluar dari kamar itu tanpa sepengetahuan mereka.
*
Saat hendak akan keluar, Ansel tidak lupa bilang "Gaes jangan lupa dukung penulis novel ini ya dengan cara beri Like, Vote, dan Komentar kalian... Ditunggu selalu gaes! Terima kasih 🥰"
-
-
-
Happy Reading 😍