Don'T Hate Me, Baby!

Don'T Hate Me, Baby!
Apa Cemburu Tanda Cinta??



Gaes jangan lupa kasih Author VOTE kalian ya, makasih 😘


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Malam semakin larut, Chalissa melihat adik kecilnya sudah tertidur pulas di ranjang ibunya.


"Nak tidurlah, kasihan Ansel pasti dia sudah menunggumu" tutur ibunya.


Sebenarnya malam ini Chalissa ingin sekali tidur dengan ibunya. Tapi ia juga tidak tega meninggalkan Ansel di kamarnya sendirian. Chalissa memutuskan keluar dari kamar ibunya. Lagipula ibunya pun terlihat sudab menahan kantuk.


Saat Chalissa membuka pintu kamarnya terlihat Ansel sudah berbaring dengan membelakangi arah pintu, sehingga Chalissa tidak mengetahui apakah Ansel sudah tertidur atau belum. Dengan pelan-pelan Chalissa meletakkan tubuhnya berbaring di samping suaminya.


Rona wajah Chalissa memancarkan kebahagian, sungguh ia tidak percaya bisa menikmati tidurnya di kamar yang sempat ia tinggalkan. Rasanya dinding kamar itu menjadi saksi bisu setiap ia memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan dikehidupan selanjutnya. Chalissa tidak pernah ingin menunjukkan kesusahan pada ibu dan adiknya hingga di kamar itulah ia tuangkan segala keluh kesahnya.


"Ans" kaget Lissa saat tiba-tiba wajah suaminya sudah mendekati wajahnya. "Kamu belum tidur?" ucap Lissa.


"Tentu belum" ucap Ansel, terpampang senyuman mencurigakan membuat Chalissa menyipitkan matanya menerka pikiran suaminya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Ansel, ia berbaring bersandar pada lengannya mengarah tubuh istrinya yang berbaring terlentang. "Apa ada yang aneh denganku? haaa?" ucapnya lagi sembari mencubit hidung istrinya.


Chalissa spontan memukul tangan suaminya, berusaha melepaskan cubitan dari hidungnya. "Auwww sakit Ans" mengertakkan giginya. Ansel terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. Lalu ia melingkarkan lengannya pada pinggang istrinya yang kini sudah dihalangi oleh keberadaan anaknya di dalam perut Chalissa.


"Ayo kita lanjutkan lagi" ajak Ansel menyeringai senyumannya, sesekali tangannya memberikan usapan lembut pada perut istrinya seolah memberi kode pada anaknya.


"Ans tapi ini di rumah ibu. Aku gak enak" ucap Chalissa sudah tahu maksud Ansel.


Ansel tertawa tersipu saat istrinya memberi komentar yang sudah paham maksudnya.


"Pelan-pelan saja sayang" bisik Ansel di telinga Chalissa. "Si baby juga pasti merindukan papanya" imbuhnya membuat wajah Chalissa memerah.


Tapi dengan cepat ia membantah ucapan suaminya. "Baby yang rindu atau papahnya?" cibir Chalissa.


"Papah dan mamahnya yang saling rindu" bisik Ansel lagi membuat Lissa makin mencibirkan bibirnya.


Ansel tak menunggu istrinya mengeluarkan kata-kata lagi. Ia segera menyematkan bibirnya pada bibir istrinya.


Chalissa mendorong tubuh Ansel "Kenapa?" Ansel menatap manik Chalissa dengan dalam. "Aku kesulitan bernapas, kamu mau aku kehabisan oksigen??!" cibir Chalissa yang membuat Ansel meringis. Bukannya memberikan jawaban pada istrinya malah ia mendaratkan bibirnya lagi menyatu pada istrinya. Namun, ciuman itu lebih lembut.


Malam itu mereka melewatkan malam panas mereka dengan pergulatan yang lumayan panjang, karena Ansel menuntutnya berkali-kali tetapi dengan penuh hati-hati agar si penerus kehidupannya tidak terusik dengan kehadiran Ansel di dalam sana.


* * * * *


Pagi hari di sebuah ruangan lantai tiga. Panas mentari telah berhasil menyongsong hingga menembus kaca dan gorden yang terurai rapi.


KRING... KRING... KRING...


Hanny mencoba mencari suara alarm yang berasal dari handphone. Ia meraih handphone nya dan jarinya mencoba menyentuh layar yang ia rasa letaknya sudah pas pada tombol mematikan alarm.


"Haaaaaaa" Ia membuang napasnya dengan kasar, matanya masih terasa berat untuk terbuka.


Ia mengingat sesuatu dan matanya kini beralih pada paperbag berwarna beige dengan aksen polkadot. Tatapannya yang diselimuti raut wajah tersenyum dan perasaan yang tak dapat disimpulkan membuat Hanny sendiri tak mengerti dengan keadaannya. Yang ia tahu bahwa ia begitu terkesima dengan sikap Harrys hari itu.


Tak disangka bahwa Harrys terkadang bisa membaca pikirannya, meskipun kadang ia merasa kesal jika mengingatkan cap yang dimiliki Harrys yaitu seorang palyboy. Ia punya telinga yang bisa mendengar desas-desus tentang pria yang kini dekat dengannya. Ada beberapa orang bilang kalau Harrys tidak pernah memiliki kekasih, tapi ia banyak memiliki teman dekat tapi mesra. Hal itu yang sering membuat Hanny takut jangan-jangan dia adalah salah satu dari wanita itu.


Meskipun Harrys agaknya sudah bisa mencuri hati Hanny, yang tadinya dimiliki oleh Brady. Lantas hal itu tidak membuat Hanny terang-terangan menunjukkan keberadaan hatinya. Ia ingin Harrys lah yang terus mengejarnya, karena ia tidak mau sama dengan wanita lain yang menjadi TTM-annya Harrys.


* * * * *


Setelah selesai mandi, Ansel yang sudah kembali masuk ke dalam kamar melihat istrinya yang sedang bersandar di tepi tempat tidur. Ia menghampiri istrinya dengan handuk yang menggantung di lehernya.


Ansel menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri berharap istrinya akan sadar dengan kehadirannya, ia pun melambaikan telapak tangannya di depan wajah istrinya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Ansel setelah melihat istrinya menyadari kehadirannya.


Chalissa tersenyum saat ia sadar suaminya telah berdiri dihadapannya. "Emmm, tiba-tiba nanti siang aku ingin sekali makan mangga Ans" ucap Chalissa dengan wajah manja.


Ansel tersenyum tipis, tak percaya gara-gara mangga membuat istrinya sambil melamun. "Oh jadi mangga penyebabnya?" ledek Ansel


"Hah" Chalissa melongo


Chalissa nyengir membayangi ulahnya sendiri, "Iya maaf deh sayang" ucapnya tidak dapat menahan rasa malunya.


Ansel kembali memberi ciuman sekilas di bibir wanita yang tengah mengandung anaknya. "Jadi kau mau buah mangga?" tanyanya setelah kemudian ia terus memberi ciuman sekilas yang kini berganti ke pipi kanan dan kiri istrinya.


Chalissa hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman bak seorang anak kecil yang permintaannya akan segera dituruti.


"Baiklah, setelah sarapan kita akan membeli yang kamu inginkan" tutur Ansel lalu ia kembali menegakkan badannya.


"Gausah beli sayang" ucap Chalissa membuat Ansel memicingkan matanya. Ia menyelesaikan kegiatannya dulu mengganti pakaiannya, kemudian ia menghampiri istrinya yang masih bertahan duduk di tempat semula. Ia kembali menundukkan badannya dengan kedua tangan yang kembali menyentuh kasur dan menahan badannya.


"Memang kita bisa dapat mangga dari mana?" tanya Ansel yang sempat mengingat apakah di area rumah Chalissa dan Hanny ada pohon buah mangga. Nyatanya ia yakin pohon itu tidak ada.


"Hemm... hemmm" suara Chalissa sambil menganggukkan kepalanya, Ansel tersenyum dan membuang senyumannya ke sisi kirinya. Lalu kembali menatap istrinya, "Katakan di mana kita akan mendapatkan buah mangga itu?" tanya Ansel penasaran.


"Di rumah Brady" tutur Chalissa dengan santai. Seketika ekspresi Ansel berubah, ia menatap istrinya seolah sedang mencari sesuatu di balik wajahnya yang santai. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Chalissa merasa tidak senang dengan tatapan suaminya seperti mencurigainya.


"Arghhh" Ansel mendesah, ada rasa kesal ia yang keluarkan beriringan dengan membuang napasnya dengan kasar. "Apa tidak ada tempat lain?" tawar Ansel, membuat Chalissa bingung.


"Memang kenapa kalau di rumah Brady, Ans?" Chalissa masih terheran tidak tahu menahu dengan pikirannya suaminya.


Ansel ingin sekali mengeluarkan kekesalannya pada istrinya yang dengan polos merasa tidak ada apa-apa. Ya, sebenarnya memang tidak ada apa-apa antara Brady dan Chalissa. Hanya saja, Ansel cemburu saat ia tahu dari adik kecilnya kalau Brady sudah lama mengejar hati Chalissa, namun Chalissa tidak pernah meresponnya.


"Apa kau yakin tidak sesuatu antara kau dan pria itu?" tanya Ansel enggan menyebutkan nama Brady.


Chalissa menggelengkan kepalanya masih dengan santai.


"Ohh" Ansel tak mampu mengeluarkan kata-kata lain. "Baiklah kalau begitu, kita akan ke sana mengambil buah mangga sesuai keinginanmu" tutur Ansel merasa malas, ia menegakkan kembali badannya. Tiba-tiba Chalissa menahan kedua tangannya. "Ada apa lagi?" tanya Ansel dengan suara yang terdengar kesal.


"Ans, kau cemburu pada Brady?" tanya Chalissa yang menangkap kekesalan Ansel dengan nama Brady.


"Tidak" jawabnya singkat. Chalissa tersenyum meledek, "Kalau tidak kenapa kau seperti keberatan aku mau mangga yang ada di rumahnya?" tanyanya lagi sengaja memancing suaminya, karena ia yakin Ansel kesal karena cemburu pada Brady.


"Kau pernah menyukainya?" tanya Ansel, Chalissa tertawa seolah menertawakan kecemburuan Ansel. "Kenapa kau tertawa?!" Ansel semakin kesal dengan cara Chalissa menertawakannya.


"Maaf, maaf. Abis kau cemburu tapi tidak ngaku" ledeknya lagi masih terlihat wajahnya yang memerah karena menahan tawanya atas tingkah suaminya. "Dulu dia memang menyukaiku. Tapi aku tidak peka, jadi aku hanya menganggapnya sebagai teman. Apalagi saat aku tahu kalau Hanny menyukainya" jelas Chalissa.


"Oh, jadi Hanny menyukainya. Lalu apa dia akhirnya menyukai Hanny?" tanya Ansel masih ingin tahu. Chalissa menggelengkan kepalanya, "Sepertinya perasaan Hanny bertepuk sebelah tangan sampai hari ini. Tapi aku tidak tahu sih apakah Hanny masih menyukainya atau tidak" jelas Chalissa lagi.


Ansel terdiam, ia merasa tenang dan yakin dengan penjelasan Chalissa. Chalissa lalu mengatupkan telapak tangannya pada kedua pipi suaminya. "Ans, kalau pun di masa lalu aku pernah ada hubungan dengannya, seharusnya itu tidak mengganggumu" tutur Chalissa membuat Ansel menatapnya dengan dalam, "Bukankah yang terpenting masa sekarang yang akan membawa kita pada masa depan" tuturnya lagi.


Ansel tersenyum, ia berdiri menegakkan tubuhnya dan membawa istrinya pada pelukannya.


"Jadi benarkan kau cemburu?" tanya Chalissa lagi masih memastikan kalau suaminya mengakuinya.


Ansel yang malu karena tertangkap basah oleh istrinya langsung mengeratkan pelukannya dan menggelitik pinggang istrinya hingga Chalissa tertawa lepas karena ulah Ansel.


"I love you, baby" ucap Ansel setelah menghentikan ulahnya.


"Love you too, Ans" balas Chalissa, "Ganti namaku dong" pinta Ansel.


"Love too my baby" ralat Chalissa.


Mereka melepas pelukannya lalu masih saling menatap, lalu mereka saling memberikan ciuman sekilas pada bibir mereka. Setelah itu mereka bersamaan berkata "Gaes jangan lupa dukung kita ya, kasih Like, komentar, dan banyakin Votenya ya.... Hehehehe, Thank you so much gaes ❤️"


*


*


*


*


Happy Reading 😍